Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
5. O tôsan noo kiniiri


__ADS_3

...5. O tôsan noo kiniiri...


Kirei


 


Anak gadis berumur sepuluh tahun itu tergelak-gelak saat tubuhnya tertangkap tangan sang ayah, “Ampuun Ayah ... ampuuun.”


Tapi Ayahnya masih terus menggelitiki pinggangnya tanpa ampun, “Rei ... nyerah. Su-sudah, Yah. Ampuunn ....”


“Bilang apa dulu, Rei ... o tôsan noo kiniiri (kesayangan ayah).” Ancam sang Ayah.


Ia mengerucutkan bibirnya.


“Kirei, o tôsan noo kiniiri,” ucapnya lagi.


“Cup.” Ia mencium pipi ayahnya lalu menggelendot manja pada lengan kokoh sang ayah. Itulah salah satu bukti kedekatan kirei kecil pada ayahnya.


Lalu sang ayah mengecup kepala gadis kecil itu.


Bunda dan kak Ken yang menyiapkan makanan di atas alas tikar hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat polah mereka.


Beginilah suasana tamasya ala keluarganya di saat long weekend atau jika ayahnya sedang off dari pekerjaan. Sekedar pergi ke taman atau kebun binatang. Dan pilihan kali ini mengunjungi Taman Bunga Selecta kota Batu Malang.


Perjalanan ditempuh 2 jam lebih dari Surabaya. Tiba di lokasi, keluarga kecil itu langsung mencari tempat di area taman yang luas. Membentangkan tikar dan menyusun perbekalan makanan untuk disantap sebagai menu sarapan.


Semua makanan buatan tangan Bunda tercinta. Ada yakitori (sate jepang), ebi furai, tempura dan bento khusus untuknya.


“Ini semua request ayah, ya, Nda?” Tanyanya.


“Ayah lagi kangen sama Jepang.” Jawab ayah. Pernah tinggal di sana selama 5 tahun membuatnya jatuh hati pada negara sakura itu.


“Iya, Bunda buat ini dari subuh tadi. Jadi harus habis. Kalo gak, Bunda gak mau buatin lagi,” ancam Bunda.


“Ayah, nanti yang habisin semua. Jangan khawatir.” Ucap ayah sambil mengunyah makanan di mulutnya.


“Kenapa kita gak liburan ke Jepang aja, Yah? Bentar lagi Rei kan liburan kenaikan kelas. Kak Ken juga libur.”


“Pengennya sih gitu, tapi ayah ngumpulin uang dulu buat liburan ke sana. Makanya kalian yang rajin belajarnya. Biar Rei bisa naik kelas 6 dan Ken naik kelas 2 SMP.” Ujar ayah seraya mengusap kepalanya dan Ken penuh sayang.


“Siap Ayah! Rei pasti juara lagi." Kekehnya.


“Sombong!” Ejek Ken.


“Rei harus pintar, Kak. Biar bisa seperti Ayah.” Sahutnya.


“Iya ... iya,” sungut Ken, “dasar manja!” ledeknya sambil menjulurkan lidah.


Ia mencebik, mengadu, “ Yah, Kak Ken ...,“ tunjuknya pada Ken yang masih menggodanya.


“Udah, sekarang kita cepat habiskan makannya. Lalu kita keliling taman.”


“Rei mau ke waterpark, Yah.”


“Nanti sama Kak Ken, ya?” Bujuk bunda.


“Gak mau, Nda! Yang ada cuma jagain dia doang! Ken juga mau berenang sendiri.” Sungut Ken.


“Tuh, kan Ayah. Kak Ken gak sayang sama Rei.” Matanya sudah berkaca-kaca demi mencari tempat perlindungan sang Ayah.


“Iya, nanti berenang sama Ayah.”


“Horee ... weekk!” ejeknya sambil menjulurkan lidah pada Ken membalas dendam.


Dan keseruan keluarga kecil itu berlanjut mengelilingi taman bunga. Ia merengek ingin menunggang kuda, sementara Ken tidak mau menemaninya. Hingga akhirnya ayah yang menemaninya berkeliling taman dengan menunggang kuda.


