
...59. Dirantai Digenangi Rindu...
-Gorontalo-
Satu minggu pertama di perusahaan baapu, ia memilih sebagai karyawan magang. Ia masih menolak jabatan komisaris. Ia tidak ingin dianggap hanya menikmati kekuasaan tanpa jerih payah.
Ia hanya ingin membantu baapu. Meski sedikit saja atau justru malah merepotkan orang-orang? Buktinya di tiga hari pertama ia masih kebingungan mempelajari cara manajemen cargo dan dunia pelayaran. Tapi ia terus belajar dan belajar.
Benar-benar jauh dari ilmu yang selama ini ia pelajari. Tapi ia tak pantang menyerah. Dibantu Paman Dambea, juga Jefri sekretaris baapu. Ia benar-benar belajar hal baru tersebut secara serius.
Lalu di minggu kedua berikutnya ia belajar dengan Bibi Kabila di warehouse.
“Kamu yakin akan bekerja di sini?” Tanya Kabila saat mereka telah keluar warehouse.
Ia mengangguk, “Ya.”
“Kamu harus banyak belajar lagi. Tapi, sayang ... matamu tidak bisa menipu. Kalau kesini cuma untuk pelarian buat apa?”
Ia terkesiap mendengar penuturan Bibi Kabila.
Sore harinya ia kembali ke pelabuhan. Tapi Bibi Kabila tidak bisa menemaninya. Sebab harus bertemu klien penting. Demi mengisi waktu ia pergi ke dermaga 2. Kapal cargo KM. DEMAS yang tengah berlayar ke Pulau Jawa telah sampai di Jakarta. Dan menurut info kapal itu sedang berlayar kembali menuju Gorontalo.
Sejauh mata memandang Teluk Tomini dari ujung dermaga, ia melengkungkan bibirnya ke atas. Rambutnya yang tampak sudah lebih panjang berkibar-kibar diterpa angin. Kali ini ia membiarkannya tergerai bebas.
Pantulan cahaya matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat membiaskan cakrawala yang sangat indah. Air laut beriak berkilauan menjadi pemandangan tak biasa.
Ia memejamkan matanya. Demi merasai angin sekaligus sinar matahari yang mulai redup menerpa wajah dan kulitnya. Kedua tangannya mencengkeram kuat besi yang menjadi pagar pembatas.
“I wish you were here ....”
“Will you be all mine?”
“I’ve fallen for you ... since the park.”
“I love you ....”
Seketika matanya terbuka mendengar bisikan kata-kata yang sangat membekas di hatinya.
Hatinya berdesir. Ada luka menganga yang ia sendiri tidak tahu obatnya. Cinta, rindu ... benci dan sakit yang ia rasakan secara bersamaan saling beradu.
Tangannya semakin kuat mencengkeram gagang besi. Hingga buku-buku jarinya memutih.
Sedang apa dia saat ini?
Tapi sejurus kemudian ia menggeleng. Mencoba mengenyahkan bayangannya.
“Kalau kamu tidak nyaman dengan pekerjaanmu sekarang, kenapa harus memaksa? Bekerja itu harus ikhlas. Sesuai hati dan keinginanmu!” Seru seseorang dari arah belakangnya.
Ia sontak berbalik badan. Alisnya terangkat sebelah, “Bang Laira?” Katanya seperti gumaman.
Menatap pria yang ....
Bagaimana mungkin Bang Laira berada satu tempat dengannya? Ia masih tak mengerti.
“Sori ... mengejutkanmu,” tukas Laira saat sudah berada dekat dengannya.
“Aku rindu kampung halamanku ....” Imbuh Laira, seraya menerbitkan senyum.
Ia menggeleng, “Abang orang Gorontalo?” Tanyanya tak percaya.
“Yup,” mereka mendekat pembatas pagar besi. Memandang air laut yang mulai pasang.
“Aku gak mengira, Abang orang sini.” Pandangannya lurus ke lautan.
“Dan aku gak mengira keberadaanmu di sini,” Laira menyahut.
“Aku sudah lama resign.”
“Sangat disayangkan ....”
“Ada hal yang harus aku tuntaskan.” Sahutnya beralasan.
