
...96. It’s Not Easy...
Danang
Keberhasilan membujuk Kirei, membawa dirinya sekarang menunggu di depan ruang operasi. Sudah 30 menit berlalu sejak istrinya masuk. Belum ada tanda-tanda pintu itu terbuka. Kecemasan jelas tengah melandanya. Ia menunduk. Memijit pangkal hidungnya.
Bunda dan Ken yang juga tengah duduk di ruang tunggu terdiam. Hanyut dalam pikiran masing-masing yang menghunjam.
“Mas, makan dulu.” Ujar Aksa yang baru datang dari kantor langsung ke rumah sakit. Tentengan kantong plastik berwarna putih bertuliskan ‘Sambi Roso’ diletakkannya di kursi tunggu samping Ken.
“Tante dan Ken juga makan siang dulu.” Sambung Aksa.
“Makasih, Sa.” Sahut Bunda, “sebaiknya Mas Danang makan dulu. Biar Bunda sama Aksa yang jaga di sini.”
“Ken ... makanlah dulu. Dari tadi pagi kamu belum makan.” Bujuk bunda. Pagi sekali Ken harus ke kantor terlebih dahulu. Menyelesaikan pekerjaan. Baru menjelang siang mereka berangkat ke Semarang. Pasti perut Ken belum terisi sama sekali.
Ken bangkit dari duduk. Menyambar tentengan yang dibawa Aksa. Begitu juga dirinya yang tadi berdiri menyandar dinding ruang operasi. Mereka melangkah menyusuri selasar rumah sakit. Lalu berhenti di taman.
Ken menyodorkan satu kotak nasi padanya.
“Makasih,” ucapnya. Lalu duduk di bangku taman yang terbuat dari besi.
Ken ikut mengenyakkan dirinya di sampingnya.
“Jadi waktu pemeriksaan pertama itu dia sudah mengidap kista?” Tanya Ken seraya membuka kotak nasi.
“Ya,” ia menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
“Kenapa kami gak diberitahu?”
“Kirei yang meminta.” Sahutnya.
“Ck, apa kami seperti orang lain?!”
“Kebiasaan,” dengus Ken.
“Sedari kecil dia selalu berusaha untuk tidak membebani orang lain.”
“Dasar! Merasa mandiri tapi sebenarnya manja.”
“Terkadang ceroboh,” cibir Ken.
Jeda sesaat.
Mata Ken menerawang dengan tetap mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya secara perlahan.
“Hidupnya tak mudah setelah kepergian ayah.”
“It’s not easy to be her (tak mudah menjadi dia—Kirei).”
Ia mengangguk. Menyimpan kotak nasi yang telah kosong di sebelahnya. Menegak air mineral setelahnya.
“Tapi satu yang tak pernah surut.”
“Keinginannya menjadi seperti ayah. Sampai detik ini. Meskipun dia mengambil tawaran presenter, host atau apa pun itu namanya. Dia tetap jurnalis sejati. Tetap menerima menjadi desk editor di portal online TVS.”
Ia mengangguk lagi. Setuju.
Bahkan Kirei terkadang menjadi wartawan lepas. Dengan honorarium yang bisa dibilang ... ah, tak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Apa lagi jika dibandingkan dengan kekayaan yang dipunya. Tapi dia enjoy. Tak pernah mengeluh. Her soul is there (jiwanya ada di sana—jurnalis).
Pernah suatu malam ia mendapati Kirei tertidur di meja kerjanya. Dengan laptop masih menyala. Ada beberapa riwayat beranda di sana. Namun yang menggugah rasa penasarannya adalah beberapa surel yang dikirimkan. Untuk beberapa perusahaan pers. Kalau dipikir-pikir orang menjalani pekerjaan beberapa sekaligus demi memenuhi kebutuhan hidup. Tapi pengecualian untuk Kirei. Dia menjalaninya dengan suka hati. Tak melulu soal materi.
Mereka akhirnya kembali ke ruang tunggu operasi. Sudah hampir satu jam. Namun masih belum ada tanda-tanda pintu itu terbuka.
“Mas, besok Mama sama Papa datang.” Kata Aksa yang berdiri di sebelahnya.
“Kamu yang memberitahu?”
“Mereka berhak tahu, Mas.”
Ia menghela napas.
