
...116. Catatan Sang Jurnalis...
-Lands Plantentuin te Buitenzorg-
Sepuluh tahun kemudian ....
Hamparan permadani hijau membentang. Menghipnotis tiap pasang mata yang memandang. Hawa kesejukan dan rindangnya pohon seolah tak menjemukan indra penglihatan.
Anak-anak berlarian ke sana kemari. Memainkan gelembung sabun menjadi balon berpelangi. Saling berkejaran. Tertawa lepas. Merasakan hari bebas. Sebelum esok kembali padat beraktivitas.
Burung punai terbang dari satu pohon ke pohon lain. Kadang kala terbang rendah sekedar mengambil ranting kering untuk sarang. Lalu kembali ke rumahnya di sela-sela batang.
Aku menengadah. Memandangi langit yang pagi ini berawan. Sebagian menggantung gelap. Sebagian terang. Tapi tak menyurutkan orang-orang untuk datang. Hanya sekedar melepas lelah atau sekedar bersua pandang dengan alam.
Kubaca lagi torehan kata saat aku mengingat kisah cintaku. Aku melengkungkan sudut bibirku ke atas.
“Bunda ... Bunda mau mochibo,” pinta anak berumur 4 tahun dengan napas memburu menunjuk sekotak mochibo yang terbuka. Habis berkejaran langsung menghambur dan terduduk di sampingku.
Dialah anak keempatku. Danika Jagadita.
Aku mengulurkan sekotak mochibo padanya.
“Enak, ya, Dek?” tanyaku.
“Enak, Nda.” Jawab Nika sambil mengacungkan jempolnya.
Kemudian datang seorang putri cantik yang menggemaskan. Dengan peluh dan muka memerah. Napas yang terengah-engah. Duduk dan menyandar di punggungku.
“Bunda ... minum. Haus," adunya.
Dialah Gry Gauri, anak keduaku.
Aku menghapus peluh di wajah kedua putriku dengan tisu. Sebelum akhirnya mereka kembali bermain gelembung seraya tertawa-tawa. Hanya karena balon gelembung itu mengenai rambut mereka.
Aku menggeleng lalu tersenyum memandanginya.
“Bunda ... Bunda, Kak Tala curang!” Giliran Kala mengadu, dengan muka cemberut merasa dicurangi karena kalah bermain. Anak laki-laki itu duduk di dekatku.
Dialah Sandyakala Khatulistiwa anak ketigaku.
Aku menggeleng, Kala selalu protes jika kalah bermain dengan kakaknya. Selalu mencari alibi untuk menjaga harga diri, “Harus fair donk!” tukasku.
Kala masih memberengut. Kemudian mendekati adiknya dan ikut bermain mereka dengan gelembung sabun.
Huh! Itulah kericuhan mereka. Kericuhan keluarga kami.
Pada akhirnya, keinginan Mas Danang terkabulkan. Kami mempunyai 2 putri dan 2 putra. Empat anak sesuai permintaannya dulu.
Ya, meski selama 10 tahun itu tidak mudah kami lalui. Saat Tala dan Gry belum genap berumur 2 tahun, Mas Danang harus pindah tugas ke Provinsi Sumatera Selatan. Dan di saat itu pula aku dinyatakan hamil kembali.
Kala lahir di kota yang terkenal dengan ikon jembatan Ampera itu. Selama kurang lebih 2 tahun keluarga kami tinggal di sana. Sebelum pada akhirnya Mas Danang harus pindah tugas kembali.
Kali ini ke Gorontalo.
Kota yang begitu banyak menyimpan kenangan. Banyak menyimpan cerita. Dan menjadi kota tujuan liburan setelah Solo dan Surabaya. Di sanalah aku kembali dinyatakan hamil untuk ketiga kalinya. Tentunya menjadi calon buah hati kami yang ke-4.
Tapi, kabar bahagia itu harus ditebus dengan berita kehilangan. Berita kesedihan. Baapu meninggalkan kami semua sebelum menunggu kelahiran Danika.
