Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
37. Urieui Iyagi


__ADS_3

...37. Urieui Iyagi...


 


Kirei


Ia langsung menghambur ke pelukan bunda saat masuk ke dalam ruangan inap rumah sakit.


“Bunda sakit apa?” Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.


“Cengeng banget, malu sama Mas Danang ....” Sahut bunda berseloroh.


“Ihh ... serius Bunda ....” Rengeknya.


“Bunda sakit apa?” Todongnya lagi. Saat tanya dengan Ken. Kakaknya itu cuma bilang kelelahan. Pun, dengan jawaban yang diberikan Mas Danang yang justru semakin membuatnya penasaran.


“Batul ... Bunda gak pa-pa. Cuma kelelahan.” Tukas bunda meyakinkan anak perempuannya itu.


Ia merasa sedikit lega, paling tidak bunda yang dilihatnya saat ini masih bisa tersenyum dan mencadainya. Meski gurat wajahnya masih tampak pucat.


“Syukurlah ... kalo Bunda cuma kelelahan. Rei, khawatir,” ia masih bergelayut manja di dada sang bunda.


Ken yang tadinya duduk di kursi samping ranjang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya itu. Sepertinya ia tidak akan tega untuk berterus terang tentang penyakit bunda.


Sementara Danang duduk di sofa ruang perawatan VIP yang ditempati bunda.


“Kamu pasti capek ....” Ucap bunda sambil mengusap lengannya. “Istirahatlah, biar Ken yang temani Bunda.” Imbuhnya.


“Gak! Aku temani bunda di sini,” tandasnya cepat dan bersikeras. Ia mendongak melihat wajah sang bunda.


“Bunda tadi subuh masuk rumah sakit. Berarti Kak Ken dari subuh nungguin Bunda. Jadi sekarang giliran, Rei.”


“Kak, pulanglah ... biar Rei sama Mas Danang yang nungguin di sini.”


“Benar kata Bunda, lebih baik kamu istirahat dulu. Pulang ke rumah. Bersih-bersih ... mandi ... ganti baju. Bau asem tau ....” Kelakar Ken mencibir.


Ia menoleh pada Danang yang tak jauh duduknya. Di mana laki-laki itu juga sedang menatapnya. Danang memberikan isyarat mengangguk.


Dengan terpaksa ia berucap, “Oke ... aku pulang sekarang. Mandi, ganti baju terus balik lagi ke sini.”


“Iisshh ... malam ini jatahku ngawani Bunda. Kamu besok,” putus Ken mutlak. Tak ada tawar menawar lagi.


Mau tak mau ia menuruti kakaknya. Meski sebenarnya ia tak ingin jauh dari sang bunda. Apa lagi kondisi bunda yang tengah sakit.


Dengan malas ia bangkit dari duduknya di tepi ranjang rumah sakit.


“Bunda harus cepet sembuh ....” Pesannya seraya mencium punggung tangan kanan bunda yang bebas dari jarum infus.


Bunda tersenyum, lagi ... mengusap lengan gadis itu.


“Kak, aku pulang dulu. Besok pagi ke sini lagi.”


“Kalo ada kabar terbaru kasih tau, Rei ....” Peringatnya pada Ken.


Ia benar-benar merasa berat meninggalkan bunda.


“Aman ....” Tandas Ken, “udah ... sana!” Usir Ken sambil mengibaskan tangan.


Sementara Danang berpamitan dengan bunda dan Ken. Gadis itu mencomot buah yang tersimpan di atas nakas.


“Lapar,” gumamnya. Dari tadi pagi ia hanya sarapan roti di hotel. Pun saat di pesawat mendadak selera makannya menguap entah ke mana. Yang ada dalam pikirannya hanya satu. Yaitu kondisi bunda. Tiba di Jakarta, pun tak ada waktu untuk makan sebab ia harus berkejaran dengan jadwal penerbangan ke Solo.


Krruuukkkkkk ....


Justru suara perutnya berbunyi nyaring saat diisi makanan. Semua orang yang berada di dekatnya menoleh padanya. Ia meringis menatap Mas Danang, Ken dan bunda bergantian. Mereka tersenyum samar, bahkan Ken melipat bibirnya.


