
...107. Keep It Safe!...
Kirei
Benar saja pukul 8 malam mereka meninggalkan Gorontalo dengan menggunakan private jet. Dan harga yang harus ditebus jauh dari perkiraannya. Bahkan hampir 4 kali lipat jika dirupiahkan. Ia menelan ludahnya demi menguasai keterkejutannya. Artinya hampir mendekati nilai setengah milyar! Hah?
Dengan alasan pesan mendadak dan naiknya kurs rupiah terhadap dolar Amerika katanya. Pun, Rendra sengaja memilihkan armada yang terbaik. Oh ... my god. Ia mengelus dada.
“Tenang, profit dari Sae Care, Arba Techno, Jene Chocolate dan full gajiku bulan ini buat gantiin.” Danang terkekeh. Melihatnya masih dengan muka ditekuk. Tak enak dilihat.
Ia mencebik. Mereka duduk berhadapan.
“Masih kurang ya, kalo dihitung-hitung.” Danang tampak pura-pura seperti berpikir keras. Jarinya mengetuk-ngetuk meja di sampingnya.
“Tambah bulan depan, gimana?” Danang tergelak. Melakukan proses tawar menawar. Padahal cuma akal bulus saja.
Ia akhirnya tak tahan, ikut meledak juga. “Curang!!” Pekiknya, “bukannya tiap bulan semua itu sudah dari dulu buat aku? Kenapa pake dibilang lagi?!” ia memberengut kesal. Teringat pertama kali Danang memberikan kartu debit berwarna platinum seusai menikah. Bahkan sebelum kepindahannya ke apartemen laki-laki itu.
Katanya waktu itu, “Di sini uang gaji aku, kamu pakai dan simpan aja.”
Lalu sebelum keberangkatannya ke Phnom Penh, Danang memberikan kembali sebuah kartu debit berwarna platinum bertuliskan prioritas sebuah bank terbesar di negeri ini. Laki-laki itu berujar, “Ini kamu simpen aja, kalo mau pake, pake aja. Aku gak perlu.”
Awalnya ia menolak, lantas laki-laki itu berdalih ada pegangan 1 kartu debit lagi. Dan ternyata setelah tahu sekarang kartu debit yang dimaksud adalah khusus untuk mengelola Sae Care.
“Hahaha ....” Laki-laki itu tertawa puas.
Perjalanan yang sebenarnya menyenangkan. Pengalaman untuk pertama kali ia menaiki private jet. Hanya dirinya dan Danang saja. Ditambah pilot yang mengemudikan pesawat dan pramugari yang bolak balik menawarkan pelayanan. Dari mulai welcome drink, makanan ala restoran hotel berbintang, hiburan, sampai layanan privileges lainnya. Dan dengan segala kemewahan yang diberikan. Pantas saja harus merogok kocek dalam-dalam pikirnya. Worth it lah ....
Bahkan ia benar-benar menikmati. Sementara laki-laki itu. Hems, tertidur di sofa panjang.
Sesekali ia melongok ke jendela samping. Gelap gulita. Bersyukur kondisi cuaca bagus. Ia bisa menikmati perjalnan dan pesawat akhirnya mendarat sempurna.
“Mas, aku pengen bubur ayam.” Tukasnya ketika mobil yang menjemput mereka berhenti di lampu merah.
Danang yang duduk di sebelahnya mengernyit.
“Tapi gak usah pake kacang. Suwiran ayamnya yang banyak. Cakuwenya juga dibanyakin.”
Laki-laki itu masih terdiam. Semakin mengernyit.
“Mas,” panggilnya. Sebab Danang tak menanggapinya.
“Aku mau bubur ayam.” Pintanya sekali lagi.
“Bukannya ....”
“Belinya di mana? Aku mau sekarang.”
“Tapi ini udah malem, mana ada yang jual bubur ayam. Besok pagi aja, ya. Kalo besok pagi banyak.”
Ia memasang raut muka kesal.
Danang tak tega, “Pak, jual bubur ayam jam segini di mana, ya?” tanya Danang pada sopirnya. Jam digital pada dasbor menunjukkan pukul 23.55 WIB.
“Wah, kalo jam segini kayaknya ndak ada, Pak.” Pak Mus tampak berpikir juga, “apa kita coba ke Blendoek. Di sana banyak kuliner malam.” Usul Pak Mus.
“Coba ke sana dulu, Pak.” Titah Danang sembari juga mencari lewat aplikasi online. Tapi sayangnya, bubur ayam yang dicari sudah pada tutup.
“Besok aja, ya?” Danang menoleh padanya. “Kalo besok pagi, ada bubur ayam yang paling enak. Aku jamin!” Janjinya.
Ia masih bergeming.
