
...94. Look What You Have Done...
Kirei
Tiba di Semarang mereka dijemput oleh Rendra. Bertepatan dering ponsel berbunyi saat ia menon aktifkan mode pesawat terbang.
My brother calling ....
“Rei, di mana?”
“Astaga! Kak, maaf ....” Ia menepuk keningnya.
Danang yang duduk di depan sampai menoleh ke belakang. Mengernyit.
“Rei udah sampai Semarang.” Sambungnya, “pulang sama Mas Danang.”
Terdengar suara Ken berdecak-decak.
“Kak, maaf ... lupa ngasih tahu. Suueeerr! Rei bener-bener lupa.”
“Aku lagi di apartemen kamu. Hari ini selesai. Sore rencana balik ke Solo.”
“Itu gimana si Ma’e?”
“Maega bukan Ma’e.” Koreksinya.
“Iya ... iya si Ma’e. Ngajak jalan dia sekarang.”
“Ya udah sama Kakak aja. Gitu aja bingung. Kayak mau dating.” Ketusnya. Padahal dalam hati cekikikan. Memberikan mereka kesempatan untuk berduaan lagi.
Lagi, Ken berdecak. Sambungan telepon terputus begitu saja.
“Kebiasaan!” Celetuk Danang.
Ia menggigit bibir bawahnya. Salah siapa coba? Malam hingga pagi bertualang hingga lelah. Sampai ia lupa karena harus tergesa-gesa ke bandara.
Tiba di rumah, mereka disambut Yumah dan Darmo.
“Aku langsung ke kantor, ya?” Ucap Danang ketika mereka masuk ke dalam kamar.
“Mas Danang gak makan dulu?” Waktu sudah hampir siang. Mereka tadi pagi cuma sarapan dengan roti.
“Nanti aja di kantor.” Sela Danang seraya melepas kaos dan celananya.
Ia mengangsurkan seragam kepada suaminya.
“Mau diantar ke kantor makan siangnya?” Ia memberikan opsi. Masih ada waktu pikirnya untuk masak sebentar dan mengantarkannya nanti ke kantor suaminya.
“Nanti kamu capek. Aku makan di kantin saja.”
Wajahnya mendadak pudar menjadi datar tanpa ekspresi. Hal itu bisa dibaca oleh Danang.
“Tapi kalo kamu gak capek ... boleh,” lanjut laki-laki itu. Ia tidak ingin mengecewakan istrinya.
Ia mengulas senyum, menatap Danang yang tengah mengancingkan satu persatu kemejanya, “Sini aku bantu,”
Danang mengusap kepalanya.
“Nanti aku ke kantor. Mas Danang tunggu aja.”
**
Danang
Tiba di kantor ia berpapasan dengan ... alisnya mengerut. Tapi dengan cepat ia mengalihkan dengan menerbitkan senyum tipis.
“Bang,” panggil wanita itu ketika ia hendak berbelok menuju ruangannya.
Ia menoleh. Menghentikan langkahnya.
“Abang, apo kaba? (apa kabar)” Tanya Pradipta yang menyusulnya.
“Baik. Saya, baik.”
“Kasus asuransi fiktif mantan anggota DPRD. Aku yang tangani,” Pradipta menjelaskan keberadaannya kembali di Mapolrestabes. Tanpa ia bertanya.
“Aku pengacara Pak Edrik.” Sambung Pradipta.
Rendra yang baru datang menghampiri mereka. Ikut sedikit terkejut.
“Kalo ada waktu boleh ngobrol sebentar sama Abang?" Tanya Pradipta.
Ia mengangguk, “Tapi, sorry hari ini saya gak bisa.” Elaknya kemudian.
“Gak pa-pa. Aku mengerti kesibukan Abang.”
Ia tersenyum kecil, lalu bergegas meninggalkan pengacara itu. Diikuti Rendra yang mengekor di belakangnya.
Duduk di kursi kerjanya langsung membuka setumpuk laporan.
“Lapor, Pak. Nenek Sumi kemungkinan besok sudah bisa diperbolehkan pulang.” Kata Rendra yang masih berdiri tak jauh dari mejanya.
