
...53. Tamani Mulolo...
Danang
Sesaat ia melepas kepergian Kirei di rumah sakit. Papa memanggilnya. Ia kembali melajukan mobilnya pulang ke rumah.
Tiba di rumah, Bi Darmi mengarahkannya ke ruang kerja papa. Di sana sudah ada mama dan Aksa.
“Duduklah,” titah papa yang duduk di sofa bersebelahan dengan mama.
Sementara Aksa duduk di sofa satunya. Ia lebih memilih duduk di kursi depan meja kerja papa dengan menggeretnya sedikit mendekat sofa.
“Papa sengaja mengumpulkan kalian. Agar kalian tahu cerita yang sebenarnya.” Papa terlihat mengembuskan napasnya ke udara. Matanya menerawang.
“Demas Kamaru.”
Sementara mama mengusap lengan papa. Menyalurkan ketenangan dan dukungan.
**
-Gorontalo-
Papa Bagas
Puluhan tahun silam ....
Bagas Tri Jaya yang pada waktu itu menyandang perwira pertama berpangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda) mengemban tugas perdana di Polres Gorontalo. Sudah 5 bulan ia tinggal di kota tersebut.
Menempati asrama polisi dengan bangunan semi permanen sebagai tempat tinggalnya. Waktu itu di belakang Asrama Polisi (Aspol) terdapat lapangan sepak bola. Setiap sore anak-anak sekitaran Aspol akan bermain bola sepak di sana.
Suatu sore ia yang sedang menyuci motor dinasnya di belakang rumah seketika terkejut. Dikarenakan sebuah bola sepak melayang hampir mengenai kepalanya.
Beruntung ia refleks menghindar. Tapi nahas bola tersebut mengenai kaca jendela kamar yang ia tempati.
Pyaarr ....
Ia menggeleng. Lalu mengambil bola sepak tersebut. Tapi baru akan disimpannya ke dalam rumah, seorang pemuda berperawakan tinggi, kurus dan berkulit bersih menghampirinya.
“Maaf Tikaka, itu bola kami.” Ujar pemuda itu sedikit berteriak.
“Lalu?” Ia mengangkat alisnya sebelah.
“Saya minta bolanya kembali.” Imbuh pemuda yang merasa tak berdosa itu.
“Kamu tahu? Gara-gara bola ini kaca jendela saya pecah!” Serunya seraya menunjuk kaca jendela kamar yang telah hancur.
Pemuda itu terlihat menggaruk kepalanya.
“Kami minta maaf.”
“Terus?” Todongnya.
“Nanti kami ganti kaca Kaka.”
“Kamu tidak perlu menggantinya. Tapi saya ada syarat kalau kamu mau ambil bolanya lagi!” Tandasnya. Ia yakin pemuda itu tak akan sanggup menggantinya. Pasti hanya alasan saja agar bolanya dikembalikan pikirnya. Sebab dilihat dari perawakannya pemuda ini sepertinya masih sekolah.
Pemuda itu tampak kecewa dengan persyaratan yang diajukan.
“Datanglah besok sore ke sini lagi. Akan kukatakan apa saja syaratnya besok.” Tegas Bagas. Sambil berlalu membawa bola tadi ke dalam. Namun sedetik kemudian ia berbalik dan berseru.
“Oya ... siapa nama kamu?” Sambungnya cepat dan berteriak ketika pemuda itu sudah berjalan menjauh.
Pemuda itu berhenti, lalu memutar tubuhnya. “Demas!” Serunya.
Setelah selesai menyuci sepeda motornya. Terpaksa ia menambal kaca jendela yang pecah dengan kayu. Paling tidak malam ini ia tidak tidur kedinginan.
Esok paginya, ia bersama tim mendapat arahan dari atasannya bahwa terjadi tawuran antar sekolah di Jembatan Talumolo. Mengakibatkan para pelintas jalan ketakutan dan tidak berani melewati jalan tersebut. Pun mereka juga melakukan vandalisme. Merusak fasilitas umum.
Ia beserta tim segera meluncur ke sana. Menggunakan mobil patroli dan beberapa motor trail.