Detik berikutnya suara gaduh pintu ruangan operasi dibuka. Dengan sigap mereka yang ada di sana mendekat.
“Bagaimana, Dok?” Tanyanya pada dokter bedah beserta tim yang menangani istrinya muncul dari balik pintu.
“Alhamdulillah ... operasi berjalan lancar,” sahut dokter tersebut, seraya mengulas senyum. “Pasien akan dibawa ke ruangan transisi dulu. Menunggu hingga stabil dan sadar. Baru akan dipindahkan ke ruang perawatan.” Pungkasnya.
Kelegaan langsung menyergapnya. Aksa menepuk pundaknya.
Sementara bunda, Ken, dan Aksa menunggu di ruang perawatan. Ia menemani Kirei di ruangan transisi.
Belum ada pergerakan dari Kirei sama sekali. Ia menggenggam tangan istrinya yang begitu dingin. Mengusapnya perlahan.
Setelah tadi malam mereka tidur saling berpelukan. Saling menguatkan. Saling memberikan kenyamanan. Pagi harinya Kirei memutuskan untuk, “Aku mau operasi, Mas. Aku mau ....”
Ia menatap manik mata cokelat gelap istrinya “Kamu yakin?”
Kirei mengangguk.
Ia langsung merengkuh Kirei. Menghujani kepala istrinya itu dengan ciuman bertubi-tubi.
“Terima kasih,” ucapnya di sela-sela kecupan itu.
Detik berikutnya terdengar suara, “Hoook ... hooeek ....” Kirei sudah setengah sadar dan ingin muntah. Kondisinya masih lemas.
Ia lekas menyambar wadah stenlis untuk menampung muntahan Kirei. Istrinya terlihat pucat.
“Kamu gak pa-pa?” Tanyanya dengan nada kekhawatiran.
“Mual, Mas. Aku mau mu ... hooeek ... hooeeek.”
Ia segera memencet tombol memanggil petugas jaga di sana.
Tak berselang lama seorang perawat datang. Ia segera membantu memiringkan tubuh Kirei untuk memuntahkannya di wadah yang dipegang perawat tersebut. Namun hanya air saja yang keluar.
“Ini reaksi dari obat anestesi, Pak. Masih wajar.” Sahut perawat. Dilanjutkan dengan memeriksa selang infus dan oksigen. “Tunggu benar-benar pasien sadar ya, Pak. Baru kita pindahkan ke ruang perawatan.” Imbuh perawat itu.
**
Bunda
Sudah hampir 2 jam usai operasi Kirei belum juga dibawa ke kamar perawatan. Khawatir? Pasti.
“Istirahatlah dulu, Nda. Biar aku yang tunggu.” Ucap Ken. Sementara Aksa sudah kembali ke kantor.
“Bunda gak pa-pa, Ken.”
__ADS_1
Ken berdecak, “Bunda juga harus jaga kondisi. Gak boleh kecapean.”
Ia merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Sedangkan Ken duduk di sofa tunggal.
Suara roda ranjang rumah sakit yang didorong menggema dan berhenti tepat di depan pintu. Ia lekas bangkit. Kecemasan seketika menguap kala melihat anak kesayangannya telah sadar.
“Bundaaa ....” Suara rengekan manja terdengar lirih. Ia mendekati Kirei. Menggenggam tangan anaknya dan mengusapnya perlahan.
“Kami permisi, Pak.” Kata salah satu perawat. Setelah memastikan semua terpasang sesuai.
“Makasih,” balas Danang.
“Bunda ... kapan datang?” Tukas Kirei masih dengan suara lemah. Wajahnya masih terlihat pucat.
“Tadi pas kamu masuk ruang operasi.”
“Gimana sekarang?” Tanyanya.
“Sakit. Perut, Rei sakit.”
Danang langsung mendekat, “Mau aku panggilin dokter?”
Kirei menggeleng pelan.
“Itu reaksi obat bius yang sudah hilang. Sebentar lagi gak sakit. Asal minum obat.” Ucapnya.
Ken ikut berdiri di samping bunda yang duduk menyahut, “Abis ini gak boleh makan lagi sembarangan!”
Tampak masih lemah Kirei membalas, “Aku ... mau makan bakso.”
Ken berdecak, lalu mendesis. “Baru diingatin. Sudah ngeyel. Mau sembuh gak sih!” Salak Ken kesal.
