
...93. I Don’t Care!...
Kirei
Ia berdiri di balkon apartemennya. Pendar cahaya sejauh mata memandang begitu indah. Memukau. Dan berkilauan. Lalu menghela napas perlahan, begitu juga mengembuskannya. Keputusan telah bulat. Ia kembali ke Semarang. Meski iming-iming menggiurkan menggelapkan mata dan logika.
Adalah Gita. Makeup artist sekaligus sahabatnya. Yang telah banyak membantunya. Tanpa Gita mungkin ia kesulitan menyanding bukti untuk meyakinkan pihak yang memfitnahnya. Juga pihak-pihak yang perlu ia bungkam mulutnya.
Gita menyusup masuk ke group chat yang berisi karyawan dari berbagai divisi. Di situlah asal muasal fotonya beredar. Foto yang telah diedit sedemikian rupa. Ditambah bumbu-bumbu menyudutkannya.
Menurut pengakuan dari sang desain foto, salah satu karyawan bagian divisi art director. Dia melakukan itu atas suruhan seseorang. Gita patut diacungi jempol. Usahanya tak sia-sia. Membuat si pelaku mengaku dan mau mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.
Semua bukti lengkap dan siap diungkap.
Foto-foto asli dan yang sudah mengalami perubahan dicetak kembali. Ia simpan dalam amplop berbeda. Amplop cokelat ia sertakan surat pengakuan dari oknum divisi art director bermeterai legal. Sementara surat kedua adalah pernyataan dirinya yang tidak melanjutkan kontrak baru yang akan dimulai dua minggu lagi. Dengan segala konsekuensi ia siap menerima penalti.
Beruntungnya program baru belum berjalan. Perjanjian kontrak baru juga belum diajukan. Belum ada kesepakatan secara tertulis berlandaskan yuridis. Hanya saja pasti ia mengecewakan Anton dan pihak yang mengharapnya tetap bertahan. Sebab jawaban awal sebelum kejadian itu ia menyetujui untuk ikut serta lagi menjadi pembawa acara di program baru.
“Rei ... ingin melanjutkan kontrak.” Curhatnya saat ia menelepon bunda.
Dan bunda cuma bisa memberikan dukungan, asal Mas Danang merestuinya.
“Kamu yakin?” Ucap Danang beberapa waktu lalu lewat sambungan dunia maya. Kalimat yang selalu meyakinkan untuknya di setiap pengambilan keputusan. Dan jawaban Danang masih sama, “aku gak akan mengekang kamu, hanya karena aku egois ingin bersama kamu terus. Go on, jika kamu yakin. I’ll support you.”
Namun rumor yang beredar kian lama kian santer, memperburuk keadaan. Ia harus secepatnya meredam dan membuktikan. Lagi, ia sangat bersyukur orang-orang yang dekat dengannya selalu mendukungnya. Membantunya. Ia bisa bernapas lega sekarang.
Ia menjengit ketika sebuah tangan melingkari pinggangnya,
“Lagi lihat apa?”
Ia mengusap lengan tersebut, “Kalo malem bagus lihat dari sini.” Ujarnya.
Kepala Danang menyuruk ke tengkuknya. Membuat bulu-bulu halus rambutnya meremang seketika.
Laki-laki itu mencium puncak kepalanya. Lama dagunya bertengger di sana.
“Kamu yakin? Dengan keputusan kamu.” Anton masih memberikan kesempatan jika ia berubah pikiran.
Ia mengangguk. Menyandarkan punggungnya ke dada laki-laki itu. Mengeratkan tangan yang melingkarinya.
“Terima kasih,” balas Danang.
“Rei yang harusnya berterima kasih. Mas Danang selalu support apa pun.” Ia mendongak. Laki-laki itu mencium keningnya lalu menyulam senyum mengembang sempurna.
“Besok pagi kita tinggalkan Jakarta ....”
Ia mengangguk kembali. Tapi tangan Danang sudah bergerilya. Melepaskan kancing piyama tidurnya.
“Kayaknya bukan ide buruk mencetak kenangan indah di sini,”
“Malam ini ...."
Dan satu kalimat yang tepat disematkan untuk laki-laki itu. Yaitu ‘si petualang sejati’. It’s show time!
**
Danang
Ia mengirimkan notice ke Rendra bahwasanya sore ini ia harus ke Jakarta. Meminta Pak Waka untuk menggantikan dirinya hadir di pertemuan rutin berkoordinasi dengan pihak wali kota.
Sebenarnya ia tidak ingin memberitahu soal kedatangannya ke sana. Tapi Kirei sudah bisa menebaknya.
“Mas Danang mau ke mana?” Tanya Kirei ketika sambungan telepon itu berubah menjadi video call saat ia berada di bandara.
“Kok di bandara?”
Ia tersenyum membalasnya.
“Iih, ditanya malah senyam-senyum. Nyebelin!”
“Mas Danang mau ke mana?” Todong Kirei.