Cukup sepadankah? Aku rasa tidak. Tapi aku tidak boleh mengingkari takdir. Semua sudah ditetapkan Yang Maha Kuasa.
Kesedihan itu sepertinya tak mau jauh-jauh dari kami. Dua bulan kemudian kami harus kehilangan neene. Kesedihan terdalam buatku. Buat kami semua. Ditahun yang sama dengan waktu yang hampir berdekatan.
Sungguh tahun yang berat! Tahun yang penuh ujian.
Aku mendesahkan napas. Mataku memanas. Ada desiran asing menyelinap dalam hatiku meranggas.
“Baapu ... neene, kami semua rindu.” Gumamku. Aku menyusut sudut mataku.
Perusahaan KNS dan KM terus berjalan seperti biasa. Bahkan setiap tahun mengalami kenaikan profit. Aku pernah ditawari Jebe untuk bekerja di KM. Pun, Paman Tilamuta juga memberikan kedudukan di KNS. Tapi semua aku tolak. Bukan bidangku. Mereka adalah orang-orang yang sudah tepat dan berkompeten di sana. Kehadiranku justru akan menambah kekacauan saja. Rasaku kehadiran di perusahaan itu hanya untuk menghadiri rapat pemegang saham. Itu sudah cukup bagiku.
Keputusanku untuk meninggalkan TVS mengikuti Mas Danang aku rasa tepat. Meski tidak sepenuhnya meninggalkan media yang selama ini sudah mendarah daging. Aku masih menjadi copy editor di TVS. Menjadi kotributor di sebuah media televisi nasional. Kadang kala merangkap jurnalis lepas di beberapa media portal online. Dan terakhir memenuhi blog dengan tulisan dan kilasan peristiwa yang telah lama aku tinggalkan. Semua aku jalani dengan senang.
Jebe.
Sepupuku itu semakin dekat dengan kami. Apalagi sejak tinggal di kediaman baapu. Hampir tiap hari pulang kerja selalu mengajak bermain anak-anak. Entah mengapa, Jebe begitu suka dengan anak-anak. Padahal kalau dilihat dari usia, harusnya sepupuku itu sudah mempunyai keluarga. Tapi, Jebe memilih jalan lain.
Bahkan dari Jebe lah, aku mendengar kabar Torrid, ayah sahabatnya itu tengah sakit. Torrid sendiri telah divonis terlibat dalam perencanaan pembunuhan ayah. Yang diyakini menjadi suara 1 dalam rekaman percakapan itu.
Namun, baru menjalani masa hukuman belum genap satu tahun Torrid dinyatakan meninggal. Karena penyakit kanker hati yang menggerogotinya.
Lalu bagaimana dengan para tersangka yang lain?
Ya, hakim telah memutuskan vonis terhadap para tersangka. Dengan begitu mempunyai kekuatan hukum yang tetap atau inkracht van gewijsde. Status mereka berubah menjadi terpidana. Tepatnya saat Tala dan Gry menginjak usia 10 bulan.
Kenapa begitu lama? Sebab vonis ini juga telah menjalani berbagai tingkatan proses peradilan. Para tersangka mengajukan banding. Tapi ditingkat pengadilan tinggi keputusan hakim tetap sama.
Kami semua berucap syukur atas putusan akhir itu.
Salah satu anggota Dewan Perwakilan Pusat yang duduk di komisi VI pada eranya juga dinyatakan terlibat dalam perencanaan pembunuhan ayah. Yang memainkan peran sebagai suara 2 di rekaman percakapan itu.
Kemudian oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah juga dinyatakan terlibat. Diyakini dan dipastikan menjadi suara 3 dalam rekaman percakapan itu.
Lantas suara 4 dalam rekaman percakapan itu adalah seorang Sekda. Yang bertugas menjadi kurir.
Dan terdakwa terakhir adalah mantan Gubernur sebelum era Pakde Imam. Dialah berperan sebagai suara 5 dalam rekaman percakapan tersebut.
