
...57. I’ll Do It All To You...
Danang
Setelah mendengar penjelasan dari papa ia jadi mengerti. Persahabatan yang terjalin antara papa dan ayah sudah bertahun-tahun lamanya. Ia tahu papa bukan seorang yang mudah berteman. Bahkan mereka mengalami ujian persahabatan yang membuat keduanya seperti asing. Tapi papa adalah Bagas Tri Jaya, sosok yang selalu mengedepankan orang lain yang begitu berharga dalam hidupnya.
Hanya saja ia tahu posisi papa. Posisi ayah waktu itu. Tidak mudah menjadi mereka dalam suatu waktu.
Akhirnya kasus ayah dianggap murni perampokan dengan kekerasan yang mengakibatkan kematian. Meski papa menemukan beberapa kejanggalan atas kasus tersebut. Tapi hakim sudah memvonis terdakwa dengan hukuman 10 tahun penjara.
Dan beberapa hari usai kasus itu masuk pengadilan papa mengalami alternasi, pergantian jabatan. Meski belum genap satu tahun menjabat Kapolda.
Kepergiannya ke Jakarta menyadarkannya akan keberadaan gadis itu. Ya, setelah ia sempat berhalusinasi melihat Kirei di tempat yang sama. Ia bergegas menghubungi bunda.
“Maafkan Kirei ... tidak ijin sama Mas Danang. Bunda juga yang mengusulkan dia pergi ke Gorontalo. Ke tempat kakeknya.”
“Dia butuh waktu, butuh ketenangan untuk mencerna semua kejadian yang menimpanya ....”
“Mas Danang yang sabar ya ....”
Begitu bunda bicara beberapa saat lalu di telepon.
Jadi, Kirei begitu dekat dengannya tadi. Okay, I’ll do it all to you (oke, akan kujalani ini semua untukmu).
**
-Gorontalo-
Kirei
Ia berdiri menatap Teluk Tomini dari jendela kaca ruangan baapu di lantai 4. Ruangan komisaris PT. Kamaru Nusa Sentana (KNS).
Setelah dua hari yang lalu ia datang ke Gorontalo. Disambut suka cita baapu dan neene di bandara Tapi tidak dengan Paman Tilamuta dan Bibi Kabila. Meski mereka sempat bertemu sekali di rumah baapu.
“Rei ... bagaimana, kamu sudah siap hari ini?” Tanya baapu yang baru saja masuk ke ruangannya. Ia menoleh pada baapu.
“Terserah baapu saja, Rei ngikut.” Jawabnya. Datang ke Gorontalo tujuannya untuk mencari kesibukan. Bukan terus-terusan memikirkan hal yang semakin membuatnya terpuruk.
“Nanti kamu akan didampingi Dambea. Maaf Baapu tidak bisa menemanimu,” ucap baapu seraya duduk di kursi kerjanya.
Ia juga mengenyakkan tubuhnya di kursi depan meja kerja baapu. Memperhatikan laki-laki di depannya. Di usia lanjutnya masih harus bekerja. Sebenarnya ia tidak tega. Tapi, pekerjaan ini baru baginya, ia merasa jauh dari kata cakap.
Tak lama pintu ruangan baapu diketuk. Paman Dambea muncul dari balik pintu.
“Pergilah ....” Tukas baapu.
“Dam, ngana temani Kirei keliling.” Titah baapu. Dan Dambea mengangguk mengerti.
“Rei, pergi dulu ....” Pamitnya pada baapu yang dibalas senyuman.
Saat masuk ke dalam lift, ia bertanya pada Dambea,
“Paman sudah berapa lama kerja dengan baapu?”
“Sudah lama, Mbak. Sekitar 20 tahunan."
“Oya?” Ia sedikit tak percaya. Berarti sudah lama juga mengabdi menjadi kepercayaan baapu.
“Paman, bisakah panggil Rei saja? Anggap Rei anak Paman.”
“Maaf, Mb ....”
“REI.” Tekannya dengan sedikit kesal.
“Rei.”
“Nah ... begitu.” Ia tersenyum.
“Anak Paman ada berapa?” Tanyanya ketika mereka sudah keluar lobi kantor menuju mobil yang terparkir di area khusus depan lobi. Parkir ‘VIP’ begitu tulisan yang tertera di depan kendaraan.
Sebelum membuka pintu mobil, seorang security membukakan pintunya terlebih dahulu.