“Kamu urus semuanya, Ren.” Balasnya tanpa melihat Rendra. Matanya menekuri beberapa laporan di depannya.
Tapi bagi Rendra inilah kesempatan emas baginya. Bisa bertemu dengan dokter gigi incarannya. Yess!!
**
Kirei
Dibantu Yumah ia bisa menyelesaikan masakan. Menu makanan yang bisa ia masak. Apa lagi kalu bukan kesukaan suaminya. Ayam lodho, capcay kailan, perkedel dan peyek. Ditambah potongan buah melon dan buah naga.
Ia bergegas mencari ojek online melalui aplikasi. Sudah pukul 12.30 WIB. Pasti suaminya telah menunggunya.
Tiba di kantor, beberapa anggota Danang yang bertemu dengannya menyapa. Ia tersenyum ramah membalasnya. Mendorong pintu ruangan kerja Danang. Laki-laki itu masih tertunduk dengan beberapa lembar berkas di hadapannya.
“Apa lagi, Ren?” Sahut Danang tanpa menoleh padanya.
Ia bergeming. Berdiri di depan meja kerja laki-laki itu.
Sontak Danang menengadah, ketika tidak ada sahutan dari Rendra. Dan aroma vanila yang menguar menusuk indra penciumannya begitu dihafal.
“Sibuk banget, ya?” Cibirnya. Meletakkan bekal makan siang di meja kaca. Ia duduk di sofa kulit berwarna cokelat tua.
__ADS_1
Danang lekas bangkit, “Kok gak ngasih tau. Kan bisa dijemput. Naik apa tadi ke sini?” Cecar laki-laki itu ikut duduk di sebelahnya.
“Mas Danang sibuk. Pasti sekedar buka hape aja gak sempet.”
Memang benar. Setibanya di kantor tadi, ia langsung menekuri beberapa laporan. Ponsel beberapa kali berbunyi tapi diabaikan.
Laki-laki itu tersenyum sebagai kiasan.
Ia bangkit dari duduk, “Mau ke mana?” Danang menyergah.
“Mau ambil piring.” Sahutnya.
“Tunggu sini.” Laki-laki itu segera melesat keluar ruangan. Dan begitu kembali membawa piring beserta sendok.
Ia mengambilkan makan untuk Danang. Lalu mengangsurkan piring yang telah berisi lengkap itu padanya. Menuang air dari dispenser di ujung ruangan ke dalam gelas. Meletakkannya di atas meja.
“Enak.” Kata laki-laki itu ketika suapan pertama telah mendarat di mulutnya.
“Udah pinter masak.” Sanjung Danang pada suapan kedua.
“Besok-besok kayaknya minta dibuatin lagi,” sambung Danang pada suapan terakhir. Menegak minuman setelahnya.
Ia membalas dengan mengulas senyum manis menampilkan cetakan lesung pipi, “Mas Danang mau request apa? Aku bikinkan. Tapi jangan yang aneh-aneh. Aku belum bisa.” Sahutnya.
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan membuat mereka menoleh bersamaan ke arah pintu.
Seseorang menyembul dari baliknya, “Selamat Siang, Pak. Maaf mengganggu.”
“Siang. Kenapa Way?” Tanya Danang.
“Ada titipan barang untuk Bapak.” Wayan meletakkan paper bag di meja bertuliskan ‘Sambi Roso’.
Ia mengernyit. Pun dengan laki-laki itu.
“Saya permisi,” ucap Wayan berlalu dan telah hilang di balik pintu.
Ia menoleh pada suaminya, meminta penjelasan. Tapi Danang mengangkat bahunya.
Sambi roso adalah restoran terkenal di kota ini. Ia mengintip isi dalam paper bag tersebut. Dessert salad buah segar serta choco dessert. Masing-masing 2 boks.
“Kayaknya lebih enak ini,” sindirnya.
Namun justru Danang meraih wadah bekal berisi potongan buah. Ditusuknya pakai sendok garpu. Lalu dimasukkan ke dalam mulutnya.
Ting.
Ting.
