
...16. Happy is painful...
Kirei
Mengetahui kebenaran yang menyakitkan membuatnya semakin bertekad menyari keadilan untuk sang ayah.
“Sudahlah Rei. Bunda juga sudah ikhlas. Kita tidak mau kan, membuat bunda sedih dan mengingat itu lagi?”
“Setelah kematian ayah waktu itu, kamu ingat setelah kamu lulus SD kita harus pindah ke Solo karena bunda ingin mengubur kejadian itu. Berbulan-bulan kasus itu tanpa titik terang. Meski bunda tahu berbagai usaha dan upaya dilakukan untuk mendapat keadilan dan kejelasan. Tapi, tidak ada satu pun pihak yang mampu membuktikan itu."
"Semua mundur dan menyarankan bunda untuk menerima keputusan pengadilan. Bunda lelah, terpuruk, kamu tahu? There is a reason we’re hiding this (ada alasan kenapa kami menyembunyikan ini) dari kamu, Rei.” Terang Ken.
Kenichi datang dari Solo setelah seharian ia tak bisa konsentrasi kerja sebab memikirkan kondisi adiknya.
Sore itu selepas jam kerja mereka bertemu di sebuah kafe yang tak jauh dari kantornya.
“Tapi kenapa harus disembunyikan selama ini, Kak?! Oke, waktu itu aku masih kecil belum ngerti apa-apa. Tapi berjalannya waktu hingga sekarang aku harus mengetahui kebenaran itu dari orang lain.”
“Karena kami tidak ingin melibatkan kamu. Begitu pelik kasus kematian ayah. Tidak sesederhana yang kita pikirkan. Banyak pihak yang mem-backing. Orang-orang yang mungkin tidak bisa kita sentuh!” jelas Ken sedikit berapi-api.
Ia terdiam. Menghela napas dan memejamkan mata sesaat.
“Kakak sudah bahagia, Rei. Bahagia melihat bunda bisa tersenyum lagi. Bahagia melihatmu sudah menggapai asamu seperti ayah. Dan kebahagiaan ini tidak boleh pudar dan hilang meski Kakak harus merelakan kasus kematian ayah tidak diungkap. Kebahagiaan kalian lebih penting.” Keputusan Ken tetap sama tidak mau menukar kebahagiaan kedua orang yang disayanginya dengan apa pun.
Ia mendesah, “Happy is painful? (Bahagia ini menyakitkan?)” gumamnya mencibir penuh kekecewaan.
Ia masih belum menerima kenyataan ini.
Malam harinya ia datang ke acara baby shower di salah satu hotel berbintang di kawasan Simpang Lima.
Mengenakan dress batik berwarna biru di bawah lutut dengan krah sabrina. Sesuai tema blue ocean di undangan. Sementara Danang mengenakan kemeja panjang blue navy yang ia gulung lengannya hingga ke siku. Berjalan beriringan dengan Danang menuju rooftop tempat diselenggarakan acara.
Sepanjang perjalanan dari apartemen menuju hotel ia lebih banyak diam.
“Kamu sakit?” tanya Danang yang bersandar di dinding lift dengan satu tangan masuk dalam saku celana saat mereka berada di dalam kotak besi yang tengah bergerak naik.
Ia menarik bibirnya sedikit ke atas, “Gak, Pak.”
“Kalo lagi gak enak badan, kita urungkan saja.”
Ia menggeleng, “Gak apa-apa, Pak. Mungkin lagi banyak kerjaan aja,” kilahnya berdusta.
“Okay ... tapi kalo kamu merasa gak nyaman. Kamu bilang aja. Lebih baik kita pulang,” tukas Danang, kini posisinya berdiri di samping gadis itu.
Ting.
Pintu lift terbuka, dan nahas mereka langsung ditodong oleh panitia untuk berfoto bersama di backdrop yang telah disediakan.
Dengan canggung pasangan beda profesi itu terpaksa mengikuti arahan dan berfoto berdua.