Tiba di sana sebagian para pemuda yang masih pelajar itu kalang kabut membubarkan diri.
Sebagian ada yang tertangkap basah. Digelandang anggota Polres untuk dimintai keterangan. Tapi ia merasa nanap ketika melihat sosok pemuda yang dikenalnya. Dengan seragam SMA-nya yang berlumuran darah.
Adalah Demas. Pemuda yang memecahkan kaca jendelanya kemarin sore itu terduduk lunglai dengan memegangi paha sebelah kirinya. Darah segar mengucur dari sana. Ia terkena sabetan sabele.
Dengan sigap ia melepas seragamnya. Lalu melepas kaos dalamnya, dan segera membebat luka tersebut.
“Jo, kita bawa ke rumah sakit!” Serunya pada Jonatan sesama rekannya.
Sementara Demas meringis menahan rasa sakit. Wajahnya pucat pasi.
Tiba di rumah sakit Demas langsung dibawa ke ruang IGD.
“Keluarga pasien atas nama Demas!” Seru suster yang keluar dari ruang IGD itu sedikit berteriak.
Ia pun bangkit, lalu menghampiri suster tersebut,
“Saya.”
“Lukanya cukup dalam. Harus dijahit. Pasien banyak kehilangan darah. Pasien butuh donor darah secepatnya. Stok darah sesuai golongan pasien sedang kosong.”
“Apa golongan darahnya, Sus?”
“B.”
“Sa-saya, B.” Sahutnya.
“Silakan, Bapak ikuti saya.”
Ia mengikuti suster yang membawanya ke ruang Unit Transfusi Darah (UTD).
__ADS_1
Setelah melakukan transfusi dan merasa tubuhnya lebih baik, ia kembali ke IGD lagi.
“Sus ... bagaimana kondisi Demas?” Tanyanya pada suster jaga di IGD.
“Masih menunggu kondisinya stabil, Pak. Jika sudah stabil nanti kami pindahkan ke ruang perawatan.”
Ia mendaratkan tubuhnya di kursi tunggu. Menyandarkan punggungnya. Memejamkan matanya sejenak. Hingga tak sadar ia tertidur di sana.
“Pak ....” Suara seseorang membangunkannya.
“Pasien Demas sekarang mau dipindah ke ruang perawatan. Di kelas berapa Bapak pilih kamarnya?” Tanya suster tersebut.
Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Mencoba mengenyahkan rasa kantuk.
“Kelas 1.” Jawabnya.
Menunggui Demas hingga siuman. Tapi setelah pemuda itu sadar justru melarangnya untuk menghubungi orang tuanya.
“Saya, takut yamo marah.” Begitu alasannya.
“Kenapa kamu takut? Kalau kamu merasa tidak terlibat dengan tawuran itu?”
Demas terlihat murung. Ia menggelengkan kepalanya. “Saya tidak ikut tawuran. Saya tidak kenal mereka.”
“Baiklah, nanti saya yang akan menjawab jika orang tuamu bertanya. Kamu cukup diam saja.”
Ia tahu Demas tidak terlibat setelah sebagian para pelajar yang terciduk memberikan keterangan. Pun Demas bukan murid dari 2 sekolah yang sedang beraksi menjadi preman jalanan. Terbukti dari bet nama sekolah di seragamnya. Pemuda itu hanya kebetulan lewat dengan sepedanya.
Yang salah ialah pemuda itu membolos pada saat jam sekolah.
“Kenapa kamu bisa berada di tempat itu pada saat jam sekolah?”
“Saya ... saya hendak ke pasar Dumbo,” lalu Demas menceritakan alasannya.
Sore harinya keluarga Demas datang. Ada tiyamo dan timama. Jelas tiyamo sangat berang. Sementara timama hanya bisa menenangkan suaminya.
“Demas hanya korban, Pak Idrus. Dia hanya kebetulan lewat di sana.” Sanggahnya.
“Tapi kenapa kamu lewat jalan itu di saat jam sekolah ... hah?”
