
...36. Ja Hawatiri...
Danang baru pulang dari Jogja beberapa saat lalu guna menyemangati tim polda di Kejurda FORKI. Tidak sia-sia dengan bangga tim polda mempersembahkan penampilan terbaiknya. Menyabet emas. Namun saat hendak masuk ke dalam unitnya, telepon dari seseorang yang masuk dalam ponselnya membuatnya urung untuk beristirahat sejenak. Padahal seharian ini tubuhnya benar-benar lelah. Bergegas ia pergi ke tempat yang disebutkan oleh orang tersebut.
“Baru datang, lo?!” sembur William.
Ia berdecak, “Gue baru balik dari Jogja.”
“Si Arik bentar lagi datang,” tukas William sambil menyesap cocktail. “Minum?” tawar William setelahnya.
Tapi justru ia memanggil pelayan. “Mocktail,” sambil mengacungkan jari telunjuknya. Mocktail adalah minuman dari sari buah yang tidak mengandung alkohol.
“Lo, lagi ada masalah?” tanyanya pada pria yang berstatus sahabatnya sejak SMP itu. “Gara-gara dokter gigi itu?” terkanya. “Damned!” umpatnya. “Nelpon gue cuma mau ngajak beginian ...," ucapnya sesal. “Lebih baik gue tidur tadi, dari pada--“ ia menggantungkan kalimatnya.
“Heii ... Bro!” sapa Arik dengan menepuk pundak William dari belakang. Lalu ber-high five dengannya. “Gue gak bisa lama,” Arik mendudukkan dirinya di kursi sebelah Danang. Sebab perkiraan istrinya melahirkan pada minggu-minggu ini.
“Iya ... iya, gue tau. Lo jadi suami siaga!” tangkas William.
Arik berdecih, “What’s up, Man?!"
“Lagi galau,” sindirnya.
“Cih, mana jiwa player, lo? Hilang satu tumbuh seribu ... cemen!” salak Arik mencibir.
“Hai ....” Dua orang wanita seksi dengan pakaian yang serba minim mendekati mereka, “boleh gabung?” Salah satunya sudah duduk lebih dulu di samping Wiiliam. Tapi dengan cepat Danang mengangkat tangannya ke udara.
“Sorry, kami mau privasi," tandasnya cepat.
“Ohh ... oke. Tapi kalo butuh temen, bisa panggil kami ....” Wanita yang sudah duduk tadi kembali berdiri dan berlalu meninggalkan mereka dengan mengerlingkan mata nakal sebelum pergi.
Arik hanya menggelengkan kepalanya, “Mampus ... kalo bini di rumah tau!”
Pelayan datang membawa pesanan Danang.
“Mocktail satu lagi,” ucapnya.
Pelayan itu mengangguk lalu pergi.
William tergelak, “Lo, juga napa kawin gak bilang-bilang?” Tuding Willi padanya. "Sepertinya, kita harus rayain pernikahan lo yang mendadak itu," Wiliam mencibir.
Ia hanya mengedikkan bahunya santai.
“Anyway ... selamat, Mas. Gadis yang pernah lo bawa ke acara kami itu, kan?” ucap Arik.
Ia mengangguk.
“Gue denger dari Aksa. Dia gadis kecil lo yang pernah lo cari?” tanya Arik.
“Yup ... jodoh tak ada yang tau,” kini punggungnya di sandarkan ke belakang.
“Sorry ....” Arik mengangkat ponselnya. Memberitahukan jika ia menerima panggilan. Terdengar;
“Ya ... Sayang,”
"Sudah ...."
“Sekarang masih sakit?”
“Oke ... oke aku balik sekarang.”
Sambungan telepon berakhir.
“Sorry ... gue harus balik. Perut istri gue mules. Harusnya minggu ini sudah waktunya sih,” Arik beranjak berdiri, menepuk pundak William. “Don’t worry, Man ... kalo dia jodoh yang disiapkan buat lo, pasti akan kembali ke lo," tandas arik. “Mas, gue duluan," pamit Arik padanya.
