
...73. Kolom Berita Sampah...
Kirei
“Kasihan Aldi, Rei ....”
“Badannya semakin gak terurus,”
“Sementara dia ditahan di rutan Polrestabes.” Tukas Anisa melalui sambungan telepon satu minggu yang lalu.
Itu artinya menjadi kewenangan Danang suaminya. Ia memang belum menanyakan secara langsung perihal itu pada Danang. Sebab kesibukannya dan kesibukan laki-laki itu tentunya.
“Tolong dia, Rei.” Menjadi pesan terakhir Anisa.
Sebelum keberangkatannya untuk roadshow ia dipanggil Nana ke ruangan produksi.
“Nih,” Nana menyodorkan beberapa lembar berita mengenai dirinya. Foto ia tengah memeluk laki-laki dari sudut depan hingga tampak wajahnya dan hanya punggung laki-laki itu. Lalu foto memasuki lift sambil bergandengan tangan. Dengan kolom judul berita yang membuatnya geleng-geleng.
‘Host program talkshow terlihat berciuman mesra di lobi apartemen di daerah Slipi-Jakarta Pusat’
‘Presenter berinisial KF yang sedang naik daun terciduk bermesraan dengan seorang laki-laki di tempat umum’
‘Pembawa acara talkshow tertangkap kamera sedang bersama pria, dicurigai menjadi istri simpanan’
Dan beberapa kolom pemberitaan yang membuat dadanya bergemuruh. Ia memejamkan mata sejenak. Menghela napas.
Ia tak menyangka akan menjadi sumber berita recehan. Sebenarnya tidak terlalu terkejut. Tapi kalimat Nana yang membuatnya tercenung.
“Lo mainkan berita ini. Paling tidak bisa menaikkan rating lo.”
“Terlepas dari benar atau tidaknya.”
“Lo bisa manfaatkan untuk popularitas lo sekaligus program acara lo.”
Ia menatap Nana datar tanpa ekspresi. Meski hatinya dongkol setengah mati. Gue bukan cari popularitas! Geramnya dalam hati.
“Asal lo tahu, dia suami gue. Bukan seperti apa yang ada dalam berita sampah dan pikiran lo!” tohoknya. Ia menarik tangan Nana lalu mengembalikan lembaran berita murahan itu pada wanita yang menjabat sebagai Asisten Produksi tersebut.
“Permisi,” pamitnya bergegas meninggalkan ruangan Nana.
Selang tak berapa lama ia menemui Anton di ruangan produser.
“Kebetulan kamu malah datang ke sini, Rei. Ada hal yang mau aku bicarain.” Ia yang baru saja masuk ke ruangan Mas Anton sudah duduk di kursi depan meja kerja pria beranak 2 itu.
“Aku tahu,”
Anton menatapnya.
“Soal berita ... mengenai aku.” Tebaknya.
“Sorry, Mas. Jadi gak nyaman. Itu ... gak bener. Dia ... aku jamin semua hanya gosip murahan.” Tukasnya.
“Ya, aku tahu.” Sahut Anton.
“Tapi alangkah baiknya kamu buat klarifikasi. Lewat media. Biar tidak menjadi blunder.”
“Berita improper (tidak benar) harus dilawan dengan berita yang benar sesuai fakta. Kalau kamu diam, mereka senang dan akan semakin menjadi bola panas liar sebagai konsumsi publik. Dan pada akhirnya publik akan tergiring untuk men-jugde kamu.”
“Program kita sudah satu bulan lebih berjalan cukup bagus. Bahkan lebih dari apa yang aku targetkan. Jangan sampai semua menjadi sia-sia. Kirei yang aku kenal bukan ingin terkenal tapi selalu profesional. Terima kasih atas kerja kerasmu, Rei,” Pungkas Anton.
Paling tidak produsernya memiliki pemikiran yang sama dengannya.
“Terima kasih, Mas.”
Ia kembali ke ruangannya berniat mempelajari naskah yang akan tayang besok.
Anisa: Aldi kena jerat pemakai narkoba golongan I. Maksimal penjara 4 tahun. Kalau bisa rehabilitasi. Dia hanya korban Rei.
Pesan Anisa membuatnya mengembuskan napas berat.
__ADS_1
Anisa: Kapan lo ke Semarang? Gue pengen ketemu.
Anisa memang tidak pernah membuat pernyataan bahwa gadis itu tertarik atau suka sama Aldi. Tapi ia bisa membaca gelagat itu. Apalagi saat Anisa mencurahkan perhatiannya pada Aldi. Seperti sekarang ini. Gadis itu begitu perhatian dan mengkhawatirkan Aldi.