“Terima kasih,” ucapnya.
Security tersebut mengangguk dan tersenyum.
“Ada 3.” Jawab Dambea seraya melajukan mobil keluar pintu gerbang.
“Tapi selama saya di sini, belum sekalipun lihat anak Paman.” Ia pikir anak Paman Dambea ikut kerja di KNS.
“Anak saya yang pertama sudah berkeluarga tinggal di Kendari bersama suami dan anak-anaknya.”
“Anak kedua bekerja di Jakarta,”
“Dan yang terakhir sedang kuliah di Makassar.” Pungkas Dambea.
Mobil memasuki area pelabuhan. Tepatnya Pelabuhan Gorontalo. Yang sebenarnya jarak kantor dengan pelabuhan tidaklah jauh. Sekitar 10 menit menggunakan mobil.
Saat Mobil memasuki area parkir, ia bertanya, “Kalau Paman Tilamut dan Bibi Kabila kantornya di mana?”
“Pak Tilamuta menjabat Direktur di PT. KNS. Sementara Bu Kabila Manager Pemasaran.”
Ia mengangguk-angguk.
“Kalau Direktur kantornya sama dengan Pak Idrus, tapi kalau Bu Kabila kantornya di pelabuhan sini.”
Tiba di kantor pelabuhan, mereka turun bersamaan dari mobil. Terlihat security membukakan pintu kaca untuk mereka. Security itu menundukkan kepalanya sejenak. Ia tahu semua perlakuan yang didapatkannya karena mobil baapu. Dan tentunya Dambea yang menjadi orang kepercayaan baapu.
__ADS_1
“Perkenalkan saya Dina, asisten Bu Kabila. Beliau sudah menunggu di ruangannya ... silakan.” Ucap seseorang yang bernama Dina menyambutnya di lobi kantor.
Ia membalasnya dengan menerbitkan senyum.
Kantor di sini lebih kecil. Hanya 2 lantai. Dan lantai 1 penuh dengan barang-barang. Lalu, ia digiring menuju lantai 2. Dengan menaiki tangga.
Setelah mengetuk dua kali pintu ruangan bertuliskan ‘manager’, Dina mendorong pintu dan membiarkannya terbuka lebar. Tampak Bibi Kabila duduk di kursinya. Lalu menatapnya sekilas.
Bibi Kabila beranjak dari kursinya, “Kamu sudah siap?” Tanyanya.
Ia mengangguk, “Ya.”
“Paman Dam, juga ikut?” Kabila menunjuk Dambea.
“Ya, Bu ... saya ditugaskan Pak Idrus untuk mendampinginya.”
“Oo ... oke.” Sekilas Kabila meliriknya, “Din, jika ada yang mencari saya bilang saya keluar sebentar.” Pesannya pada Dina.
“Baik, Bu ....” Sahut Dina.
Mereka menuruni anak tangga menuju lantai 1.
“Ini kantor kedua, bisa juga disebut warehouse atau gudang. Kalau gudang besarnya ada di belakang. Semua barang-barang milik customers yang akan di kirim keluar maupun masuk Gorontalo akan ditampung di sini terlebih dahulu.”
Ia berjalan di samping Kabila. Sementara Dambea mengikuti di belakangnya.
“Ini gudang besarnya,” kata Bibi Kabila saat mereka tiba di ruangan luas penuh barang. Terlihat banyak pekerja yang sedang memindahkan barang-barang, “ini alat-alat untuk mengangkut barang-barang dengan kapasitas besar.” Bibi Kabila menunjuk beberapa alat yang biasa ada dalam cargo.
“Ada hand pallet, hand stacker, forklift, dan drum handler.” Bibi Kabila menunjuk alat-alat itu sesuai namanya.
“Ah, ya ... satu lagi ada crane. Tapi itu ada di dermaga hanya untuk barang besar dan berat seperti kontainer.”
“Memangnya kamu yakin mau bekerja di sini? Saya dengar kamu menolak yamo menggantikannya!” Bibi Kabila mencibir. Ia tahu selain baapu dan neene, mereka belum bisa menerima keputusan baapu melimpahkan aset padanya dan Ken.
Ia hanya tersenyum canggung membalasnya.
“Akan kutunjukkan kapal yang dipunya KNS.” Tukas Kabila. Mereka meninggalkan pergudangan menuju dermaga menggunakan mobil baapu.