“Tapi kalo itu membuatmu tak nyaman untuk apa dipaksakan?”
“Bekerja itu dari sini ....” Laira menunjuk dadanya.
Ia menoleh sekilas ke arah pria itu, lalu melempar padangan lurus kembali.
**
Minggu pagi, ia duduk di taman belakang sembari memberi makan ikan-ikan koi kesayangan baapu.
Ditemani secangkir teh dan kue papoco yang sekilas mirip makanan tradisional putri mandi. Tapi menurut Asti, asisten rumah tangga di sini, kue papoco berasal dari tepung terigu, telur, santan, dan bahan tambahan lainnya seperti garam, gula dan vanili.
“Adu’olo (terima kasih),” ucapnya pada Asti. Ia sedikit mengerti bahasa Gorontalo yang sederhana, seperti terima kasih, permisi, sapaan salam dan percakapan orang dengan kalimat pendek. Meski ia tidak bisa membalasnya dengan bahasa yang sama. Sebab lidahnya masih kaku dengan pelafalannya.
“Saaya (ya),” balas Asti. “Mbak Rei tidak ikut Pak Idrus jogging?” Tanya Asti kemudian setelah meletakkan kue kedua.
“Saya gak tau Asti.” Bibirnya sedikit cemberut. Seandainya ia tahu baapu dan neene jogging, pasti ikut. Beberapa kali ia pernah ikut. Memang jika sedang sehat dan fit, baapu dan neene jogging hampir tiap pagi sebelum melakukan aktivitas.
__ADS_1
“Ini kue apa lagi?” Tanyanya. Matanya menelisik kue yang mirip cookies. Ia pernah melihat bahkan mencicipi saat di ruangan Bibi Kabila. Namun pada saat itu ia hanya sekedar menikmati. Dan rasanya jangan ditanya. Enak, renyah dan cocok di lidahnya. Apalagi pas menjadi teman nge-teh maupun ngopi.
“Kue karawo.” Jawab Asti, perempuan keturunan Jawa-Bone itu sudah bekerja di rumah baapu semenjak lulus Madrasah Tsanawiyah, 6 tahun yang lalu.
“Kue khas sini juga, Mbak.” Asti duduk di dekatnya, setelah ia memberi kode menepuk kursi kosong di sebelahnya.
“Ini memang motifnya sengaja seperti sulaman gitu, ya?” Motif yang cantik dan unik dengan icing berwarna-warni pikirnya.
“Iya, Mbak. Itu memang unik. Karawo itu kain sulaman khas Gorontalo. Buatnya hati-hati dan lama prosesnya. Makanya hasilnya juga bagus dan unik.” Tutur Asti.
Ia manggut-manggut, sambil mengunyah kue.
“Karawo itu berasal dari kependekan kaita-tantheya-wo’ala’ yang artinya kaitan-rantai dan bongkaran. Sama halnya kalau kita sedang menyulam kain karawo. Makanya dinamakan kue karawo.” Terang Asti yang sudah menguasai bahasa Gorontalo sejak kecil. Sebab kedua orang tuanya merantau ke kota Gorontalo dari Bone tempat asal ayahnya.
“Enyak ....” Katanya sambil mengacungkan jempol kedua tangannya dengan mulut sibuk mengunyah.
“Eh, Mbak ... Pak Idrus sudah datang,” Asti menoleh sejenak ke belakang. “Saya pamit ke belakang.” Asti sudah beranjak, lalu berlalu meninggalkannya tanpa menunggu jawabannya.
Ia menoleh ke belakang lalu berdiri menyambut baapu. Sebab kursi taman yang membelakangi pintu teras dan menghadap kolam.
“Baapu ... neene, mana?” Ia hanya melihat baapu sendirian menghampirinya.
“Di dapur,” Baapu mendudukkan tubuhnya di kursi. Ia pun ikut duduk di sebelah baapu.
“Baapu tega, Rei ditinggal sendirian. Gak diajak jogging.” Sungutnya manja.
Pria berusia lanjut itu terkekeh, cucu perempuannya memang menggemaskan. “Kamu masih tidur, jadi pantas ditinggal. Kalau anak perempuan itu bangun harus pagi, dan jangan tidur lagi.” Tukas baapu.