Mobil melewati kawasan kuliner malam. Dan yang masih buka hanya tinggal angkringan, nasi ayam, gudeg, penyetan dan wedang-wedangan.
Air mukanya semakin ditekuk. Seperti anak kecil yang kecewa jika tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.
“Pak, didaerah Haryono ada katanya.” Ujar Pak Mus. Pria paruh baya itu baru saja menghubungi seseorang.
“Yaudah kita ke sana, Pak.” Danang menyergah.
“Bukannya ini di deket apartemen dulu?” ucapnya tanpa sadar ketika jalan yang dilewati sangat dihafalnya, “kok aku baru tahu.” Mobil berhenti di bahu jalan.
“Karna kamu kurang suka bubur ayam. Makanya gak pernah beli!” Danang menyahut, kemudian turun dari mobil.
Begitu sampai rumah ia langsung membuka bungkusan bubur ayam. Dengan tidak sabaran. Tapi entah kenapa, perasaan menginginkan makanan itu sedari tadi, mendadak menguap begitu saja entah ke mana setelah beberapa suap bubur ayam mendarat di perutnya. “Mas, aku udah kenyang.” Ucapnya, lalu meninggalkan mangkok bubur ayam yang bisa dibilang masih penuh tersebut.
Danang lagi dan lagi mengernyit. Aneh. Ia tahu percis, istrinya itu kurang suka bubur ayam. Dan ... nah, dugaannya benar bukan? Hanya berapa suap masuk mulut. Bubur itu ditinggalkan pemiliknya. “Sok-sokan mau makan bubur ayam.” Gerutunya.
“Mas aku denger!” Teriaknya dari dalam kamar.
**
Danang
Keanehan berlanjut keesokan paginya. Kirei yang terbiasa menyeduh teh madu. Mendadak tidak menyukai minuman tersebut.
“Siapa yang bikin, Mas?” tanya Kirei saat menghampirinya duduk di sofa depan televisi. Secangkir teh madu dan kopi hitam tersaji di atas meja.
“Yumah,” sahutnya. Sambil membolak-balikkan sebuah majalah otomotif.
Kirei mengendus teh madu itu dan reaksinya tak suka dengan bilang, “Kok beda, ya? Baunya aneh. Gak kayak biasanya.” Lalu berlalu ke dapur.
Tak berapa lama kembali dengan segelas jus jeruk yang diambilnya dari lemari pendingin.
Ia mengerutkan dahi. Jarang sekali Kirei pagi-pagi minum-minuman dingin dan sedikit asam. Biasanya istrinya lebih memilih minuman hangat. Seperti teh madu dan coffee latte.
Sangat aneh.
Hari minggu ini mereka isi dengan beristirahat di rumah. Hanya berlokasi di tiga titik. Kamar utama, ruang keluarga dan meja makan.
Dan Kirei lebih banyak menghabiskan di kamar. Dengan ponsel tak lepas dari tangan. Lalu beberapa jam kemudian.
“Mbak Rei, paketannya sudah datang.” Yumah muncul dari balik pintu kamar membawa beberapa paket belanjaan. Dari makanan, sneakers, tas, baju dan ... kamera.
“Yu, yang makanan bawa aja ke dapur,” Yumah mengangguk.
Ia yang duduk di sofa kamar menggelengkan kepala. Aneh. Sejak kapan istrinya itu hobby shopping? Lewat online pula.
Ia mengerutkan dahinya kembali. Lalu mendekat dan duduk di tepi ranjang. Yumah sudah berlalu dan meninggalkan mereka.
“Sebanyak ini?” tanyanya tak percaya. Ia mengambil kotak kamera yang telah kosong. Sebab isinya tengah dipegang Kirei.
“Sony mirrorless,” gumamnya.
“Kamera ini tuh bagus. Cocok dibawa jalan-jalan, Mas. Ringan, gak ribet, simpel, praktis dan pasti kualitasnya tak kalah sama kamera jenis DSLR. Lagian kamera aku yang itu kan udah lama. Kayaknya perlu dilembiru ... hehehe,”
__ADS_1
“Pokoknya yang ini hasilnya bagus, sini coba dulu ....”
Ckrek.
CKrek.
Ckrek.
Kirei mengambil gambar dirinya yang dalam kondisi tak siap.
“Tuh, bagus, kan?” Kirei menunjukkan hasilnya. Dan memang ternyata hasilnya tak mengecewakan. Meski pengambilan gambarnya secara cepat.
Ia tersenyum tipis, kemudian mengacak-ngacak rambut Kirei.
Lalu ia menyambar ponsel di atas nakas yang sedari tadi diisi dayanya dalam kondisi mati. Menyalakan tombol on. Dan secara berurutan notifikasi pesan masuk bertubi-tubi.
Ting.
Ting.
Ting.
Ting.
Ting.
