
...49. For The Moment...
Kirei
Ia telah menyiapkan semua perlengkapan untuk di bawa mudik. Dua hari sebelum lebaran ia dan mas Danang akan pulang ke Solo. Merayakan hari raya di sana. Lalu pada hari kedua baru ke Surabaya.
Beberapa hari lalu ia sudah tapping program TS (Telusur Peristiwa). Untuk tiga episode. Sebab selama seminggu ia akan off.
“Selamat mudik!” Teriak Anisa lantang sambil membentangkan tangannya.
Semua orang divisi news menoleh pada Anisa.
“Nis,” tukasnya dengan menggelengkan kepala. Konyol pikirnya.
“Lo, iri ya, kan?!” Terka Oka. Anisa orang Semarang. Pun dengan keluarganya yang masih tinggal di seputaran kota ini. Jelas ia tak pernah mengenal dan merasakan sensasi apa itu mudik.
“Gue mudik, Oka ... mudiknya 10 menit,” Anisa menyeringai dengan percaya dirinya.
“Huuu ....” Disambut gelak tawa anak-anak news. Ini adalah hari terakhir bekerja. Sebagian yang cuti dan off memang dengan senang hati membereskan semua pekerjaannya agar bisa tenang ditinggal mudik.
Tapi bagi sebagian lain yang memang tetap bekerja. Mau tidak mau harus merelakan momen mudik.
“Lo, pulang ke mana, Rei?” Tanya Anisa.
“Ke Solo baru ke Surabaya.” Tukasnya. Semua file sudah tersimpan rapi di komputernya. Lalu mematikan perangkat komputer tersebut. Memasukkan beberapa berkas ke dalam tas.
“Yuuk ....” Oka menyahut. Menghampiri kubikelnya.
Ia bangkit dari duduknya. Disusul Anisa yang mengekornya.
“Jangan lupa, Rei. Bawa kue lapis Surabaya yang kemarin. Enak banget.” Pesan Oka mengingatkan.
“Aman!” serunya.
Mereka berpisah di depan lobi.
“Aku duluan, yaa?!” Pamitnya pada Oka dan Anisa. Sebab mas Danang sudah menunggunya di depan lobi.
“Duh ... jomlo dilarang lihat!” seru Anisa. “Bisa-bisa pulang minta dikawinin.”
Oka mendengus. “Lo yang minta kawin. Kalo gue mah kagak!” sembur Oka.
***
Danang
Mobil melaju membelah jalan tol Semarang-Solo Sesekali tersendat sebab antre di beberapa titik. Seperti titik rest area, yang mana bagi pemudik rute jauh akan memilih beristirahat sejenak.
Pun kondisi memang padat kendaraan. Seakan semua mengejar waktu esok hari agar bisa merasakan momen berhari raya bersama keluarga tercinta.
Gadis itu berkali-kali menguap.
“Tidurlah,” ia mengusap kepala Kirei penuh sayang.
“Gak ngantuk!” seru Kirei berkilah meski tubuh dan matanya lelah.
“Mas, flasdisk lagu-lagu itu gak dibawa ya?” Tanya gadis itu sambil mencari-cari barang kecil itu di laci dasbor.
“Di mobil satunya.”
Kirei menepuk keningnya, “Oiya ... lupa kalau pake mobil ini.”
Ia tersenyum mengejek. Gara-gara Rendra lupa membawa mobilnya kemarin ke bengkel. Padahal harus servis untuk dibawa perjalanan jauh. Sebab mereka akan menggunakan mobil ke Surabaya. Sehingga mau tak mau ia menggunakan mobil gadis itu.
Mobil melambat pada exit tol Salatiga. Semua kendaraan merayap.
“Mas, kayaknya aku agak pusing.”
Ia menoleh ke samping. “Kamu agak pucat. Mau berhenti dulu?” Tawarnya melihat gadis itu tengah memegangi kepalanya.
Kirei menggeleng.