“Saya lupa bawa kado, Pak?” ucapnya lirih saat melewati kolam renang.
“Gak usah. Kedatangan kita sudah lebih bermakna dibanding kado apa pun,” pongah Danang dengan lugas.
Ia menghentikan langkah sejenak, kenapa sosok Danang Barata Jaya yang ia kenal jadi arogan? Apa indra pendengarannya yang salah mendengar?
Ditariknya lengannya karena tak kunjung berjalan, hingga ia terseok-seok mengikuti langkah laki-laki itu yang berjalan lebar.
Ia risih dengan perlakuan Danang, “Pak ....” Ujarnya agar tangannya dilepaskan.
Namun tetap tak diindahkannya.
“Widih ... gandengan baru, Man!” cibir laki-laki yang menyambutnya pertama kali. Tapi Danang tak mengacuhkannya terus berlalu.
Lalu disusul dengan yang lain, “Hai, Mas Bro! Akhirnya pecah telor juga!” seloroh orang itu. Lagi-lagi Danang yang menarik tangannya tak mengacuhkannya, berlalu begitu saja menuju ke meja bundar yang di mana sepasang suami istri tampak bahagia bercengkerama dengan yang lain.
__ADS_1
Ia hanya tersenyum paksa menanggapi teman-teman Danang yang menyapa.
Sumpah dalam hati, sepertinya ia menyesal mengiyakan ajakan Bapak Direskrimsus kali ini.
“Thanks, udah datang, Man!” ucap laki-laki yang berbaju biru muda couple-an dengan wanita hamil di sebelahnya berdiri menyambut. Mereka saling ber-high five.
“Gak dikenalin, nih?” kelakar laki-laki itu.
“Ini Kirei,” sahut Danang.
“Kirei” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
“Arik” balasnya dengan menjabat tangannya.
“Oya, ini istriku ....” tunjuk Arik pada wanita cantik di sebelahnya yang ikut berdiri.
“Kasih Aurora,” wanita itu tersenyum manis. Sangat cantik. Mengulurkan tangannya.
“Kirei, Mbak.” Balasnya juga mengulas senyum menyambut jabat tangan itu.
“Panggil, Kasih aja” lagi-lagi wanita hamil itu tersenyum ramah dan humble.
“Selamat ya, Mbak ... semoga lancar, sehat sampai melahirkan nanti,” doanya untuk pasangan serasi di depannya.
“Aamiin ... Makasih ya, Kirei. Udah mau datang. Silakan, silakan nikmati hidangannya. Acaranya santai kok.” Ucap Kasih dengan senyum yang mengembang.
“Selamat untuk kalian berdua.” Danang menimpali.
“Thanks a lot ... Elo dicari tuh sama anak-anak!”
“Gue udah ketemu tadi sama William dan Dipa. Oke deh, gue ke sana dulu.”
Mereka meninggalkan pasangan yang tengah berbahagia itu menuju buffet makanan.
Meski menjadi bulan-bulanan di tengah sahabat Danang, ia tak mengacuhkannya. Paling tidak ia mengenal teman-teman Danang dengan berbagai karakter.
“Jadi ini anak kedua, Mbak?” tanyanya saat wanita hamil di sebelahnya bercerita tentang kehamilan pertamanya harus keguguran sebab janinnya yang waktu itu masih rentan dan ia sedang sibuk mengerjakan tesis.
Wanita itu mengangguk, “Ya. Dan saat ini aku lagi hamil kembar.”
“Alhamdulillah ... langsung dibayar tunai dapat dua ya, Mbak,” tukasnya ikut bahagia mendengar kabar tersebut.
“Ya, dan ayahnya begitu over protective sekarang. Mungkin karena pengalaman kemarin.”
“Bukan lagi over protective, Mak. Tapi pro-tec-tive dan pos-ses-sive!” Sembur Aisah menimpali dengan penekanan pada kata protective dan possessive.
Ia dan Kasih tergelak dengan cibiran Aisah.
