Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
109. Kita dan Mereka


__ADS_3

...109. Kita dan Mereka...


Danang


Kehamilan Kirei menjadi semangat tersendiri baginya. Cambuk baginya untuk  menyelesaikan beberapa goals. Di antara salah satunya penyelesaian kasus Ayah Demas.


Ia ingin sebelum Kirei melahirkan kasus itu selesai. Meski harapannya ... tak bisa muluk-muluk. Tapi ia percaya jerih payahnya tidak akan menghianati hasil. Cuma ia harus bersabar, mempercayakan dan memastikan kasus ini berjalan sebagaimana mestinya tanpa campur tangan pihak-pihak tertentu.


Beruntungnya semua pihak mendukung terungkapnya kasus ini agar gamblang dan benderang. Bahkan banyak media memberikan atensi besar atas kasus ini. Siap mengawal dari awal hingga ketok palu hakim.


Lalu goals selanjutnya adalah menyelesaikan tesis. Dan ia benar-benar berpacu untuk itu.


Tapi.


“Hoeek ... hoeek ....” Suara dari kamar mandi membuatnya cepat melesat ke sana. Kirei mengeluarkan semua isi perutnya. Inilah yang menjadi kekhawatirannya.


Tengah malam, ia baru pulang dari lapangan. Sampai rumah mendapati Kirei seperti ini. Bukan cuma sekali dua kali tapi hampir tiap malam.


“Sayang, kamu gak apa-apa?” Ia membantu Kirei kembali ke ranjang. Tidak lagi dipapah, tapi membopongnya. Sebab Kirei terlihat lunglai tak berdaya. Tenaganya bak terkuras habis, hingga tak tersisa sedikit pun.


Kirei menggeleng lemah.


“Tidurlah,” ia menyingkirkan sulur surai yang menghalangi sebagian wajah Kirei. Wajahnya terlihat putih pucat. Menyelipkan ke belakang telinganya. Lalu mengecup dahi istrinya.


“I love you,”


Kirei tersenyum lemah dan membalas, “Love you too,” meski tak terdengar tapi mimik bibirnya jelas mengucap itu. Perlahan istrinya mulai memejamkan matanya.


Ia mendesahkan napas . Bisa merasakan bagaimana perjuangan Kirei menjadi seorang ibu. Sungguh berat.


Lalu.


Dari ke semuanya Kirei tetap menjadi prioritas utama. Bumil yang satu itu kian parah mengalami morning sickness saat tengah malam. Hingga pernah sempat pingsan dan di rawat di rumah sakit.


Kabar mengejutkan selanjutnya yang tak kalah mengagetkan dan membuatnya membuncah bahagia ialah Kirei mengandung anak kembar. Ia sampai ternganga mendengar untuk pertama kalinya. Tak percaya! She’s pregnant with twins? (Kandungan Kirei kembar?).


Menurut pemeriksaan dokter pada kontrol kedua di minggu ke-11 kehamilan, terdeteksi detak jantung ganda dan 2 plasenta. Berulang kali ia mengucap syukur dari bibirnya. Bahkan ia rasa tak cukup sekedar itu.


Meski, kabar tersebut justru menyisakan keraguan dalam diri istrinya dan juga dirinya tentunya.


Kirei yang merasakan. Mengalami dan menjalaninya. Sementara ia hanya bisa melihat dari luarnya.


“Mas, perutku kok gak enak rasanya? Aku mau muntah,” keluhan yang sering didengungkan.


“Mas, punggungku sakit,” keluhan selanjutnya.


“Mas, kakiku pegal.” Ia selalu berusaha meringankan beban Kirei. Memijatnya. Mengurangi kesakitan yang dirasakan meski tak sepenuhnya.


Ia  sebenarnya sempat dalam keraguan. Kegamangan.


Apa Kirei mampu dan siap menjalani kehamilan kembar yang bisa dibilang tidak mudah? Dengan risiko yang lebih besar dari kehamilan tunggal.


Tapi mama serta bunda selalu berhasil menyemangati mereka.


“Allah memberikan kehamilan kembar pada kalian, itu artinya kalian mampu. Kalian bisa menjalaninya. Jadi jangan khawatir.” Tutur bunda.


“Pasrahkan sama yang punya Kuasa. Kalian cukup menjalani, menjaga dan jangan lupa selalu berdoa. Semoga dilancarkan sampai Kirei melahirkan.” Dan mama selalu punya cara menenangkan hati mereka.


