Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
86. Sooner or Later It's Over (2)


__ADS_3

...86. Sooner or Later It’s Over (2)...


Kirei


Ia membuka satu persatu bungkusan makanan dalam kantung plastik. Ada bubur ayam spesial Kembangan. French toast egg. Dan spring roll.


Sementara Danang sedang duduk tertunduk menekuri ponselnya. Entah apa yang dilakukannya. Yang jelas jemarinya sibuk. Mimik mukanya tegang, lalu berubah biasa. Tapi detik berikutnya berubah lagi. Tak bisa ditebak.


“Mas Danang mau sarapan apa?” Tanyanya. Kopi yang dibuatkan tadi telah diminumnya. Ia bisa melihat sisa kopi tinggal sedikit.


“Hemm ....”


Ia mendekat laki-laki itu, menilik apa yang sedang dilihat suaminya hingga mengabaikannya.


Danang menengadah, “Apa?”


Ia memanyunkan bibirnya, “Makanya kalo aku ngomong didengerin,” decaknya.


Laki-laki itu menyimpan ponselnya di atas meja. Lalu bangkit dari kursi. Mengusap pipinya sekilas dengan ibu jarinya.


“Soal kerjaan,” ucap Danang. Lalu mengernyit, “sebanyak ini temenmu kirim makanan.” Imbuhnya ketika sudah berdiri di dekat mini bar. Dan duduk di sana.


“Tapi temenmu kayaknya gak tau kesukaanmu.”


“Bubur ayam ... bad choice, (pilihan buruk)”


“French toast egg ... miscast, (salah pilih)”


“Kamu sedang batuk, gak bisa makan spring roll.”


Ia masih berdiri di dekat kursi jendela. Menelan ludahnya. Jelas, semua yang dikatakan laki-laki itu benar semua. Ia kurang suka bubur ayam. Tidak bisa makan roti panggang berbaur telur setengah matang. Dan meski ia suka spring roll tapi kondisinya sekarang sedang flu dan batuk. Malah akan memperparah.


Berjalan mendekati Danang yang sudah melahap french toast egg, “Kamu makan ini.” Tukas Danang menyodorkan roti panggang buatannya sendiri. Laki-laki itu mengusap kepalanya yang telah duduk di kursi mini bar.


“Sabtu atau minggu pulang?” Tanya Danang.


Ia menggeleng, “Belum tahu, Mas.” Memasukkan potongan demi potongan roti panggang ke mulutnya, “nanti aku kabari lagi.”


Danang mengecup pelipisnya, “Jaga kesehatan. Jangan sampai sakit lagi.”


“Atau biar Yumah di sini aja.” Sambung Danang seraya mulutnya sibuk mengunyah.


Ia menggeleng tidak setuju, “Aku udah sehat. Lagian nanti yang masakin Mas Danang siapa?”


Laki-laki itu berdecap, “Gampang.” Sambil mengusap kepalanya, “yang penting kamu dulu. Number one.”


Mereka telah menyelesaikan makan pagi.


Ia menegak air putih lalu melihat Danang. Mata mereka saling bersitatap. Danang merengkuhnya erat.


“Rei ....”


“Heemm,” jawabnya sambil mengaitkan tangan di pinggang suaminya.


Danang menghujani ciuman di wajahnya, “I miss you ....” Lalu menyergap bibirnya.


Ia menegakkan punggungnya. Pun dengan Danang. Bahkan laki-laki itu menarik pinggangnya lebih dalam.


Pagutan bibir keduanya menghasilkan decapan yang menguar memenuhi ruangan kamar tipe studio itu. Cukup lama. Tiba mereka saling melepas. Dengan napas menderu. Terengah-engah.


Mereka melekatkan kening dan hidung. Saling melempar senyum.


“Takut gak bisa kontrol,” bisik Danang. Mengusap bibir basahnya.


"Aku tunggu di Semarang."


