
...46. I Have You...
Kirei
Ia tetap meladeni kebutuhan sang suami. Menyiapkan makanan sahurnya. Pakaian kerjanya serta makanan iftar jika laki-laki itu tidak ada safari Ramadhan.
Namun, ia lebih banyak diam. Bukan marah. Bukan pula menghindar. Hanya ingin mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya. Sebab berbagai pertanyaan yang mencuat dan tuntutan penjelasan dari laki-laki itu masih bercokol dalam hatinya.
Apa lagi mendekati hari raya lebaran. Beban tugas seorang abdi negara tentu lebih dari biasanya. Hampir setiap hari laki-laki itu pulang malam. Kadang kerja di saat orang sedang terlelap.
“Hei ... ngelamun!” Sentak Anisa menepuk pundaknya dari belakang.
Ia sedikit menjengit, “Lo, gak recording?” Tanyanya.
“Gue kayaknya mundur aja deh,”
“Loh ... kenapa?” Ia menggeser kursinya agar berhadapan dengan Anisa yang sudah duduk di kursi kubikel sebelahnya.
“Gue gak bisa tutup mata juga lah, lagian netizen menginginkan lo sebagai news anchor-nya.”
“Mumpung belum syuting ....”
Ia menghela napas perlahan.
“Sueerr ... no worries. Gak masalah juga. Gue malah seneng banget, lo bisa maju,” tukasnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
Mas Danang calling....
“Ya ... Mas,” sahutnya.
“Sudah mau pulang. Aku jemput, ya ....”
Lengang sejenak. Sebab setelah beberapa hari wanita bernama Ratu menguak hubungan masa lalu mereka. Baru hari ini laki-laki itu punya waktu untuknya.
“Mas Danang gak sibuk?” Dalih kesibukan memang membentang. Menjadikan ia dan Danang tidak intens lagi bertemu, bercengkerama atau sekedar duduk berdua sambil nonton televisi. Waktu seakan tidak berpihak padanya. Dan mereka terpenjara di dalamnya.
“Hari ini aku punya leisure time (waktu luang). Menjelang sahur baru ada sidak lagi.”
Ia mendesahkan napas.
“Aku bawa mobil, Mas.” Sanggahnya menjadi alibi. Padahal dalam hati ia senang laki-laki itu menyempatkan waktu untuknya.
“Rendra nanti yang bawa mobilmu. Aku jalan ke sana sekarang. See you soon....”
“Sorry ... lo, nunggu lama.” Ucapnya pada Anisa setelah telepon berakhir.
Anisa menggeleng, “Gue justru iri sama lo. Mas Danang perhatian banget, ya!”
Anisa beranjak dari kursi, “Yaudah deh ... have fun.”
“Thanks yaa, Rei." Ucap Anisa sebelum benar-benar meninggalkan dirinya.
Ia menunggu di depan lobi ketika laki-laki itu memberitahunya 5 menit lagi sampai. Benar saja tak lama saat ia mengobrol dengan security kantor. Mobil suaminya itu berhenti di depan lobi.
“Saya duluan, ya, Pak ....” Ia berpamitan pada security.
“Ya ... Mbak Rei, hati-hati di jalan.”
Ia menyerahkan kunci mobil pada mas Danang.
“Ren, tolong bawa mobilnya!” Titah Mas Danang pada Rendra seraya mengangsurkan kunci tersebut.
“Siap, Pak.” Balas Rendra.
Kini ia sudah duduk di sebelah Mas Danang yang sedang mengemudi. Suasana menjelang berbuka memang sangat ramai. Orang-orang sepertinya memilih jalan-jalan dari pada duduk diam di rumah.
“Kamu mau makan apa?” Tanya Mas Danang.
Ia yang sedari tadi melempar pandangan ke jendela sampingnya menoleh pada laki-laki itu sebentar.
“Mas Danang mau makan apa?”