“Kamu makan dulu, Rei. Sekalian ajak Mas Danang. Dari tadi siang juga belum makan.” Bunda berpesan.


Ken hanya mendesis, “Dasar ...!”


“He he he,” ia terkekeh. Antara malu tersipu. Dan kenyataan di depan mata. Ia kelaparan.


Mereka berjalan beriringan menyusuri selasar rumah sakit.


“Mas Danang mau makan apa?” Tanyanya.


“Apa saja. Ngikut kamu.” Sahut laki-laki itu.


“Kalo aku makan batu, berarti Mas Danang ngikut juga?!” Selorohnya sambil cengengesan.


Laki-laki itu malah mengacak rambutnya.


“Rambut udah lepek masih diacak-acak. Muka kucel. Bau asyeem ... belum kelaparan,” gumamnya sambil menggerutu.


Keluar dari rumah sakit langit sudah gelap. Cahaya terang matahari telah digantikan oleh lampu-lampu penerang.


Mereka memutuskan untuk makan malam di pinggir jalan. Sebuah warung tenda  yang bertempat di trotoar dengan duduk lesehan beralaskan tikar menjadi pilihan.


Memesan bebek goreng. Ikan bakar dan tempe penyet beserta lalapan dan sambal bawang. Tak lupa minuman wedang ronde untuk menghangatkan tubuh.


Mereka makan dengan lahap, diiringi canda tawa.


“Selamat ya, Mas. Juara umum Kejurda FORKI ... gak sia-sia Mas Danang menyuport mereka.”


“Makasih.”


“Terus bawa cerita apa dari Kamboja?”


“Emm ... apa, ya? Banyak deh. Tapi overall Kamboja hampir mirip negara kita. Destinasi wisata di sana juga kayaknya ada juga di sini.”


“Terus, ngapain jauh-jauh ke Kamboja kalo semua ada di sini?”


“Yee ....” Cebik Kirei, “yang bikin journalism fellowship, kan Kamboja. Coba kalo yang bikin negara kita ....”


Obrolan mereka mengalir begitu saja. Meski pemandangan jalan di depannya ramai. Banyak kendaraan berlalu lalang. Apa lagi malam ini adalah malam mingguan. Pastinya banyak pasangan yang berkencan.

__ADS_1


Termasuk dirinya, bukan?


“Jadi Mbak Kasih sudah melahirkan, Mas?” Tanyanya dengan mulut yang masih mengunyah makanan.


“Kayaknya sih, udah.”


“Gumussh ... pengen lihat deh, anaknya kembar. Lucu banget kali, yaa?”


“Kamu mau anak kembar?”


Seketika ia mengatupkan bibirnya. Lalu tersenyum masam.


“Soon to be ... kita bisa membuatnya.“


Lidahnya mendadak kelu. Bibirnya kaku.


“... setelah kamu siap tentunya." Kekeh laki-laki itu.


Ia masih terpaku. Keheningan menjeda.


Laki-laki itu mengulurkan tangannya. Mengelap sudut bibirnya yang belepotan dengan tisu.


“Kalo makan jangan tergesa-gesa.”


DEG


Ia semakin kesusahan menelan makanan yang belum sempurna dikunyahnya untuk ditelan.


Lamat-lamat terdengar suara pengamen menggunakan gitar akustik dari ujung tenda yang berjalan mendekat pada mereka.


Nawa dangsineui haengbokhaetdeon iyagi


Oraejeon geu ttae geu moseubi neumo geuriwo


Nawa dangsineui areumdawotdeon iyagi


Uri sealpeugo jeulgeowatdeon geu ttae geu moseub


-Shakira Jasmine feat Noah- Urieui Iyagi-


 


***


Danang


Ia memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Sementara gadis itu menutup kembali pintu pagar.


Pertama kalinya ia menginjakkan kaki di rumah bunda.