“Itu juga salah? Kamu bolos, 'kan?” Sembur tiyamo kesal.
“Mau jadi apa kamu!!” Tandas tiyamo berapi-api.
Demas menunduk. Tidak berani menatap kedua orang tuanya.
Semenjak musibah yang menimpa Demas. Ia dua kali menjenguknya di rumah sakit. Hal itu membuatnya semakin penasaran dengan sosok Demas.
Demas adalah anak pengusaha dari PT. Kamaru Nusa Sentana. Yang bergerak di bidang jasa bongkar muat dan transportasi di Pelabuhan Gorontalo. Juga pendiri perusahaan besi baja.
Tapi anehnya anak kedua dari 3 bersaudara itu berbeda dengan anak-anak pemuda lainnya.
Demas rela menjadi loper koran. Mengumpulkan barang-barang bekas untuk kemudian ia jual. Uang yang terkumpul ia gunakan untuk membantu teman-temannya yang kurang beruntung. Padahal bisa dengan mudah ia meminta uang pada orang tuanya.
Hampir dua bulan ia tidak pernah bertemu lagi dengan Demas. Tapi di suatu sore saat ia sedang duduk-duduk di teras asrama sosok yang hampir ia lupakan itu tiba-tiba datang dengan membawa kaca turun dari bentor.
“Maaf, Tikaka. Ini untuk mengganti kaca jendela yang pecah kemarin,” Demas meletakkan dengan hati-hati kaca tersebut di bawah disandarkan pada dinding.
Ia mengerutkan keningnya, “Bukannya saya tidak mau diganti!” Sergahnya.
“Tapi saya mau ganti. Lagi pula sebagai ucapan terima kasih pada Kaka yang menolong saya tempo hari.”
“Tenang saja, ini murni hasil kerja saya.” Imbuh Demas seraya tersenyum bangga.
Ia berdecak, “Terserah kamu.” Tukasnya.
Mereka memperbaiki kaca jendela yang pecah bersama-sama.
“Bagaimana dengan lukamu?” Tanyanya saat mereka telah selesai memperbaiki kaca jendela dan duduk di teras belakang. Sambil melihat anak-anak yang sedang bermain sepak bola di lapangan belakang Aspol.
“Sudah sembuh,” Demas tersenyum.
“Oya, syarat apa yang Kaka ajukan sore itu untuk bisa mendapatkan kembali bola sepaknya?” Demas menatapnya. Sampai sekarang bola itu masih disitanya.
Ia terkekeh, “Kamu masih ingat rupanya? Lupakan ... lagian kamu sudah mengganti kacanya.”
“Tapi ... bolehkah saya main ke sini, kapan-kapan?” Tanya Demas.
“Tentu saja, kamu boleh kapan saja main ke sini.” Ia bangkit dari kursinya. Masuk ke dalam rumah. Tak berselang lama keluar lagi dengan membawa bola sepak. Melemparkannya ke arah Demas.
Dengan sigap pemuda itu menangkapnya seraya menyunggingkan senyuman.
“Terima kasih, Kaka.” Sahut Demas kemudian berlalu meninggalkan dirinya.
Semenjak itu mereka berteman. Sering menghabiskan waktu bersama. Meski hanya sebentar saja. Terkadang mereka ikut bergabung bermain sepak bola bersama anak-anak yang lain di lapangan belakang Aspol.
“Apa rencanamu setelah ini?” Tanyanya ketika suatu sore Demas ke rumahnya.
Pemuda itu mengedikan bahunya, “Yamo ingin saya kuliah di sini saja. Tapi ... saya ingin ke Pulau Jawa.”
Raut muka Demas tampak sendu.
Ia menepuk pundak Demas, “Kuliah bisa di mana saja. Lagian di Jawa kamu tidak ada sanak saudara. Mungkin tiyamo khawatir.”
Dengan cepat Demas menggeleng, “Yamo tidak pernah membebaskan anak-anaknya memilih. Semua seolah dikendalikannya.”