Pagi menjelang siang, mereka menuju waterpark yang masih satu area dengan taman bunga. Bermain perosotan, ember tumpah, dan belajar renang langsung dengan sang Ayah. Ia senang bukan main. Wajahnya berseri-seri.


Namun itu tak berlangsung lama, dinginnya air kolam membuatnya menggigil berlama-lama di sana. Kulitnya keriput, bibirnya sudah pucat membiru. Sang ayah memutuskan untuk mengakhirinya.


Setelah menunggu putri kesayangannya bilas dan berganti baju, kini giliran ayah menuju kamar ganti khusus laki-laki.


Ia dengan setia menunggu ayahnya di depan ruang ganti laki-laki. Sepuluh menit berlalu sang ayah tak juga kunjung muncul. Ia masih tetap sabar meski badannya masih menggigil kedinginan.


“Ayah lama banget sih,” gerutunya tak sabaran. Ia terlihat mondar mandir di depan pintu, sesekali bertanya pada orang yang keluar dari balik pintu itu. Tak ada jawaban pasti yang melegakan hatinya.


Hingga hampir setengah jam ia berdiri di sana, sang ayah tetap tak menampakkan wujudnya. Matanya berkaca-kaca, bibirnya melengkung ke bawah, menahan rasa kesal, takut dan marah.


“Ayah bohong! Rei ... o tôsan noo kiniiri dehanai! (bukan kesayangan ayah)” Air matanya sudah menerjang bebas sambil sesegukkan.  

__ADS_1


“Kenapa ayah pergi ninggalin Rei?!”


“Ayahhhh ...!" Tangisnya pecah.


“Rei ... Rei ...! Bangun, Sayang!”


“Rei!”


Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Silau lampu yang berpendar masuk dalam retinanya menangkap bayangan di depannya yang tidak begitu jelas.


Tapi ia hafal suara itu, “Bunda,” lirihnya.


“Kamu mimpi buruk?” Ucap sang bunda.


Tiba-tiba, ia memeluk bundanya. Menangis sesenggukan di dada bunda.


“Ayah ... Nda! Ayah ....” Tangisnya semakin pecah.


Empat belas tahun sudah sang ayah telah pergi meninggalkan ia, bunda dan kak Ken. Tepat saat hari pengambilan rapor kenaikan kelas, sosok yang begitu amat disayanginya telah pergi selama-lamanya.


“Sssttt ... udah ... udah. Ayah udah tenang di sana. Lebih baik kita berdo’a untuk ayah. Kalo kamu mimpi ayah itu tandanya ayah kangen sama kamu. Ayah butuh doa dari kita yang masih hidup.” Bunda bertutur dengan mengusap-usap punggungnya lembut.


“Tuh azan subuh udah berkumandang. Yuk kita doa’in ayah. Bunda lihat kakakmu dulu. Kita salat berjamaah.” Ucapnya.


Seusai salat subuh berjamaah, mereka langsung beraktivitas. Ken mencuci mobilnya di garasi samping rumah. Sementara ia membantu bunda memasak di dapur.


“Bunda udah pesan sama Mbak Tin, nanti biar dipisahin abon, serundeng, keripik belut sama keripik ceker. Nanti tinggal ambil aja di toko,” ujar Bunda. Toko oleh-oleh khas Solo yang terletak di jalan Adi Soemarmo berdampingan dengan mini market kepunyaan Bunda.


“Jangan lupa sambal bawangnya, Nda.”


“Sambel juga udah,” sahut bunda.


“Asyiik ... jadi Rei, gak usah masak di apartemen.” Balasnya senang.


“Huss, masak tetap, Rei. Kamu harus masak sayur. Sayur bagus buat tubuh. Ini bunda masakin ayam ungkep. Kalo mau makan tinggal goreng nanti."


“Hehehe, tau aja, Nda. Kirei gak ada waktu untuk masak memasak. Maunya yang praktis,” tukasnya.


“Kamu tuh cewek Rei. Suatu saat kamu berumah tangga punya suami, anak. Ya, harus pandai masak. Mosok suami sama anakmu nanti dikasih makanan instan terus?!”


“Iya ... iya, Nda. Nanti kalo udah mau nikah, Rei belajar masak.”


