
...6. Telusur Peristiwa...
Kirei
Ia berlarian menuju pintu kedatangan penumpang di bandara internasional Ahmad Yani setelah turun dari mobil Ken, demi mengejar liputan terbaru beberapa saat yang lalu ketika Aldi memberitahukan via phone.
“Kamu di mana?”
“Lagi on the way, Mas. Pulang ke apartemen.”
“Cepat ke bandara sekarang! Lagi ada tangkap tangan kurir narkoba. Berita ini akan kita masukan ke program telusur peristiwa. Menurut info, nilainya besar.”
“Sekarang, Mas? Ta-tapi,”
“Ya, sekarang! Budi udah luncuran ke sana 15 menit yang lalu.”
“Baik, Mas.”
Begitu sambungan telepon terputus, ia menghembuskan napas kasar. Kesigapan sebagai seorang jurnalis harus dikedepankan sewaktu-waktu. Dalam tas ranselnya sudah sedia peralatan yang menunjang profesinya.
“Kak, aku harus liputan di bandara,” tukasnya saat mobil sudah masuk jalan MT Haryono dan gedung apartemennya sudah tampak di depan mata.
“Oke. Aku antar ke bandara. Tenang aja, habis dari bandara langsung ke apartemen simpan barang-barangmu.” sahut Ken.
“Makasih, Kakakku yang tercinta. Mmuahh ....” Kelakarnya sambil tergelak.
“Dasar!” Ken menggerutu seraya tersenyum. Namun tak afdol jika tak mengacak-acak rambut adiknya itu sambil terkekeh melihat reaksi yang muncul dari bibir tipis yang mengerucut.
Napasnya memburu satu-satu. Memasuki pintu kedatangan penumpang ternyata sudah banyak reporter di sana. Termasuk mas Budi yang melambaikan tangannya.
“Huh ... huh ... huh ....” Napasnya tersendat-sendat.
“Atur napas, Rei.”
“Gimana, Mas?” tanyanya dengan napas yang masih megap-megap, ia melirik jam tangan di lengannya. Pukul 4 sore.
“Tenang,” Budi menepuk pundaknya dua kali. “Tersangka masih diinterogasi di dalam.”
“Terus, infonya gimana?”
“Sementara info yang beredar. Tersangka warga negara Indonesia. Cewek masih muda. Bawa sabu 3 kg dari Malaysia.”
“Woww!” sergahnya ternganga.
Beberapa menit kemudian....
Kemunculan tim Ditreskrimsus dan Ditresnarkoba didampingi petugas bea cukai keluar dan bertemu dengan para awak media.
“Selamat siang rekan-rekan semua. Pada hari ini, minggu pukul 15.15 wib telah di lakukan penangkapan terhadap seorang wanita berinisial V berumur 18 tahun tertangkap tangan membawa barang terlarang yang diduga narkoba dengan jenis metamphetamine atau sabu-sabu dengan berat 3065 gram. Pelaku Warga Negara Indonesia (WNI). Pelaku diduga kurir yang bertugas mengantarkan barang dengan tujuan Surabaya. Demikian informasi yang bisa kita sampaikan sejauh ini. Mohon sabar, karena kita akan mendalami lebih lanjut guna penyelidikan. Terima kasih” ucap Direktur Reserse Kriminal Khusus.
“Pelaku apa terjaring sindikat luar negeri, Pak?”
“Pelaku apa Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia?
“Sudah berapa kali pelaku menyelundupkan narkoba?
“Hukuman apa yang akan menjerat pelaku, Pak?”
Berbagai pertanyaan terlontar dari para wartawan termasuk dirinya. Namun tak satu pun di jawab. Mereka berlalu begitu saja, setelah menampilkan pelaku dengan baju tahanan polda dan memakai penutup ninja.
Kilatan kamera tak menyiakan waktu yang diberikan untuk mengabadikan tersangka. Pelaku hanya tertunduk. Miris, masih muda sudah terjerat lingkaran kejahatan pikirnya.
Sekilas ia melihat pak Wadir Reskrimsus. Ia pun berlarian mengejarnya.
“Pak, mohon waktunya sebentar,” ucapnya.
“Berapa kali pelaku sudah melakukan tindak penyelundupan narkoba ini, Pak?” tanyanya lugas seraya berjalan mengikuti narasumber.
Danang melihatnya sekilas, ia mengerutkan dahinya.
“Dua kali,” jawabnya.
“Apa dia termasuk sindikat jaringan luar negeri atau jaringan besar di Indonesia?”
Laki-laki itu justru malah tersenyum, “Nanti, ya, Mbak—“
__ADS_1
“Kirei, Pak, dari TVS.” Ia menunjukkan name tag yang tergantung di lehernya.
“Mbak Kirei, kami masih mendalami informasi. Tidak bisa kami jabarkan sekarang. Kalau sudah ada bukti-bukti pentunjuk lain yang memperkuat pasti kami berikan informasi lagi,” sambungnya.
“Tapi, Pak. Apa—“
Danang menghentikan kalimatnya dengan mengangkat tangannya, “Maaf, saya harus kembali ke kantor.”
Lemas, tapi ia tak pantang mundur.
“Pak, bisa saya jumpa di kantor bapak lain waktu,” tanyanya dengan mencoba menyejajarkan langkah kakinya dengan polisi berpangkat AKBP itu.
“Silakan,”
“Baik. Terima kasih Pak”
Srak...srak...srak
Ia menyusuri jalan setapak di bawah rindangnya pohon jati yang usianya mungkin sudah belasan tahun. Langkah kakinya beradu dengan daun kering yang berguguran menimbulkan suara gemeresak.