Kesan pertama adalah rumah yang nyaman. Di teras depan ada tanaman trengguli yang sedang berbunga. Bunganya berwarna kuning cerah menjuntai. Menarik dan cantik. Berjejer juga tanaman pot yang ditata sedemikian rupa.


“Mas, ayo masuk.” Ajak Kirei setelah membuka pintu rumah.


Ia mengekori gadis itu di belakangnya. Menyimpan koper di samping sofa.


“Mandinya di kamarku aja, yaa.” Ucap gadis itu seraya membuka pintu kamarnya yang berada di ujung. Menghadap teras belakang.


Gadis itu mengangsurkan handuk baru padanya dan ia menerimanya.


“Bawa baju ganti?” Tanya Kirei padanya saat ia hendak membuka pintu kamar mandi.


“Bawa di mobil.”


“Biar aku yang ambil. Mas Danang mandi aja.” Tanpa menunggu jawaban, gadis itu berlalu meninggalkannya.


Kirei menyimpan pakaian ganti laki-laki itu di atas kasur. Lalu bergegas keluar lagi. Membuat teh madu hangat. Rasanya tubuhnya lelah. Atau mungkin juga masih jetlag. Entahlah.


Sementara gadis itu membawa pakaian gantinya lalu mandi di kamar bunda.


Ia keluar kamar duduk di ruang tengah. Menyesap teh madu yang masih hangat.


Bibirnya melengkung ke atas ketika matanya menangkap foto-foto keluarga istrinya. Ada foto gadis kecilnya berambut sebahu dengan poni Dora.


“Beruntung gak ketawa ....” Gumamnya sambil terkekeh.


“Mas Danang kenapa ketawa?” Gadis itu muncul dengan tatapan mata tajam ke arahnya. Duduk di sebelahnya. “Mau ngejek kalo gigiku ompong!” Semburnya dengan kesal.


Ia tergelak, “Meski ompong kamu tetap cantik ....”


“Gombal ....” Tandas Kirei sebal.


Laki-laki itu masih tergelak-gelak.


“Iishhh ....” Desis Kirei tak terima. Gadis itu bangkit hendak pergi namun dengan cekatan lengannya dicengkeram.


Dengan terpaksa ia duduk kembali.


Direngkuhnya gadis itu, “Okay ... my bad.” Masih dengan kekehan kecil.


Gadis itu pun, masih mendesis kesal, “Iissh ....”


“I miss you ....” Ucapnya lirih tepat di telinga gadis itu.


Kirei mendongak menatapnya. Sepersekian detik mata mereka bertumbukan. Ada desiran aneh yang merasuk dalam kalbunya.


Gadis itu membalas memeluknya dengan erat. Lalu menyandarkan kepalanya di dadanya.


“Apa status kita bisa lebih dari teman?” Tanyanya, seraya mengusap lembut kepala gadis itu. Mencium puncak kepalanya lama. Ingin menghidu aroma yang dirindukannya.


“You’re the most wonderful thing that has ever happened to me ....(kamu adalah hal terindah yang pernah terjadi dihidupku)”


“I have a reason ... and that’s simply to say ... I love you. (aku punya alasan ... dan itu sederhana bahwa ... aku sayang kamu)”


Malam ini benar-benar ia ingin mengutarakan apa yang selama ini ada dalam benaknya. Meski ia tak yakin gadis yang sedang dalam pelukannya juga akan merasakan hal yang sama.

__ADS_1


Gadis itu terdiam, masih menyembunyikan wajahnya di dadanya.


Lama mereka dalam keterdiaman. Gadis itu bahkan merasakan dan dapat mendengar degup jantungnya yang bertabuh kencang.


“Mas ....”


Setelah sekian menit berlalu. Terhanyut dalam pikiran masing-masing.


Gadis itu mengurai pelukannya.


“Aku ....“


Belum sempat melanjutkan kalimatnya. Ia mengecup bibir gadis itu. Sekilas.


“Aku ....“


Ia kecup sekali lagi.