“Ken ....” Selanya menengahi.
“Boleh, asal bakso yang sehat.” Imbuhnya.
“Bakso yang sehat itu gimana?” Tanya Kirei seperti bingung.
“Iiiish, pura-pura gak tahu! Yang gak pake micin. Gak pake saos. Gak pake kecap. Gak pake cuka. Cabe juga. Sementara jangan makan yang pedes. Dagingnya yang segar tanpa lemak. Mie-nya tanpa pengawet.” Omel Ken bak kereta api dengan gerbong banyak.
Kirei memberengut, “Sekalian aja gak pake mangkok!”
Sontak membuat ruang perawatan VIP itu menggema akibat tawa mereka. Kecuali Kirei yang meringis menahan nyeri.
**
Kirei
Malam harinya teman-teman dari TVS datang menjenguknya. Ada Budi, Anisa, Oka dan Pak Rahmat.
“Yess! Welcome back.” Celetuk Oka.
“Istirahat dulu, Rei. Jangan dipaksakan.” Sahut Pak Rahmat.
“Iya, korlip baru. Kapan kita merayakannya?” Anisa menimpali.
Dengan pertimbangan dan diskusi dengan Danang. Ia menerima tawaran menjadi korlip menggantikan Aldi.
“Gak nyangka, dulu rekan kerja sekarang atasan.” Cibir Budi, “tapi loe the best, Rei.” Budi mengacungkan 2 jempolnya.
Bunda dan Ken telah pulang ke rumah. Hanya Danang yang menungguinya malam ini.
“Mau apa?” Tanya Danang yang melihatnya bergerak tak tenang.
“Aku mau ke kamar mandi, Mas.”
“Tunggu sini,” Danang mematikan laju aliran infusan dengan menggeser roller clamp. Lalu meletakkan di pangkuannya.
“Mas, aku bisa jalan.” Sergahnya.
Tanpa aba laki-laki itu membopongnya ke kamar mandi.
“Kalo sudah panggil lagi, aku tunggu di luar.” Pesan Danang dengan menutup pintu.
Ia kembali dibopong ke atas ranjang rumah sakit. Danang mengaitkan kembali botol infus pada gantungan besi. Menyetel roller clamp agar cairan mengalir.
“Mas Danang istirahatlah, dari tadi pagi jagain, Rei terus.”
“Pasti cape.”
Laki-laki itu menggeleng, “Belum seberapa.”
“Kamu yang harus bed rest total. Jangan angkat beban berat. Kalo perlu bantuan bilang. Kalo gak ada aku, ada Yumah sama Darmo.”
“Atau mau Mbok Sumi juga? Biar dipanggil besok ke rumah.”
Ia menggeleng. “Gak usah.”
“Besok Mama sama Papa datang.”
“Rei, gak enak jadi ngrepotin. Udah gak apa-apa. Udah baikan.” Akunya mengelak.
“Mereka ingin jenguk anak mantunya. Anak perempuannya.” Danang mengusap lembut pipinya.
“Makasih, Mas. Makasih ....” Ia mengulas senyum.
“Sudah seharusnya. Tapi, maaf besok gak bisa nemani full. Besok ada kerjaan penting gak bisa ditinggal.”
“Iya ... gak apa-apa.”
**
Mama
Ia dan suaminya mengambil penerbangan pagi menuju Semarang. Langsung menuju rumah sakit.
Memberikan salam ketika mendorong pintu, ia mendapati Kirei tengah disuapi makan oleh Danang.
“Mama,” sapa Danang dan Kirei hampir bersamaan.
“Gimana? Udah enakan?” Tanyanya mendekat ke ranjang Kirei. Sementara papa duduk di sofa ditemani Danang.
“Sini biar Mama yang lanjuti nyuapin,” tawarnya setelah melihat Kirei tadi memaksa untuk makan sendiri sejak kedatangannya.
“Gak usah, Ma. Rei, bisa sendiri.” Tampik Kirei.
“Sini, biar mama ke sini juga ada gunanya.” Ia meraih piring dalam pangkuan Kirei. “Mama sama Papa kesini selain kangen kalian. Juga pengen lihat anak perempuan Mama ini sehat.” Mengangsurkan sendok ke mulut Kirei yang membuka, “nah, gitu ... makan yang banyak biar cepet sembuh.”
