Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
84. You Only Live Once


__ADS_3

...84. You Only Live Once...


-Jakarta-


Kirei


It’s showtime.


“Slate in!” Seru Astrada. “SOUND!” Imbuhnya.


“Roll!!” Teriak sound recordist.


“Camera!?” Pekik Sutradara.


“Roll!” menyusul suara clapper board.


“Action!”


Ia melakukan beberapa adegan take. Durasi 60 menit dengan 5 segmen dan  5 commercial break.


“CUT!” Tukas sang Sutradara, lalu berucap. “Bungkus.” Diiringi tepuk tangan seluruh kru.


Ia bisa bernapas lega. Setelah melakukan adegan. Dan sang sutradara berkata ‘bungkus’. Artinya ia tidak perlu retake. Dan artinya hari ini selesai.


Ia mengucapkan terima kasih pada bintang tamu. Mengantarkannya hingga turun panggung.


Lalu berpamitan pada kru, “Mas ... duluan, ya!” Teriaknya sekaligus melambaikan tangan pada kru yang tengah membereskan beberapa perlengkapan.


“Oke, Rei. Thanks!” Jawab mereka hampir bersamaan. Sebagian lainnya hanya mengacungkan jempol.


Ia menuju ruang ganti. Menghapus makeup, berganti pakaian. Sedikit tergesa. Ia keluar studio tepat saat matahari sudah condong ke barat. Namun seketika mengerutkan kening manakala melihat jalanan dipenuhi kendaraan.


“Jakarta,” gumamnya, "kota yang tak pernah mati." Imbuhnya dalam hati.


Ia menunggu sejenak ojek online yang dipesan sesaat yang lalu di depan lobi. Tumben sedikit lama dari biasanya. Kemungkinan karena berbarengan bubar jam kantor. Rush hour.


Tin ... tin.


Sebuah motor berhenti, menghampirinya. “Mbak Kirei, ya?” Tanya abang ojek.


Ia mengangguk, lalu menerima helm dan mengenakannya.


Motor melaju menerobos kepadatan kendaraan yang padat merayap bahkan tersendat-sendat. Ia masih bisa mendengar beberapa pengendara mengumpat. Menekan klakson kuat-kuat. Lalu berujung saling melajukan kendaraan dengan menyikat.


Ia menghela napas.


Tiba di tempat tujuan. Ia segera menuju lokasi yang disebut oleh Anisa.


Adalah salah satu mall terbesar di daerah Jakarta Barat.


Anisa ternyata sudah duduk manis di salah satu gerai makanan.


“Sori ... sori ....” Tukasnya ketika Anisa bermuka masam menyambutnya.


Tak ada sahutan dari Anisa. “Gue traktir. Selama di Jakarta,” imbuhnya. Sebagai penebus rasa bersalahnya.


Akhirnya Anisa membuka mulutnya, “Yeee ... gue udah dapat jatah makan kali!” Salak Anisa.


“Yang lain boleh,” tawarnya.


Raut muka Anisa langsung berubah, “Serius?”


“Dua rius.” Balasnya.


“Tapi kapan?” Cebik Anisa, “hari ini aja free. Besok padet jadwalnya.” Anisa sedang mengikuti pelatihan jurnalis di Jakarta selama 2 hari.


“Atur.”


“Bisaan, lo!” Seru Anisa dengan mengerucutkan bibirnya, “sibuk banget ya, lo hari ini? Gue udah nungguin 20 menit. Mata kering. Pantat tepos. Punggung kaku. Perut kembung kebanyakan minum.” Anisa mengomel. Di depannya 2 gelas minuman telah tandas.


“Full di studio.” Jawabnya. Programnya sebentar lagi berakhir. Hanya tinggal beberapa episode saja.


“Jadi?”


Ia mengedikkan bahunya santai.


“Lanjut atau ....”


“Lo kayak Mas Aldi. Ngasih pilihan lanjut atau berhenti,” kekehnya.


“Maksudnya ... lo lanjut di sini apa balik ke TVS?”


Ia terdiam.


“Korlip masih kosong. Pak Rahmat sementara yang handle.” Tukas Anisa, “kayaknya Pak Rahmat nungguin lo balik.” Sambungnya.


Ia masih terdiam.


Pelayan memberikan buku menu pada mereka. Lalu menulis pesanan yang disebutkan.


“Mbak Kirei, ya?” Sapa dua ibu-ibu yang mendekatinya.


Ia menerbitkan senyum, “Ya, Bu.”


“Boleh minta foto?” Imbuh salah satu ibu yang berbaju putih. Sementara ibu satunya mengeluarkan ponsel lalu menyetel on cam.


“Boleh,” jawabnya. Ia berdiri di tengah. Diapit 2 ibu-ibu tersebut. Anisa yang bertugas menjadi fotografer.


“Makasih, ya Mbak Rei. Kami nge-fans banget!” Sela ibu berbaju putih, “iya betul, gak nyangka ketemu di sini,” imbuh ibu yang berbaju pink.