Memang salahnya, tadi pagi selepas subuh-an, ia tidur kembali. Rasa kantuk yang mendera sebab ia tidur larut. Mengobrol lewat video call dengan Ken. Sampai-sampai ia tidak tahu, kapan Ken mengakhiri panggilan video itu.
“Salah Ken!” Ketusnya mencari pembenaran.
“Rei ... Rei,” Baapu menggeleng.
“Sifat kamu tidak jauh beda sama ayahmu,” Baapu menyandarkan punggungnya ke belakang. Menghela napas perlahan.
“Bagaimana hubunganmu dengan Danang?”
Seketika wajahnya berubah masygul.
“Rei ... setahu Baapu, papamu dulu dekat dengan ayahmu. Beberapa kali Baapu melihat mereka berdua. Dan, ya ... beberapa kali juga ayahmu mengirim surat untuk neene lewat Bagas.”
Ia beringsut dari posisi duduknya menjadi tegak.
Mata baapu menerawang kejadian beberapa tahun silam, “Dulu Baapu menutup mata. Berkeras hati. Tidak mau mendengar penjelasan ayahmu, padahal ayahmu tidak salah. Tekad ayahmu begitu kuat sampai-sampai semua dilawannya. Tidak peduli dia harus meninggalkan semua yang seharusnya menjadi miliknya ....” Mata baapu terlihat berkaca-kaca.
Pria yang ia panggil baapu itu menceritakan masa muda ayahnya. Saat Demas mengalami musibah menjadi korban tawuran dan ditolong Bagas. Lalu beberapa hari Demas tak pulang ke rumah karena bertengkar dengannya sebab ayahnya itu tetap memilih melanjutkan kuliah di Pulau Jawa. Dan melalui orang kepercayaan baapu mengatakan Demas menginap di asrama polisi tempat Bagas.
Pun saat sudah di Surabaya, Demas mengirim surat untuk neene beberapa kali. Baapu diam-diam melihat Bagas menyampaikan surat dari Demas untuk istrinya. Bahkan secara sembunyi-sembunyi membaca surat itu tanpa sepengetahuan istrinya.
Baapu menyusut sudut matanya yang telah basah.
“Ayahmu tampan mengenakan jaket almamater kampusnya,” wajah pria berusia lanjut itu berubah sedu. Mengingat sang putra yang sebenarnya sangat disayanginya itu membanggakan keluarga hingga di akhir hidupnya.
“Namun, ego Baapu tetaplah tak bisa ditaklukkan.” Ada rasa getir dan pongah secara bersamaan.
“Jadi ayah dan papa sudah sejak lama bersahabat?” Tanyanya.
“Iya ....” Sahut neene yang baru saja datang bersama Asti di belakangnya membawa binte biluhuta. Semacam bubur ayam tapi berbahan dasar jagung dan parutan kelapa. Ditambah suwiran ikan cakalang, udang dan sayuran. Lalu disiram kuah berempah.
Baunya wangi. Paling enak disajikan panas-hangat. Cocok untuk menu sarapan.
Asti meletakkan 3 mangkok binte biluhuta di meja persegi. Beserta 3 gelas berisi air putih.
Sementara neene duduk di kursi satunya tepat di sampingnya.
“Mereka sahabat lama.”
“Makanya Neene tidak yakin jika papamu terlibat dengan kematian ayahmu.” Tukas neene.
Ia memang menceritakan masalah yang tengah di hadapinya. Meski hanya secara garis besarnya saja.
“Bagas orang baik. Bahkan sewaktu ayahmu menikah, papamu lah yang menjadi wakil kami. Neene masih menyimpan foto mereka.”
“Bagas juga yang mengurus semua pemakaman ayahmu.”
Lalu, neene memanggil Una. Asisten rumah tangga yang paling lama bekerja di sini. Wanita paruh baya asli Pulau Unauna-Sulawesi Tengah itu terlihat tengah menyapu teras, “Una! Tolong ambilkan album foto di kamar. Di laci nakas paling bawah.” Perintah neene.
Una mengangguk lalu berlalu.
Sementara baapu melahap binte biluhuta yang sudah menghangat.