Semua-muanya pesan berisi pemberitahuan mengenai belanja online melalui sebuah e-commerce, market place dan online shop. Lalu yang membuatnya tercenung adalah ... belanja kamera dengan nominal 60 juta.
**
Kirei
Ia meringis ketika Danang menatapnya penuh selidik. Seakan menuntut penjelasan. Apalagi setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Dugaannya pasti pesan pemberitahuan pendebitan uang.
“Aku pake kartu Mas Danang, hehehe ....” Memasang wajah tak berdosa.
Danang berdecak, “Sudah pinter belanja sekarang.”
Ia mendekati laki-laki itu yang duduk bersandar di headboard.
“Rei pengen beli ini udah lama. Dari ... dulu waktu masih di Jakarta,”
“Tapi dulu yang dipengenin jenis DSLR. Kalo sekarang pengennya yang mirrorless. Kayaknya lebih praktis. Ringan dibawa ke mana-mana gitu.” Ia memaparkan alasannya.
“Kalo sepatu ... lihat warna merah tuh kayaknya langsung gelap aja mata, Mas.”
“Jadi gara-gara warna merah dibeli?” Tandas Danang seraya mengotak-atik ponselnya. Entah apa yang dilihat.
“Ya, bukan. Karena modelnya bagus juga, tapi alasan besarnya karena warnanya,” ia menggigit bibir bawahnya.
“Terus ....” Danang menunggu pemaparan alasan selanjutnya.
“Gak tau, Mas. Lihat baju-baju itu kok kepengen aja. Padahal, Rei tuh paling kurang suka belanja online baju. Lebih puas langsung ke tokonya,” ia meringis lagi. Rasa bersalahnya mendadak menyergapnya. Pun rasa penyesalan kenapa ia bisa belanja sebanyak itu? Bagaimana kalau Danang marah? Sebab dalam sehari ia menghabiskan tabungan laki-laki itu mencapai angka 8 digit.
“Okay ... belanja sudah. Kepuasan sudah. Tapi ada hal penting yang terlupakan?” Danang menyanggah.
Menyimpan kembali ponsel di atas nakas. Menyusul menyimpan kotak-kotak belanjaan beserta isinya di atas kasur, menggesernya ke bawah ranjang.
Lalu mengambil kamera yang masih dipegangnya, “Kamu tahu, kalo pembelian barang-barang ini kena pajak?” Tanya laki-laki itu.
Danang berdecak, “Masa sih?!” tangannya terulur menyimpan kamera ke atas nakas.
“Harusnya kena PPN 10 persen. Plus pajak penjualan barang mewah 20 persen.”
Ia tetap menggeleng. Selama ini ia selalu beli barang tak pernah memperhatikan sedetail itu. Memang sih, dalam strok belanjaan selalu dicantumkan pajak. Tapi ia tak pernah berpikir sampai ke situ.
Danang menatapnya intens, mengusap pipinya.
“Marketplace aja bebani kamu pajak. Masa aku, gak?!” Tukas laki-laki itu.
“Hah! Maksudnya?” ia mengerutkan alisnya tak mengerti.
Danang tersenyum miring, lalu menyergap bibirnya.
“Aku juga mau dipajakin ....” Ucap laki-laki itu ketika melepas ciuman.
“Lima puluh persen untuk barang eksklusif,” imbuh Danang menatapnya dengan mata sayu. Lalu dengan cekatan melepas tali rambutnya. Disusul melepas kancing dress yang dikenakannya.
**
Danang
Ia terbangun ketika mendengar suara di kamar mandi. Meraba di sebelahnya ternyata kosong. Dengan sigap langsung melompat dan melesat ke sumber suara.
“Sayang, kamu gak pa-pa?” Ia membantu Kirei dengan memijit tengkuk lehernya. Yang sedang memuntahkan isi perutnya. Wajahnya pucat. Dan tampak tak bertenaga.
“Kamu kenapa?” Ia sangat mencemaskannya.
Kirei menggeleng lemah. Lalu membasuh mukanya di wastafel.
“Biar aku yang bersihkan,” sergahnya. Mungkin karena terburu-buru Kirei muntah di lantai kamar mandi. Ia memapah istrinya kembali ke ranjang.
“Masih jam 4 tidurlah lagi, aku keluar dulu.” Tanpa menunggu jawaban Kirei ia melesat keluar. Dan tak lama kembali dengan gelas berisi air putih hangat.
Ia menangkupkan punggung tangannya ke kening istrinya. Suhunya normal.
“Perutku seperti diaduk-aduk, Mas.”
“Apa masuk angin?” Ia membuka laci nakas. Mencari-cari benda. Dan menemukan minyak putih yang dicarinya di sana.
“Sini, aku olesin.” Seraya menyibak piyama tidur yang dipakai Kirei. Ia mengoleskan minyak itu dengan rata di perut dan punggung istrinya. Lalu mengangsurkan minuman hangat.