Ia paham. Seorang Idrus Kamaru adalah sosok yang tegas, disiplin dan tak kenal kompromi. Yang mengantarkannya menjadi pengusaha sukses di Gorontalo.
Tapi di mata Demas, ternyata sosok Idrus ayah yang mengendalikan hidupnya. Peta hidupnya semua sudah terinci dan tergambar dengan jelas oleh ayahnya. Ia juga harus menuruti kemauan sang ayah.
Padahal ia ingin kebebasan. Menentukan masa depannya sendiri.
__ADS_1
Lain halnya yang terjadi dengan dua saudaranya yang lain. Tilamuta kakaknya, sebagai anak pertama tak pernah melawan yamo. Begitu pula, adiknya Kabila.
Mungkin hanya Demas yang menjadi anak pembangkang. Sehingga yamo sudah jengah menghadapinya.
Beberapa bulan tidak bertemu dengan Demas. Pemuda itu beralasan ingin belajar menghadapi ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi. Tekadnya kuat ingin kuliah di Pulau Jawa. Seberapa pun tentangan dari ayahnya.
Dan pagi itu ia dikejutkan oleh Demas yang menemuinya di kantor. Pemuda itu masih menggunakan seragam SMA.
“Ka Bagas ....” Sapa Demas di ambang pintu ruangannya.
Ia yang sedang menekuri beberapa berkas pekerjaan, mendongak. Menatap Demas yang terlihat senang.
“Lihat ini!” Seru Demas menghampirinya. Lalu menyodorkan sebuah kertas padanya.
Ia meraih kertas tersebut. Membacanya dengan antusias.
“Kamu ....?”
Tiba-tiba Demas memeluknya, “Saya diterima di salah satu universitas negeri di Surabaya!” Serunya senang bukan main.
“Selamat.” Ia menepuk beberapa kali bahu Demas.
Wajah Demas berbinar. Ia yang merasakan aura itu ikut berbahagia.
Tapi kebahagiaan itu tidak lama. Selang satu minggu Demas menemuinya lagi di asrama.
“Yamo menentang kepergian saya ke Surabaya ....” Gurat kekecewaan jelas tersirat di wajah Demas.
“Kalau pun saya tetap berangkat. Yamo tidak sudi menanggung biaya selama kuliah dan tinggal di sana.”
“Tapi saya akan tetap berangkat. Tanpa restu Yamo dan fasilitasnya. Saya sudah terbiasa kerja cari uang sendiri. Saya pasti bisa hidup di Surabaya.” Tekad Demas benar-benar sudah bulat dan kuat. Ia bisa melihat itu.
“Yang penting, mama selalu mendukung dan mendoakan saya,” imbuh Demas penuh keyakinan.
“Berangkatlah ... saya juga mendukungmu! Ini alamat rumah saya di Surabaya. Anggaplah keluarga saya juga keluarga kamu,” pesannya pada Demas. Tak ada alasan lagi untuk tidak medukungnya.
Demas mengangguk, sedetik kemudian tersenyum.
Satu minggu kemudian ia mengantar Demas ke Pelabuhan Gorontalo. Ia bisa melihat mamanya Demas yang berat melepas anaknya untuk merantau jauh. Isak tangis mengiringi kepergian Demas.
Pun ia juga merasakan atmosfer kesedihan itu.
“Saya nitip surat,” ia mengangsurkan sebuah amplop berwarna cokelat, berlogo kesatuannya beserta alamat lengkap di Gorontalo, “untuk ibu saya.”
Mereka berpelukan. “Jangan lupa kasih kabar.” Pungkasnya menjadi pesan terakhir sebelum pemuda itu pergi berlalu.
Ya, pada hari itu Demas meninggalkan Gorontalo menggunakan kapal menuju Tanjung Benoa, Denpasar. Butuh waktu 5 hari untuk sampai ke Pulau Bali. Lalu ia akan melanjutkan perjalanan ke Surabaya menggunakan bis.
-
-
Catatan :
Tamani mulolo (bahasa Gorontalo) : sahabat lama.
Sabele : senjata tradisional Gorontalo sejenis parang.
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya .... 🙏
__ADS_1