Suara notifikasi ponsel Danang berdenting. Laki-laki itu mengabaikannya. Tetap melanjutkan makan buah.
“Kamu mau? Makan aja.” Tukas laki-laki itu tak acuh.
“Palingan dari—”
Disusul suara deringan panjang.
“Mas ....”
Mau tak mau Danang bangkit dan menyambar ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya.
“Mama,” ucap Danang memberikan penjelasan siapa yang meneleponnya.
“Waalaikumsalam, iya ... Ma.” Sahut Danang.
“Kamu di mana? Dari tadi pagi Mama telepon gak diangkat?”
“Lagi di kantor sama Kirei,”
“Gimana kabar kamu sama Kirei?”
“Baik, Ma. Kirei juga.”
“Kapan kalian ada waktu?”
Danang mengerutkan dahi, “Kenapa, Ma?”
“Om Tarman di bawa ke Singapur. Beliau ingin ketemu kalian ....”
Laki-laki itu memandanginya, “Nanti kalo senggang, Ma. Aku sama Kirei usahakan jenguk.”
“Ya sudah. Salam buat Kirei.”
“Mama ngasih tau, kalo Om Tarman dibawa ke Singapura. Menjalani pengobatan di sana.” Ujar Danang setelah telepon terputus, “Mama kirim salam.”
“Waalaikumsalam. Apa Om Tarman mau ngasih tahu sesuatu tentang ayah?” Gumamnya menerka-nerka. Beberapa kali Om Tarman memintanya untuk menemuinya.
Danang bergeming.
Air mukanya berubah sendu.
“Kalo ada senggang waktu kita jenguk,” usul Danang.
Ia pun mengangguk.
**
Kenichi
Ia kesal bukan main. Sang adik pulang lebih dahulu. Jadwal pelatihannya telah usai. Rencana menjemput dan pulang bareng sudah diangan. Namun ia harus berdecak berkali-kali mendapat kebenaran adiknya sudah sampai di Semarang.
Sementara ia harus menemani Maega. Oh sial! Kenapa ia sepertinya harus selalu menemani dokter muda itu.
Semua tidak kebetulan, bukan? Kedekatannya dengan Maega atas perencanaan Kirei. Pun saat mereka berlibur di Bali.
Ingat! Berlibur di Bali bukan karena Maega mengajaknya. Atau Maega memintanya. Tapi karena teman-teman di kantornya menunggunya di sana.
Jadi?
Ya, berlibur bersama dengan rekan-rekan se-kantor yang kebetulan atau tidak, Maega juga ingin berlibur di sana.
Lalu, kali kedua Maega menghubunginya bertepatan dengan dirinya akan pelatihan di Jakarta. Sekali lagi bukan kebetulan! Tujuan Maega ingin melanjutkan sekolah sekaligus bertemu dengan adiknya.
__ADS_1
Sekarang?
Ia tak tahu lagi harus bagaimana? Hanya berdua dengan Maega? Apa yang harus dilakukannya?
Maega baginya teman. Tak lebih. Teman adiknya sekaligus karyawan KNS. Di mana ia juga punya saham di sana. Jadi, artinya Maega juga karyawannya.
Ia mengusap wajahnya.
Meninggalkan apartemen Kirei dengan gontai.
Bertemu Maega di salah satu Mall. Bukan ide bagus. Juga bukan ide buruk. Banyak orang berlalu lalang. Tak akan mengira ia dan Maega sepasang kekasih yang sedang berkencan.
“Kamu mau nonton gak?” Tanya Maega ketika mereka melewati satu gerai ke gerai lainnya.
Ia tampak tak bersemangat.
“Kalo gitu kita makan aja deh. Eh ... ngobrol di sana aja, yuk!” Ajak Maega menunjuk sebuah resto ala Korea.
Terpaksa ia mengikuti kemauan Maega.
Namun saat ia hendak duduk pandangannya tak sengaja menangkap sosok wanita yang ... duduk di pojok bersama teman-temannya.
Perlahan ia duduk di kursi dengan mata terus memandangi sosok itu yang tengah tertawa menampilkan barisan gigi-giginya. Masih sama. Wajah dan tawanya itu masih sama. Bahkan lebih cantik.
