Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
106. It's Not Easy To Be Me (4)


__ADS_3

...106. It’s Not Easy To Be Me (4)...


“Ssssrrrrkk ... ngiiiiinggggggg ... krkrkrkk.”


Terdengar suara seperti kaset rusak.


“Ngiiiiiiiiiiiinggggggg ....”


“Ngiiiiiiiiiiiinggggggg ....”


“Ngiiiiiiiiiiiinggggggg ....”


Disusul suara mendenging berulang kali cukup keras.


Lalu,


BRAKKK.


“Guoo ... blok!! Cuma wartawan semut aja bikin runyam.” Suara 1 sambil menggebrak meja.


“Singkirkan. Secepatnya.” Suara 1.


“Sebelum rapat RUPS, saya gak mau tahu pokoknya.” Suara 1.


“Setuju. SGC harus di selamatkan. Pihak-pihak yang menentang, kita singkirkan.” Suara 2.


“Investasi besar buat negeri kok, malah gak pada setuju. Ujung-ujungnya, ya pajak masuk negara to!” tambah suara 2.


“Westah lah, atur ae. Ngadi-ngadi arek iku. Tinggal .... ” Terdengar suara ‘kek’  seperti mencekik leher. “Beres!” Suara 3 dibarengi tawa sesudahnya.


“Boras bares cangkemmu ... pedemo pada tumbang, korban berjatuhan. Kasih bolu semua biar pada menclep.” Suara 1.


“Siap, Bos. Laksanakan.” Suara 4.


“Jangan bolu lah!” sergah suara 2.


“Minimal brownis. Biar cepat redam,” lanjut suara 2.


“Aman, Pak. Semua sebentar lagi terkendali,” ucap suara 5, “Bm oke! TB 1 siap! Metro 1 ....”


Hening sesaat.


“Metro siji, pie?” Suara 1.


“Cincay lah, bisa diatur," sahut suara 5.


“Nggiiiiiiiiiiiiiinggggg ....” Suara berdenging kembali terdengar. Bersamaan dengan ringtone ponsel berbunyi.


“Halo ... Po’o? ... Aman ta? ... Oke, suwun.“ Suara 5. Seperti sedang menerima telepon.


“Laporan  TB 1 pedemo terkendali. Kita ganti rugi sedikit, yang penting SGC tetap jalan,” imbuh suara 5.


Lalu terdengar suara berdecak, “Arek iku malah provokasi, beritane nyerang terus, jur kepie iku? ” masih suara 5.


“Wes ngko bengi ae, dikerjai (udah nanti malam saja, dikerjain). Aman.” Suara 3.


“Tak pasrahke ro awakmu. Koen tangani arek iku. Aku, bagiane Bm sama TB 1.” Suara 5.


“Brownis sudah dihitung semua?” tanya suara 1. “Khusus lapis legit sendirikan,” sambung suara 1.


“Aman, Bos,” sahut suara 4.


“Ngggiiiiiiiiiiiing ....” Suara mendenging lagi.


“Arek iku wes ora berkutik. Kemungkinan kuburan. Minimal koma.” Suara 3. Lalu terbahak, “Hahaha ....”


“Langsung kirim brownis sama lapis legit.” Suara 1.


“Siap, Bos,” sahut suara 4.


“Pokoknya amankan RUPS saya gak mau tahu! SGC itu nyawa buat saya.” Suara 1.


“Kalo perlu double. Biar lagsung deal.” Masih suara 1.


Danang menekan ‘pause’ pada voice recorder. Dan suara rekaman itu langsung terhenti. Mereka berempat duduk di ruangan kerja baapu. Ruangan yang mendukung untuk mereka mendengarkan hasil rekaman yang dibawa laki-laki itu.


Kirei menelan ludahnya berkali-kali, masih dalam rengkuhan laki-laki itu. Berbagai tanya berkecamuk dalam benaknya. Meskipun ia sudah bisa menebak-nebak rekaman percakapan itu mengarah ke mana.


Sementara baapu dan neene yang duduk bersisian saling menggenggam tangan. Dan saling berpandangan. Jelas sorot mata senja mereka menyiratkan sejuta tanya dan ... sejuta rasa. Tapi yang tampak justru ekspresi yang susah dideskripsikan.


Danang menekan kembali tombol ‘play’.


“Gimana laporan terakhir TB 1?” Suara 1.


“Semua terkendali, Bos,” jawab suara 5.


“Arek iku dibawa ke RS Surabaya. Kondisi koma," sambung suara 5. “RUPS aman, semua dalam genggaman," imbuhnya lagi. Lalu terdengar tawa nyaring di antara keduanya.