“Kamu betah di sini?” Tanya Kabila yang duduk di sebelahnya. Mereka duduk berdekatan di bangku kedua. Namun begitu bentang jarak yang sesungguhnya begitu jauh.
Lagi, lagi ia tersenyum kecil.
“Kamu beruntung mendapatkan aset tanpa bersusah payah. Tinggal menikmati saja.” Sindir Kabila pedas.
Seketika raut wajahnya pudar. Ia menelan ludahnya. Ya, ia tahu kalimat Bibi Kabila itu benar. Meski jujur ia tidak mengharapkan itu semua.
“Saya kesini ....”
“Menggantikan yamo?” Potong Kabila cepat.
“Harusnya yang menggantikan yamo, Ka Tilamut. Bukan kamu. Ka Tilamut anak pertama.” Tandas Kabila penuh ketidaksukaan.
Sementara Dambea hanya melirik sekilas di rear-vision mirror.
Mereka menuju ke dermaga 2. Khusus kapal cargo.
“Lihat!” seru Kabila seraya menunjuk kapal besar sedang berlabuh.
Jelas kapal itu bertuliskan ‘KM. DEMAS’.
“Kamu tahu? Kenapa kapal itu diberi nama ayahmu?” Tanya Kabila. Mereka kini turun dari mobil. Menatap KM. DEMAS yang begitu besar, gagah dan kokoh.
“Kapal cargo ini khusus melayani barang ke dan dari Pulau Jawa. Dengan rute Gorontalo-Surabaya-Jakarta-Gorontalo. Kapasitas 11 ribu ton. Bisa mengangkut 800 kontainer. Dan jadwal pelayaran setiap minggu.” Tutur Kabila.
“Yamo memberikan nama-nama kapalnya tidak begitu saja. Ada filosofis di baliknya.”
“Seperti KM. DEMAS,” Bibi Kabila tampak menghela napas. “Ayahmu punya cita-cita menuntut ilmu ke Pulau Jawa. Ayahmu ingin melihat dunia luar. Bahkan sampai menentang yamo.”
“Yamo ingin KM. DEMAS seperti ayahmu. Punya tekad baja, tahan banting dan terus berlayar menyebarkan manfaat bagi orang-orang yang membutuhkan.” Mata Bibi Kabila terlihat berkaca-kaca. Lalu melempar pandangan ke kapal yang berwarna hitam putih itu, menyusut sudut matanya secara kamuflase.
Mereka menuju dermaga 3 dan 4.
“Di sini kapal penyeberangan penumpang.” Ujar Kabila sesaat tiba di sana.
“Kebetulan ada KM. KABILA lagi bersandar. Kapal itu melayani rute Gorontalo-Makassar pulang pergi. Selain ke Makassar juga melayani rute ke Boalemo dan pelabuhan di Sulawesi Tengah.”
Bibi Kabila seperti berbinar lagi. Wajah yang tadi sendu saat menceritakan tentang ayahnya sekarang terlihat bersemangat.
“Dulu, saya kuliah di Makassar. Saya juga tidak mau kuliah di sini. Berkat ayahmu, akhirnya yamo mengijinkannya, karena tak ingin kehilangan anak tuk kedua kali. Dan ya ... KM. KABILA melayani rute Gorontalo-Makassar,” senyum tipis terbit dari bibir Kabila.
“Lalu ada satu lagi kapal milik KNS. Namanya KMP. TILAMUTA. Kapal yang hanya melayani Gorontalo-Pagimana (Banggai-Sulawesi Tengah). Kapal pertama kali yang dimiliki KNS.”
Bibi Kabila terkekeh kecil, “Ka Tilamut tidak terima. Tapi inilah tanda cinta yamo untuk anak-anaknya.”
“Dan kamu juga harus tahu,” Bibi Kabila menjeda sejenak.
“Yamo sedang menyiapkan kapal untuk kamu.” Seketika raut muka Kabila berubah. Yang tadi berbinar kembali memudar.
Siang itu mereka mengakhiri kunjungan di pelabuhan. Ia dan Paman Dambea kembali ke kantor KNS.
Ia menyadarkan punggungnya. Matahari yang begitu terik seolah memperlihatkan kekuasaannya.
Setibanya di depan lobi kantor ia turun dan langsung disambut oleh security yang tadi membukakan pintu mobilnya.
“Paman, istirahatlah ... terima kasih.” Ucapnya pada Dambea yang masih mengekori dirinya.