__ADS_1
Mata Kirei berkaca-kaca, “Makasih, Ma.”
Pagi itu, mereka bersama-sama keluar dari rumah sakit. Setelah diobservasi oleh dokter Yoiku pasca-operasi. Kondisi Kirei stabil. Membaik dan sudah diizinkan pulang.
“Oke. Semuanya bagus. Seminggu lagi kontrol. Setelah benar-benar sembuh, pulih. Siklus menstruasi normal, baru kita program hamil.” Tutur Yoiku ramah.
“Kira-kira berapa lama, Dok?” Tanya Kirei.
“Tergantung kondisi tubuh dan hormon seseorang. Ada yang 2 bulan, 3 bulan bahkan lebih.” Tukas Yoiku.
“Makasih, Dok.” Balas Kirei.
“Sama-sama, Bu.” Sahut Yoiku lalu meninggalkan ruangan.
Tiba di rumah mereka di sambut oleh Nani, Ken serta Yumah, Darmo dan Rendra.
“Apa kabar, Mbak, Mas?” Sapa Nani. Ia dan Nani berpelukan.
“Alhamdulillah. Kami baik.” Mereka mengurai pelukan, “gimana kabarmu, Nan sama Ken?”
“Baik, Mbak. Alhamdulillah.” Jawab Nani.
Sementara Danang memapah Kirei duduk di sofa ruang tengah.
“Bener mau duduk di sini?” Tanya Danang. Kirei mengangguk.
“Aku langsung tinggal, ya?” Pamit Danang. Mencium sekilas kepala Kirei dengan membungkuk.
“Ma, Bunda ... titip Kirei.” Pinta Danang.
“Gak usah diminta, Nang. Mama sama Bundamu pasti jagain.” Tandasnya.
“Ken juga pamit, Tante, Om.” Ken ikut Bangkit dari sofa, “ada pekerjaan yang gak bisa ditinggal. Sementara Bunda masih di sini.”
“Ati-ati, Ken.” Pesannya.
Sore harinya ia dan Nani duduk di teras rumah. Di temani secangkir teh madu dan kue pukis hangat.
“Nan,” ucapnya, “gimana usahamu? Lancar?”
“Alhamdulillah, Mbak.”
“Syukurlah ... aku pikir dulu gak akan pernah ketemu kalian lagi.” Ia menghela napas. “Skenario Tuhan begitu baik.”
“Bahkan menjodohkan anak-anak kita. Aku bener-bener gak nyangka, Nan.”
“Isyarat gadis kecil yang ditemui Danang di taman ternyata adalah Kirei kecil,”
“Lucu.” Ia terkekeh.
Nani tersenyum tipis.
“Setelah kepindahan kalian yang tanpa kabar, kami bener-bener kehilangan.”
Nani menunduk.
Ia menghela napas lagi, “Rasanya baru kemarin. Waktu begitu cepat berlalu.”
Nani menatapnya sekilas, lalu pandangannya lurus menatap Darmo yang tengah menyirami tanaman.
“Kami tahu. Gak mudah bagi kamu dan anak-anak setelah ... Demas gak ada,” ia mengembuskan napas perlahan dan berat. “Aku bisa merasakannya, Nan.”
Entah mengapa Anita membuat Nani mengingat kembali semua kenangan itu. Air mata Nani menggenang di pelupuk mata. Dadanya sesak.
“Om Tarman ingin bertemu sama kamu, Nan.”
Nani mendongak menatapnya, cairan bening itu luruh seketika.
“Aku hanya ingin menyampaikan itu. Pesan dari Om Tarman yang sekarang sedang di rawat di Rumah Sakit Singapura.”
“Maaf, kalo bikin kamu sedih.”
“Membuat kamu harus mengingat peristiwa itu lagi.”
Nani menggeleng dan menyeka sudut matanya.
“Gak mudah ... pasti.” Gumamnya.
“Gak mudah menjadi kamu. Menjadi Kirei dan Ken setelah itu.”
Cairan bening itu kembali luruh membasahi pipi Nani.
“Maaf ....” Cicitnya ikut menyusut sudut matanya.
Nani kembali menggeleng, “Semua sudah berlalu, Mbak. Biarlah kami yang merasakan. Kami yang mengalaminya. Kami sudah mengikhlaskan.” Dengan senyum kegetiran.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
__ADS_1
... ...