**


Danang


Ia harus mengakhiri pertemuan dengan Kirei karena pekerjaan yang telah menunggunya. Ia sudah pastikan, kondisi istrinya membaik. Tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Sehingga bisa ditinggalkan.


Namun sosok teman yang diceritakan mengirim berbagai makanan ke apartemen Kirei membuatnya  sedikit terganggu. Tak ayal membuatnya cemburu.


“Ren ....” Panggilnya melalui telepon. Setelah keluar pintu kedatangan.


“Di mana?”


“Arah jam 9 dari tempat Bapak berdiri.”


“Oke."


***


Kirei


Gadis itu melakukan aktivitas seperti biasa. Setelah selesai melakukan syuting di studio. Ia kembali ke ruangannya.


“Ini naskah buat besok,” ucap Nana menyodorkan beberapa lembar kertas di mejanya.


“Yang ini biografi bintang tamu.” Menyodorkan lagi berkas padanya.


“Besok kita syuting outdoor.” Jangan lupa!” Nana segera bergegas pergi.


Ia menghela napas. Hubungannya dengan Nana masih sama saja. Bagai sayur tanpa garam. Hambar.


Pagi harinya ia berkejaran dengan waktu. Sebab sang bintang tamu telah datang terlebih dahulu.


“Taman Sari, Bang!” Serunya pada abang ojek online. Meski dalam aplikasi ia sudah mencantumkan tujuannya. Entah mengapa ia refleks bilang begitu.


“Bang cepetan dikit,” ia sudah tidak sabar. Ponselnya terus bergetar di dalam tas selempangnya. Pasti salah satu kru. Atau Gita. Bahkan bisa jadi Mas Anton. Yang terus menghubunginya.


Tiba di kawasan Kota Tua, ia segera turun. Meski motor belum berhenti sempurna. Menyerahkan helm. Lalu setengah berlari menuju kerumunan para kru yang sedang menyiapkan lokasi.


“Rei,” sapa salah satu campers.


“Hai, Mas. Sorry!” Ucapnya.


“It’s okay.” Sahut campers satunya.


“Bukan salah kita. Tapi bintang tamu mendadak berangkat ke luar negeri dimajukan. Jadi ... kita ikuti jadwalnya.” Anton menimpali.


“Dari pada nungguin dia lagi pulang dari luar negeri. Bisa-bisa kontrak kamu udah habis.” Kelakar Anton.


Ia mengulas senyum.

__ADS_1


“Gita,”


“Nungguin kamu di sana.” Tunjuk Anton pada folding tent. Tampak Gita melambaikan tangan.


Begitu ia duduk di kursi  folding tent langsung disuguhi kipas angin. Gita menepuk-nepuk wajahnya dengan tisu.


“Gara-gara bintang tamu kali ini, kita semua dibuat kalang kabut.” Celetuk Gita. “Sshh ....” Desisnya sebal.


“Bintang tamunya di mana?” Tanyanya kemudian dengan pelan.


Kepala Gita condong ke telinganya, “Itu lagi ngobrol sama Mas Anton.” Sahutnya. Yang tak jauh dari mereka saat ini.


Kondisi kawasan Kota Tua sepagi ini belumlah terlalu ramai. Hanya beberapa pengunjung saja. Sehingga tidak terlalu mengganggu jalannya pengambilan scene.


**


Danang


Ia baru keluar kelas mengikuti perkuliahan di akhir minggu. Setelah beberapa waktu lalu sempat tersendat akibat padatnya kerja. Akhirnya ia bisa melanjutkan lagi.


Paling tidak mulai beberapa bulan ke depan ia harus mempersiapkan bahan tesis. Mengejar ketertinggalan.


Ia menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya. Setelah tiba di kantor. Menyalakan komputer. Membuka tumpukan laporan yang harus diperiksa.


Ting.


William : Lo di mana?


Danang : Kantor.


William calling ....


Ia berdecak. Baru saja akan kerja malah pengganggu merusuh pikirnya.