Mama dan bunda datang secara bersamaan menjenguk calon cucunya. Selama seminggu penuh mendampingi Kirei. Ia bisa merasakan kelegaan. Ketenangan sementara waktu.


Bunda selalu mengikuti kemauan putrinya. Dari menyediakan makanan yang diinginkan sampai mendengarkan curahan hati Kirei selama hamil.


Sementara mama membuatkan kudapan dan minuman untuk ibu hamil. Semua sesuai petunjuk dokter di trimester pertama. Mama juga mengajari Yumah. Agar kelak saat mama pulang ke Surabaya, Yumah bisa menggantikannya.


Ia juga memanggil Mbok Sumi untuk sementara waktu tinggal di rumah dinas.


**


Kirei


Rasa was-was dan kekhawatiran yang berlebihan menggelayutinya ketika mendapat kabar bahwa ia hamil kembar. Tapi, Danang, mama, bunda dan orang-orang di sekelilingnya meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Asal ia patuh dan menjalani semua saran dokter.


“Mbak Kasih gimana waktu itu mengandung hamil kembar?” Tanyanya suatu ketika saat ia sengaja mendatangi wanita berparas ayu itu di rumahnya di hari minggu.


“Hamil kembar itu sebenarnya kehamilan kedua. Yang pertama sempat keguguran,”


“Lewat dokter Yoiku juga kami menjalani program kehamilan yang kedua,”


“Awalnya sempat takut, khawatir dan merasa tidak mampu. Tapi seiring berjalannya waktu, support dari orang-orang yang sayang kita membuat kita bersemangat dan mudah menjalaninya. Semua bisa terlewati kok.”


“Jangan khawatir, Rei. Yang penting, ikuti semua kata dokter.” Pungkas Kasih.


Ia sedikit lega.


Hari-harinya memang tak mudah dilewati. Tapi Danang selalu bilang, “I’ll stand by you.” Dan selalu memberikan suntikan semangat serta sugesti positif padanya.


Beruntung, saat ia harus berangkat kerja kondisinya fit dan si baby mau diajak bekerja sama.


“Pagi, Bumil!” Sapa Oka yang masuk ke ruangannya.


Ia mendongak lalu tersenyum.


“Rei, ini laporan liputan soal Garuda land.” Oka meletakkan berkas liputan di mejanya. Menggeret kursi di depan meja kerjanya dan mengenyakkan tubuhnya.


“Thanks, Ka.” Balasnya, “perusahaan itu akhirnya tak pernah mengusik lagi.” Pria bernama Garu bagai hilang ditelan bumi. Tapi Jebe sepupunya semakin akrab dengannya. Mungkin inilah buah dari peristiwa yang Tuhan atur untuknya.


“Dan mangkrak entah sampai kapan?” Oka menimpali.

__ADS_1


“Yang aku dengar, GL mengalami kerugian besar. Bahkan proyek di take over oleh perusahaan lain.” Imbuh Oka.


Ia menghela napas.


“Congrats juga, Rei.” Kata Oka, “TVS masuk ajang nominasi Indonesia Televisi Award (ITA). For the first time. (untuk pertama kalinya)”


Ia kembali mengulas senyum.


“Keren deh,” Oka mengacungkan jempolnya, “Bumil satu ini masuk kategori public figure inspiratif terpopuler. That is gucci!”


“Related dengan usaha lo.”


Ia terkekeh. Kemunculannya di stasiun televisi swasta besar sebagai pembawa acara beberapa waktu lalu mengantarkan dirinya lebih dikenal masyarakat luas.


“Jangan lebay!”


“Tanpa kalian, I’m nothing.” Sanggahnya seraya menelengkan kepalanya pada Oka.


Oka tergelak, “Kalo gitu, Bumil tambah cantik.”


“Pasti modus!” Tandasnya.


“I’m coming ....” Anisa datang membawa rujak serut begitu menggoda, “spesial untuk bumil cantik.”


Meletakkannya di atas meja. Lalu ikut duduk di sebelah Oka.


Kelenjar air liurnya langsung terstimulasi dan berkumpul. Refleks ia menelan ludahnya.


“Haiih ... lihat, Rei udah ngences.” Celetuk Oka, ikut terngiler-ngiler melihat penampakan rujak begitu merayunya. Pasti rasanya tak main-main mengguncang lidahnya. Apalagi menikmatinya panas-panas di siang hari. Huh ... hah!