__ADS_1
Semua divonis sesuai tindakan dan pelanggaran pidana yang telah mereka lakukan. Adil dan transparan. Meski sempat berjalan alot dan terjadi ketegangan dari pihak-pihak pro-kontra.
Di manakah peran Om TF?
Tak elok rasanya menuliskan peran Om TF yang telah membantu mengungkap kasus crime against humanity ini. Meski beberapa kali namanya disebut-sebut di peradilan terkait. Apalagi beliau sudah tenang di sana. Walaupun ... ya ... hampir terlambat. Kasus ini hampir dinyatakan ditutup.
Dengan terungkapnya kasus ayah paling tidak mengurangi daftar preseden buruk bagi penegakkan hukum dan HAM di negeri ini. Sekaligus tidak memperpanjang praktik impunitas. Yang kalau ditelaah lebih dalam sebenarnya masih banyak kasus-kasus seperti ayah menimpa saudara-saudara kita.
Walhasil, semoga terungkapnya kasus ayah menjadi pemantik untuk kasus-kasus lain yang masih mengendap. Baik kasus extra ordinary crime maupun kasus ordinary crime. Karena kita semua sama dimata penegak hukum dan pemerintah. Yaitu equality before the law.
Kehidupan kami di Gorontalo cukup lama. Kurang lebih sekitar 5 tahun. Hingga pada akhirnya kami harus kembali pindah untuk kesekian kalinya.
Namun kami tidak diizinkan ikut serta mendampingi Mas Danang. Karena laki-laki itu ditugaskan di daerah rawan konflik. Yaitu Papua.
Kabar berita mengenai memanasnya Bumi Papua tak luput selalu dari pantauanku. Konflik sosial, politik, terorisme bahkan rasisme merebak sewaktu-waktu. Meledak tak kenal korban. Dan menjadi bom waktu buatku.
Puncaknya di ujung malam akhir bulan. Aku ditelepon seseorang yang mengatakan suamiku terkena tembakan.
Intan Jaya. Salah satu daerah konflik yang penuh intrik. Dengan segudang masalah pelik. Tak pernah surut damai membuat orang bergidik.
“Dengan Ibu Danang Barata Jaya?” suara dari seberang di tengah malam membuatku terperanjat.
“Ya, betul.”
“Kami dari kesatuan Polri Polda-Papua mengabarkan, bahwa Bapak terkena tembakan. Kondisinya stabil. Tidak perlu cemas. Semua sudah ditangani.”
Aku hanya menelinga tanpa berkata apa-apa. Air mataku merabas. Inilah yang aku khawatirkan. Aku takutkan. Akhirnya menimpa suamiku.
“Kemungkinan dalam minggu ini Bapak akan dipulangkan bersamaan dengan pergantian personil TNI-Polri yang bertugas di Papua.”
Dan ya, dengan kecemasan yang sangat akut melingkupiku, justru suamiku itu menelepon dengan ketawa-ketawa. Oh my god ... selalu menjadi kebiasaan yang aku tidak suka. It’s real serious, not funny! Menganggap hal besar seolah sepele seperti biasa saja.
“Aku si petualang sejati,” candanya yang bikin aku geram setengah mati.
“Hanya tertembak di paha kanan,” hah, ‘hanya’ katanya? Yang benar saja.
“I told you not to worry,” bagaimana tidak khawatir?
“I love you ....” Sambungan telepon itu pun berakhir.
Aku menghela napas dalam sambil memejamkan mata. Rasanya aku ingin datang ke Papua sekarang juga.
Empat hari pasca-insiden penembakan. Suamiku beserta rombongan akhirnya pulang. Dengan menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU.
Haru. Cemas. Bangga. Sekaligus sedih serta duka yang sangat mendalam. Sebab pesawat yang membawa personil TNI-Polri itu bukan hanya membawa anggota yang selamat melainkan juga membawa peti jenazah yang gugur di medan perang.