“Kebiasaan ....” Decak laki-laki itu. Setiap ditanya, pasti malah bertanya balik.
“Kita ke Vijhoek cafe gimana?”
“Boleh ....”
Mereka pernah ke kafe itu. Suasana kafe dengan vintage bangunan klasik bergaya Eropa. Dulu pertama ke sana setelah dua minggu menikah. Tepatnya hubungan mereka masih belum jelas.
Waktu pertama datang hanya mengobrol sebentar. Karena Danang dapat panggilan mendadak. Dan ia terpaksa harus pulang naik taksi.
“Nanti pulangnya aku naik taksi gak?” Ocehnya menyindir saat mengingat pertemuan pertama dulu di kafe ini.
Laki-laki itu terkekeh, “One hundred percent I guarantee ....(100% aku jamin).”
Ia menipiskan bibirnya. Punya suami seorang polisi benar-benar harus siap di medan apa pun. Tetiba dini hari ia mendapat panggilan. Atau pulang larut. Bahkan pulang pagi.
Seorang pelayan kafe menghampiri mereka.
“Pesan spageti bolognese 1, bistik delaris 1, poffertjes dan bitterballen. Minumnya mocktail 1, smoothies strawberry 1,” pesan Mas Danang.
“Tolong sajikan 5 menit sebelum azan magrib!” Imbuhnya. Dan pelayan tersebut mengangguk mengerti. Kemudian undur diri.
Sementara di ujung ruangan terdapat panggung kecil. Yang biasa digunakan untuk live performance. Jika waktu pertama ke tempat ini mereka disuguhkan dengan gitar akustik. Namun berbeda untuk sore ini. Seseorang telah duduk di balik piano.
Lalu suara piano klasik itu perlahan mengalun indah.
Tiba saat mengerti
Jerit suara hati
Letih meski mencoba
Melabuhkan
Rasa yang ada
Mohon tinggal sejenak
Lupakanlah waktu
Temani air mataku
__ADS_1
Teteskan lara
Merajut asa
Menjalin mimpi
Endapkan sepi sepi
“Mas Danang gak pengen cerita sesuatu?” Tembaknya. Beberapa hari belakangan ia memang sengaja menahannya.
“Cerita apa?”
Cinta ‘kan membawamu...
Kembali di sini
Menuai rindu
Membasuh perih
Bawa serta dirimu
Dirimu yang dulu
Mencintaiku apa adanya
“Mas Danang kenapa tidak cerita soal Ratu?” Tanyanya. Mungkin ini waktu yang tepat untuk membahasnya.
Laki-laki itu mengernyit. Menatapnya penuh.
Saat dusta mengalir
Jujurkanlah hati
Genangkan batin jiwamu
Genangkan cinta
Seperti dulu saat bersama
Tak ada keraguan
“Itu masa lalu ....”
“Dan itu gak penting!” Seru Mas Danang.
Cinta ‘kan membawamu
Kembali di sini
Menuai rindu
Membasuh perih
Bawa serta dirimu
Dirimu yang dulu mencintaiku
Apa adanya
Laki-laki itu semakin mengerutkan dahi.
“Dia ....”
“Hanya masa lalu ... no more!” Dengus Danang. Tak dapat lagi menyembunyikan kekesalannya. Ternyata wanita itu tidak main-main. Gila!
“Kenapa baru sekarang cerita? Apa itu yang membuatmu beda akhir-akhir ini?”
Keheningan menjeda.
Cinta ‘kan membawamu
Kembali di sini
Menuai rindu
Membasuh perih
Bawa serta dirimu
Dirimu yang dulu mencintaiku
Apa adanya
-Cinta kan membawamu-Dewa-
***
Danang
Tiba di apartemen mereka masih dalam keterdiaman. Setelah makan usai mereka langsung pulang. Pun selama dalam perjalanan tidak ada yang memulai untuk berbicara. Seakan semua terhanyut ke dalam pikiran masing-masing.
