
...34. When You’re Gone...
-Kamboja-
Kirei
Hari pertama jadwal pelatihan sangat padat dimulai jam 7 pagi hingga jam 7 malam. Dengan break dua kali. Pada jam 11 siang dan jam 4 sore.
Begitu pula hari kedua pun tak jauh beda. Seminar, sesi informasi membahas topik utama. Seperti memahami jurnalisme warga dan arus informasi gratis. Laporan etika pembaca berita dan Sumber daya untuk jurnalis warga. Lalu dilanjutkan dengan berdiskusi antara peserta dan pemberi materi
Tak tanggung-tanggung. International Center for Journalist (ICFJ) menggandeng pemateri kelas dunia. Salah satu jurnalis Amerika dan merupakan koresponden¹ gedung putih. Sekaligus kontributor² media televisi yang mempunyai afiliasi dengan televisi swasta di beberapa negara bagian AS.
Ia dan seluruh peserta dibuat terkagum-kagum.
“Any questions (ada pertanyaan)?” tanya pemateri pertama setelah sesi pemberian materi usai.
Disambut angkat tangan oleh hampir semua peserta. Pemateri pertama sampai geleng-geleng kepala seraya matanya membelalak tak percaya. Saking antusiasnya para peserta. Sontak tawa semua peserta menguar memenuhi meeting room.
Lalu pada hari kedua. Pemateri di datangkan juga dari negara Adidaya. Amerika Serikat. Jurnalis sekaligus news anchor yang populer.
Salah satu jurnalis favorit baginya. Sebab jurnalis tersebut lebih memilih selalu live report dalam programnya. Patut diacungi jempol. Selalu masuk nominasi ajang penghargaan untuk para jurnalis dunia. Bahkan salah satu jurnalis yang berpengaruh di dunia saat ini.
Amazing!
Sesi pemateri telah usai dilanjutkan dengan diskusi dan ice breaking berupa perkenalan antar peserta.
Di mana setiap peserta diwajibkan untuk berkelompok membentuk lingkaran beranggotakan 7-8 orang. Lalu satu persatu dari mereka akan memperkenalkan diri dari nama, asal negara dan hobi, dengan waktu total 5 menit.
Setelah itu salah satu peserta menunjuk temannya untuk menyebutkan nama, asal negara dan hobi teman yang ditunjuk lainnya.
Apa bila salah menyebut maka akan mendapat hukuman. Yaitu menghibur rekan-rekannya.
Dan apesnya ia harus mendapat hukuman sebab salah menyebut nama.
Menyanyikan lagu baby shark dengan bergoyang. Malu sekaligus senang sebab membuat tawa orang-orang.
Dua hari sesi indoor akhirnya berakhir. Lelah. Namun menyenangkan. Capek namun mengesankan. Semua terbayarkan.
“Rei, yang lain pada ngajak ke pub.” Tukas Laira saat berusaha menyejajarkan langkahnya keluar meeting room hotel.
“Maaf, Bang ... aku gak ikutan, ya?” pamitnya. Habis ini ia berencana menelepon Danang. Entah kenapa ia benar-benar ingin melihat wajahnya. Setelah seharian dari pagi habis sarapan belum sempat memberi kabar.
“Kalo kamu gak ikut, aku juga gak lah ....” Sahut Laira.
Ia menghentikan langkahnya sejenak, “Kok gitu! Gak apa, Abang ikut aja. Aku bener-bener capek. Pengen tiduran,” kilahnya beralasan.
“Aku juga capek sebenarnya. Tapi mereka maksa. Ga enak,” kini ia dan Laira telah masuk dalam lift.
“Kalo besok gimana?”
Ia bergeming.
“Kalo besok malam habis liputan outdoor di kota Siem Reap, gimana?” ulang Laira lagi. Memastikannya agar bisa ikut.
“Maaf ... tapi gak janji. Aku duluan, Bang.” Jawabnya. Mereka berpisah setelah lift terbuka. Ia keluar lebih dulu. Sementara kamar Laira berada satu lantai di atasnya.
“Mas ....” Ucapnya ketika wajah laki-laki yang ingin disapanya itu terpampang jelas memenuhi layar ponselnya.