Bagaimana dengan nasib para istri yang kehilangan suami saat bertugas? Bagaimana nasib anak-anak yang kehilangan ayahnya? Menjadi janda dan yatim dari pejuang garda terdepan bukan pilihan. Tapi karena keadaan dan takdir. Percayalah wahai para istri dan anak-anak para pahlawan bangsa, kami bangga pada kalian. Peristiwa ini membuat aku tersadar. Bahwa nyawa mereka dipertaruhkan hanya untuk mempertahankan negeri ini. Negeri gemah ripah loh jenawi. INDONESIA TERCINTA.
“Kita pulang.” Ajak laki-laki yang mendekatiku.
Aku mengangguk. Danang merengkuh pundakku.
Prosesi penghormatan terakhir terhadap para pejuang telah usai. Saatnya kami kembali pulang. Aku berusaha menyamakan langkah. Dengan langkah laki-laki di sampingku yang tertatih menggunakan kruk untuk berjalan.
“I miss you so much,” bisiknya di telingaku.
“Anak-anak menunggu kita.”
Cukup satu tahun Mas Danang bertugas di Bumi Cendrawasih. Kami semua diboyong kembali ke Semarang. Dan pada akhirnya kami berada di sini.
Di Mabes Polri.
Sudah 1 bulan laki-laki itu bertugas di sana. Dan kami semua turut serta. Kembali ke Jakarta rasanya menguak kenangan lama. Suka duka dan segala bumbu-bumbunya.
Aku kembali ditawari bekerja di sebuah media televisi. Kali ini di balik layar. Menjadi seorang produser sebuah program news.
Aku yang tak takut lagi dengan berbagai insiden kriminalitas. Tak muntah lagi melihat korban berdarah maupun mutilasi. Dan pastinya selalu ada yang membuat aku semangat untuk terus maju dan melanjutkan asa. Sebuah cita-cita sederhana berkat kekagumanku terhadap ayah.
Aku penuhi janji itu Ayah. Bisikku dalam hati.
Aku mendesahkan napas.
Adalah Danang Barata Jaya. Laki-laki yang terus selalu memberikan support kepadaku. Selalu dan meyakinkan bahwa dirinya ada di sisiku sampai kapan pun.
Aku tak pernah menyangka cintaku berlabuh kepadanya. Hanya bermula dari sebuah berita. Berawal dari kesalahan. Keterpaksaan. Dan kenangan masa kecil yang terlalu membekas sangat sulit untuk dilupakan.
Dunia selebar daun kelor. Mungkin itulah yang cocok sesuai penggambaran kami.
Ini hari weekend. Hari di mana aku dan suamiku selalu mengusahakan untuk meluangkan waktu. Bersama anak-anak. Bercengkerama tanpa batas. Menyalurkan energi dengan bebas. Meski hanya sekedar ke Ancol atau Monas.
Semua tempat memiliki kekhasan tersendiri. Sebenarnya bukan karena tempatnya, tapi lebih kepada isi kebersamaannya. Bagaimanapun keluarga adalah utama. Keluarga tempat kita kembali pulang melepas penat dan dahaga.
Lands Plantentuin te Buitenzorg atau Kebun Raya Bogor tujuan kami hari ini. Dengan menggelar tikar di atas rumput. Selayaknya orang berpiknik di alam.
Bogor dengan segala keindahan. Bogor dengan segala keunikan, kericuhan dan pastinya keistimewaan kulinernya. Salah satunya mochibo. Camilan kesukaan Danika. Bahkan menjadi camilan wajib yang harus ada di wadah bekal sekolahnya.
Kedua laki-laki yang telah usai bermain sepak bola itu mendekatiku. Mereka adalah Mas Danang dan Gentala. Mas Danang merengkuh bahu Tala sambil tertawa. Membahas kemajuan permainan Tala dalam menggiring bola.
Lalu melepas kaos yang telah basah. Aku menyodorkan handuk pada mereka. Tapi laki-laki itu selalu manja jika di dekatku.
“Sama Bunda,” sambil menyodorkan kembali handuk kepadaku. Aku paham.
