Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
104. It's Not Easy To Be Me (2)


__ADS_3

...104. It’s Not Easy To Be Me (2)...


Kirei


Ia memijit pangkal hidungnya. Sementara jemari lainnya mengetuk-ngetuk meja. Terus berulang. Hingga beberapa saat lamanya.


“Apa GL tidak terima tentang pemberitaan itu?” Tanyanya entah ditunjukkan pada siapa. Sebab hanya dirinya di sana. “Apa mereka terusik?” imbuhnya. Jeda sejenak. “Aaargg ....” Frustasi.


Lalu menangkup wajahnya. Menopang sebagian bobot tubuhnya yang duduk condong ke depan dengan kedua tangannya bertopang menyiku di atas meja.


Danang datang membawakan secangkir teh madu.


“Minum dulu, mumpung hangat.” Laki-laki itu menyimpan cangkir porselen bermotif Eropa royal yang berisi teh madu di atas meja.


Ia berusaha tersenyum meski beban pikiran mampu mencuri semangatnya hari ini. Menghasilkan senyum yang ... ya, seperti terpaksa. Kemudian ia menyesap teh tersebut sedikit demi sedikit.


“Garuda Land adalah perusahaan konsorsium industri konstruksi dan properti yang punya kewenangan untuk mereklamasi. Sepertinya mereka tidak suka dengan berita yang seolah-olah memojokkannya,”


Danang berbicara sambil melangkah mendekati sofa dan duduk di sana.


“Tapi yang aneh di sini. Jika mereka tidak suka dengan pemberitaan itu. Mengapa—” imbuh Danang.


“Mereka mengirimi bouquet? Hampers?” potongnya. Aneh bukan?


“Apa pemberian seperti itu bisa dibilang teror?” Sambungnya menatap Danang. Ia masih duduk di kursi kerja laki-laki itu. Malam ini mereka berdiskusi membahas hal yang ia pikir sudah usai, ternyata ...


Ia menghela napas berat.


Laki-laki itu manggut-manggut, “Kalo kita merasa tidak suka. Tidak nyaman, bahkan merasa terganggu.”


“Mas, apa aku sebaiknya menemui mereka?” usulnya. Dengan menemui mereka mungkin akan tahu motif di balik ini semua. Atau malah akan semakin menjadi pelik. Entahlah.


Danang bergeming.


“Apa ini berhubungan dengan Paman Tilamuta?” Tanyanya lagi. Berharap Danang bisa membantu menjawab segala tanya yang menggantung di benaknya. Apalagi kabar Paman Tilamuta tadi pagi yang menghubungi mengejutkan baginya.


Sosok paman yang jarang sekali berinteraksi dengannya. Tiba-tiba menelepon dan menanyakan soal saham? Memang dulu Paman Tilamuta memiliki saham di Kurenai Metal (KM) sebesar 5 persen. Tapi sudah dialihkan ke anaknya. Itu menurut penuturan baapu. Dan penunjukan anak Paman Tilamuta sebagai direktur Kurenai Metal adalah keputusan baapu mutlak sebagai pemegang saham terbanyak. Sekaligus pelimpahan aset saham 5 persen dari baapu ke Direktur yang baru. Sehingga Jebe mempunyai saham 10 persen di Kurenai Metal.


Tentu baapu mempertimbangkan pengangkatan Jusuf Bague Kamaru atau Jebe sebagai Direktur penuh perhitungan. Latar belakang dan kecakapan sudah pasti menjadi syarat awal.


Baapu sudah memikirkan itu matang-matang.


Ia bangkit dari kursi, lalu berdiri dan setengah duduk menyandari pinggiran meja kerja sambil bersedekap.


Danang menyandarkan punggung ke belakang, menyilangkan kakinya, “Aku yakin ini semua berhubungan,”


“GL perlu pasokan besi baja dari Kurenai Metal. Untuk menyokong proyek tetap berjalan.”


“Apalagi pemerintah mensyaratkan proyek-proyek masterplan perluasan dan percepatan pembangunan ekonomi Indonesia menggunakan produk tanah air. Termasuk besi-baja.”


“Bagus sih, programnya. Meningkatkan utilitas industri manufaktur juga.”


“Dan Kurenai Metal, satu di antara industri hulu yang memproduksi plate (baja lembaran) dan crude steel (baja kasar).”


Ia menatap suaminya. Ingin mengetahui sudah sejauh mana Danang menyelidiki hal ini.