Rekaman berakhir.


Matanya berkaca-kaca. Ia menatap suaminya itu lama. “Mas,” ucapnya tertahan.


Danang mengusap bahu yang direngkuhnya, lalu mencium sekilas pelipisnya.

__ADS_1


“Ayah?” gumamnya.


Sementara laki-laki dengan rambut di kepala yang keseluruhan memutih itu terlihat mengeraskan rahangnya. Tangannya mengepal kuat dengan gemetaran. Dan neene mengusap lengan itu penuh kelembutan.


“Sabali (sabar),” ucap lirih neene.


Danang mengurai pelukannya, menyodorkan sebuah map zipper plastik. Yang diambilnya dari tas ranselnya. “Semua bukti-bukti ada di sini.”


***


Danang memaksa matanya untuk terbuka ketika merasakan sebelahnya dingin dan ... kosong. Kirei tak ada di sampingnya. Padahal hampir semalaman ia memeluk tubuh ringkih itu. Tubuh yang entah mengapa, ia merasa semakin kecil dan kurus.


Tubuh yang begitu berat menopang beban hidup. Tubuh yang begitu berat harus menjalani hari-hari yang melelahkan. Tubuh yang dipaksa menanggung beban atas kematian orang berharga dalam hidupnya. Ya, tubuh yang sebenarnya lemah tapi kuat karena tekad dan semangat. Sungguh! Tak sepadan dengan fisiknya. Dan juga mungkin psikisnya.


Adilkah?


Tak mudah menjadi Kirei. Apa lagi setelah mengetahui kebenaran yang terkuak setelah sekian lama.


Hati Kirei pasti luluh lantak untuk kedua kalinya. Ia bisa merasakan. Meski tak ada tangis menyayat. Atau banjir air mata. Tapi, ia bisa melihat begitu dalam kesedihan dan kekecewaan terasa.


Ditambah dengan kabar terbaru yang didengarnya dari baapu. Bahwa Torrid pemilik Torrid group sedang menjalani kemoterapi di salah satu rumah sakit di Singapura. Kebetulankah?


Atau? Ia mengusap wajahnya. Mengusir kantuk yang masih tersisa. Melangkah, mencari keberadaan istrinya.


Ia melihat Kirei tengah berdiri di teras belakang dengan tangan melipat di depan dada. Pandangannya lurus ke depan. Atau bisa jadi pandangannya kosong. Entahlah.


Tak ada pergerakan sama sekali. Cukup lama.


Entah sudah berapa lama dia di sana?


Danang mendekat, memeluknya dari belakang.


“Udara dingin,” ucapnya pelan. Memeluknya erat-erat.


Kirei menoleh padanya sebentar, “Gak bisa tidur.”


“Besok semua akan dimulai. Berjalan dari awal lagi, percayalah ....” Ia menjeda sejenak. “Aku, papa-mama, baapu-neene, bunda, dan Ken dan semua yang menyayangi kamu akan selalu ada di belakangmu. Aku pastikan, semua berjalan semestinya. Dan keadilan tetap tegak.”


Setelah berdiskusi panjang dengan baapu. Kirei memutuskan untuk membuka kembali kasus kematian ayahnya. Tentu dengan bukti-bukti yang cukup. Dan mempelajari semuanya. Dari segi aspek hukum, sosial dan politis.


Dengan pertimbangan kasus Demas adalah kasus dengan kejahatan berat. Yaitu crimes against humanity (kejahatan terhadap kemanusian). Masa daluwarsanya berjangka waktu 18 tahun. Artinya, masih ada kesempatan. Sedikit lagi. Dan ia harus bergerak cepat.


Memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Berdiskusi dengan para pakar hukum. Begitu juga dengan Dewan pers yang selalu mendukung. Serta berbagai pihak yang siap menjadi saksi. Semua demi Kirei. Demi kebenaran. Dan demi tegaknya equality before the law.


“Kita masuk, nanti kamu masuk angin.” Piyama tidur berbahan satin jelas tak mampu menahan dinginnya udara di malam hari. Ah, bukan malam lagi tapi hampir subuh.


“Mas ....” Kirei berbalik badan. Menatapnya lekat-lekat. Dengan mata yang penuh gumpalan cairan bening.


Luruh. Air mata itu luruh satu persatu.


Hening sesaat.


“Terima kasih ... for staying by my side ... for, always support me. For everything ... there’s always me. ”


“Sshhh ... itu sudah tugasku. Kewajibanku.” Danang menyergah. Menghapus jejak air mata istrinya dengan ibu jarinya. Lalu merengkuhnya dalam-dalam.


