Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
108. Sabar Kartu Sakti


__ADS_3

...108. Sabar Kartu Sakti...


Kirei


“Keep it safe,” Danang mengusap perutnya.


Ia menatap laki-laki itu. Masih dalam kebingungan.


“Ma-maksudnya?” Ia mengernyit.


Bukan jawaban yang didapat. Justru Danang beranjak dari kursi dan merengkuhnya. Erat. Sangat erat. Hingga ia merasa sesak dan terimpit.


“Mas ... aku sesek,” keluhnya.


“Hah?!” Danang baru menyadari jika perlakuannya menyakiti istrinya.


“Sorry ... sorry ... yang mana yang sakit,” laki-laki itu memeriksa anggota tubuhnya.


“Gak ada, cuma sesek aja kalo dipeluk kayak tadi.” Sahutnya. Ia ingin setengah baring. Dan laki-laki itu sigap menata bantal lebih tinggi untuk mengganjal kepalanya agar lebih nyaman.


“Masih sakit?”


Ia menggeleng.


Dari balik pintu Rendra muncul dengan tentengan plastik berwarna putih.


“Makasih, Ren.” Ucap Danang.


Rendra membalas, “Siap, Pak. Oya, 2 jam lagi jadwal periksanya.”


Danang mengangguk.


“Saya pamit.” Rendra menyerahkan kunci mobil pribadi pada Danang. Sementara Rendra kembali ke kantor dengan mobil dinas.


“Makasih, Pak Rendra.” Ujarnya.


“Sama-sama, Mbak.” Rendra mengukir senyum, lalu bergegas meninggalkan ruangan klinik.


Danang membuka plastik dan mengeluarkan isinya dari sana.


“Mau makan yang mana dulu? Ada puding, buah, atau makan nasi.” Tawar laki-laki itu. “Bekal roti tadi pasti belum dimakan, kan?” terkanya.


Ia meringis sebagai jawaban bahwa tebakan suaminya sangat tepat.


“Puding dulu, Mas. Aku mau yang manis-manis. Gak tau kenapa mulut rasanya pahit.”


“Mulai sekarang harus banyak makan. Tubuh kamu kecil, terlalu kurus.” Danang menyodorkan sesendok puding ke mulutnya, “aak,”


“Aku udah enakan, Mas. Bisa makan sendiri.” Tolaknya. Ia tak mau menyusahkan Danang. Pun, ia juga sudah merasa lebih baik.


Padahal seingatnya, setelah editorial meeting tadi ia sempat ke ruangan redaktur. Membahas beberapa program dan hasil rapat redaksi minggu lalu yang bertepatan dirinya cuti 1 pekan. Cukup lama. Kemudian ia merasakan mual secara tiba-tiba.  Ia pun pergi ke toilet. Mengeluarkan semua isi perutnya di sana. Nihil. Cuma cairan saja, pasalnya ia belum sempat sarapan apa pun. Bekal roti juga belum terjamah. Setelah itu ia merasakan lemas yang luar biasa dan kepalanya berputar, lalu ... tidak ingat apa-apa lagi. Apa iya, gara-gara melupakan sarapan, ia pingsan? Baru kali ini terjadi.


“Pokoknya aku suapin. Gak boleh ada penolakan. Mulai sekarang harus banyak makan.”


Ia membuka mulutnya. Statement laki-laki itu absolut, tidak bakal berubah. Jadi, daripada berdebat tak ada juntrungnya. Lebih baik ia mengalah pikirnya. Danang dengan sabar menyuapinya. Diselingi cerita yang terkadang ada benarnya, tapi tak jarang juga bikin kesal.


“Menurutmu minum 8 gelas per hari mitos apa fakta?” Tanya Danang.


“Fakta,” sahutnya.


“Salah!”


Ia mengerutkan keningnya.


“Fakta, Mas! Biar kita gak dehidrasi. Lagian minum banyak, kan bagus.” Salaknya.


“Itu, mitos.”


“Pernah denger belum, seorang atlet habis minum banyak, meninggal?” tanya Danang lagi, sambil terus menyuapinya.


Ia terdiam. Lalu menggeleng samar.


“Karena tubuh akan kaget. Menerima asupan air yang terlalu banyak,”


“Lho bukannya, untuk mengganti cairan yang hilang?” sergahnya.


“Memang betul. Tapi tidak boleh berlebihan,"


"Tubuh akan bekerja ekstra menyerap air. Malah bisa bikin hiponatermia. Ginjal akan kewalahan menerima pasokan air dalam jumlah berlebih. Akibatnya tidak bisa menjalankan fungsinya dengan normal. Parahnya lagi terjadi pembengkakan sel dan bisa berujung pada kematian.”