“Mau jenguk istri aku,” ia melipat bibirnya. Tidak bisa berkilah lagi. Ketika seruan dari pengeras suara menyebut penumpang tujuan ke Jakarta diminta segera naik pesawat.
“Beneran, Mas?!” Kirei terlihat senang.
“Iya, sekarang tutup dulu. Sampai ketemu di Jakarta.” Pungkasnya terburu-buru. Bertepatan ia memutus sambungan telepon. Menyerahkan boarding pass pada petugas dan melenggang masuk ke dalam pesawat.
Tiba di Jakarta, Kirei benar-benar menyambutnya. Menunggunya di lobi. Menghambur ke pelukannya ketika mereka bertemu.
“Makasih sudah datang.” Ucap Kirei.
__ADS_1
“Nanti kita kena ciduk lagi.” Selorohnya. Tepat berbisik di telinga Kirei.
“I don’t care!”
“Istri aku host terkenal. Pasti besok masuk akun gosip.”
“I don’t care!” Seru Kirei ngotot.
Ia tersenyum. Mengusap kepala Kirei yang masih memeluknya.
Beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Dan ia pun mengambil sikap ‘I don’t care!’.
Tiba di unit membuatnya tercenung. Melihat dua buah koper telah siap. Ia melepas sepatu dan waist bag-nya.
“Kamu yakin?” Tanyanya memastikan lagi keputusan istrinya. Ia duduk di tepi ranjang.
“Yakin,” jawab Kirei. Membuka kulkas. Menuang jus warna kuning dari botol ke gelas. Mengangsurkan kepadanya.
“Rei udah pikirkan.” Ikut duduk di sebelahnya di tepi ranjang.
Ia menegak minuman tersebut. Lalu mengangsurkan kembali ke Kirei. Istrinya itu menghabiskan minuman sisanya hingga tandas.
“Yang haus kayaknya bukan tamu. Tapi kamu,” sindirnya. Mengusap kepala Kirei.
Istrinya itu mencebik.
“Nanti malam temani Rei, nemuin Mas Anton sama istrinya ya, Mas.” Kirei menyimpan bekas gelas yang telah kosong ke wastafel. Menyuci gelas dan piring kotor di sana. Lalu menyimpan di rak bersih. Mengeringkan tangannya dengan lap wastafel.
Ia menghempaskan tubuhnya ke kasur. Dengan kaki menjuntai. “Di mana, jam berapa?”
“Di kafe depan jam 7.” Kirei menghampirinya, ikut merebahkan diri di sebelahnya. Dengan tangan kanan yang menyiku sebagai tumpuan kepala yang menghadapnya.
“Tudingan istri Mas Anton itu gak benar. Rei bukan pelakor. Siapa juga yang mau merebut suaminya? Memanfaatkan kebaikannya? Suami aku lebih ... ganteng. Lebih ... keren. Lebih ....” Jeda. Ia menatap Kirei yang juga tengah menatapnya.
“Lebih apa?” Tanyanya sambil mengulum senyum. Tangan kanannya menyelipkan beberapa helai rambut Kirei ke belakang telinganya.
Setengah bangkit ia mencium bibir Kirei sekilas lalu tersenyum.
Kirei mengerjap, semburat rona merah menghiasi pipinya. Tindakan-tindakan spontan seperti ini masih saja membuatnya tersipu. Tersanjung. Meremang. Jantungnya berdegup kencang. Dan menimbulkan sensasi gelenyar asing.
“Le ....” Ia menyergap bibir Kirei yang setengah terbuka. Menahan punggung istrinya agar tak roboh ke belakang. Sebab ia mendesak pertautan mereka. Namun usahanya gagal. Tubuh Kirei terlentang. Bahkan Kirei mengalungkan tangan ke lehernya secara naluri.
Bak gayung bersambut. Ia semakin bersemangat. Decapan akibat pertautan kedua bibir telah membangkitkan sesuatu yang tertidur beberapa hari ini.
Karena waktu sudah hampir gelap. Itu artinya sebentar lagi ....
Benar saja kumandang azan lamat-lamat terdengar. Ia mengurai pertautan bibir mereka. Dengan napas memburu. Merapikan kembali kaos Kirei yang tersingkap hingga dada.
Ia mengulas senyum, “Maaf, to be continued ....” mengecup dahi Kirei. Istrinya pun masih terengah-engah. “Kita lanjutkan lagi nanti.” Pungkasnya seraya bangkit dari mengungkung Kirei.
**
Kirei
Badannya serasa pegal semua. Saat keesokan paginya ia terbangun. Alarm ponsel meraung-raung memanggilnya untuk segera lekas bangun, menyibak selimut yang menutupi tubuh urian mereka. Ia menjeremba ponsel yang berada di atas meja. Mematikan alarm lalu menyimpan kembali ponselnya.
Rasanya masih seperti mimpi. Bibirnya melengkung ke atas. Mengingat pergulatan semalam yang seakan tak bertepi. Ia mengusap perut datarnya. Mungkin kah di sana sudah bersemayam calon buah hati mereka?