“Mungkin ....” Danang menjeda sejenak.


“Aku sudah bisa menebak, Mas.” Sergahnya menatap laki-laki itu.


**


Danang


Ia mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang Garuda Land, tentang Kurenai Metal dan tentang motif yang meneror istrinya.


Selama ini memang ia tak pernah ikut campur. Tak peduli dengan saham Kirei di dua perusahaan sekaligus. Namun, jika sudah mengakibatkan Kirei tak nyaman dan aman lagi. Otomatis masuk ranahnya dan ia tidak akan berpangku tangan soal itu.


Ia membaca beberapa lembar hasil investigasi mengenai perusahaan Garuda Land.


“Garuda Torrid,” gumamnya. “CEO Garuda Land region Sumatera-Jawa-Bali.”


“Anak dari pemilik Torrid Group.”


Ia mendesah setelah selesai membaca lembaran demi lembaran hasil investigasi tersebut.


Banyak aduan masyarakat, terutama para nelayan dan serikatnya tentang proyek reklamasi yang tengah berjalan. Mereka menganggap, semenjak proyek itu digarap mata pencarian mereka berkurang bahkan menurun drastis.


Belum lagi wilayah mencari ikan menjadi terbatas. Tak sebebas dulu. Dan banjir rob semakin menjadi.


Meskipun pihak pengembang berdalih akan membangun tanggul raksasa. Tapi nyatanya semua demi memperlancar tujuan salah satu pihak saja. Yaitu pihak pengembang pastinya. Sementara warga kecil hanya bisa pasrah dengan nasib.


Isu ini sebenarnya sudah lama.


Kembali mencuat ketika TVS gencar memberitakan mereka. Apalagi rencana Kirei untuk memasukkan dalam program khusus mengenai proyek mereka. Karena banyak kejanggalan. Dan GL terkesan tertutup. Yang terakhir sudah menjadi rahasia umum


Apa mereka meradang?


Rasanya tidak mungkin. GL bukan perusahaan abal-abal dan sudah berpengalaman dalam bidangnya. Pastinya mereka mampu menangani hambatan dan masalah yang dihadapi. Buktinya dari ujung barat sampai timur negeri ini, merekalah yang mengambil sebagian proyek-proyek strategis. Jadi ....


Ia mengusap tengkuknya.


Kepalanya sedikit berat.


**


Kirei


“Assalamualaikum, As. Gimana kabarnya?” Tanyanya pada Asti.

__ADS_1


“Waalaikumsalam ... alhamdulillah kabar baik, Mbak. Iiiihhh, rasanya sudah lama Mbak Rei tidak telepon. Kitorang rindu.” Sahut Asti girang.


Ia tersenyum. Memang benar sudah lama ia tidak menelepon Asti. Biasanya ia langsung menelepon baapu atau neene.


“Iya, maaf. Tapi selalu gak lupa kok nitip pesan sama neene buat Asti.” Sanggahnya berkilah.


“Ibu selalu sampaikan. Tapi tetap saja rindu.”


“As,” ucapnya tertahan.


“Saaya, Mbak.”


Hening sejenak.


“Mbak, Rei?” Panggil Asti, menyadarkannya.


“Ehm ... eh ... baapu sama neene sehat semua, kan, As?” Entah mengapa kalimat itu yang keluar.


“Sehat, Mbak. Semenjak keluar dari rumah sakit waktu itu. Ibu sama Bapak sehat. Sudah mulai jogging lagi.”


Ia tersenyum. Senang mendengarnya.


“Oke. Terima kasih, As. Salam buat semua.”


“Sama-sama, Mbak.”


Sambungan telepon terputus. Ia menyandarkan punggungnya ke belakang kursi kerjanya.


Beberapa hari memikirkan soal GL, rasanya kepalanya mau pecah. Berdenyut. Ia ingin cepat menyelesaikannya, biar tidak berlarut-larut. Tapi saran Danang agar sabar menunggu sebentar lagi. Laki-laki itu masih butuh waktu sedikit lagi untuk mengumpulkan informasi.


**


Danang


Hari ini ia menemani Kirei menemui perwakilan dari GL. Di salah satu resto hotel bintang 5. Sebelumnya sempat terjadi ketegangan antara dirinya dengan Kirei beberapa saat lalu.