“Makan dulu mumpung masih hangat,” saran neene.
Mereka menikmati semangkok binte bilahuta. Sambil sesekali bernostalgia tentang ayah semasa muda.
Una telah kembali dengan membawa album foto. Meletakkannya di meja. Sampul album itu terlihat usang. Di mana plastik yang menjadi pembungkus telah koyak. Lalu pada warna sampul juga menandakan termakan usia, tampak memudar. Di pinggirnya terdapat bercak kekuningan.
Neene meletakkan mangkok yang masih berisi setengahnya itu. Menjeremba album tersebut lalu membuka album perlahan. Seperti ingin merasai kembali ke masa di mana foto itu diambil.
__ADS_1
Dipandanginya berlama-lama lembar demi lembar foto Demas dari bayi. Tangan rentanya meraba pelan.
“Ini ayahmu sewaktu bayi,” kekeh neene, “mirip kamu, Rei.” Mata neene berbinar bahagia.
“Kirei versi Demas sekarang.” Celetuk baapu juga ikut terkekeh.
Ia tak sabar, meletakkan mangkok yang tinggal sedikit isinya ke atas meja. Lalu mencondongkan tubuhnya melihat album foto yang disibak perlahan.
“Ini ayahmu masuk sekolah TK, yang ini masuk SD ... lalu ini SMP.” Tunjuk neene satu persatu lembar foto yang menampilkan baju seragam sekolah sesuai tingkatannya.
Beberapa kali mendapat sertifikat penghargaan sebagai murid berprestasi. Juga diabadikan.
“Ini sewaktu ayah SMA.” Terkanya. Melihat ayah yang sudah lebih tinggi. Berdiri di antara Paman Tilamuta dan Bibi Kabila.
“Ya ... ini sewaktu kita liburan di Manado.” Ungkap neene. “Ayahmu masih kelas 1 waktu itu.”
“Setelah menginjak kelas 2, Demas sudah susah difoto. Dan jarang ikut kumpul lagi. Dia lebih memilih bekerja mengumpulkan barang-barang bekas. Menjualnya lalu uangnya diberikan pada teman-temannya yang kurang beruntung. Empati dan rasa simpatinya pada orang lain begitu besar.”
“Padahal, dia dengan mudah meminta pada neene tapi ... ia ingin membantu dengan hasil keringatnya sendiri.”
Ia mengangguk setuju. Ayah memang beda. Sosok yang membuat dirinya bangga menjadi anak seorang Demas.
“Dan ini ....” Neene mengusap lembut foto ayah yang mengenakan jas almamater kampusnya.
Neene menyusut sudut matanya yang telah menggenang. Ada keharuan yang menyeruak.
Pun dengan dirinya yang bisa merasakan itu. Ada getaran dalam dada. Bangga. Haru. Sedih. Rindu. Bercampur menjadi satu.
“.... Surat ketiga yang dibawa Bagas untuk Neene. Di dalamnya ada foto ini.” Suara neene terdengar bergetar.
Ia merengkuh wanita itu. Menyusut air matanya yang telah menetes begitu saja.
“Ini ....” Tangan neene menyelusup ke dalam plastik pembungkus. Berusaha mengambil foto yang menempel pada tempatnya. Kesusahan, sebab foto lama itu telah menempel kuat. Seperti enggan untuk dilepas.
Kreeeet.
Akhirnya foto itu berhasil diambil. Neene mengangsurkan padanya.
Di sana jelas ia bisa melihat foto pernikahan ayah dan bunda. Lalu diapit oleh Papa Bagas dan Mama Anita sewaktu muda. Foto ini tidak ada dalam album pernikahan yang disimpan bunda. Dan ....
Anak laki-laki berumur sekitar 1-2 tahun yang digendong ayah. Foto anak laki-laki yang percis tersimpan di atas bufet rumah Mama Anita.
Keningnya mengerut.
Bibirnya mengatup.
Jantungnya kencang berdegup.
Beribu tanya dalam dada. Mengapa hal sepenting ini ia tidak mengetahuinya?
-
-
Terima kasih yang telah mampir, membaca dan memberikan dukungan .... 🙏.
__ADS_1