“Oke,” ia mengacungkan jempolnya. “Lo, dulu gak yakin, kan. Waktu Arik akhirnya nikah sama ... bahkan sepertinya harapannya tipis,” tukasnya. “Tapi ... itulah skenario Tuhan. Kita gak tau dan gak bisa nebak.” Ia menjeda. “Gue juga gitu. Gue pikir gak bakalan ketemu lagi sama gadis kecil yang langsung buat gue waktu itu tertarik. Tapi,“ ia mengedikkan bahunya.
“See ... Gue ketemu dia lagi. Dan kami dipertemukan dalam ikatan pernikahan ... yaa, meski awalnya,” Ia terkekeh bila mengingat kejadian di mana dia harus menikahi Kirei oleh sebab yang ... memalukan mungkin.
Dengan waktu cepat, kilat ia akhirnya bisa memiliki gadis itu. Ternyata tangan Tuhan bermain di sana.
“You know, what I mean?” Ia menepuk-nepuk pundak William.
Lalu beranjak berdiri.
“Lo, mau ke mana?” sergah William.
“Balik," sahutnya.
__ADS_1
“Ck, sana!” tandas Willi kesal. Tapi tak dihiraukan oleh Danang.
Ia menghampiri 2 gadis yang tadi mendekati mejanya. Memberikan beberapa lembar uang. Berpesan, "Tolong temani laki-laki yang di meja sana," tunjuknya pada meja yang ditempati William.
Kedua wanita itu tersenyum senang, "Beres!" serunya.
**
-Kamboja-
“Ja hawatiri ... watia to olio, (Jangan khawatir ... aku bersamanya)”
“Jo, Pouwama (Ya, Paman)” sahut orang itu sebelum mengakhiri sambungan telepon.
Laki-laki itu menghela napas. Berjalan mendekati gadis yang tengah duduk di salah satu bangku tepian Mekong river. Gadis itu sepertinya menikmati pemandangan sungai di depannya. Tidak terganggu dengan orang yang berlalu lalang. Apa lagi waktu sore begini tepian Sungai Mekong menjadi destinasi para pengunjung.
“Sudah selsai?” tanyanya pada Kirei.
Gadis itu mengangguk, “Bang Laira udh selesai juga?”
“Ya ... dan aku lihat kamu duduk sendirian. Mirip orang hilang.”
Gadis itu kembali menyalakan kameranya. Melihat hasil jepretannya, “Lihat ....” Menyodorkan kamera itu padanya.
“Bagus.” Komentarnya melihat hasil bidikan Kirei. “Sini aku fotoin,”
“Boleh.” Kirei menyahut.
Laira mengambil beberapa gambar gadis itu berkali-kali. Lalu menyerahkan kamera pada Kirei.
“Thank you, Bang ....”
“My pleasure. Apa rencanamu setelah balik dari sini?” tanyanya pada Kirei yang masih melihat-lihat hasil jepretannya tadi.
“Hah!” Kirei menoleh padanya. Lalu ia bergeser memberikan ruang untuk Laira duduk di sebelahnya.
Ia pun duduk di sebelah Kirei.
“Lanjut kerjalah ... apa lagi. Syukur-syukur ada panggilan beasiswa yang di New York. Atau Singapura,” Kirei masih berharap ia bisa mendapat kesempatan itu.
“Aku salut sama kamu. Semangatmu pantang surut. Percis seperti mendiang ayahmu.” Laira menukas.
“Pasti. Siapa yang tak kenal Demas. Wartawan senior dengan sepak terjang yang tak perlu diragukan lagi. Cuma--"
“Takdir berkata lain,” potong Kirei. Wajahnya seketika berubah sendu.
“Kamu gak ada rencana untuk mengusutnya lagi?” tanyanya. “Aku dengar ada jendral di balik kasus itu.”
“Maksudnya?” Kirei bergeser sedikit, lalu menghadapnya. “Abang tahu?” tanyanya penuh selidik.
**
Menikmati senja di tepian Sungai Mekong menjadi hiburan tersendiri. Terlebih pemandangannya juga indah.
Setelah tadi siang meliput warga sekitar Royal Palace. Melihat burung merpati di taman yang sangat banyak. Beberapa pengunjung memberi makanan berupa biji jagung. Sehingga semakin banyak burung berkerumun. Tapi ada juga pengunjung yang usil. Mengentakkan kaki. Membuat burung-burung itu beterbangan kembali.