“Kok, lo yang ngeces sih, Ka?!” Anisa memprotes, “jangan-jangan, lo perlu di USG juga biar ketahuan hamil gak nya.”


Ia dan Anisa tergelak.


Sedangkan Oka melotot langsung menyambar piring kecil dan mengisinya dengan rujak serut yang didominasi warna kuning dari buah mangga.


Tapi ... bukan untuk Oka sendiri melainkan untuk dirinya.


“Wiiiih ... tersanjung gue, suksma (terima kasih) Bli Oka.” Ucapnya dengan memasang wajah imut dan menggemaskan.


“Suksma mewali (terima kasih kembali).”


Rasanya ... uughh, satu porsi tidak akan cukup pasti.


Malam harinya ia duduk bersandar pada headboard. Punggungnya ia sangga dengan bantal. Menyumpal indra pendengarannya dengan headphone. Seketika lagu instrumental Canon in D mengalun lembut. Musik instrumen favoritnya. Menenangkan. Menentramkan. Dan sedikit banyak mempengaruhi suasana perutnya. Anehnya tak ada gejolak.


Tangannya memegang buku tentang kehamilan. Mulai membaca pada bab pertama. Sementara di sebelahnya ada 3 tumpukan buku lagi dengan tema yang hampir sama belum terbaca. Danang memberikannya seminggu yang lalu. Dan baru saat inilah ia sempat membacanya. Di sebelahnya lagi kudapan buah potong yang beberapa menit lalu diantarkan Yumah.


“Sayang ....”


Ia yang melihat bayangan pintu terbuka. Menanti laki-laki itu muncul dari sana. Dan seketika senyumnya terkembang sempurna saat kemunculan laki-laki yang begitu diharapkannya juga mempersembahkan senyum untuknya. Ia melepas headphone dan menyimpannya di atas nakas.


Tak berselang lama muncul kembali dengan hanya menggunakan celana pendek dan bertelanjang dada. Menyisakan wajah yang masih basah bekas cuci muka.


“Kok gak pakai baju!” Keluhnya, “nanti masuk angin.”


“Masih gerah, bentar lagi mandi. Seharian di kantor. Gak ke mana-mana.”


Danang menyeka wajahnya dengan handuk kecil. Lalu melempar sembarangan. Ia sempat berdecak.


Laki-laki itu merangkak ke atas ranjang, merebahkan kepalanya di atas pahanya. Dengan kaki setengah menjuntai ke bawah. Mencium sekilas perutnya.


“Rewel gak nih hari ini?” Perutnya diusap-usap laki-laki itu.


Danang menoleh, berbicara menghadap perutnya.


"Hai ... jagoan-princess Ayah. Kalian rewel gak hari ini?”


Ia menyimpan buku di atas nakas, membelai rambut suaminya. “Seharian ini bagus. Gak ada keluhan ... tapi, gak tau nih sebentar lagi.” Alarm morning sickness biasanya dimulai jam 10 malam hingga tengah malam. Bahkan pernah sampai dini hari.


Danang masih menghadap perutnya. Lalu menghujani dengan kecupan-kecupan.


“Sayang, jangan rewel, ya. Mmuah ....”


“Jangan buat Bunda tersiksa. Mmuah ....”


“Jadi anak yang baik. Mmuah ....”


“Ayah pasti kasih hadiah kalo kalian jadi anak baik. Mmuah ....”


“Mau apa? Sepatu bola? Kostum topeng super hero? Action figure? Atau istana barbie? Mainan kitchen set? Lolipop? Atau ...?” Danang melekatkan telinganya di perutnya. Memainkan peran berpura-pura menelinga.


“Apa? Coba sini bisik ke Ayah.”


“Hah?”


“Aku mau cemua-cemua, Ayah ....” Laki-laki itu menjawabnya sendiri meniru perkataan anak kecil.


“Okay ... easy kalo cuma itu. Semua Ayah beliin. Uang Ayah banyak. Bisa belikan satu truk.”


Ia menggeleng, “Mas!”


“Sstt ... jangan keras-keras Bunda denger.” Danang berbisik di perutnya. “Kita bertiga aja, ya. Bunda jangan sampai tahu.”


Ia yang tak tahan mendengar tergelak juga.


“Tuh, Bunda ketawa. Seneng banget kayaknya.”

__ADS_1


“Mas Danang jangan mencekoki mereka dengan kehidupan hedon!” Serunya.