***


Hari ini sebelum kepulangannya ke Semarang. Kirei dan Danang pergi ke pelabuhan. Duduk di sebuah kursi besi berwarna hitam tanpa sandaran. Punggungnya tegak ditopang kedua tangan di sisi-sisi. Matanya menatap ke depan.


Di hadapannya sebuah kapal kargo bertuliskan ‘KM DEMAS’ pada badan kapal. Kapal itu berwarna hitam putih. Sarat akan makna hidup. Bahwa cuma ada 2 pilihan di dunia ini. Baik dan jahat. Ya dan tidak. Yin dan yang. Pria dan wanita. Sebagai warna dasar kehidupan. Tetapi kenyataannya tak se-simple itu. Abu-abu atau ‘or' dipilih sebagian orang untuk berkilah. Dan pada akhirnya akan menjadi anomali. Hatinya begitu mencelus. Dadanya berdesir, membuat bulu-bulu halusnya berdiri tegak, meremang.


Kapal yang dipersembahkan baapu untuk ayahnya. Sesuai filosofi yang baapu sematkan. Bahwa sekali layar terkembang pantang biduk surut ke belakang. Artinya, kalau sudah berani maju maka tiada lagi untuk mundur. Harus maju terus melanjutkan perjalanan dan perjuangan.


Pun kapal kargo yang khusus dibuatkan baapu. Bertujuan memberikan manfaat bagi seluruh alam. Mengantar barang hingga sampai tujuan, menjaganya sepenuh hati. Adalah beban dan amanah yang berat. Meski nyawa taruhannya. Tapi itu bagian perjuangan dan visi misi kehidupan. Percis ayah yang dikenalnya. Selalu menebar kebaikan dan manfaat untuk orang-orang di sekitarnya. Semangatnya kuat. Tekadnya seperti baja.


Ayah, semoga ayah bahagia di sana. Rei, akan perjuangkan. Keadilan buat ayah. Sampai di ujung dunia mana pun, akan Rei perjuangkan.


Ia menyeka pipinya yang telah basah. Tersenyum penuh kegetiran. Perjuangannya tidak akan mudah. Ia tahu itu. Tapi ia berjanji. Demi ayah. Ia akan melakukan apa pun.


“Kita pulang,” ucap Danang. Meraih tangannya.


Ia mengangguk.


Namun saat akan bangkit berdiri, tetiba tubuhnya limbung. Ia merasakan pusing.


“Kamu kenapa?” Danang mengkhawatirkannya. "Sakit?” laki-laki itu menangkupkan punggung tangannya di dahinya. "Agak hangat,” tukasnya. “Sayang, kamu kurang tidur tadi malam. Sebaiknya kita pulang ke rumah baapu dan kamu harus istirahat. Siang atau sore baru pulang.”


Ia mengapit lengan Danang melangkah perlahan-lahan. “Aku gak pa-pa, Mas. Cuma pusing sedikit. Nanti juga sembuh. Sayang kalo harus reschedule tiket pesawat,” sanggahnya. Sebab kurang dari 3 jam lagi mereka harus terbang ke Semarang.


Danang berdecak, “Kesehatan kamu nomor 1. Kalo perlu kita carter pesawat, untuk kenyamanan kamu," tandas laki-laki itu.


“Mas,” langkahnya terhenti. Otomatis langkah Danang juga mengikuti. Menggeleng.


Danang menatapnya intens dan ikut menggeleng. Sebagai penolakan. Dan tetap dengan keputusannya. “Keputusanku mutlak. Absolut. Dan tanpa debat," tegasnya.


“Deviden KM bulan lalu bisa untuk carter pesawat. Kenapa perhitungan kayak gitu?” tukas Danang.


“Rei, cuma—” kalimatnya terpotong sebab ....


Danang menelepon seseorang terdengar, “Ren, cancel pesawat jam 11.” Lalu melihat jam di pergelangan tangan. Masih pagi jam 08.15


“Terus carikan privat jet. Jam ....” Danang menoleh kembali ke pergelangan tangannya, “jam 7 malam. Harus dapat.”

__ADS_1


“Thanks, Ren.” Danang menutup panggilan teleponnya. Lalu menengadahkan tangannya. Seolah-olah mengatakan, ‘easy, kan?’ kemudian tersenyum penuh kemenangan.


Ia menutup matanya sejenak, lalu mendengkus. “Kenapa sih, selalu mudah bikin keputusan? Kayaknya gampang banget!” gerutunya.