Gadis itu bahkan kembali ke mode awal.
“Duduklah!” Serunya saat melihat istrinya ke
luar dari kamar mandi. Ia sengaja menunggu di sofa kamar.
“Bukannya aku gak mau cerita. Tapi itu sudah masa lalu yang gak perlu dibahas lagi.” Ungkapnya saat Kirei sudah duduk di sebelahnya.
“Apa dia mengganggumu?” Tanyanya. Karena ia yakin Ratu wanita yang penuh obsesi.
“Meskipun dia masa lalu Mas Danang, tapi paling tidak cerita. Jadi aku gak kaget dengar dari dia.”
“Dia wanita yang aku temui waktu di mall itu, kan?”
“Berarti udah berapa kali Mas Danang diam-diam ketemu sama dia?” Berondong gadis itu padanya.
“Bahkan dia menunjukkan foto-foto kalian saat masih bersama,”
Ia menghela napas, “I assure you (aku pastikan padamu) ... dia tak berarti lagi buatku.”
“Tidak lebih dua kali. Selalu ada Aksa jika aku menemuinya. Itu juga dia yang maksa.”
“Dia yang meninggalkan aku terlebih dulu karena lebih memilih pengusaha kaya. Mereka menikah. Lalu tiba-tiba dia datang menjelaskan bahwa statusnya sudah bercerai."
__ADS_1
Ia menggeleng, tak masuk akal pikirnya.
“Hanya orang bodoh yang mau menerimanya kembali,” tandasnya tegas dan lugas.
“Apa dia mengganggumu?”
Istrinya itu menggeleng.
Ia menangkup wajah Kirei. Menatap ke dalam manik matanya. Memastikan gadis itu percaya sepenuhnya padanya.
“I have you (aku punya kamu) dan tak menginginkan yang lain. You have my words (kamu pegang janjiku)." Ucapnya penuh penekanan dan keyakinan.
**
Kirei
Pagi ini ia kembali bekerja seperti biasa. Persoalan mengenai Ratu ia anggap selesai. Ia lebih percaya pada suaminya.
Ia mengirimkan pesan singkat pada laki-laki itu. Sebab sebelum sahur mas Danang pergi untuk sidak.
Kirei : Mas ... aku liputan di kantor Gubernur. Aksi demo buruh dan mahasiswa.
“Sudah siap, Rei?” Tanya mas Budi menghampiri kubikelnya.
“Yup, Mas ... ready!” Ucapnya sambil menarik tas punggung dan memakainya.
“Eh ... gue ikutan,” sahut Oka. Jurnalis seputar Jateng.
“Bawa odol gak?” Tanya Oka. Pria itu mengingatkan.
“Ready ....” Balas Budi.
Ia dan rekan-rekannya akan meliput demo besar oleh gabungan buruh dan mahasiswa yang menolak undang-undang cipta kerja. Beberapa hari lalu para pedemo sudah melakukan aksinya. Namun, tuntutan mereka belum dikabulkan. Sehingga hari ini menjadi pungkasan dari demo yang sudah dilakukan beberapa kali tersebut.
Titik aksi demo tetap sama yaitu di kantor Gubernur dan kantor DPRD.
Sementara titik kumpul para pedemo berada di pintu 4 pelabuhan Tanjung Mas. Massa yang diperkirakan berjumlah ribuan itu sudah mulai bergerak. Mengakibatkan arus lalu lintas macet dan lumpuh.
Ia, Mas Budi dan Oka baru saja tiba di sekitar kantor Gubernur.
“Mas Budi salah bawa odol nih ....” Tuding Oka ketika selesai mengolesi kelopak mata bagian bawah. Bukan rasa semriwing yang dirasakan justru aroma jeruk yang menyeruak.
“Odol di rumah itu, gak sempet beli."