“Saya harus melapor dulu pada Pak Idrus.” Kilah Dambea.
__ADS_1
Ia mengedikkan bahunya, “Baiklah ... terserah Paman.”
**
-Semarang-
Danang
Setelah melakukan sertijab di gedung Ksatria Satya Mapolda. Malam harinya ia melakukan perpisahan dengan rekan-rekan di sebuah bar and lounge.
Ya, hari ini ia resmi meninggalkan kantor Ditreskrimsus dan menjabat sebagai Kapolrestabes Semarang.
Cheers!
Ting.
Suara gelas berdenting akibat berpadu satu dengan yang lainnya.
“Selamat, Ndan.” Ucap Pak Banuaji. Bawahan serta rekan kerja bahkan merangkap sahabat rasa saudara.
“Malam ini lupakan dia. Sesekali kita juga perlu me time.” Saran Banuaji.
Ia menyesap minuman mocktail yang tinggal seperempatnya hingga kandas. Menyalakan rokok. Menghisapnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya di udara.
“Ren!” Panggil Banuaji pada Rendra yang duduk di meja sebelahnya.
“Pesankan mojito.”
Rendra mengangguk.
Hampir sebulan tidak bertemu dengan gadis itu membuatnya rindu. Jangankan sebulan, sehari saja ia merasa kehilangan.
Banuaji melahap potongan slice cake occachino, “Kisah cinta Komandan sungguh rumit.” Kelakar Banuaji sambil terkekeh.
Seorang pelayan meletakkan segelas mojito di depannya.
Ia menggeleng.
“Sesekali gak apa, Bos.” Kata Banuaji
Sementara rekan-rekan yang lain terlihat bercanda tawa. Bahkan ada yang nge-dance di lantai dansa. Diiringi musik dengan dentuman cukup keras yang memenuhi seluruh ruangan.
Ia terpaksa menegak mojito tersebut. Sedikit berbeda rasanya. Hingga ia mengernyit menahan rasa yang sedikit aneh, ada asam, mint dan sedikit pahit. Tapi ia tak peduli. Malam ini ia benar-benar ingin melupakan segala penat dan masalah.
***
Rendra
Tengah malam ia harus mengantar atasannya pulang. Kondisi atasannya sedikit mabuk. Entah sudah berapa gelas mojito yang telah dihabiskan oleh atasannya itu. Hingga Pak Danang mengeluh kepalanya terasa berdenyut dan pusing. Maklum atasannya itu tak pernah merasakan minuman beralkohol.
“Ke apartemen mana, Pak?” Tanyanya saat mobil sudah melaju di jalan.
Atasannya tak menjawab. Bahkan tubuhnya setengah berbaring di bangku belakang.
Ia tahu, atasannya sedang bermasalah dengan rumah tangganya. Buktinya sebulan terakhir atasannya itu selalu pulang ke apartemen adiknya. Pun, ia tidak pernah melihat lagi istrinya. Meskipun atasannya itu tidak pernah bercerita tapi, gelagatnya bisa terbaca.
“Kirei ....” Gumam Pak Danang dengan mata terpejam.
Ia mengerutkan dahinya.
Mobil berhenti tepat di lobi apartemen atasannya. Ia menduga Pak Danang mengigau sebab merindukan istrinya. Maka dari itu ia membawa pulang ke apartemen atasannya.
Memapah tubuh atasannya yang lebih tinggi darinya. Menuju unit di lantai 10. Lalu menekan pass code. Ya, ia beberapa kali disuruh mengambil barang di apartemen atasannya itu. Sehingga sudah hafal pass code-nya.
Namun sejurus kemudian atasannya itu berlari menuju kamar mandi. Membuka kloset dan mengeluarkan semua isi lambungnya di sana. Cukup lama ia melihat pemandangan itu.
Ia menipiskan bibirnya. Ikut merasakan mual. Tapi ia sadar, bagaimanapun Pak Danang adalah atasannya. Bahkan ia tetap menjadi ajudannya di tempat yang baru. Dengan cepat ia mengambil air hangat dari dispenser.
“Pak, minum dulu.” Ia mengangsurkan segelas air hangat pada atasannya yang sudah duduk di tepian ranjang.
Pak Danang menegaknya beberapa kali, “Terima kasih.” Ucapnya.
Melihat atasannya sedikit membaik. Ia pamit undur diri.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ...🙏
__ADS_1