Ibu-ibu tadi sudah berlalu pergi. Setelah sebelumnya melakukan swafoto kembali.


Ia dan Anisa telah duduk. Bertepatan dengan Pelayan menyajikan pesanan mereka.


“Fans, lo makin banyak setelah di ibukota.” Tukas Anisa.


Ia mendesah, “Beda. Gue bukan artis!” kilahnya sambil mengambil makanan dengan sumpit. Memasukkan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


“Public figure,” timpal Anisa mencibir, “sebelas dua belas, Neng!”


Jeda sesaat.


“Aldi bentar lagi juga keluar dari panti.”


“Tapi ....”


Ia menyergah, “Tapi kenapa?”


“Dia mau ke US. Sudah pengajuan magang jurnalisme musim panas. Tinggal tunggu approve.”


Ia tersenyum tipis.


Seusai makan mereka berlanjut ke gerai penjual aksesoris. Lalu ke gerai pakaian dan berakhir di hypermarket yang berada di lantai 3.


“Kamu gimana sama Aldi?” Tanyanya seraya mendorong troli lalu berhenti di rak sabun-sabun.


Anisa terdiam. Ikut menghentikan langkahnya.


“Gak ada salahnya sih kamu yang bilang duluan.” Ucapnya. Memasukkan satu kemasan botol sabun mandi cair beraroma daisy ke dalam troli.


“Iisshh ... gak ah!”


“Lho kenapa?” Tanyanya heran. Tangannya menjeremba botol sampo beraroma vanilla milk lalu memasukkan dalam keranjang.


Ia mendorong keranjang belanjaan kembali. Menuju rak berbagai camilan. Mengambil beberapa camilan renyah dan manis.


Lalu menuju rak buah-buahan dan sayur.


Anisa masih tak menjawab pertanyaannya. Berjalan di sebelahnya.


“Gak pa-pa kali, kalo cewek duluan. Gak memalukan kok. Kalo udah bilang, kan, pasti plong. Soal hasil ....”


Ia memasukkan beberapa apel fuji ke dalam plastik. “Gak usah dipikirin. You only live once ... do what your heart tells you (kamu hanya hidup sekali ... lakukan sesuai kata hatimu).” Tandasnya.


***


-Semarang-


Danang


Menjelang malam ia baru keluar dari Arba Techno. Hendak pulang sebab tubuhnya lelah. Tapi dihadang Arik, Dipa dan Aksa. Ia terpaksa mengikuti mereka ke sebuah kafe yang tak jauh dari sana.


“Untuk Mas Danang,” Dipa menyodorkan sebuah undangan. Ketika mereka telah duduk di kursi kafe. Wedding invitations.


“Minggu depan.” Tukas Dipa.


Ia berdecak, “Pecah telor.” Lalu mengulas senyum.


“Sa, lo kapan?” Dipa yang duduk di depan Aksa dan dirinya juga menyerahkan undangan ke Aksa.


“Masih darksome!” Timpal Arik.


Ia terkekeh.


“Jangan bilang as soon as possible lagi ... gue lempar pake asbak.” Sergah Dipa.


“You are right! (kamu benar)” Seru Arik.


Aksa semakin terpojok. Tapi beruntungnya Arik mendapat panggilan telepon.


“Sebelum lo kawin. Pesta lajang dulu!” Aksa menyesap kopinya.


“Cih, yang lajang cuma elo sama Willi.” Tohok Dipa, “anak itu masih ngebet aja deketin dokter gigi.”


Ia menyahut, “Dapat saingan baru.”


“Hah siapa?!” Arik yang telah selesai menelepon menyergah.


Ia mengibaskan tangannya. Lalu beranjak dari kursi, “Aku duluan,” pamitnya pada yang lain.


“Aku ikut, Mas.” Aksa  ikut beranjak dari duduknya. “Aku gak bawa mobil.” Kilahnya kemudian. Sekaligus menghindar dari cercaan Arik dan Dipa.


Arik dan Dipa terkekeh.


Aksa melajukan mobilnya ke rumah dinas.


“Mbak Kirei kapan pulang?” Tanya Aksa saat mobil berhenti di pertigaan jalan. Bertepatan dengan lampu merah menyala.


“Mungkin minggu depan.”


“Gimana? Mama masih ....”


“Ck ... aku males. Bukan jaman lagi!” Sembur Aksa.


“Gak ada salahnya.” Sahutnya.


Aksa berdecih, “Lagian, gak pantas. Jauhlah ....” Tukas Aksa. Meski sebenarnya memang berat baginya menerima rencana mama mendekatkan dirinya dengan Zahra.


“Siapa yang gak pantas untuk siapa?” Tanyanya mengernyit.


Aksa mengarahkan kemudi ke kiri, “You only live once ... Jangan sampai menyesal kemudian.” Pungkasnya. Ia mengklakson dua kali hingga pintu gerbang dibuka. Lalu melajukan mobil pelan masuk ke dalam halaman rumah.