“Aku pusing, Mas. Pengen secepatnya selesai.” Kirei memaksa ingin bertemu dengan pihak GL.


“Sampai kapan menunggu penyelidikan Mas Danang? Sementara kiriman bunga dan hampers itu terus datang hampir 2 hari sekali.” Dengan notes bermacam-macam. Tentu isi hampers itu, juga beraneka ragam. Semua barang-barang mewah. Dari jam tangan rolex lady datejust, tas hermes birkin dan parfum baccarat les larmes  yang harganya mencapai lebih dari 90 juta.


“Aku tidak mau kamu gegabah!” Serunya, “ini tidak se-simple yang kamu pikirkan,” nada bicaranya mulai menekan.


“Dengerin ... mereka perusahaan besar. Hal temeh seperti ini tidak mungkin kalo tidak ada motif besar di baliknya. Trust me.”


Kirei menatapnya jengah. Mengembuskan napas kasar.


“Aku ikut.” Putusnya setelah mendapat kabar bahwa pihak GL sudi untuk menemui mereka.


Apa? Kok kesannya mereka yang ingin memaksa bertemu. Padahal pihak GL lah yang memulai dari awal. Shit!


Dan saat ini mereka berempat duduk di sebuah ruangan VIP resto hotel bintang 5.


Dua orang menyambut mereka ramah. Lalu berkenalan dan saling berjabat tangan. Seorang pria berkemeja biru muda dengan jas biru tua mengenalkan dirinya sebagai perwakilan GL bernama Garu.  Sementara pria satunya mengaku bernama Toni.


“Kami ke sini bermaksud untuk mengclearkan beberapa hal.” Sambungnya.


"Sepakat." Garu menimpali.


Kirei yang tak tahan dengan basa basi langsung berucap, “Tujuan Anda sebenarnya apa?” tukasnya ketus.


Kedua pria di hadapan mereka langsung mengambil jarak mundur menegakkan punggung.


Ia mengusap punggung tangan Kirei yang berada di atas pangkuan. Mencoba menenangkan Kirei yang mulai tersulut emosi.


Garu maupun Toni masih terdiam. Menelinga.


“Kami terganggu dengan kiriman barang-barang Anda.” Ia menambahi.


“Hal ini bisa kami adukan dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan.” Tandasnya menggertak, meski ia tahu jerat hukumannya ringan. Atau bahkan tidak berpengaruh sama sekali dengan kekuasaan yang mereka memiliki. Oh damn it! Tidak ada pilihan.


Garu tersenyum miring. Begitu juga Toni dengan gurat percaya diri tinggi.


“Bagaimana bisa dikatakan tidak menyenangkan? Justru kami memberikan barang yang menyenangkan, bukan?” Garu menukas puas.


Tangan Kirei mengepal kuat di bawah meja. Ia berusaha untuk meredamnya.


Ia mengambil beberapa paper bag yang disimpannya di bawah meja. Kemudian menyodorkan ke pria itu.


“Kami tidak memerlukan barang-barang ini,”


“Dan soal hand bouquet silakan hentikan sesegera mungkin.”


“Terakhir, jangan pernah mengganggu kami lagi!” Pungkasnya sebagai peringatan.


“Kami hanya menawarkan kesepakatan!” Tukas Garu.


Ia dan Kirei mengernyit. Kesepakatan, maksudnya?


“Pasok kebutuhan kami sesuai surat pengajuan ke KM.”


Ia berdecak. Tebakannya ternyata benar.


“Atau kalo tidak sanggup, kami bisa membeli saham Ibu Kirei.”


**


Garuda


Tampaknya ia akan kesulitan mendekati pemilik saham 20 persen KM itu. Setelah pertemuan pertama, belum ada kesepakatan. Bahkan wanita itu keras kepala.

__ADS_1


Huh.


Cara-cara rayuan klasik tidak mempan. Pendekatan personal juga sepertinya akan berakhir demikian.


Sementara tenggat waktu pengerjaan proyek terus berjalan mendekati limit kesepakatan perjanjian. Pasokan baja konstruksi harus segera didapatkan. Secepatnya.


Ia tidak mau kehilangan puluhan milyar rupiah untuk melepas proyek yang sudah berjalan. Lebih baik membeli saham wanita itu untuk memuluskan proyek-proyek selanjutnya, bukan? Rugi sedikit tidak mengapa, demi keberlanjutan Garuda Land di masa depan.