“Atau rebahan. Kursinya atur dulu biar nyaman.”
Gadis itu mengatur kursinya ke belakang agar lebih enak untuk menyandar.
“Batalin aja puasanya, yaa?” Ia merasa khawatir. Karena tidak biasanya gadis itu mabuk kendaraan.
Lagi, lagi Kirei menggeleng.
Ia berdecak kesal, “Ngeyel!” semburnya.
“Kalo sakit boleh batalin puasa. Dari pada kenapa-kenapa,” pandangannya fokus kembali ke depan. Sebab antrean kendaraan sudah mulai berjalan normal.
“Udah, Mas. Jangan ngomong terus aku jadi mual.” Tandas gadis itu ketus.
Ia mengernyit. Aneh apa hubungannya bicara dengan mual?
Kirei terlihat memejamkan matanya. Ia semakin mempercepat laju kendaraan. Berharap cepat sampai di tujuan.
Menjelang beduk magrib mereka tiba di halaman rumah bunda. Ken dan bunda yang tengah duduk-duduk di teras depan langsung menyambut mereka.
“Putri tidur!” seru Ken meledeknya. Melihat adik semata wayangnya baru bangun tidur. Saat Danang membuka pintu dan membangunkannya.
“Enak banget, mentang-mentang mobil baru.” Cibir Ken tak henti meledeknya.
“Ish ... turunin barang-barang Rei ya, Kak!” Titah Kirei berseru manja.
“OGAH!”
“Ken ....” Bunda melotot ke arah anak sulungnya itu.
Mau tak mau, Ken mendekati mobil dan membuka pintu kedua.
“Assalamualaikum ....” Sapanya dan Kirei saat mereka menghampiri bunda yang berdiri di teras.
“Waalaikumsalam,” Bunda menyambut uluran tangan keduanya.
Sementara Ken menurunkan barang bawaan di bangku belakang.
Tak berselang lama beduk azan magrib berkumandang.
“Alhamdulilah ....” Ucap mereka bersamaan.
“Nda, nanti malam sahur buat sambal bawang, ya?” Pinta Kirei, “soalnya Mas Danang gak suka pedes.”
__ADS_1
“Sayang, kamu lagi gak enak badan.” Peringatnya.
“Kamu sakit? Cieehh ... badan sehat gitu ngaku sakit.” Ketus Ken.
“Sakit apa, Rei?” Bunda menyahut.
“Gak kok, Nda. Tadi agak pusing aja. Gak tau kenapa. Sekarang udah sembuh.” Gadis itu berkilah.
“Tuh ketahu—”
“Kakak!!” Pekik Kirei kesal. Sedari tadi diledek terus sama Ken.
**
Bunda
Esok paginya ia mengajak Kirei pergi berbelanja ke pasar Malang Jiwan. Membeli selongsong ketupat dan bahan-bahan yang akan dimasak untuk hari raya.
Setiap tahun ia akan mengundang para pegawai tokonya yang berjumlah 8 orang beserta keluarganya untuk ke rumah. Pun biasa anak-anak kompleks juga berdatangan. Mereka menyebutnya lebaran keliling. Padahal tujuan utamanya meminta angpau.
“Iki anake Bu Nan? (Ini anaknya Bu Nan)” Tanya embah-embah yang berjualan selongsong ketupat.
Kirei tersenyum.
“Inggih, Mbah (ya, Mbah),” jawabnya seraya mengambil beberapa ikat selongsong ketupat. Satu ikat terdiri dari 10 buah selongsong.
“Ayune, Nduk.”
“Sampun gadah garwo, Mbah (sudah punya suami, Mbah).” Sahutnya sambil memberikan uang berwarna merah.
“Ora ono susuke iki? (Tidak ada kembaliannya ini).”
“Mboten sah, kagem simbah mawon (tidak usah, buat simbah saja).” Tukasnya.