**
-Jepang-
Ganjar
Ia turun di Stasiun Asakusa menggunakan kereta jalur Tokyo Metro Ginza. Lalu berjalan kaki menuju restoran Kagetsudo. Di sana ia akan bertemu dengan klien.
Cuaca di Asakusa sedang hangat. Yaitu berada di antara suhu 18 derajat Celsius dan 23 derajat Celsius. Bagi yang belum terbiasa seperti dirinya sangat membutuhkan pakaian tebal. Atau paling tidak memakai baju berlengan panjang. Padahal ia tinggal di negeri sakura sudah lama.
Ia menyelipkan salah satu tangan di saku celana samping. Memakai kaos panjang yang dibalut dengan sweter. Mendorong pintu kaca restoran dengan satu tangan yang lain.
“Konnichiwa (selamat siang).” Sapa pelayan yang menyambutnya dengan menunduk sekilas.
Ia menunduk sebentar lalu membalas, “Hai, konnichiwa.”
Pelayan tadi mengantarkan dirinya ke meja yang telah direservasi oleh kliennya. Ia melepas tas punggung dan menyimpan di kursi sebelahnya. Lalu duduk di kursi lainnya.
Tak berselang lama, kliennya datang. Namun ia sedikit terkejut jika salah satu kliennya adalah orang asing alias bule.
Ia berdiri menyambut mereka. Menunduk sebentar lalu menjabat tangan keduanya secara bergantian.
“Perkenalkan Tuan Ganjar, ini Mister Richard.” Kata Tuan Ryo.
Ia tersenyum, “Saya Ganjar.”
“Richard.”
Pelayan datang membawakan minuman sencha. Ialah salah satu minuman teh hijau yang diseduh sebagai minuman khas masyarakat Jepang yang telah membudaya. Atau disebut chanoyu. Budaya menyambut tamu baik di rumah maupun di restoran-restoran sebagai simbol keramahan.
Obrolan mereka terus mengalir membahas kerja sama. Perusahaan asuransi global yang di wakili Richard dengan perusahaan otomotif multinasional Jepang yang diwakilinya.
Kurang lebih sekitar satu jam setengah mereka mencapai kesepakatan. Untuk membahas kontrak kerja sama lebih lanjut. Tentu ia harus melaporkan terlebih dulu hasil pertemuan hari ini pada atasannya.
Tuan Ryo dan Mister Richard telah berlalu meninggalkannya. Ia juga bergegas pergi. Untuk kembali ke Tokyo. Memakai tas ransel di punggungnya.
Ia menyusuri jalan menuju Stasiun Asakusa. Namun rasanya begitu sayang jika melewati kuil Sensoji begitu saja. Kakinya berbelok menyusuri Nakamise street menuju kuil yang dibangun sejak abad ke-6. Menjadi kuil tertua dan tempat yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Atmosfer peninggalan kejayaan Jepang jaman Edo sangat kental dan kentara sekali. Bangunan tetap megah dan kokoh berdiri di antara bangunan-bangunan modern dan menjulang lainnya.
Matanya mengedar penuh takjub. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Mengambil beberapa objek yang menarik dan unik untuk diabadikan.
Tak sengaja matanya menangkap seorang wanita tengah memakai pakaian kimono sedang berfoto di depan lentera besar yang tergantung di Kaminarimon (Thunder Gate).
Wanita itu tersenyum manis. Ia bisa menebak jika wanita itu orang Asia Tenggara. Atau jangan-jangan malah sama dengannya. Berasal dari Indonesia.
Ia tergesa mengabadikan momen itu. Mengambil foto secara candid.
Tapi seketika keningnya mengerut. Mendapati Richard menghampiri wanita itu. Lalu datang wanita satu lagi. Mereka tampak akrab. Tertawa dan bercakap. Terus melangkah memasuki ke dalam area kuil. Semakin menjauh dan menghilang di balik kerumunan orang-orang.
-
-
Terima kasih yang sudah berkenan mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
__ADS_1