“Ya, Will ....” Sahutnya.


“Rajin amat, lo! Weekend, Ndan!” Willi mencibir.


“Gue lagi otewe nih. Jumpa di hotel ....” Willi menyebutkan sebuah hotel bintang lima tempat acara perhelatan hajatan Dipa.


Nanti malam adalah acara akad nikah Dipa. Keesokan paginya baru resepsi. Di tempat yang sama.


“Dua jam lagi!” Salaknya. Ia harus memeriksa laporan kerja. Dan mengirimkan beberapa laporan via email.


Wili di ujung sana berdecih, “Berurusan dengan Komandan satu ini repot, Man! Super duper sibuk.”


Ia tergelak. “DEAL!”


“What of it! (Masa bodoh!)”


Sambungan telepon terputus. Ia mengernyit, menipiskan bibirnya lalu melanjutkan lagi pekerjaannya.


**


Kirei


Tergesa ia keluar dari pintu kedatangan saat sang surya sudah tenggelam. “Mas ....” Tukasnya ketika mendapati Danang menjemputnya. Laki-laki itu telah mengenakan kemeja batik. Artinya sudah siap.


Seusai syuting di Kota Tua. Ia dan kru kembali ke kantor. Melakukan syuting di studio hingga sore hari. Barulah ia ke Semarang.


Danang terdiam. Menarik lengannya hingga masuk ke dalam mobil.


Danang yang mengemudikan mobil tetap terdiam. Matanya fokus ke depan.


Laki-laki itu berdecap. Mengumpat. Saat jalannya diserobot. Apalagi saat pemberhentian di lampu merah. Kondisi jalanan yang ramai sebab malam minggu. Mengakibatkan antre panjang.


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB. Sementara akad nikah Dipa jam 8 malam tepat.


“Mas!” Peringatnya, agar laki-laki itu lebih sabar mengemudi. Tapi Danang masih bergeming.


Tiba di hotel mereka bergegas masuk ke dalam kamar yang telah direservasi. Danang mengangsurkan paper bag padanya.


Ia merogoh isinya. Sebuah little black dress di bawah lutut.


Ia terkesiap ketika Danang membantu melepas kemejanya. Ia bahkan tak sempat berganti baju saat syuting terakhir tadi. Masih mengenakan kemeja dan blazer berwarna merah dipadu rok plisket putih sebetis.


“Mas ....” Tangan Danang telah melepas satu persatu kancing kemeja bagian depan.


“Aku bisa sendiri,” imbuhnya.


Tapi laki-laki itu tetap melanjutkan melepas semua kancing. Hingga terbuka sempurna. Pembungkus dada berwarna hitam berenda menyembul di baliknya.


Sejurus kemudian Danang menarik roknya ke bawah.


“Mas, kenapa sih?” Ia sudah jengah dengan sikap Danang.


“Marah?”


“Aku datang terlambat?”


“Bukan kuasa aku.” Ucapnya ikut emosi.


“Aku minta maaf ... kalo Mas Danang kesel.” Tandasnya.


Laki-laki itu telah memakaikan dress ke tubuhnya yang mamaku.


“Aku tunggu 10 menit kamu dandan.” Tukas Danang seraya merogoh ponsel dalam saku celananya. Lalu berjalan ke balkon kamar.


Ia mengembuskan napas kasar.


“Kenapa sih?!” Gerutunya.


Mereka berjalan ke ballroom di lantai 1 dengan tergesa. Bahkan ia harus menyesuaikan langkahnya dengan laki-laki itu. Meski sedikit kewalahan tapi Danang mengapit tangannya.


“Kita terlambat.” Ujar Danang masam saat tiba di ballroom tempat akad nikah Dipa. Penghulu sudah membacakan doa untuk sepasang pengantin.


Ia menghela napas. Sembari terus melangkahkan kaki mencari tempat duduk yang kosong di bagian belakang.