“Matur nuwun ... mugi-mugi cah ayu lan garwone sehat, rezekine lancar lan cepet diparingi momongan (terima kasih ... semoga nak ayu dan suaminya sehat, rezekinya lancar dan cepat diberikan momongan).”
“Aamiin ....” Ia dan Kirei mengaminkan doa tersebut.
Simbah penjual selongsong ketupat tersenyum lebar bahkan tampak giginya yang sudah tanggal beberapa.
Tiba di rumah, ia langsung membereskan belanjaan. Sementara Numi telah bersiap mengisi selongsong ketupat dengan beras yang telah dicuci dan ditiriskan.
“Nda, aku tiduran bentar ya, lemes banget.” Ucap Kirei padanya yang tengah menyuci ayam dan daging.
“Yaudah, sana. Wajahmu juga pucat, Rei.”
Kirei berlalu begitu saja meninggalkannya dan Numi.
“Apa Mbak Rei lagi isi, Bu?” Tanya Numi.
Ia terdiam sejenak.
“Katanya sih, lagi sakit dari kemarin, Num. Tapi, mudah-mudahan sih gak pa-pa,” harapnya. Seingatnya saat ia di Semarang, anak bungsunya itu mengatakan belum hamil.
**
Kirei
“Allaahu akbar ... allaahu akbar ... allaahu akbar. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil-hamd.”
Suara takbir menggema di seloroh pelosok negeri. Tak terkecuali di kompleks kediaman bunda. Anak-anak bertakbir keliling menabuhkan segala peralatan bunyi-bunyian. Mulai botol kaca bekas, galon bekas, kentungan, bahkan panci biasa untuk memasak.
Ia dan Danang duduk di teras. Merasakan atmosfer hari raya yang luar biasa. Momen yang jarang terjadi. Sebab hanya setahun sekali. Bagaimana tidak? Tahun ini ia tidak sendiri lagi. Ada laki-laki yang duduk di sebelahnya yang membersamai akhir-akhir ini. Bahkan akibat pernikahan yang tak pernah disangka-sangkanya.
“Mas ....” Ucapnya menatap laki-laki itu yang tengah mengetik sesuatu di ponselnya.
“Mau jalan gak?” Imbuhnya. Biasanya setiap malam takbir ia akan jalan-jalan pakai motor bersama Ken. Berkeliling melihat kemeriahan suasana malam lebaran. Sementara Ken sudah tidak tahu ke mana rimbanya.
Laki-laki itu menoleh padanya. “Boleh, ke mana?”
“Keliling aja. Biasanya rame banget sih di sepanjang jalan ....” Matanya berbinar. Ia membayangkan melihat keramaian yang hanya ada satu tahun sekali. Belum lagi suara mercon dan kembang api yang menambah kemeriahan.
Ia bangkit dari kursi, meninggalkan Danang.
“Yuuk,” ajaknya saat kembali ke teras menghampiri suaminya. Menyodorkan kunci motor dan jaket untuk laki-laki itu.
Mas Danang menatapnya sejenak, “Kok pake motor? Nanti tambah sakit!” protesnya.
Ia menyebik. Lalu memohon dengan wajah memelas, “Aku maunya naik motor.”
Laki-laki itu tampak menghela napasnya, “Tapi pakai jaketnya yang benar,” Danang memakaikan jaket ditubuhnya. Menutup resletingnya penuh hingga leher. Lalu memakaikan tudung kepalanya.
“Nah, begini baru boleh jalan.” Laki-laki itu tersenyum puas.
Justru ia berdecak sebal, “Aku kayak orang sakit. Lagian gerah, Mas.” Ia sudah menurunkan kembali resleting.
“Oke! Kalo gak nurut aku gak mau jalan.”
“Mas ....”
Laki-laki itu menggeleng.
“Oke ... oke!” serunya mengalah seraya menaikkan kembali resleting hingga ke lehernya.
Ia mendekap laki-laki itu erat dari belakang. Menghidu aromanya yang membuat gadis itu nyaman.