“Jadi,”


“Ya ... minumlah sesuai kebutuhanmu. Bukan 8 gelas sehari. Lagian sumber air bukan mutlak dari air putih saja. Bisa dari buah-buahan yang kaya kandungan air, sayur, dan lain-lain. Mekanisme tiap orang itu beda-beda. Tempat tinggal, aktivitas juga berpengaruh. Tidak bisa disamaratakan,”


“Intinya dengerin kerongkonganmu. Kalo katanya haus ... ya, minum aja jangan ditahan-tahan.”


“Terus kenapa aku disuruh makan banyak?” protesnya. Akhir-akhir ini laki-laki itu bawel. Katanya tubuhnya terlalu kecil dan kurus. Seperti tidak diberi nafkah saja. Padahal ia nyaman dengan tubuhnya sekarang.


“Ya ... biar enak aja dipegang.” Danang melipat bibirnya, mengulum senyum.


“Tuh, kan modus!” Tukasnya sebal, “emang makan banyak bisa nambah gemuk? Perasaan, Rei udah makan banyak, tapi segini-gini aja.” Ukuran baju, celana, sepatu bahkan dalaman masih tetap sama sejak ia kuliah. Paling tubuhnya bertambah tinggi saja menurutnya. Eh ... tunggu! Akhir-akhir ini ia merasakan nyeri pada payu daranya dan merasa ukurannya penuh.


“Bukan nambah gemuk. Tapi biar ideal. Apalagi,” Danang sengaja menggantungkan kalimatnya.


“Apalagi, apa?” desaknya menimpali.


“Hahaha ....”


“Puas, ya malah ketawa!” sungutnya.


Akhirnya dengan obrolan itu ia bisa menuntaskan semua makanan, tentunya dibantu oleh Danang. Makan berdua, sesendok berdua. Di ruangan yang berisi mereka berdua saja. Rasanya dunia juga milik berdua. Hehehe ... yang lain maaf terabaikan.


Merasa lebih baik, ia meminta Danang untuk pulang ke rumah. Danang, mengiyakan. Namun yang membuat ia menggeleng tak percaya adalah Danang memaksanya duduk di kursi roda. Mendorongnya hingga ke sisi mobil yang terparkir di depan lobi. Dan memaksa membopongnya sampai ia benar-benar duduk nyaman di atas jok. Berlebihan menurutnya.


Sepanjang itu pula ia melakukan aksi penolakan. Keberatan. Dan mulutnya bercuap-cuap sampai berbusa.


“Mas, aku udah baikan. Udah bisa jalan pelan-pelan,”


Danang tak menghiraukannya.


“Mas, aku bukan sakit yang parah. Malu, Mas dilihatin banyak orang.”


Laki-laki itu masih cuek sambil melenggang mendorong kursi roda dengan percaya dirinya.


Huft.


Ia hanya bisa mendesahkan napas ke udara.


“Eh ... eh ... Mas Danang mau ngapain?” ia menggeragap ketika laki-laki itu tanpa permisi membopongnya membawanya ke dalam kabin mobil. Dan ia hanya bisa memutar bola matanya, malas.

__ADS_1


“Udah,” hanya itu jawaban suaminya. Mengulas senyum lalu menutup pintu. Memutari mobil dan duduk di balik kemudi.


“Mas, ini mau ke mana?” tanyanya ketika mobil bukan mengarah jalan pulang.


“Ke dokter.”


“Lho ... Rei udah baikan. Udah sehat. Beneran ....” Ia menoleh pada Danang. “Rei, cuma mau istirahat di rumah.”


Danang justru tersenyum merekah, “ Habis dari dokter baru pulang. Pastiin dulu kondisi kamu,”


Tapi yang membuatnya kembali heran, Danang menggandeng tangannya menuju,


“Mas, kita kok ke ruangan dokter Yoiku?” Seingatnya tak ada jadwal konsultasi. Pemeriksaan. Dan janjian lainnya.


Begitu masuk ruangan dokter Yoiku, mereka langsung disambut gembira. Ada Anita juga di sana tersenyum menyambutnya.


Dokter Yoiku menanyakan keluhannya. Dan ia menjawab, “Tiba-tiba merasakan pusing, Dok. Tapi tiba-tiba juga cepat hilang,”


“Nafsu kepengen makan sesuatu meningkat. Tapi hanya di awal saja. Setelah makan beberapa suap ... rasa inginnya hilang menguap begitu saja. Entah kenapa, Dok.”


“Dan ... oh iya, Dok. Mual. Saya akhir-akhir ini merasakan mual.”


Dokter Yoiku tersenyum-senyum, “Haid terakhir kapan?”


DEG.


Tetiba jantungnya seperti berhenti berdetak.


Ia menoleh pada Danang. Laki-laki itu tersenyum, meraih tangannya di atas meja. Mengusapnya. Dan menggenggamnya erat.