Keputusan yang tepat. Ia menipiskan bibirnya.


**


Kirei


Ia tak pernah menyangka kepemilikan sahamnya di KM memberikan dampak seperti ini. PT. Kurenai Metal bergerak dibidang manufaktur industri besi baja. Salah satu perusahaan yang ikut memasok kebutuhan besi-baja nasional sejak lama. Apalagi setelah pemerintah menggalakkan pemakaian produk dalam negeri di setiap proyek pembangunan. Sedikit banyak juga mempengaruhi jalannya produksi KM.


Otomatis kapasitas produksi Kurenai Metal juga meningkat. Terbukti dengan laporan kinerjanya secara berkala yang meningkat seiring penambahan mesin-mesin produksi.


Direktur Kurenai Metal yang tak lain dan tak bukan adalah anak Paman Tilamuta memang selalu melaporkan kinerja perusahaan itu secara periodik kepada seluruh pemegang saham.


Adalah baapu sebagai pemilik saham KM terbesar sebanyak 40 persen. Dirinya 20 persen. Jebe sebagai Direktur memegang 10 persen. Sementara 30 persen lainnya milik beberapa pengusaha.


Dan selama ini ia tidak mengetahui siapa saja pihak-pihak yang bekerja sama dengan KM. Ia selalu mengikuti keputusan baapu. Ia hanya tahu semua berjalan lancar. Tidak ada kendala ataupun permasalahan yang berarti. Pun, pembagian deviden terus mengalir setiap bulan.


Lalu kenapa, justru Paman Tilamuta yang menghubunginya. Bukankah harusnya Jebe?


“Mikirin apa?” Danang memeluknya dari belakang. Mencium kepalanya.


Ia yang tengah berbaring miring mengeratkan tangan Danang yang melingkar di pinggangnya.


“Apa aku lepas saja saham itu, Mas?” Desahnya putus asa.


“Aku pusing.”


“Aku kira punya saham itu enak. Tinggal terima uangnya beres,”


“Gak njlimet gini,”


Ia menghela napas panjang hingga kentara bahunya ke tarik ke atas. Lalu melorot saat mengembuskan perlahan.


“Karena saham kamu punya pengaruh untuk memutuskan pihak mana yang berhak mendapat pasokan dari KM.”


“Apalagi kalo ditambah dengan saham baapu. Absolutely, pemegang saham lain juga hanya bisa ikut, dan mengalah.”


“Mungkin selama ini baapu yang selalu menunjuk siapa-siapa yang berhak diloloskan pengajuan kerja samanya.”


Hening memeluk keduanya beberapa saat.


“Menurut cerita baapu. Dulu Kurenai Metal didirikan baapu untuk membuat konstruksi kapal. Dan menjadi cikal bakal sebelum KNS berdiri.”


“Awalnya hanya memproduksi plat baja untuk kapal,”


“Kata baapu, plat baja untuk kapal berbeda dengan plat baja pada umumnya. Punya spesifikasi dan kelebihan tersendiri. Karena harus tahan terhadap korosi air laut dan tekanan,”


“Harus mengandung unsur-unsur kimia yang telah ditetapkan, tidak boleh melebihi ketentuan. Kalo tidak, akan mempengaruhi kualitas baja yang dihasilkan. Artinya juga, kualitas konstruksi kapal bisa menjadi taruhannya.”


“Baapu menciptakan kualitas baja yang sesuai dengan spesifikasi konstruksi kapal. Dan terbukti permintaan semakin meningkat.”


“Singkat cerita, baapu juga mendirikan KNS seiring Kurenai Metal yang semakin besar dan melebarkan sayap memproduksi baja di luar konstruksi kapal.”


Ia mengusap lengan yang masih melingkari pinggangnya dengan gerakan searah dan lembut.


“Menurut Mas Danang gimana?”


“Lebih baik diskusi dengan baapu dulu. Saham itu pemberian baapu, jadi sudah seharusnya didiskusikan dengannya.”


“Tapi, Rei takut baapu marah. Atau tiba-tiba sakit karena terkejut mendengar berita ini, gimana?”


“Terus kamu mau ambil keputusan sendiri? Kalo itu aku gak rekomen,”


“Mas ....” Ia berbalik menghadap Danang. Mengusap rahang tegas itu. Menatapnya penuh.


“Rei, pengen menyelesaikan ini secepatnya. Rei, mau ke Gorontalo.”


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya .... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2