Danang mengernyit. “Baru mandi?”
Sebab rambutnya yang basah masih bergelung dalam handuk.
“Iya, soalnya baru selesai acaranya,” sembari mengangguk.
“Mas Danang masih di kantor jam segini?” tanyanya pada laki-laki yang masih memakai seragam cokelat berada di ruangan kerjanya.
“Tanggung ... sebentar lagi pulang”
“Kamu udah makan?”
“Udah. Mas udah makan?”
Justru laki-laki itu menatapnya lekat, “ It’s going to day (ini udah hari ke berapa)?”
Gadis itu tergelak. Lalu sejurus kemudian mendesis, “Isshhh ... baru 2 hari lho ....”
“Tapi kayak setahun”
“Mulai deh,” cebiknya.
Danang tertawa.
“Mas ....” panggilnya dalam keraguan.
__ADS_1
“Hemm ....?”
“Emm ... nothing.” Ia meragu. Urung mengungkapkan.
“Rei," panggil laki-laki itu dengan tatapan menyelidik.
“Itu ... temen-temen ngajak ke ... pub,” sahutnya dengan menggigit bibir bawahnya.
“Kamu pasti tau pub itu apa? Dan kamu pasti tau jawabanku apa?” justru laki-laki itu melemparkan pertanyaan dan pernyataan sekaligus.
“Iya, aku tau. Aku tidak akan pergi.”
“Good!” senyum terbit di bibir Danang.
“Istirahatlah ... udah malam.” Saat memindai jam digital berlogo kesatuannya di atas meja. Pukul 21.30 WIB. Tentunya tidak ada perbedaan waktu antara Kamboja dan Indonesia.
“Mas Danang juga,”
“Pulang, makan ... terus istirahat.”
Keduanya saling menatap dalam penuh damba. Ingin rasanya ia menyentuh wajah laki-laki itu.
Danang mengakhiri video call, “good night, sweet dreams”
**
-Surabaya-
Bunda
Setelah selesai berziarah di makam Sunan Ampel, bunda pamit pada teman-teman pengajiannya untuk memisahkan diri. Sebab ia harus ke kantor notaris mengurus akad jual beli rumahnya.
Tiba di kantor notaris ternyata sudah ada pembeli rumahnya yang menunggunya.
“Maaf, Pak, Bu saya terlambat,” ucap bunda pada notaris ibu Weni dan pak Boni yang akan membeli rumahnya.
Bunda menyerahkan semua dokumen persyaratan jual beli pada notaris. Lalu diperiksa oleh ibu Weni.
Pihak notaris dan sanksi mengangguk. Tanda dokumen telah lengkap. Kemudian proses akad jual beli diakhiri dengan penandatanganan akta jual beli. Sebagai bukti sah peralihan hak tanah dan bangunan dari penjual ke pembeli. Mereka berjabat tangan.
Dari kantor notaris, bunda menuju rumah Papa Bagas. Namun ia meminta pada sopir taksi untuk mengantarkannya ke sebuah tempat pemakaman umum.
Tempat peristirahatan sang suami tercinta. Tertunduk khusyuk dengan tangan menengadah memanjatkan doa-doa untuk suaminya. Diakhiri Al-fatihah sebagai doa penutup.
Tangan kanannya terlihat beberapa kali menyusut sudut matanya. Air mata rindu. Kehilangan. Kesepian. Kenangan dan kebahagiaan.
“Dengan anaknya Mas Bagas,”
“Apakah abang senang mendengarnya?”
Terhenti sejenak sebab air mata semakin deras mengucur.
“Kita doakan, semoga mereka bahagia, Bang.”
“Seperti Abang bahagia di sana ... tunggu Nani, Bang.”
“Anak-anak sudah besar. Amanah Abang sudah Nani jalankan.”
Tiba di rumah besannya Papa Bagas sudah sore. Ia di sambut ramah sepasang suami istri itu.
“Nani, ayoo langsung masuk.” Ajak Mama Anita yang merengkuh bahunya. Setelah beberapa saat berpelukan tadi.