“Terakhir ....” Ia berusaha mengingat. “Bulan lalu, tanggal ....” Ia langsung terkesiap setelah menyadari bahwa, “Dok, aku telat haid. Harusnya awal bulan kemarin.” Ia merasakan atmosfer tanda-tanda bahwa dirinya ....


Dokter Yoiku bangkit dari kursinya, “Oke, kita periksa dulu. Biar lebih meyakinkan.”


Ia digiring suster untuk ke kamar mandi. Memberikan sedikit cairan urinenya untuk dites kehamilan. Lalu setelah itu Anita membantunya berbaring di atas ranjang pemeriksaan.


“Congrats!” Anita tersenyum ketika menunjukkan hasil test pack yang memperlihatkan 2 garis merah.


Sementara Danang terus menggenggam tangan satunya, seolah tak ingin melepaskan barang sedetik pun. Senyum terbit secara intens dari bibirnya.


Ia dan Danang memandangi layar televisi yang berada menggantung tepat di depannya. Setiap pergerakan tak luput dari manik mata keduanya.


“Nah, ini dia.” Alat  USG itu berhenti di satu titik. “Ini kantung janinnya. Masih sangat kecil, seperti ukuran kacang polong.” Jelas Yoiku.


Mereka saling bertatapan. Ia bisa melihat binar mata bahagia suaminya. Pun dengan dirinya. Rasa haru, bahagia langsung  menyeruak mendesak air matanya berkumpul. Kemudian menetes melalui sudut mata.


Begitu juga Danang. Ia bisa melihat laki-laki itu menatapnya penuh. Aura kebahagiaan sangat kentara di wajahnya.


“Thanks a million ....” Danang mengecup keningnya.


“Selamat, ya.” Suara dokter Yoiku menyadarkan mereka yang larut dalam kebahagiaan.


“Usia kehamilan 6 minggu 5 hari. Bisa lihat, kan? Ini yang seperti kacang polong.” Yoiku menggeser-geser alat USG.  


“Ukurannya masih sangat kecil. Tapi semua organ sudah mulai berkembang. Termasuk jantungnya. Bisa didengarkan denyut jantungnya.”


Dug ... dug ... dug ... dug ... dug


Suara denyut jantung sudah terdeteksi melalui USG. Ia bisa mendengarnya. Dadanya berdesir, ia benar-benar tidak menyangka diberi kepercayaan lagi untuk mengandung buah cinta mereka lebih cepat dari prediksi.


“Tiga minggu lagi kita kontrol ulang.” Imbuh dokter Yoiku. Lalu terdengar suara mesin di samping mereka. Dua buah foto berwarna monokrom keluar dari sana.


“Wah, jangan-jangan made in Dieng nih?!” celetuk Anita saat mereka kembali duduk. Anita terkekeh. Sebab jika dihitung-hitung dengan usia kehamilannya sekarang itu artinya memang bertepatan mereka berada di sana.


Perjalanan pulang terasa lebih menyenangkan. Laki-laki itu terus menggenggam tangan kanannya. Menciuminya berulang kali.


Meski tanpa sepatah kata yang keluar dari mereka, tapi cukup dengan mata dan perlakuan menjadi bukti. Bahwa mereka bahagia. Mereka bersuka cita. Menyambut replika keduanya.


Dan ia baru menyadari jika suaminya memperlakukannya sedemikian ketat sedari tadi karena hal ini ternyata.


“Jadi Mas Danang sudah tahu duluan?” tanyanya ketika mereka telah tiba di rumah. Duduk berselonjor di atas sofa kamar. Memangku piring berisi potongan buah-buahan. Mulai melon, apel, pepaya dan anggur yang di bawa laki-laki itu baru saja.


Danang mengangguk. Mendudukkan dirinya di dekat kakinya.


Ia mengerutkan keningnya, “Sejak kapan?”


Danang menyuapinya.


“Kata dokter klinik waktu kamu pingsan.”


“Oo, jadi Mas Danang sengaja gak ngasih tau! Malah bikin heboh suruh Rei naik kursi roda.” Cebiknya.


Laki-laki itu terkekeh, “Kata dokter klinik begitu. Cuma biar meyakinkan, dokter itu menyarankan periksa ke dokter kandungan.”


Hening menjeda sesaat.


Mereka saling menatap. Cukup lama.


“Sayang, terima kasih.” Danang mengusap pipinya dengan ibu jarinya.


“Terima kasih ....”


“Terima kasih sudah mengandung anak aku,”


“Koreksi, Mas. Our child ....”


Danang terkekeh, “As you wish,” laki-laki itu mengecup bibirnya sekilas.


