Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
29. First Kiss


__ADS_3

...29. First Kiss...


Sepanjang perjalanan pulang, gadis itu dalam keterdiaman. Saat mobil yang dikendarai sudah terparkir sempurna, Kirei bergegas keluar dengan mengentakkan pintu cukup keras. Langkahnya cepat dan tergesa menuju lift. Tujuannya hanya satu yaitu segera tiba di kamarnya. Tapi sebuah tangan mencekalnya. Membuat langkahnya berhenti sejenak.


“Are you okay?” tanya Danang pada gadis itu dengan masih mencengkeram lengannya.


Kirei membuang muka ke samping. Merasa kesal padanya. Entah kenapa?


“Oke ... oke. Aku jelasin ke kamu,” ujarnya sambil terus menggenggam lengan gadis itu. Menariknya menuju unitnya yang berada di lantai 10.


Setibanya di unit mereka. Ia mendudukkan gadis itu di sofa. Ia menuju dapur. Mengambil gelas di kabinet dapur. Menuangkan air dari dispenser ke dalamnya lalu mengangsurkan pada gadis itu. "Minumlah."


Gadis itu menerima gelas tersebut. Lalu menegaknya beberapa kali.


Ia duduk di sebelah Kirei.


“Sudah baikkan?” tanyanya dengan menatap gadis itu.


Kirei bergeming. Dengan pandangan menunduk menatap gelas yang ia pegang di atas pangkuannya.


“Kamu marah?”


“Kenapa kamu menghindar?”


“Tidak ada yang perlu dihindari. Wanita yang tadi bersama—“ Kalimatnya terpotong. Padahal ia hendak menjelaskan duduk persoalannya.


“Tidak perlu dijelasin!” potong Kirei.


Danang berdecak, “Ck, rupanya ada yang sedang cemburu ....” Ia melipat bibirnya mengulum senyum.


“Gak lucu!” sentak gadis itu. Menyimpan gelas di atas meja, lalu bangkit hendak berlalu. Namun belum sempat bergerak melangkah, lengannya digenggam kembali olehnya. Hingga gadis itu terpaksa kembali duduk.


“Dengerin!” Kedua tangannya membingkai wajah Kirei.


Mau tak mau pandangan mereka bertemu.


Mata laki-laki itu menyorotnya tajam. Sementara manik mata gadis itu bergerak random. Menghindarinya.


“Wanita tadi cuma teman. No more! Dan ada Aksa di situ. Cuma kebetulan kamu datang dia sedang di toilet." Danang menukas.


Mata mereka saling pandang lekat.


“My bad. Buat kamu gak nyaman,” ucapnya lirih. "I want us to make up (aku ingin kita baikan)," imbuhnya.


Mata mereka saling beradu. Saling menyelami kedalaman masing-masing. Hingga membuai keduanya. Membuat mereka tak sadar jika jarak keduanya semakin menipis. Nafas keduanya terasa hangat menyapu wajah lawan. Membuat jantung keduanya berirama tak beraturan.


Gadis itu mencengkeram kuat kain celana yang dipakainya. Diikuti menutup mata kemudian.


Ia mengulum senyum.


Kepalanya dimiringkan demi mendapati bibir gadis itu. Dengan lembut ia mengecupnya.


“Maass ....” Tiba-tiba Kirei bersuara bersamaan dengan matanya yang membuka.


Keduanya masih terpaku dan terhanyut dalam perasaan yang mereka sendiri tak tahu.


Jelas, degupan jantung mereka berlomba seperti lari maraton. Pertama kalinya ia mencium gadis kecil yang selama ini dicarinya. Bahkan ia masih ingin merasakan bibir ranumnya lagi. I Got it! Pekiknya dalam hati.


 


***


Malam ini benar-benar Kirei tidak bisa tidur. Kejadian yang tak pernah terlintas di benaknya sebelumnya akhirnya terjadi.


This is my first kiss. Ia masih memegangi bibirnya dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memegangi dadanya. Ada perasaan aneh yang menyergapnya.


Gadis itu belum pernah pacaran. Sebab Ken selalu mengaku menjadi pacarnya jika teman-teman cowok ada yang mendekatinya. Akibatnya mereka mundur teratur. Lagi pula ia juga tak pernah kekurangan kasih sayang dari Ken sekaligus pengganti ayah.


Bagaimana tadi ia harus bersandiwara lagi dan lagi di depan Anisa dan ibunya saat mereka berada dirumahnya.


Saat ia hendak melangkah ke kamar mandi, “Rei, ada yang nyariin tuh ...,” ucap Ibunya Anisa yang datang dari depan.