Mereka kembali melanjutkan tidur.
Sialnya, saat pagi keduanya bangun kesiangan. Tak sempat sarapan. Sebab ia harus apel pagi. Sementara Kirei harus editorial meeting.
Tiba di Mapolrestabes, semua peserta apel telah berjajar rapi. Diikuti seluruh pejabat utama, para Kapolsek, para Kasat, para Perwira, para Bintara dan ASN lingkup Mapolrestabes. Ia berdiri di podium. Memberikan kata sambutan.
Berjalan sekitar 45 menit. Apel rutin yang digelar pagi itu akhirnya berakhir. Ia langsung menuju mobil untuk melakukan sidak bersama Satresnarkoba, Dinas Kesehatan Kota dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan kota di sejumlah apotek dan klinik kesehatan. Sebab disinyalir beberapa obat-obatan yang beredar di masyarakat tidak memiliki izin edar. Bahkan diragukan kemurniannya.
Dan dalam sidak tersebut ditemukan gudang penyimpanan obat-obatan yang tidak memiliki izin resmi. Juga beberapa apotek dan klinik yang menjual obat-obatan tanpa dilengkapi izin edar.
Dddrrttt ... dddrrttt ... dddrrrttt
Ponselnya bergetar di saku celananya. Ia masih memberikan pengarahan pada Kasat.
__ADS_1
Dddrrrttt ... dddrrttt ... dddrrttt
Ponselnya kembali bergetar. Ia masih membiarkan. Sebab kepala Dinas Kesehatan Kota tengah menjelaskan beberapa obat-obatan yang tidak memiliki izin edar.
Dddrrttt ... dddrrttt ... dddrrttt
Ketiga kalinya ponselnya bergetar. Ia masih memberikan keterangan singkat kepada para awak media di sana.
Rendra tampak memberikan kode telepon di telinganya. Kemudian ia mengakhiri sesi bagiannya. Lalu diteruskan oleh Kasat.
“Pak,” Rendra menghampirinya.
“Kenapa, Ren?” tanyanya. Sembari melangkah menuju mobil.
“Itu Pak, telepon. Tadi temennya Mbak Rei telepon. Memberitahu, kalo Mbak Rei pingsan.” Kata Rendra.
Kakinya langsung terhenti. Merogoh ponselnya. Benar saja, ada 3 panggilan tak terjawab dari nomor Kirei.
Ia mencoba menghubungi nomor Kirei.
“Halo,”
“Saya, Anisa Pak.”
“Maaf ... emm, Kirei pingsan. Ini lagi di klinik kantor. Belum—”
Tut ... tut ... tut
Ia mematikan begitu saja sambungan telepon. Bergegas melesat ke kantor istrinya.
“Ren, cepetan dikit!” Salaknya. Tak sabar ingin segera melihat kondisi Kirei.
Sementara Rendra sudah berusaha mengatur kecepatan. Namun apa dikata, kondisi jalanan memang sedang ramai. Apalagi ia membawa mobil dinas. Apa kata orang seandainya ugal-ugalan di jalan.
Begitu sampai di lobi gedung TVS, ia setengah berlari menuju klinik. Yang memang bertempat satu lantai dengan lobi.
Berbicara sebentar dengan dokter klinik. Lalu masuk ke dalam ruang perawatan. Anisa dan Oka di sana. Tersenyum menyambutnya.
“Berhubung Pak Danang sudah datang, kami permisi, ya.” Tukas Anisa.
Ia mengangguk, “Makasih, Nis, Ka.” Ucapnya.
“Sama-sama, Pak.” Balas Oka seraya berlalu meninggalkannya.
Ia mendekati istrinya yang masih terbaring. Belum sadarkan diri. Wajahnya terlihat pucat. Digenggamnya tangan Kirei erat. Diciuminya berkali-kali.
“So sorry ....” Lirihnya berucap. Dan terus menggenggam tangan Kirei erat.
Ia menunggui istrinya hingga beberapa saat. Sampai Kirei mulai tersadar. Membuka kelopak matanya.
“Mas ... kok di sini?” ucap Kirei masih lemah namun berusaha untuk bangkit.
Tapi refleks ia mencegahnya, “Jangan banyak bergerak!”
Kirei menatapnya heran.
“Jangan banyak bergerak dulu. Aku udah pesankan makanan. Sebentar lagi datang.”
“Kata dokter, kamu kelelahan. Belum sempat sarapan. Tekanan darah kamu juga rendah, dan ....” Ia menatap istrinya begitu dalam.
Kirei mengernyit.
“No worries, aku—”
“Keep it safe,” Ia mengusap perut istrinya.
-
-
📷 : compareprivateplanes.com
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
__ADS_1