Kirei: Minggu depan.
Balasnya. Ia pikir bisa sejenak menemui Anisa dan sekaligus menjenguk Aldi saat roadshow ke Jogja.
**
Danang
“Pengacara Aldiansyah ingin bertemu sama Bapak.” Ucap Rendra.
Ia mengernyit. Aneh, seharusnya cukup bertemu dengan penyidik.
“Saya sudah menyarankan untuk menemui penyidik yang menanganinya. Tapi menurut pengacara itu, ini di luar konteks. Tidak membahas soal kasus Aldi.”
Ia semakin mengernyit.
“Bagaimana, Pak?” Tanya Rendra memastikan atasannya itu. Sebab belum ada jawaban.
“Apa pengacara tersangka lain juga ingin bertemu?” Tanyanya.
Rendra menggeleng, “Hanya pengacara Aldi.”
“Baiklah, satu jam lagi suruh temui saya.”
Rendra undur diri setelah mendapat jawaban dari atasannya.
**
Kirei
Pagi tadi ia memastikan keberadaan suaminya. Sebab ingin memberikan kejutan. Sudah 3 hari ia di Jogja. Acara roadshow telah berakhir baru saja.
“Makasih, Rei. Kamu salah satu alumni yang membanggakan. Semoga bisa ditiru adik-adik tingkat kamu,” kata Dekan Fisipol. Tempat dulu dirinya mengenyam pendidikan selama 4 tahun.
“Saya yang harusnya mengucapkan banyak terima kasih, Pak.” Balasnya sungkan. “berkat didikan Bapak dan dosen-dosen di sini saya bisa seperti ini.” Ya, Prof. Wawan dulu adalah dosen pembimbingnya saat skripsi. Sekarang sudah menjabat sebagai Dekan.
Acara hari itu sangat meriah. Bertempat di Convention Hall Fisipol. Sekelebat potongan kenangan yang terberai melintas membentuk menjadi satu cerita.
Meski teman-teman angkatannya sudah merapah entah di mana. Tapi ada beberapa yang masih setia. Mengabdi menjadi bagian tenaga pendidik di kampus.
“Eh, malah ngelamun!” Sergah Jidan. Teman sekelas dulu yang termasuk dekat dengannya.
“Sori ... sori, aku kangen jaman dulu. Jadi keinget.” Sahutnya. Mereka duduk di salah satu kursi yang kosong di Fisipoint. Di depannya sudah ada jus alpukat yang baru saja diantarkan oleh pelayan.
“Dari 31 anak Komed (Komunikasi Media dan Jurnalisme), yang jadi jurnalis kayak kamu cuma 5 orang. Kamu, Sita, Juan, Fredy sama Basar. Tapi si Basar lagi di Amrik. Dikontrak CNN,”
“Yang lain lagi pada di LN ngambil S2 sama S3. Ada juga yang kerja di kedubes. Jadi birokrat.”
“Tompel sama Gogo kerja di broadcasting jadi copy writer sama ngiklan. Anyway, kamu ingat Ganjar gak? Sekarang dia kerja jadi PR di perusahaan otomotif Jepang. Eh ... dia pernah nanyain kamu lho, Rei. Udah lama sih, ku kasih aja sosmed kamu. Soalnya nomor kontakmu gak bisa dihubungi. Kamu pun kayak ngilang dari peradaban. Tau-tau muncul di Tv.”
Ia tersenyum tipis. Ganjar anak Komstra (Komunikasi Strategis) sekaligus mantan ketua KOMAKO (Korps Mahasiswa Komunikasi) itu memang dulu pernah mendekatinya, pernah menyatakan perasaannya. Tapi entah kenapa tiba-tiba mundur perlahan menjauhinya. Sebelum ia memberikan jawaban. Pun, teman-teman cowok lainnya mana berani lebih padanya. Sebab Ken selalu berdiri di belakangnya dan selalu mengaku-aku menjadi pacarnya.
“Cuma aku sama si Fika yang balik kesini.” Tutur Jidan.
“Kamu gak ada rencana nglanjut S2, Rei?” Tanya Jidan kemudian. Saat ia membolak- balikkan brosur program pasca-sarjana yang dibawa Jidan.
“Lagi buka nih,” Imbuh Jidan yang melihatnya mungkin tertarik dengan brosur tersebut.