Anisa yang baru keluar dari kamar mandi ikut mengerutkan dahinya. Seolah ikut bertanya ‘siapa’. Ia membalasnya dengan mengedikkan bahunya.


“Masnya udah Tante suruh masuk ke dalam. Tapi gak mau. Dia duduk di teras, Rei,” lanjut Ibu Anisa.


Ragu antara tetap melanjutkan untuk mandi atau menemui orang yang mencarinya. Sementara Anisa berlalu saja meninggalkannya dan masuk dalam kamarnya.


“Sebaiknya temui dulu.” Ibunya Anisa memberi saran.


Tanpa berpikir panjang lagi dengan membawa handuk di tangan, ia melangkahkan kaki menuju teras depan. Di sana terdapat 2 kursi kayu bulat. Dan salah satunya diduduki oleh laki-laki yang dari belakang saja sudah sangat dihafalnya.

__ADS_1


DEG


Jantungnya mendadak berdegup kencang. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaannya jika laki-laki itu bertanya;


“Kenapa kabur?”


“Kenapa gak diangkat teleponku?”


“Kamu kenapa, sih?”


“Kamu marah?”


Jujur ia belum siap menjawab itu semua. Dan tak tahu harus beralibi apa. Ia masih terpaku di samping pintu di belakang laki-laki itu. Hingga ia tak menyadari jika laki-laki yang tak lain adalah Danang sudah berbalik badan menghadapnya.


“Ehemm .... “ Laki-laki itu berdehem. Yang seketika membuat matanya terkesiap memandangnya.


“M-Mas kenapa bisa ada di sini?” dengan sedikit gugup Kirei melontarkan kalimat itu.


“Menjemputmu,” ujar Danang. “Kita pulang.” Pada saat mereka berpamitan dengan keluarga Anisa. Danang mengaku sebagai pacarnya.


Tadi malam ia tidak tahu tidur jam berapa. Buktinya saat dibangunkan pagi oleh Danang, ia masih terus menguap. Sepertinya rasa kantuknya masih menyelimutinya.


Di weekend pagi ini entah jam berapa Danang membangunkannya. Rasanya masih terlalu pagi. Ia lupa mengunci pintu kamar. Yang paling diingat ialah setelah kejadian laki-laki itu menciumnya. Ia berlari ke kamar dan tak keluar lagi.


Jam 7 pagi ia sudah mandi dan mengenakan pakaian olahraga sebab Danang akan mengajaknya berlari. Hah! Lari?!


Dalam hidupnya olahraga adalah nomor sekian. Ia akan bersemangat berolahraga pada saat mood-nya sedang baik. Dan pagi ini rasanya ia lebih memilih tidur dibanding berolahraga. Sebab ia merasa masih mengantuk.


“Ayo, Rei!” ajak Danang. “Come on ... wake up!” laki-laki itu menepuk-nepuk pipinya saat membangunkannya yang ketiduran di sofa. “Olahraga itu penting untuk menjaga kesehatan. Gimana mau sehat, olahraga saja malas,” khotbah pagi yang terdengar mendayu-dayu di telinganya.


Beberapa kali ia menguap.


Tangannya digeret Danang demi membuatnya bangun dan bersemangat. Tapi lagi dan lagi rasa kantuk lebih menguasainya. Ia bahkan tertidur di mobil selama perjalanan.


Matanya mengerjap-ngerjap saat sebuah tangan mengusap pipinya.


“Sudah sampai,” kalimat yang didengarnya.


“Hah?” sahutnya saat kesadarannya kembali.


“Ayo turun ... kita sudah sampai. Atau kamu mau terus tidur di sini?” tukas Danang.


Danang yang turun terlebih dulu terlihat berdiri bersandar di pintu mobil. Sambil menelepon seseorang. Entah siapa.


“Mas Danang,” sapa Rendra yang muncul dengan kostum karatekanya.


“Udah siap, lo?” tanya Dananf.


“Yoi ... doain komandan, ya," pinta Rendra.


Mereka ber-high five.


“Stay focused!” Danang memberikan semangat.


Hari ini Rendra bersama tim yang lain latihan bersama untuk menyambut Kejurda (Kejuaraan Daerah) FORKI yang akan dilaksanakan di Jogjakarta 10 hari lagi.


Tujuan Danang ke sini juga ingin menyemangati teman-teman se-perguruan di INKAI. Baginya mereka adalah teman, sahabat dan saudara.


Ia menutup pintu mobil bersamaan dengan Danang yang menoleh padanya.


“Kita ke sini, Mas?” tanyanya sedikit heran.


Terpampang jelas dengan tulisan besar ‘GOR DIPONEGORO’. Pertama kali ia datang ke sini.