Mereka duduk dalam keterdiaman. Sementara ia masih mengatur napasnya.


Ia menyapa si kembar anak Kasih dan Arik. Lalu menyapa teman-teman suaminya. Dan terakhir menyapa pengantin yang berdiri di panggung depan.


“Selamat, ya, Mbak Ais dan Mas Dipa. Semoga samawa ... bahagia selalu.” Ucapnya.


Berfoto bersama mempelai. Lalu bersama semua sahabat.

__ADS_1


Tepat pukul 10 malam. Ia dan Danang berniat  kembali ke kamar.


“Mas aku ke toilet dulu. Udah gak tahan.” Ia berjalan cepat menuju toilet masih di sekitar ballroom.


Sementara Danang menunggu di luar.


Setelah keluar, ia mengedarkan penglihatannya ke segala arah. Tapi suaminya itu tak tampak. Ia berjalan keluar menuju lobi.


“Kirei.” Panggil seseorang di depan meja resepsionis.


Ia menoleh, lalu mengernyit.


Pria itu menghampirinya, “Kita ketemu lagi,” senyum dengan binar terpampang di mata pria itu.


“Lagi ada acara di sini?” Tanya Ganjar.


“Iya, kamu?”


“Sama. Aku juga.”


Ia mengangguk lalu mulutnya membulat seperti berkata ‘oh’.


“Aku nginap sini,” imbuh Ganjar.


Seorang porter menghampiri mereka, “Pak ini kunci kamarnya,” ucap porter tersebut pada Ganjar. “Mau kami antar, Pak?” tawar porter.


“Tidak terima kasih. Saya gak bawa barang banyak.” Elak Ganjar.


“Baik kalo begitu. Permisi.” Porter itu berlalu.


"Kamu sampai kap--" kalimat Ganjar menggantung ketika .... Sebuah tangan merengkuh pinggangnya. Yang masih berdiri tak jauh dari Ganjar.


“Sudah?” Tanya Danang.


Ia menoleh lalu mengangguk.


“Gan, maaf aku duluan ya.” Pamitnya pada Ganjar yang menatapnya.


Ia berjalan beriringan dengan Danang. Hingga menghilang di dalam lift yang bergerak naik.


***


Ganjar


Mendadak bibirnya mengatup. Dan terkejut ketika mendapati seorang pria merengkuh pinggang Kirei. Posesif.


Oh gosh!


Ia memejamkan mata sejenak. Menatap kepergian Kirei dan pria itu hilang di balik lift yang menutup lalu bergerak ke atas.


Damn!!


No way!!


Apa penglihatanku yang salah!


Ia mengembuskan napas berat. Seolah ada beban bertumpuk dalam dadanya. Ia merasa kepayahan hanya untuk bernapas saja. Apa ini?


***


Danang


Laki-laki itu menerima panggilan telepon dari atasannya. Menjauh dari toilet. Tapi masih bisa mengawasi Kirei dari kejauhan.


“Baik, Pak.”


“Siap!” Jawabnya di akhir percakapan.


Setelah cukup lama berbicara, atasannya itu menutup telepon. Ia melihat Kirei berjalan menuju lobi.


Tapi telepon masuk kembali ke nomornya.


Arik calling ....


“Di mana?” Tanya Arik.


“Sorry, gue duluan ke atas.”


“Cih, pengantinnya aja masih di sini! Lo mau duluan,” Arik mengejek dan terkekeh setelahnya.


Ia berdecak, “Kirei kelelahan. Tadi habis kerja langsung ke sini.” Kilahnya tepat bukan?


“Oke ... oke. Slow, Man!”


Sambungan telepon terputus.


Ia bisa melihat seorang pria mendekati istrinya. Mereka tampak berbicara. Dan ia bisa melihat gestur pria itu seperti .... Oh sial!!


Lekas menyamperi mereka. Merengkuh pinggang istrinya dan membawanya menjauh dari pria itu.


-


-


Terima kasih yang berkenan mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2