“Gimana kabarnya?” tanya mama Anita saat langkah kaki mereka menuju ruang keluarga.
“Sehat, alhamdulillah, Mbak. Gimana kabar Mbak Anita sama Mas Bagas?”
“Kami juga alhamdulillah baik. Semoga selalu sehat agar bisa melihat cucu-cucu nantinya,” balas Mama Anita.
Mereka kini sudah duduk di ruang keluarga.
Bi Darmi datang membawa minuman dan beberapa kudapan.
“Terima kasih, Bu.” Ucapnya. Dibalas dengan senyum oleh Bi Darmi.
Obrolan mengalir begitu saja, “kami minta maaf, soal—“ kalimat Papa Bagas terhenti saat ia memotong.
“Semua sudah berlalu, Mas. Tidak perlu di bahas lagi,” timpalnya.
“Sekarang yang perlu kita pikirkan, bagaimana mereka bisa menjalani rumah tangga mereka seperti pasangan yang lainnya ....”
Papa Bagas tampak mengangguk, “Ya, benar ....”
“Pernikahan mereka mungkin awalnya terpaksa oleh sebab. Tapi mudah-mudahan mereka bisa saling menerima. Saling menyayangi ....”
__ADS_1
Mama Anita mengaminkan.
“Kata Kirei, Mbak Anita mau bikin resepsi untuk mereka?” tanyanya.
“Baru rencana. Inginnya kami begitu. Tapi kembali lagi kami serahkan keputusan sama mereka,” sahut Mama Anita.
“Bagaimana kabar Ken?” tanya Mama Anita.
“Ken baik. Sudah bekerja,”
“Syukurlah. Tadinya kami mau ke rumahmu, Nan. Cuma kata Danang justru kamu yang mau ke sini.”
“Iya, Mbak. Sekalian ada acara tadi pagi,” jawabnya.
Pertemuan ditutup dengan makan malam.
“Padahal aku udah siapin kamar lho, Nan. Kirain kamu tidur di sini.”
“Kapan-kapan saja, Mbak. Terima kasih.”
“Baiklah, tapi aku harap kapan-kapan kamu mau menginap di sini.”
“Insya Allah ....”
Setelah berpamitan dengan mas Bagas dan mbak Anita, ia lalu pergi ke stasiun Gubeng di antar sopir mama Anita.
Sekelebat bayangan masa lalu hadir melintas. Stasiun di mana menjadi saksi ia dan suaminya mengukir kenangan.
Membaca secarik kertas bertuliskan kata sajak darinya seorang.
Aku bukan lelaki idaman
Tapi aku datang untuk mengukir kenangan
Hanya untuk menjemput asa bersama cinta
Meraih mimpi berona kebahagiaan
Meski aral membentang lantang
Katakan kau untukku seorang
Aku tak takut mencabar bentang dan jenjang
Sebab kau datang membawa tawa dan masa depan
Meski hujan mengemis tangis
Matahari berteriak panjang
Tak surut 'kan kubawa tameng berlapis
Hanya untukmu seorang
“Maukah kamu menikah denganku, Nan?” ucap Demas saat pertama kalinya laki-laki itu melamarnya. Di stasiun Gubeng Surabaya.
Kereta api perlahan melaju meninggalkan stasiun penuh kenangan. Seakan baru kemarin ia duduk di sini dengan tawa senang. Mengangguk seraya menjawab, “Aku mau, Bang.”
Ia menyusut sudut matanya yang telah tergenang. Rasa sesak di dada tak mampu membuat bendungan air mata itu kuat menahan. Menetes bahkan membanjiri kulit wajahnya yang mulai berkeriput.
“Semoga abang bahagia di sana ....” Doa dan harapnya selalu ia panjatkan. Untuk kekasih yang selalu terpatri di hati.
-
-
Catatan :
Koresponden¹: wartawan yang tinggal dan bertugas di suatu tempat lain yang secara teratur mengirimkan berita ke redaksi.
Kontributor²: jurnalis freelance/kontrak yang biasanya ditempatkan di daerah-daerah yang jauh dari stasiun penyiaran.
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ....ya! 🙏
__ADS_1