Kuraih kembali handuk itu lalu menyeka seluruh keringat yang membanjiri tubuh Mas Danang. Laki-laki itu duduk di depanku. Sambil menegak air minum dan berbicara dengan Tala.
“Minggu depan mulai lanjutin lagi ya, berenangnya.” Ucap Danang. Selama 1 bulan di Jakarta kami masih fokus mendampingi mereka sekolah. Sebab mereka juga butuh waktu beradaptasi.
“Ya, Yah.” Sahut Tala, “sama adik-adik juga, kan?” sambungnya.
“Iya donk! Kamu jadi penjaga buat mereka kalau Ayah gak ada.” Balas Mas Danang.
Tala menyunggingkan senyuman.
“Tala ganti baju dulu,” aku menyergah seraya mengangsurkan kaus padanya.
“Kak Tala ... Kak Tala ... tangkap kupu-kupu, yuk?!” Ajak Danika yang baru datang bersamaan dengan Gry dan Kala.
“Sini anak Ayah yang ngambek!” Danang menarik tangan Kala. Merengkuh bahunya lalu mengusap kepalanya.
__ADS_1
“Dengerin ... kalo kalah dari sesuatu permainan itu biasa. Kalah bukan berarti buruk. Kalah bukan berarti terpuruk. Bukan berarti tidak bisa menang.”
“Tapi kalah mengajarkan kita untuk terus belajar. Terus berusaha dan bangkit mengejar ketertinggalan,”
“So ....”
“Dia maunya menang terus Ayah," salak Tala.
“Kalo mau menang harus apa?”
“Belajar ... berusaha ... dan semangaaattt!!” Teriak Danika riang.
“Pinter semau anak-anak, Ayah.” Danang mengusap satu persatu kepala mereka dengan kasih sayang.
Lalu mereka meninggalkan aku dan Danang untuk menangkap kupu-kupu.
Laki-laki itu merebahkan kepalanya di pahaku. Aku menyuapinya dengan roti unyil.
“Gimana kerjaanya? Lancar?” Tanya Danang.
Aku mengangguk dengan tangan kiri menyugar surai yang sudah terlihat beberapa helainya memutih. Tapi masih dengan tubuh dan otot yang sama. Laki-laki itu selalu menjaga kebugarannya.
“Gak terasa ya. How time flies ... anak-anak sudah besar.”
“Kalau kayak gini kamu sekarang yang harus dampingi mereka. Mereka lebih membutuhkanmu.”
Aku menukas, “Mas,”
“If only ... aku dimutasi lagi. Kalian tetap di sini.”
Aku menggeleng tidak setuju.
Danang terkekeh, “If only, Sayang.”
“Aku gak tahu sampai kapan di sini. Tapi anak-anak sekarang prioritas.”
Aku tersenyum samar.
“Kamu semakin cantik,”
Aku mulai jengah.
“Beneran. Istri aku semakin cantik. Kayaknya aku boleh request satu lagi.”
Aku memutar bola mataku, malas.
Danang Tergelak.
Aku mendongakkan kepala, “Mas, udahan yuk! Kayaknya mau hujan.” Lalu menepuk bahunya.
Laki-laki itu beranjak. Membantu membereskan bekal yang kami bawa.
“Tunggu sini, aku panggil anak-anak dulu.”
Aku kembali menjeremba buku catatan yang tadi tergeletak di sampingku. Kembali mencoretkan tinta di sana.
Itulah penggambaran kami. Cerita sedikit keluarga kami.
Aku tak pernah menyangka perjalanan hidupku, kisah cintaku akan seperti ini. Aku kembali menengadah. Rintik hujan mulai turun dari langit. Dan rasanya aku harus mengakhiri tulisan ini. Sampai bertemu kembali di lain kesempatan. Sebelum aku tutup buku catatanku. Aku hanya ingin mengatakan.
Terima kasih Tuhan.
Terima kasih semesta.
Terima kasih ayah.
That’s all.
Sekian.
Kirei Fitriya Tsabita.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
__ADS_1