Sedangkan menurut dokter ia harus ....
Danang menggeliat. Melingkarkan tangan ke pinggangnya.
“Mas bangun.” Ia mengusap rahang Danang. Laki-laki itu hanya mendesah.
“Pesawat kita jam 9,” imbuhnya.
“Heemm ....”
Dddrrrttt ...
Dddrrrttt ...
Getaran dan bunyi nyaring ponsel Danang menggelepar di atas meja. Tangannya berusaha meraba-raba meraihnya. Dapat.
Mama calling ....
“Mas, mama telepon.”
“Heemm ... angkat aja,” sahut Danang dengan mata masih terpejam. Bahkan semakin mengeratkan dekapannya.
Mama calling ....
“Mas bentar, aku sesek kalo gini.” Kepala laki-laki itu menyuruk di dadanya. Ia menjengit. Kegelian. Dan pastinya membuatnya meremang. Tubuh mereka masih urian. Sentuhan skin to skin tak ayal pasti akan membangkitkan jutaan sel dan saraf-saraf untuk merasakan rangsangan. Sehingga menimbulkan gairah kembali.
__ADS_1
Tentu, tak perlu menunggu lama. Laki-laki itu bermain-main di dadanya. Ia menggeliat. Menahan tawa.
Mama calling ....
“Masss!” Ia sudah tak tahan lagi. Bagian perut menjadi sasaran selanjutnya.
“Ma ... ma. Tel ... pon,” ucapnya sambil tertawa menahan geli.
“Angkat aja!” Seru Danang di balik selimut.
Ia mendesah. Bagaimana ia mengangkat telepon kalau kondisi mereka seperti ini. Dan sasaran laki-laki itu semakin turun ke bawah.
Ia pasrah. Bersamaan suara getaran yang diabaikan. Ponsel yang tercampak entah di mana diganti dengan suara notifikasi.
Ting.
Ting.
Sementara mereka dalam pelayaran di samudera. Berharap kapal mereka tak akan goyah diterpa badai. Terus berpacu dalam gelombang. Hingga tiba saatnya bersandar untuk melepas penat dan mereguk nikmat.
**
Danang
Mereka terburu melangkah ke dalam pesawat. Duduk dengan peluh yang menghias di wajah. Setelah apa yang membuat mereka terlambat. Kirei terus mengomel tanpa jeda. Hanya bungkam saat di dalam taksi saja. Itu pun dengan muka ditekuk setengah manja.
“Iiihh ... gara-gara Mas Danang, nih!” Sembur Kirei saat usai mereka mandi bersama.
“Kita bisa-bisa ketinggalan pesawat.” Ucap Kirei saat lift yang membawa mereka turun ke lobi.
“Mama telepon juga gak dijawab. Pasti mama marah. Rei, gak enak. Mas Danang jadi anak durhaka.” Cecar Kirei sesaat sebelum masuk ke dalam taksi.
“Mas, gimana kalo kita bener-bener ketinggalan pesawat?!” Kirei mulai berucap lagi setelah turun dari taksi.
“Nih, sampai pegel banget,” Kirei meringis ketika jalan tergesa-gesa mengikuti langkahnya, menyusuri koridor bandara. Tangan kiri digandengnya. Tangan kanan menenteng paper bag.
Sementara tangan kanannya menggandeng Kirei, tangan kirinya menggeret koper berukuran kabin. “Mau aku gendong?” Tawarnya. Ia jelas penyebab semuanya. Merasa bersalah membuat Kirei kesusahan.
Istrinya itu menipiskan bibirnya. Detik berikutnya berdecak sebal.
Bersyukur, mereka telah memasuki kabin pesawat di detik-detik terakhir. Masih dengan napas setengah memburu.
Para awak kabin tengah memperagakan safety demonstration.
Putaran kenangan sekelebat membayang. Dulu mereka hanya berstatus teman atau hanya sekedar rekan kerja? Entahlah. Sama-sama ditugaskan ke Jakarta selama 2 hari. Ia tersenyum mengingat hal itu.
Mereka duduk bersisian setelah berada dalam pesawat. Bunyi 'klik' saat ia memasangkan sabuk pengaman istrinya. Ia mengusap kepala Kirei.
"Istirahatlah ...." Ia menepuk-nepuk wajah istrinya dengan sehelai tisu. Membantu mengeringkan dari peluh yang bermunculan.
“Mas, aku aja. Malu dilihatin,” ucap Kirei lirih. Di sebelahnya awak kabin sedang memperagakan penyelamatan menggunakan jaket pelampung.
“I don’t care.” Sahutnya terus menepuk-nepuk wajah Kirei lembut.
Sementara Kirei memejamkan mata. Ia mengulum senyum melihat reaksi istrinya, “Buka ... aku gak mungkin mencium kamu di sini,” bisiknya di telinga istrinya.
Kirei membuka mata seraya menggeram kesal, “Massss!!” sebalnya tertahan. Karena suara pilot mengatakan, “flight attendant take off station.”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
__ADS_1