“Kebentur waktu,” tukasnya, “takutnya malah—”
“Don’t worry, kamu bisa ambil kelas karyawan. Aman ... nanti aku bantu kamu,”
Ia tersenyum, lalu menipiskan bibirnya. “Ya deh ... mentang-mentang sekretaris Departemen Ilkom.” Cibirnya.
Mereka tergelak bersama.
__ADS_1
Rasanya ia ingin menghabiskan waktu seharian di kampus penuh kenangan. Menyisir tempat-tempat yang begitu dalam menorehkan cerita selama perjuangannya mendapat gelar sarjana. Sansiro, Salbar, Fisipmart, Digilib Cafe, The Lounge kepunyaan anak HI yang bikin ketiduran kalau sudah duduk di sana, saking nyamannya. Bahkan Fisipoint yang sekarang ia datangi.
Namun, ia harus pergi siang itu. Berpamitan dengan Jidan dan Fika yang baru saja datang dari Diklat. Mereka saling mengucap perpisahan. Entah kapan lagi akan bertemu kembali.
Perjalanan ke Semarang menempuh waktu kurang lebih sekitar 2 jam setengah. Ia memilih tidur sejenak. Berharap tiba di Semarang bisa langsung menjumpai laki-laki yang dirindukannya.
Beruntung akhir roadshow di Jogja selesai hari Kamis. Dan Jumat siang ia bisa langsung melesat ke Semarang.
“Mas, aku izin pulang ke Semarang.” Katanya pada Mas Anton tadi malam melalui sambungan telepon.
“Senin pagi aku balik ke Jakarta,” imbuhnya.
Dan sang produser itu menyetujuinya, “Salam buat anak-anak TVS kalo ketemu,” pesan Anton.
Anton yang awalnya belum tahu perihal pernikahannya dengan Danang, sedikit tak menyangka dan tak percaya. Bahwa dirinya menjadi istri seorang Danang Barata Jaya. Yang notabene Anton juga pernah dekat dengan laki-laki itu. Bahkan ia dibantu oleh Mas Anton untuk membuat klarifikasi soal pemberitaan murahan tentang dirinya dan Danang di salah satu media kepunyaan Emtek.
Ia bisa tersenyum lega sekarang.
Taksi online yang ditumpanginya sudah melewati halte BRT Kariadi, itu artinya ....
Ia menerbitkan senyuman. Tujuannya bukan rumah dinas. Melainkan kantor suaminya. Sebab waktu masih pukul 15.00 WIB. Pastinya laki-laki itu sedang berada di kantor sekarang.
Pun, ia juga sudah memastikannya dengan Rendra.
Rendra: Mas Danang masih di kantor. Mungkin sore baru ke lapangan.
Jawaban Rendra melalui pesan 30 menit yang lalu. Senyumnya mengembang sempurna.
Mobil memasuki gerbang Mapolrestabes setelah melalui pengecekan metal detector. Penjaga berseragam lengkap tiga orang hormat padanya. Ia menunduk sejenak sebagai tanda balasan.
Batinnya lega ketika melihat mobil dinas suaminya terparkir di tempatnya.
Begitu turun dari mobil dan membawa tas jinjing ia di sambut Rendra yang kebetulan tengah berada di luar melihatnya.
“Mbak ....” Sapa Rendra.
“Eh ... ada Pak Rendra.” Sahutnya. Ia melangkahkan kaki menuju ruangan Danang.
“Mas Danang ....” Rendra tampak membasahi bibirnya beberapa kali.
“Mas Danang ada, kan?” Pertanyaan retoris yang dilayangkannya. Padahal ia sudah tahu jawabannya bukan?
“Jangan dikasih tau. Aku mau buat kejutan.” Sambungnya yang terus diekori Rendra.
“Mas Danang ... em ....”
Ia meraih handle lalu mendorong pintu kayu berwarna cokelat tanpa mengetuk sebelumnya. Dengan senyum yang sudah menghias sedari tadi turun dari mobil .
Begitu masuk, “Mas ....” Ia langsung terdiam. Bibirnya mengatup seketika, melihat laki-laki itu tengah menerima tamu seorang wanita. Duduk berdekatan di sofa. Dan tampak tertawa bahagia.
Mereka bersamaan mendongak kepadanya, “Eh, kok gak ngabari.” Danang langsung beranjak dari sofa dan mendekatinya.
Ia masih bergeming.
Tujuannya datang kesini ingin membuat kejutan laki-laki itu. Tapi kenapa sepertinya ia yang justru terkejut dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
__ADS_1