“Aku cuma merayunya.”


“Tapi gak perlu iming-iming juga. Gak bagus.”


Danang berbisik di perutnya, “Bentar ya jagoan sama princess Ayah, Bunda sama Ayah mau berbicara masalah orang dewasa. Kalian bobo dulu, ya. Tutup mata dan telinga. Bye ... bye ... good night ... sleep soundly. Mmuah ....”


Laki-laki itu menganggap bahwa bayi kembar yang dikandungnya berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Sebab menurut dokter mereka memiliki plasenta terpisah. Jadi  tergolong kehamilan kembar fraternal atau kembar non identik.  Yang membuat wajah bayi tidak akan sama, begitu pula dengan jenis kelaminnya. Berbeda dengan anak kembar Arik-Kasih yang termasuk kembar identik.


Danang masih mengecupi perutnya hingga beberapa saat.


“Mas, aku jadi mual.” Tukasnya sambil menutup mulutnya.


Danang refleks bangkit, “Mau muntah?”


“Tapi ... boong,” ia terkekeh puas mengerjai suaminya. Seraya memegangi perutnya.


Laki-laki itu menyipitkan matanya.


“Dia gak akan muntah udah aku sugesti. Lagian udah aku sogok.” Senyum Danang menyeringai.


“Iya ... iya Ayah yang teladan dan ... bawel.” Ia masih menyisakan kekehannya. Kemudian mencubit hidung suaminya.


“Harus dikasih hukuman, nih?” Laki-laki menyergap bibirnya. Tanpa ampun.


“Mmm ....” Ia tak sempat lagi menghindar. Danang menarik tengkuknya lebih mendekat. Memperdalam ciuman, merefleksikan keinginan yang mencuat tapi harus ditahannya akhir-akhir ini.


“Kangen.” Satu kata yang terucap dari mulutnya.


Danang mengangguk. “Awfully (sangat).”


Rasanya sudah sekian lama mereka tidak melakukan hal ini. Danang meraba punggungnya, mengusapnya perlahan. Pelan tapi pasti tangan laki-laki itu beralih ke depan.


Danang mengurai ciumannya. Memandangnya dengan tatapan sayu.


“Bagaimana dengan mereka?” Tangan laki-laki itu mengusap perutnya.


“Easy does it (pelan-pelan),” ucapnya lirih dengan tatapan yang sama.


Laki-laki itu tersenyum. Kebuntuan dan ketahanan hasratnya rasanya sudah ingin meledak di udara. Melesak memacu produksi hormon dopamin dan norepinefrin lebih meningkat. Membuat jantungnya berdegup kencang, merasa tertantang, napasnya memburu serta berkeringat. Menghadirkan gelombang sensasi yang menghanyutkan. Dan pastinya mendobrak sesuatu di bawah sana.


Ia juga merasakan hal yang sama. Menginginkan laki-laki itu. Kondisi kehamilannya beberapa minggu di trimester pertama membuatnya tersiksa, otomatis melemahkan sisi lain. Tapi, ia tidak menampik seiring berjalannya waktu memasuki minggu ke-14 dorongan kepekaan itu mencuat kembali. Mengembalikan sisi yang melemah kembali bergairah.


Ia meraba tubuh yang begitu liat dan keras itu. Tubuh yang begitu gagahnya melindunginya. Juga melindungi masyarakat yang membutuhkan bantuannya. Lalu bergerak perlahan turun ke bawah. Ada bekas luka di paha kanannya. Cukup dalam dan meninggalkan keloid yang kasat mata. Akibat terjatuh ke jurang saat offroad di Bukit Menoreh beberapa bulan lalu.


Kemudian perlahan bergerak kembali ke atas. Mengalungkan tangannya di leher laki-laki itu.


Danang merengkuhnya. Mengecupi bahu dan tengkuknya.


“Mas,” ia menepuk-nepuk pundak laki-laki itu.


“Aku—” sambil membungkam mulutnya dan bergegas beranjak melesat ke kamar mandi.


Danang hanya bisa pasrah. Ketika mendengarnya memuntahkan isi perutnya. Mungkin belum saatnya. Ia harus kembali melepaskan hormon serotonin dan oksitosin tanpa pasangan. Atau menekan dalam-dalam hingga membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Ughh ... fight or light!


“Everything all right (semua akan baik-baik saja).” Gumam Danang, lalu ikut menyusul Kirei ke kamar mandi.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏


Love you all 💕


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2