“Waduh, Mas ... jangan-jangan odolnya si Lyra, ya?” Tebaknya. Lyra anak kedua Mas Budi yang sedang candu dengan kartun Tayo.
“Bukan ....” Tukas Mas Budi, “odol si Tomi." Ungkapnya seraya tersenyum jahil. Tomi anak pertama mas Budi. Masih duduk di bangku sekolah TK.
“Hah!” Ia dan Oka bersamaan menoleh pada Budi.
Sementara Oka geleng-geleng kepala seraya menghapus kembali odol yang telah menempel sempurna itu dengan tisu.
“Yang aku tahu, odol itu gak ngaruh sama gas air mata. Lagian kamu aneh-aneh aja sih, Ka. Suruh Mas Budi bawa odol segala!” Sungutnya.
“Masa sih?” Tanya Oka tak percaya, “tapi kok banyak pedemo yang make?” Dalihnya mencari pembenaran.
Ia mengedikan bahunya santai.
Area kantor Gubernur dan gedung DPRD telah disterilkan. Dipagari dengan kawat duri. Mobil water canon juga terparkir tepat di dalam pagar pintu gerbang.
Para pedemo sudah terlihat berdatangan. Mereka memenuhi halaman luar kantor Gubernur. Membawa berbagai poster berisi tuntutan.
“Rei, kamu jangan jauh-jauh,” peringat Budi. Sebelum mereka melakukan tugas.
Ia mengangguk, "Oke, Mas". Ini bukan liputan pertama baginya meliput aksi massa. Sudah beberapa kali.
“Ka, awasi Kirei!" Pesan Budi pada Oka. Sementara Oka hanya mengacungkan jempolnya saja. Sebab suara sahut menyahut para pedemo dan koordinatornya melalui pengeras suara jelas bising.
Semakin siang pedemo semakin merasuk untuk masuk ke halaman dalam gedung. Pedemo berhasil menerobos kawat berduri. Lalu aksi saling dorong dengan barisan barikade polisi tak terelakkan lagi.
Meski perwakilan dari pihak pedemo sudah bisa menemui Bapak Gubernur. Tapi tidak menyurutkan massa aksi untuk terus merasuk ke dalam gedung.
Kericuhan terjadi. Aksi saling dorong. Saling lempar dengan botol air mineral, batu dan benda tumpul lainnya tak pelak lagi bisa dihindari. Mengakibatkan beberapa lampu bangunan pecah. Belum lagi datang segerombolan pedemo yang membakar ban bekas di depan kantor.
Terpaksa pihak keamanan menembakkan water canon untuk memukul mundur para pedemo.
Ia yang tak sadar terus meliput aksi-aksi para pedemo. Sudah terpisah dengan Mas Budi dan Oka. Terjebak dalam kerumunan ribuan pedemo.
Ia berusaha untuk lolos dan keluar. Namun nahas, justru ia seperti digiring untuk terus maju.
“Mas, saya jurnalis ....” Ucapnya seraya memperlihatkan id card-nya. Tetapi omongannya seperti angin lalu. Tak diindahkan.
Massa aksi semakin tak dapat dikendalikan. Sehingga terpaksa polisi menembakkan gas air mata ke arah kerumunan massa.
Dengan cepat kerumunan itu berhamburan. Tunggang langgang menyelamatkan diri masing-masing.
Ia juga berusaha untuk menyelamatkan diri. Tapi lagi, lagi nahas. Tubuhnya didorong. Ia terjerembap.
Matanya perih. Panas. Dahinya terantuk dengan aspal. Sementara topinya sudah tak diketahui jatuh di mana.
Napasnya begitu memburu. Orang-orang masih berlarian saling menyelamatkan diri sendiri.
Sementara ia merasakan tubuhnya seperti didorong ... diayun ... lalu ditendang. Matanya benar-benar perih dan sakit. Lambat laun pandangannya gelap.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan like, comment, tips dan, vote .... 🙏
__ADS_1