**


Danang


Kehamilan Kirei menjadi berita yang paling menyenangkan. Paling berharga. Dan paling dari segalanya. Ia tak pernah menyangka kabar baik itu menghampirinya lebih cepat. Sebab dokter Yoiku pernah berujar jika kehamilan bisa dimulai 3 bulan setelah tindakan laparoskopi. Atau kira-kira setelah mendapat menstruasi kembali berjalan normal 2-3 siklus. Atau paling cepat setelah mendapat haid pertama.


Dan ternyata Tuhan berkehendak lain. Tuhan menyayangi mereka. Setelah mendapatkan menstruasi pertama pasca-laparoskopi, ternyata Kirei langsung mengandung. It’s a miracle.


Ia harus menjaga Kirei lebih dari biasanya. Harus lebih protektif. Harus lebih memperhatikan Kirei. Tepatnya memperhatikan mereka. Kirei dan calon buah hatinya.


Ia memberi kabar baik itu pada mama dan papa di Surabaya.


“Alhamdulillah ... Nang, kamu harus menjaganya baik-baik. Wanita hamil itu perubahan moodnya cepet. Jadi usahakan turuti kemauannya,”


“Kalo mood ibunya buruk bisa berpengaruh sama bayi yang di dalem. Usahakan mood Kirei selalu senang, bahagia, dan jangan terbebani.”


“Jangan biarkan Kirei kelelahan.”


Ia juga memberi kabar ke Bunda.


“Alhamdulillah ... Bunda, seneng banget dengarnya. Selamat ya, Mas Danang.”

__ADS_1


“Mas Danang harus banyak sabar. Istri hamil itu banyak kemauannya.”


“Mengalah dulu, asal masih masuk akal. Yang penting suasana hati ibu hamil selalu terjaga.”


“Mudah-mudahan semua dilancarkan. Jaga baik-baik kehamilan kali ini.”


Dan sederet petuah yang ia sendiri baru tahu. Jika mood ibu hamil benar-benar beda jauh dengan kepribadian Kirei selama ini. Bisa dibilang, berubah 180 derajat. Bahkan salah sedikit saja, bisa membuat Kirei sedih lalu berakhir menangis.


Seperti pagi ini, ia dikejutkan dengan permintaan Kirei, “Mas, aku pengen soto gading.” Di saat ia terlelap sebab masih jam setengah empat pagi. Dan ia harus ke mana mencarinya?


“Soto gading? Di mana itu?”


“Di solo.”


“Hah?”


“Sekarang, Mas. Aku pengennya sekarang.”


“Soto di sini aja, gimana?” tawarnya. Berbagai soto nusantara tersedia di kota ini. Hanya tinggal menunggu sebentar lagi, pasti warung soto akan buka untuk menu sarapan pikirnya.


“Rei, maunya soto gading,” bibir ibu hamil itu mengerucut. Lalu dengan mudahnya meneteskan air mata.


Kalau seperti ini siapa yang tega?


Sabar. Hanya itu kata sakti yang terucap dalam hati. Ia teringat petuah mama dan bunda. Akhirnya mau tak mau ia pergi ke Solo. Demi calon sang buah hati.


Di sepanjang perjalanan, ibu hamil itu selalu menghubunginya.


“Mas Danang, udah sampai mana?”


“Warung sotonya buka jam setengah enam. Jadi pas nyampe sana Mas Danang gak akan nungguin lama.”


“Kalo udah dapat, langsung pulang, ya Mas.”


Benar juga kata Kirei, sampai di sana warung makan itu masih sepi, sebab baru buka. Dirinyalah pelanggan pertama.


Tak berlangsung lama, ia bergegas kembali ke Semarang. Dengan sebungkus soto gading request istrinya yang sedang ngidam.


Ting.


My wife : Mas udah sampai mana?


Ia membalas pesan Kirei.


Danang : Just a moment more ....



Well, hanya demi semangkok soto gading yang harganya 14 ribu, ia harus rela bolak-balik Semarang-Solo. Diguyur hujan sepanjang perjalanan. Hems, my baby ... kamu sukses ngerjai Ayah!


**


Kirei


Kehamilannya benar-benar membuat mood-nya jungkir balik. Detik pertama ia bisa merasakan senang. Namun di detik kelima langsung terjun bebas. Menit pertama ia ingin makan sesuatu, namun menit setelah hadirnya makanan itu, keinginannya lenyap seketika. Begitu juga morning sickness yang melanda kala malam hari. Membuatnya harus menguras semua isi perutnya.


Beginikah suasana hati ibu hamil?


Ia membaca referensi dari berbagai media laman portal. Dan semua mengatakan bahwa ibu hamil mengalami perubahan mood swing. Terutama di trimester pertama dan ketiga. Disebabkan perubahan tubuh, mudah lelah, stress dan perubahan hormon estrogen dan progesteron.


Jadi.


Ia mendesahkan napas. Got to go through this (harus melalui ini).


-


-


📷 : Koleksipribadi


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2