Di seberang jalan banyak penjual makanan. Beberapa toko buku bekas juga berjejer di sana. Suasana di luar gor lumayan ramai.


Laki-laki itu menatapnya sekilas lalu mengulas senyum.


Mereka berjalan beriringan masuk ke area dalam. Di dalam justru lebih sepi di banding suasana di luar.


“Aku nyapa temen-temen dulu. Aku kenalin ke mereka," terang Danang.


Setelah menyapa dan sedikit berbincang ia dan Danang menuju velodrome. Sebab mereka juga harus memulai latihan.


“Kita lari,” bisik laki-laki itu di dekat telinganya saat mereka berjalan beriringan. Membuatnya menjengit sekaligus meremang.


Ia mengikuti gerakan pemanasan yang dipimpin Danang. Setelah dirasa cukup mereka melakukan lari satu putaran mengelilingi lapangan.


Napasnya terengah-engah. Peluh membanjiri tubuhnya. Sesekali ia menyeka dengan handuk kecil yang dibawanya. Pun dengan laki-laki itu. Tapi anehnya ia seperti tidak kelelahan. Justru Danang berlari sendirian mengelilingi lapangan sekali lagi.


Ia duduk di salah satu bangku tribun. Memperhatikan Danang yang berlari dari kejauhan. Sesekali menegak air mineral kemasan. Tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman.

__ADS_1


Memasang earphone pada telingnya. Mendengarkan musik yang mulai mengalun lembut.


Bibirnya bergerak naik turun mengikuti lagu yang sedang diputar.


There goes my mind racing


And you are the reason


That I'm still breathing


I'm hopeless now


I'd climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I've broken


Oh, 'cause I need you to see


That you are the reason


-Calum Scot-You are The Reasons-


Laki-laki itu mendekat padanya. Peluh menetes di sekujur tubuh.. Ia mengangsurkan handuk kecil pada Danang, Seraya tangan kirinya melepas earphone.


“Thanks,” sambut Danang.


“Anytime," balasnya.


Napas laki-laki itu masih memburu. Berusaha mengatur napasnya. Inhale exhale. Ia menatapnya. Entah mengapa kali ini ia berani menatapnya lama-lama. Jelas perasaannya aneh. Itu yang dirasakan.


Ingin rasanya ia yang mengelap keringat yang masih bercucuran itu. Meski laki-laki itu berkeringat tapi justru aroma yang menguar dari tubuhnya begitu merasuk dalam memorinya. Aroma woody dan maskulin yang sudah membersamainya akhir-akhir ini.


Apa ia sudah jatuh hati dengan aroma itu? Atau ia sudah jatuh cinta dengan laki-laki yang menikahinya dengan paksa?


Ia menyodorkan botol air mineral pada Danang. Laki-laki itu duduk di sebelahnya seraya menerimanya dan menegaknya beberapa kali.


“Kamu lapar?” tanya Danang padanya.


“Sedikit,” jawabnya seraya tersenyum kecil. “Mas Danang gak bawa baju?” sambungnya.


“Bawa di mobil. Kenapa?” laki-laki itu menghidu tubuhnya sendiri. Merasa tidak percaya diri.


“Gak kok! Kaosnya basah, pasti gak nyaman,” kilahnya. "Oya, Mas Danang kok tahu malam tadi aku di rumah Anisa?" tanyanya penasaran. Mengalihkan topik obrolan.


Laki-laki itu justru tersenyum.


"Iih ... kebiasaan," desisnya lalu mencebik.


"Selama ponsel kamu aktif, selama itu pula aku bisa menemukanmu meski di lubang semut sekalipun."


"Hah ...! Jadi ponselku disadap?" ia terperangah tak percaya.


"Sorry, biar aku gak kecolongan lagi." Danang tersenyum penuh kemenangan tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Resek ... bangeeeett!" Ia kesal tanpa sadar meninju lengan laki-laki itu bertubi-tubi. "Melanggar undang-undang privasi!" semburnya sebal.


Danang tergelak tak mampu lagi menahan tawanya. Mengeluarkan dua permen kaki dari saku celana treningnya.


“Kamu mau?” tawarnya mengangsurkan pada Kirei.


Ia mengerutkan dahinya.


“Kamu pilih yang mana?” tanya Danang. “Blue or red?” imbuhnya.


Ia masih bergeming.


“Gadis kecil gak boleh nangis,” sambung Danang.


Ia kesusahan untuk menelan ludahnya. Rasanya tenggorokannya kering dan sesuatu mengganjal di sana.


Danang tersenyum.


“Kamu lupa? Dulu ada seorang gadis kecil menangis di taman," urai Danang.


-


-

__ADS_1


__ADS_2