“Siapa bilang?!” Sergah Ken yang muncul dari ruang tengah, “Kamu yang aku nikahkan dulu. Soalnya kalo bukan aku yang nikahkan, pernikahanmu gak sah!”


“Isshh ... mulai deh!” cebiknya.


Bunda menggelengkan kepala, “Kalian tuh kalo diumpamakan dekat bau taahi, jauh bau wangi.”


“Kak Ken yang taahi, Nda!” ia tergelak sambil mencari perlindungan di belakang punggung sang bunda.


“Wekkk ....” Ia mengejek seraya menjulurkan lidahnya.


“Awas ya! Tahun ini bayar sendiri tuh apartemen!” ancam Ken tahu titik kelemahan adiknya.


“Bayar sendiri lah!”


“Cih, mana sanggup gaji jurnalis kayak kamu bayar sewa apartemen!” Ken mencibir.


“Iihhh, ngece!! Gajinya buat bayar apartemen tau, makan minta sama bunda.”


Ken langsung terbahak, “Hahaha ... dasar!"


Ia bersungut-sungut, “Mentang-mentang jabatan manager marketing bank, lagaknya udah selangit! Langit aja gak pernah sombong! Ya, kan, Nda?!” Ia mencari pembenaran dan pembelaan.


Sang bunda pun ikut tergelak. Suasana rumah tanpa dirinya terasa sepi. Kak Ken bekerja di sebuah bank swasta. Berangkat selalu pagi dan terkadang hingga malam baru pulang. Sementara bunda mengelola toko mini market dan oleh-olehnya.


Perjalanan dari Solo-Semarang ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam melewati jalan tol. Pemandangan gunung Merbau menjadi view terbaik selama perjalanan. Langit berawan biru cerah, pemandangan gunung jelas dan serasa dekat, hamparan sawah nan hijau menambah keindahan. Apa lagi kondisi jalan juga lengang.


Bibirnya ikut bergerak ke sana kemari mengikuti irama musik dari radio.


I need somebody to heal


Somebody to know


Somebody to have


Somebody to hold


It's easy to say

__ADS_1


But it's never the same


I guess i kinda liked the way you numbed all the pain


Now the day bleeds


Into night fall


And you're not here


To get me through it all


I let my guard down


And then you pulled the rug


I was getting kinda used to being someone you loved


-Lewis Capaldi-Someone you loved-


Saat mobil menuju exit tol Gayamsari, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya. Ia memperhatikan dengan lama hingga pandangannya menghilang seiring mobil mendekat gerbang exit tol.


“Siapa, Rei?” tanya Ken saat melihat adiknya menoleh ke kiri lama seperti ada yang dilihatnya.


“Eh, bukan ... bukan. Bukan siapa-siapa kok.” Jawabnya.


 


***


Danang


Ia terburu-buru memacu mobil sedan Lexus ES kesayangannya melintasi tol Solo-Semarang setelah bertemu dengan Arik dan Dipa membahas temuan terbaru terkait kecelakaan mobilnya yang ternyata disabotase oleh pegawainya sendiri.


Namun saat memasuki gerbang exit tol Gayamsari, mobilnya mogok mengeluarkan asap putih pada knalpotnya.


“Dang!” umpatnya bergumam.


Ia lupa mobil kesayangannya sudah lebih dari enam bulan belum masuk bengkel.


Ddrrrtttt...ddrrrtttt


Ponselnya bergetar dan berdering tapi ia sedang sibuk membuka kap mobil. Sempat ia mengibaskan tangan karena menyentuh mesin yang begitu panas.


“Ya,” jawabnya sembari tangan kiri memegang ponsel dan tangan kanan mengibas-ngibas sesekali ia tiup.


“Sore Ndan! Sudah sampai mana, Ndan? Kami bersama tim serbu Dirresnarkoba menunggu di TKP,” lapor Rendra.


“Tolong kamu handle dulu. Aku udah sampai exit tol Gayamsari. Tapi sial mobilku mogok.”


“Apa perlu bantuan kami, Ndan?”


“Gak usah. Aku udah nelpon bengkel buat jemput.”


“Siap, Ndan!”


-


-


Hei readers....🤗


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2