Kini bibirnya menyapu bibir ranum gadis yang telah bertakhta di hatinya sejak lama. Bukan hanya mengecup. Namun mencecapnya penuh kelembutan. Menyelami dengan perlahan. Untuk membuktikan bahwa ia begitu sayang dan begitu menginginkannya.


Ia memberikan kesempatan pada gadis itu untuk menghirup oksigen. Kening dan hidung mereka saling melekat. Helaan dan embusan hangat menerpa wajah keduanya. Tak ada yang bersuara. Hanya sorot mata yang berbicara.


Ia menerbitkan senyuman. Meski dengan napas yang belum teratur.


Direngkuhnya kepala Kirei. Dikecupnya kening, kelopak mata, pipi dan berakhir pada bibirnya.


Sekali lagi semua seolah berkerja sendiri. Hanya napas mereka yang saling memburu dan menguarkan decapan ketika bibir mereka kembali menyatu. Semakin lama ciuman itu semakin menuntut dan tak surut.


Tanpa sadar gadis itu mengalungkan tangan ke lehernya.


Ciuman itu kini turun ke ceruk lehernya. Kirei mendesah dan menggeram geli. Ada gelenyar aneh yang sepertinya menggelitik di perutnya. Membuat gadis itu seperti terbang ke awang-awang ditemani kupu-kupu yang berwarna warni. Mengepakkan ratusan sayap tak kasat mata. Hingga ia terlena olehnya.


“Masss ....” Desah Kirei ketika ia mencium kembali bibirnya.


“Hem ....” Sahutnya dengan suara parau dan tatapan sayu.


**


Kirei


Ia tak menyangka akan sejauh ini. Tapi ini ... bukankah ia juga menginginkannya?


Tangan Danang mulai merebahkan perlahan tubuhnya di sofa. Dengan tetap menyatukan pertautan tanpa memberikan ruang untuknya berbicara lagi.


Kini tangan laki-laki itu sudah menyelinap masuk ke dalam kaos yang dikenakannya. Ia merasakan bulunya meremang, menjengit, lalu menggeram menyebut nama laki-laki itu begitu saja. Tanpa sengaja.


Laki-laki itu menghentikan kegiatannya sejenak. Menatapnya penuh sarat makna yang tidak bisa dideskripsikan. Yang jelas tatapan itu tersirat hasrat yang memabukkan.


“Kamu ....“


Ia mengangguk perlahan. Tanpa komando tangan laki-laki kembali menyelinap masuk ke dalam kaosnya. Bibir mereka kembali berpadu. Kini bukan lagi dengan kelembutan dan perlahan. Tapi sudah semakin menuntut dan terburu-buru. Seolah-olah mereka takut kehilangan waktu. Atau kehilangan momen yang mungkin sedang di pengakhiran.


Sementara dirinya merasa terbang. Sebab ia tak pernah merasakan ini sebelumnya. Inilah yang pertama. Ia merasa dipuja. Disayangi. Dicintai. Diinginkan sekaligus dimiliki oleh seseorang yang mulai ada di hatinya. Pikiran dan gerakan tubuhnya pun seolah tersinkronkan. Tidak ada penolakan.


Ia yakin bahwa ia sudah jatuh. Benar-benar jatuh dalam cinta laki-laki itu. Sejatuh-jatuhnya.


Dengan gerakan secepat kilat kaos yang dikenakannya entah terbang ke mana. Ia hanya melihat suaminya berada di atas dadanya. Entah apa yang dilakukan laki-laki itu di sana. Yang jelas membuatnya memejamkan mata dan membuainya terbang ke angkasa.


Tak pelak berkali-kali ia menyebut nama laki-laki itu untuk ke sekian kali dipatri dalam sanubari.  


Ia menyerah.


Ia pasrah.


Ia takluk.


Menikmati setiap sentuhan laki-laki itu yang bisa membuatnya terbang lebih tinggi.


Tapi dalam sepersekian detik ia kembali jatuh ke dasar lembah yang curam, saat dering ponselnya berbunyi nyaring.


My brother calling....


“Rei, Bunda ....”


-


-


Catatan :


Urieui Iyagi (bahasa Korea): Semua tentang kita


 


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan....ya 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2