Dari Royal Palace, ia ke independence monument. Lalu ke statue of King Father Norodom Sihanouk yaitu fouding father-nya Kamboja, yang lokasinya berseberangan.
Sesuai tema hari ini adalah blogging and photos of journalism. Ia beserta rombongan kembali ke Riverside saat sore hari.
Hari terakhir di Phnom Penh diisi dengan pembahasan hasil liputan. Lalu besok paginya ia terbang kembali ke Indonesia.
“Assalamualaikum, Kak ...," sahutnya saat ia sedang berkemas. Penerbangannya masih 3 jam lagi.
“Kapan kamu sampai Semarang?” tanya Ken di ujung telepon.
“Kemungkinan siang. Kenapa?” Tangan kanannya sibuk menutup koper. Sementara tangan kiri memegang ponsel ditempelkan pada telinganya.
“Bisa langsung ke Solo? Maksudnya ambil penerbangan dari Jakarta ke Solo”
Kirei mengernyit, “Ada apa?”
“Bunda sakit ....”
Sepanjang perjalanan ke Bandara pikirannya tak tenang. Tidak seperti biasanya bunda sakit hingga harus memerlukan perawatan di rumah sakit.
Setelah mendapat kabar dari Ken ia langsung menghubungi Danang.
__ADS_1
“Mas, aku langsung ke Solo. Bunda masuk rumah sakit.”
“It’s okay ... aku berangkat ke Solo sekarang.”
Gadis itu terpaksa mengubah rute yang awalnya Jakarta ke Semarang menjadi Jakarta ke Solo. Ia harus merelakan tiket hangus. Mencari penerbangan secara mendadak. Ditambah lagi penerbangan penuh sebab weekend. Tapi setidaknya ia bersyukur, masih diberi keberuntungan mendapat tiket.
Walau sempat berdebat dengan Laira, sewaktu mereka akan berpisah di Jakarta. Pria itu berusaha untuk mengantarnya sampai ke Solo.
“Aku antar kamu. Setidaknya di saat panik begini. Kamu butuh teman," ujar Laira.
“Aku gak apa, Bang," sahutnya cepat. Sambil melangkahkan kaki menuju pintu keluar penumpang.
“Tapi,“ Laira Ragu.
“Percaya deh! Jangan khawatir. Aku bisa sendiri. Terima kasih atas bantuan Bang Laira selama di Kamboja," potongnya menyergah. Ia tidak ingin merepotkan orang lain. Lagi pula ia masih bisa sendiri. Pun, Danang sudah menunggunya di Solo. Bukan tidak mungkin kedatangannya bersama pria lain akan menimbulkan anggapan negatif di mata Danang.
Dengan berat hati Laira mengalah. Mengantarkannya hingga sampai ruang tunggu keberangkatan. Beruntung masih sama-sama di area terminal tiga Bandara Soekarno-Hatta. Sehingga tidak perlu repot berganti terminal.
Terburu-buru ia keluar dari pintu penumpang. Laki-laki yang beberapa hari ini membuat hatinya menghangat menyambutnya dengan senyum mengembang.
Ia berhambur ke dalam pelukannya.
“Bunda sakit apa, Mas?” tanyanya masih dalam pelukan Danang.
Laki-laki itu justru mengecup puncak kepalanya lama. Menghidu aroma yang sangat dirindukannya.
“Mas ....” Ia mendongak. Menatap Danang.
Tanpa menjawabnya, Danang mengurai pelukan lalu menggandeng gadis itu menuju mobil. Membukakan pintu penumpang untuknya.
Klik.
Bunyi seat belt pada kursi yang diduduki Kirei, saat Danang membantu memakaikannya.
“Mas," ucapnya kesal. Sedari tadi laki-laki itu tak menjawab pertanyaannya. Malah tersenyum lalu mengusap kepalanya.
“Bunda gak pa-pa. Jangan khawatir." Danang melajukan mobilnya keluar dari bandara. Lalu belok ke kiri menyusuri jalan Adi Soemarmo.
“Beneran, gak kenapa-kenapa? Apa gara-gara kemarin dari Surabaya?” tanyanya tak percaya. Rasa khawatir masih menyelimutinya sebelum melihat kondisi bunda. “Aku khawatir banget. Sampai gak tenang selama di pesawat.”
-
-
__ADS_1