Yumah membukakan pintu untuknya. Menyusul Aksa mengekori di belakang.


“Siapkan makan malam, Yu.” Titahnya pada Yumah.


“Ya, Pak.” Asisten rumah tangga itu segera melesat ke dapur.


Sementara Aksa menghempaskan tubuhnya di sofa. Menyalakan televisi.


Ia menuju kamar melepas kancing kemejanya satu persatu. Sejak tadi berangkat ke kantor hingga malam ini ia belum menghubungi Kirei. Tadi pagi istrinya itu mengatakan seharian akan syuting. Ia paham bahwa syuting menyita waktu. Sehingga ia tidak mau Kirei terganggu.


Setelah kemeja terlucut, ia letak sembarangan di atas sofa. Masuk dalam kamar mandi. Mengguyur tubuhnya yang lengket setelah seharian beraktivitas di luar. Agar lebih segar dan merelakskan otot-otot . Baru setelah itu ia akan menghubungi Kirei.


Namun sesaat ia keluar kamar mandi, pintu kamarnya diketuk. Ia menyahut.

__ADS_1


Kepala Aksa menyembul dari baliknya, “Mas dicari Pak Banuaji.”


Ia mengangguk, “Sa, suruh tunggu bentar.”


Aksa telah menutup pintu kembali. Dengan cepat ia mengenakan pakaian meski tubuhnya masih belum kering benar. Ia bergegas menemui Banuaji.


“Malam, Ndan!” Sapa Banuaji ketika melihat dirinya datang menghampiri.


Ia duduk di sofa  tunggal.


“Saya mengantarkan undangan. Akikahan anak kami,” imbuh Banuaji seraya mengangsurkan undangan yang diambilnya dari dalam tote bag.


“Kapan, Pak?” Tanyanya menerima undangan tersebut. Mengeluarkan isinya dari amplop berwarna merah.


“Minggu depan.”


Ia mengerutkan kening.


**


Kirei


Ia menenteng eco bag berisi belanjaan keluar dari hypermarket. “Lo, gue anter dulu ke hotel.” Ucapnya.


“Ck, gak usah. Gue bisa sendiri. Emangnya gue anak kecil.” Tolak Anisa. Arah hotel tempatnya menginap dengan apartemen Kirei berbeda arah.


“Gak apa.” Ia melihat jam tangan di lengan kirinya, “udah jam 9 ini. Sekalian satu mobil.”


“Terserah deh.”


Mereka hendak turun ke lantai 1 menggunakan lift. Tapi baru mau masuk ke dalam saat pintu lift terbuka untuk mereka, ia terkesiap sebab melihat sosok Ganjar berdiri di sana.


Dengan senyum samar ia menyapa, “Gan ....”


Ganjar yang awalnya menyandar dinding berdiri tegak. Menyahut sembari mengulas senyum, “Hei ... ketemu lagi.”


Mereka bergabung dalam kotak besi yang telah tertutup pintunya. Hanya berisi 3 orang.


Anisa yang berdiri di sebelahnya mencondongkan kepalanya mendekat telinganya, “Siapa?” lirihnya.


Canggung.


Tapi lekas sadar ia memperkenalkan Anisa pada Ganjar.


“Mau langsung pulang?” Tanya Ganjar.


Ia mengangguk.


Ting.


Pintu lift terbuka. Mereka keluar dari bilik besi tersebut.


“Boleh pulang bareng? Kebetulan kita searah, kan!”


Ia masih bergeming dengan tangan kiri menenteng kantung belanjaan. Sedangkan Anisa tetap melangkah menjajarinya.


“Rei, gue naik taksi aja, ya?!” Entah itu sebuah pernyataan atau melontar pertanyaan. Tapi yang jelas ide itu tak sesuai ekspektasi-nya.


Ia mengapit lengan Anisa, lalu berbisik, “Kita pulang bareng. No bargain! (tak ada tawar menawar)” Tekannya kuat pada lengan Anisa.


Anisa meringis. Lalu mengamuflase dengan mengulas senyum menatap Ganjar.


Mereka sudah tiba di lobi utama, “Tunggu sini, ya. Aku ambil mobil dulu.” Ucap Ganjar segera berlalu meninggalkan mereka, tanpa mendengar jawabannya.


Ia menatap Anisa yang juga tengah menatapnya. Sama-sama terjebak dalam situasi yang rumit. Rautnya kebingungan. Lalu tak lama suara ponselnya berdering nyaring dan bergetar dalam tasnya.


Ia merogoh ponsel tersebut.


Mas Danang calling ....


-


-


Catatan :


Astrada : Asisten Sutradara.


Slate in : Nomor jumlah shot (adegan) yang ditulis di clapper board.


Clapper board : Papan dari kayu untuk menandai suatu adegan tertentu selama berjalannya proses produksi.


 


Terima kasih yang berkenan mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2