“Mas Danang tahu, gak? Sewa private jet itu berapa? Hitungannya per jam. Dan tau, gak? 1 jam itu berapa? Bisa 2500 US dolar. Itu pun yang paling murah. Itu juga, entah ada atau gak. Atau malah sudah naik harga sewanya sekarang. Sementara kita ke Semarang gak cukup satu jam.” Ia mulai mengeluarkan kalkulator di otaknya, untuk menghitung biaya yang harus dikeluarkan. Insting seorang wanita bahkan ibu-ibu sangat jeli penuh perhitungan. Tak boleh meleset satu rupiah pun, bukan?


“Coba, Mas Danang pikir dan hitung dulu. Jangan grasah-grusuh,” sambungnya masih mengomel.


Danang menyanggah, “Kalo ada yang mudah, kenapa cari yang sulit?”


“Ya ....” Ia tampak berpikir sesaat. “Ya ... karena hidup harus diperhitungkan matang-matang. Tidak boleh main asal," imbuhny.


Danang tersenyum menyeringai. Sementara ia mencebik kesal. Lalu berjalan cepat melewati laki-laki itu. Tiba di mobil ia membuka pintu, duduk di samping kemudi lalu menutup pintu sedikit kasar. Hingga berbunyi,


BLAM.


Danang lantas masuk dan duduk. Memasang sabuk pengaman, kemudian terdengar klik.


“Itu sudah penuh perhitungan, Nyonya besar. Kesehatan, kenyamanan dan keamanan kamu nomor 1.” Lalu menyalakan mesin mobil.


Keheningan menjeda. Mobil mereka perlahan keluar dari area pelabuhan.


“Mas, stop!” pekik Kirei.


Danang menginjak rem mendadak lalu menepikan mobil di bahu jalan. "Ada apa? Masih pusing?”


Ia menggeleng, “Aku pengen itu,” menunjuk penjual minuman yang di gerobaknya bertuliskan es brenebon.


“Ini masih pagi,” salak Danang.


Ia memasang raut kesal.


Danang berdecak, “Baiklah ... tapi sedikit saja.” Ia turun dari mobil. Menghampiri pedagang itu. Tak lama kemudian menyodorkan boks plastik padanya.


Matanya seketika berbinar menatap jajanan itu, dan dengan cepat membukannya.


Danang melajukan kembali mobilnya.


“Kirain es apa, ternyata es kacang merah,” ucapnya. Terus menyuapkan sesendok demi sesendok ke mulutnya. “Tapi enak rasanya,” sambungnya kemudian. “Mas Danang, mau?”


Laki-laki itu menggeleng. Lalu berkata, “Jangan banyak-banyak.”


Tapi apa mau dikata, isi dalam boks plastik itu telah tandas. Ia meringis sambil menjilati sisa-sisa yang menempel di sendok plastik bening itu.


***


Tiba di kediaman baapu. Ia benar-benar memaksa Kirei untuk beristirahat. Sementara dirinya saat ini berada di ruangan kerja baapu.


Ya, setelah makan siang usai baapu mengajaknya ke sana. Baapu memberikan sejumlah bukti tambahan. Entah itu berguna nantinya atau hanya sebagai bahan pertimbangan saja. Tapi sekecil apa pun, ia menghargai itu. Dan pastinya menjadi bahan untuk penyelidikan.


“Telepon Baapu, kalo kalian butuh kami.” Pesan baapu.


“Tolong jaga Kirei. Jangan sampai ....” Baapu menghela napas. Ia tidak ingin Kirei bernasib sama dengan ayahnya.


“Pasti, Baapu. Saya akan menjaganya. Melebihi nyawa saya sendiri,” tandasnya meyakinkan. Ia pun tidak akan tinggal diam, jika seandainya .... Ia harus menepis praduga yang belum tentu kebenarannya. Meski mereka tahu akan berhadapan dengan siapa. Orang-orang itu punya kuasa. Dan punya citra politik. Bahkan mungkin ... ia langsung mengenyahkan pikiran itu. Tidak akan pernah terjadi! Bisiknya dalam hati.


“Baapu percaya padamu. Berhati-hatilah.”


Ia mengangguk.


-


-


Catatan :


Untuk mendapatkan cerita utuhnya bisa flashback di part 54-57, akan menyambung di part ini.


Equality before the law adalah kesamaan di depan hukum. Artinya, setiap warga negara harus diperlakukan adil  di depan para penegak hukum dan pemerintah. Tanpa terkecuali.


Crimes against humanity, contohnya kasus Munir, Wiji Tukul, Marsinah dan masih banyak lagi.


 


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏


Love you all 💕


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2