Sepeda motor yang dikendarai Danang bergerak perlahan. Melewati jalan Adi Soemarmo belok ke kiri melewati pabrik gula Colomadu. Menyusuri jalan Adi Sucipto yang ramai sekali. Semua orang seakan tumpah ruah ke jalan.
Tiba di Manahan ia meminta laki-laki itu menghentikan motornya di bahu jalan.
“Mas ... aku pengen wedang asle.” Tunjuknya ke seberang jalan yang berjejer penjual wedang ronde, asle, dan dongo.
Kemudian laki-laki itu berputar balik dan menghentikan motornya tepat di samping penjual wedang ronde.
“Aslenya setunggal (satu), Pak.” Pesannya pada penjual tersebut.
“Mas, mau apa?” Tanyanya pada Danang yang sudah menghampirinya.
“Ronde aja,” sahut laki-laki itu. Lalu duduk pada kursi kayu panjang yang biasa disebut dingklik.
“Nambah ronde, setunggal nggih, Pak.” Imbuhnya pada pendagang itu.
Sementara penjual itu mengangguk dan tersenyum, “Nggih.”
Menikmati minuman hangat di malam hari rasanya pas. Apa lagi angin berembus mengantarkan hawa dingin yang menusuk kulit.
__ADS_1
Setelah menghabiskan semangkok asle. Mereka melanjutkan perjalanan. Menyusuri flyover Manahan. Kemudian belok ke kanan ke Slamet Riyadi. Melewati stasiun Purwosari yang ramai dengan geliat para pemudik. Lalu kembali lagi ke jalan Adi Soemarmo.
“Cape?” Tanya Danang ketika mereka sudah tiba di rumah.
Ia menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah.
“Gak ... cuma lemes aja,” sahutnya sambil menoleh pada Danang yang duduk di sampingnya.
Laki-laki itu menaruh punggung tangannya ke keningnya.
Ia mengerutkan alis, “Aku gak demam, Mas.” Kilahnya.
Kemudian ia bangkit hendak ke dapur membantu bunda dan Numi yang masih berkutat di sana.
“Lebih baik kamu istirahat, Sayang!” Danang menyergah.
“Aku gak apa, Mas. Beneran!” tandasnya sambil melepas jaket. Tak memedulikan laki-laki itu yang mengkhawatirkannya.
**
Danang
Pagi-pagi sekali ia terbangun ketika mendengar suara Kirei di kamar mandi.
“Are you okay?” Tanyanya panik. Melihat istrinya yang muntah di westafel. Mukanya pucat pasi.
Ia membantu sang istri memegangi tubuhnya. Sementara tangan kirinya memijit tengkuk lehernya.
“Ke dokter, ya?” Ia merasa bersalah. Tadi malam mengiyakan jalan-jalan menggunakan motor. Ditambah lagi berkegiatan yang menguras tenaga.
Namun gadis itu malah menggeleng.
Setelah Kirei merasa lega, ia membantunya berdiri. Memapahnya kembali ke tempat tidur.
“Masih sakit?” Tanyanya lagi. Kecemasan melandanya. Gadis itu justru hanya menggeleng saja.
“Pokoknya ke dokter!” serunya sebagai pungkasan kalimat tanpa penolakan. Ia sudah tak tahu lagi harus bagaimana memaksanya.
“Aku gak pa-pa. Mungkin cuma masuk angin,” kilah Kirei. Tubuhnya benar-benar lemas. Mulutnya terasa pahit.
“Oke ... tunggu sini aku ambilkan minum hangat,” ia bergegas keluar kamar. Dan dengan cepat ia sudah kembali dengan membawa segelas air putih hangat. Mengangsurkannya pada gadis itu.
“Makasih, Mas ....” Balas Kirei dengan menerbitkan senyum.
Tapi ia sudah beranjak hendak pergi lagi.
“Mas mau ke mana?”
Ia menghentikan langkahnya kemudian berputar balik, “Minta tolong Ken panggilkan dokter.”