“Sudah lama kenal sama Mas Danang?” tanya Kasih sambil menyuap sepotong puding ke dalam mulutnya.
“Belum lama juga sih, karena sering ketemu soal kerjaan,” sahutnya menceritakan profesinya sebagai jurnalis.
“Pantesan, kayak pernah lihat di mana gitu tadi pas kita kenalan. Ternyata pernah presenter di TVS!” Kelakar Aisah.
“He he he ... pernah sekali aja, Mbak.” Kilahnya dengan terkekeh.
Mereka berbincang mengalir begitu saja, diselingi tawa canda seolah telah lama saling mengenal.
***
Danang
Kedatangannya membawa Kirei tentu menjadi bulan-bulanan sahabatnya. Dan ia sudah mempersiapkan itu semua.
William dan Dipa yang terus-terusan jadi kompor meleduk. Namun ia tak mengacuhkannya justru tertawa dalam hati, bahwa ia pun bisa membawa pasangan tak kalah dari mereka.
__ADS_1
Asap mengepul dari batang rokok yang mereka hisap. Kaum adam memilih meja tersendiri menjauh karena tidak mungkin bergabung dengan para hawa, apa lagi istri Arik sedang hamil.
“Katanya anak lo kembar cowok?” tanyanya pada Arik.
Laki-laki seumuran adiknya itu tersenyum lebar.
“Selamat, Man! Semoga lancar dan sehat sampai lahiran,” doanya.
“Aamiin ... Thanks,”
“Jadi, Lo udah go public sama itu?” tanya Arik menggerakkan dagunya ke arah gadis yang sedang tertawa bersama istrinya.
Ia menghela napas dengan menarik sudut bibirnya ke atas.
“Tos dulu.” Wili mengangkat gelas kaki berisi minuman berwarna merah ke udara, “Danang melepas masa lajang,” katanya.
Ia berdecak, “Lo kapan sama dokter itu?” Tanyanya balik mengalihkan pembicaraan.
“Kandas!” seru Dipa menimpali.
“Sorry to hear that (ikut prihatin).” Balasnya.
“Ha ha ha ....” Dipa justru tertawa terbahak. Diiringi decihan Willi.
“Jangan ketawa lo. Mentang-mentang sudah dapat restu dari camer.” Cibir Willi iri.
“Sebentar lagi, Dipa, Rangga ... husband to be ... Mas Danang waiting list. Nah lo sama Aksa darksome (suram).” Arik mengejek Willi senang.
“Sorry ... as soon as possible ....” Aksa tak mau kalah.
Sementara Willi menipiskan bibirnya, “Yaelah, gue doain anak kembar lo satunya mirip gue,” balasnya telak.
“Oh ... tidak bisa! Anak gue yang jelas kayak gue. Dua-duanya ganteng kayak gue bapaknya donk!” sergah Arik tak terima.
Rangga, Aksa, Dipa dan dirinya hanya terkekeh mendengar perdebatan dua laki-laki yang tak mau mengalah itu.
Jika sudah berkumpul mereka seakan lupa waktu. Topik pembicaraan tidak jauh-jauh dari kerjaan, gebetan dan kesenangan. Ditambah Wili yang selalu bisa mengundang tawa membahas hal di luar nalar terkadang.
“Kamu beneran gak apa-apa?” tanyanya menoleh ke arah Kirei yang duduk di sebelahnya saat mereka dalam perjalanan pulang.
Gadis itu tak menjawab, hanya menoleh sekilas dan sepersekian detik tatapan mereka bertumbukan.
Lalu senyum kecil terbit darinya, “Makasih, ya, Pak.” Sahut Kirei yang justru tak menjawab pertanyaannya. Wajah gadis itu lebih ceria dan semakin cantik di banding tadi saat berangkat. Itu artinya dia senang dan menikmati acara tadi. Ia bersyukur dalam hati.
“Seharusnya aku yang makasih, karena kamu mau menemaniku.”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir membaca dan memberikan dukungan....🙏
__ADS_1