Setelah berjalan kaki 15 menit dari pemberhentian mobil, sebab jalan menuju TKP hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Ia dan Budi tiba di lokasi TKP satu. Tempat ditemukan potongan tubuh dalam karung beras yang di bagi menjadi 8 bagian yang dibuang di sepanjang sungai Kuto, Alas Roban.
Tadi malam setelah mendapat berita langsung dari Pak Wadirreskrimsus, pagi ini ia dan Budi meluncur ke TKP 1 menggunakan mobil kantor. Ternyata tiba di sana, beberapa wartawan telah berdatangan.
“Silakan meliput barang bukti baru, sebelum kami membawanya ke Polda,” ucap salah satu polisi yang bernama ‘Rendra’ pada name tagnya.
Kilatan lampu kamera pun merekam barang bukti baru sebuah kalung liontin bertuliskan nama korban ‘lundra’.
Bapak Wadir memberikan sedikit komentarnya.
“Ini merupakan barang bukti baru yang kita temukan setelah 2 bulan penyelidikan. Kita terus mendalami sambil mencari bukti-bukti lainnya. Kita berharap petunjuk lainnya juga cepat terungkap.”
“Jenazah korban apa sudah diambil pihak keluarga, Pak?”
“Belum. Masih di RS. Bhayangkara.”
“Sejauh ini penyelidikan oleh pihak kepolisian, apa korban benar diperkosa lalu dimutilasi?”
“Ya, menurut hasil autopsi oleh dokter forensik.”
“Belum ada. Sejauh ini yang kami dalami korban yatim piatu.”
“Bagaimana tanggapan atasan tempatnya bekerja atau teman-temannya pada korban selama ini? Pasti sedikit banyak mereka berinteraksi dengan korban?”
“Korban ini terkenal introvert. Pendiam dan jarang sekali berinteraksi dengan rekan di pabrik maupun teman kosannya.”
"Apa kemungkinan nama yang tertera pada liontin inisial nama korban dan pasangannya, Pak? Bisa jadi...."
Pertanyaan bertubi terus dilayangkan oleh para reporter termasuk dirinya.
“Lundra,” gumamnya sepanjang perjalanan pulang ia layangkan.
“Yang jelas perpaduan nama ‘Alunawati’ dengan ... Dra. Hendra-Kandra-Candra-Diandra-Rendra?” sahut Budi menebak-nebak.
“Nama itu pasaran, Mas. Terlalu banyak untuk ditelusuri.”
“Tapi paling tidak kita sudah menemukan kata kunci.”
Ia tampak berpikir keras, kedua alisnya bertaut.
“Apa teman-temannya tidak satu pun yang pernah melihatnya berduaan dengan lawan jenis?”
“Waktu itu kami pernah mewawancarai salah dua temannya. Dan mereka jawab tidak tau dan tidak pernah melihat Alunawati berjalan apa lagi berduaan dengan cowok.”
“Kapan kita bisa mendatangi yayasan yatim di Ungaran, Mas?
“Aku penasaran, impossible pemilik yayasan tidak tau anak asuhnya. Pasti ada jejak yang tertinggal di sana!” duganya yakin.
“Ya, besok pagi kita ke sana” balas Budi.
***
Aldiansyah
__ADS_1
Program telusur peristiwa sudah berjalan empat kali. Recording sisa 1. Dua case masih gantung.
“Oh sial! Kerja apa tuh anak, belum beres juga case dua bulan yang lalu.” Ia menggerutu.
“Bud, ke ruanganku. Bawa anak baru itu,” titahnya melalui sambungan line telepon kantor.
“Oke,” sahutnya.
Tak berapa lama gadis itu bersama budi sudah masuk dalam ruangannya.
“Gimana perkembangan kasus korban mutilasi?” tanyanya pada Kirei.
“Sejauh ini belum banyak yang terungkap, Mas. Tapi besok rencana kami mau mendatangi yayasan yang menampungnya dulu,” jawab gadis itu.
“Kita tidak ada waktu lagi. Taping kita sisa cuma 1. Sedang 2 case masih ngegantung," ucapnya meninggi.
“Bud, ada solusi?” tanyanya pada Budi.
“Case mutilasi kita pending. Kita kejar berita hangat narkoba kemarin di bandara. Gimana?” Budi menyahut.
“Sembari mencari celah semoga kemungkinan kasus mutilasi itu cepat terungkap," imbuh Budi.
“Oke! Besok kita langsung peliputan kasus narkoba. Kamu harus gali sebanyak-banyaknya informasi ke Polda. Tunjukkan dirimu bahwa kamu mumpuni di bidang ini,” tekannya dengan tegas.
“Baik, Mas.” Gadis itu menukas.
“Dan ini ....” Ia melempar map kertas di atas mejanya. “Kasus-kasus baru yang harus kamu liput secepatnya.”
Kirei mengangguk paham.
***
Kirei
Keluar kantor hari sudah gelap. Waktu azan maghrib sudah lewat. Ia putuskan untuk salat di musala kantor.
“Pulang, Mbak Rei?” sapa pak satpam yang bersua dengannya di lobi.
Ia tersenyum, “Iya, Pak”
“Tuh, Mas ojolnya sudah nunggu di depan.”
“Makasih, ya, Pak.” Balasnya.
Jalan protokol pada malam hari ramai sedikit tersendat di beberapa titik. Ojol berupaya menerobos kemacetan mencoba pelipir jalan, namun naas saat kendaraan mulai bergerak sebab lampu merah sudah berganti hijau, sebuah mobil menyerempet motor yang ditumpanginya.
Braaakk ....
Ia terjatuh bersamaan dengan motor yang di rem mendadak. Kakinya membentur badan trotoar. Celana panjang yang dikenakan sobek. Lututnya terbuka dan mengeluarkan darah.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya .... 🙏
__ADS_1