“Gak usah, Mas ... aku pengen Mas Danang di sini,” gadis itu menunjuk bantal di sebelahnya. “Temani aku tidur ....” Pintanya seraya mengusap-usap bantal tersebut.
Tak tega, akhirnya ia lebih menuruti kemauan Kirei. Merengkuh gadis itu ke dalam dekapannya.
“Mas Danang baunya enak banget ....” Gumam gadis itu menciumi dadanya. Menyurukkan kepalanya di sana.
Keningnya seketika berkerut, tapi sedetik kemudian bibirnya mengembang sempurna. Kebanggaan sebagai seorang laki-laki disaat dibutuhkan seseorang yang sangat dicintainya. Yaitu dicintai sepenuhnya dan dimiliki seluruhnya. Apa lagi tadi malam gadis itu berbeda dalam memerankan tugasnya.
Ia mengeratkan pelukannya, “I love you.” Bisiknya.
***
Kirei
Ia bersama Mas Danang, Ken dan bunda melaksanakan salat id di masjid kompleks. Lalu, mereka berjalan beriringan pulang ke rumah setelah salat usai. Sepanjang jalan pulang tak henti-hentinya saling menyapa dan bersalaman dengan orang-orang yang dikenal.
Saling mengucapkan selamat hari raya Idulfitri. Meminta maaf melebur salah dan khilaf.
Tiba di rumah ia, Danang dan Ken melakukan sungkeman pada bunda.
“Nda ... maafkan Rei,” matanya sudah berkaca-kaca. Ia duduk bersimpuh, sementara bunda duduk di sofa.
"Rei belum bisa membahagiakan Bunda ... Rei banyak salah. Banyak membuat Bunda kecewa.” Ia menyusut sudut matanya.
“Maafkan, Rei ya, Nda ....” Diciumnya punggung tangan bunda. Lalu mencium kening dan pipi wanita paruh baya itu. Wanita yang telah melahirkannya.
Bunda juga terlihat menyusut sudut matanya, “Bunda juga, Nak. Maaf kalau Bunda ada salah. Bunda berharap pernikahan kalian baik-baik saja. Bahagia selamanya ....”
Begitu juga Ken dan Danang yang bergantian sungkeman dengan bunda. Lalu ia berganti sungkeman dengan suaminya.
“Mas ... maafin aku. Belum bisa jadi istri Mas Danang yang baik. Belum bisa memasak he he ....” Ia terkekeh, lalu mencium punggung tangan laki-laki itu.
Tapi, justru ia dihujani ciuman di puncak kepala, kening, pipi dan bibirnya. Yang sontak membuatnya termangu dan terpaku. Tak menyangka laki-laki itu akan melakukannya di depan bunda dan Ken.
“Aku juga minta maaf, ya ... I love you,” ungkap Danang dengan mencium sekali lagi puncak kepalanya.
Ia kemudian menghambur pada Ken. Namun, kakaknya itu malah menjitaknya.
“Manja!” sembur Ken.
“Kak, Rei mau minta maaf ... bukan minta uang!” cebiknya dengan mulut mengerucut.
“Iya tahu! Mentang-mentang duitnya sekarang banyak."
“Issh ... yaudah deh kalo gak dimaafin. Dosa Kakak itu yang banyak sama aku.”
Keduanya masih saling meledek. Betul kata bunda. Jika ia dan Ken bersama ibarat dekat bahu taahi jauh bau wangi.
Kebersamaan itu ditutup dengan makan bersama dengan para karyawan toko bunda.
Ada ketupat. Opor ayam kampung. Sambal kentang hati ampela. Sambal goreng kreni. Sate buntel. Dan tak ketinggalan timlo beserta pelengkap kerupuk udang.
Menikmati makan sambil bercengkerama. Sungguh momen yang tak terlupakan. Hingga tak terasa waktu bergulir begitu cepat.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan .... 🙏
__ADS_1