Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
47. I Wouldn't Say No


__ADS_3

...47. I Wouldn’t Say No...


Danang mengerutkan dahi ketika membaca pesan singkat dari istrinya yang mengatakan ada liputan aksi massa di depan Kantor Gubernur. Memang hari ini puncak demo setelah beberapa kali aksi massa tersebut belum dikabulkan.


Laki-laki itu menghela napas. "Ren,” ucapnya ketika mereka dalam perjalanan kembali ke Semarang dari Purworejo. “Ke Kantor Gubernur," imbuhnya.


Rendra yang mengemudi patuh. Meski tubuhnya lelah. Tadi pagi mereka berangkat ke Purworejo jam 3 dan sekarang sudah kembali lagi ke Semarang. Ia pikir setelah kembali ke Semarang bisa istirahat sebentar melepas penat. Tapi instruksi atasannya mutlak. Ia bisa apa?


“Arah menuju Kantor Gubernur ditutup, Pak. Info terbaru kondisi memanas,” info Rendra meski atasannya itu tidak menanyakannya. Sebab ia tak mengerti tujuan mereka ke sana buat apa? Jadwal safari Ramadhan hari ini ke Akpol. Lagi pula ini masih jam 11 siang. Pun tidak ada jadwal pertemuan dengan Gubernur atau pihak terkait di sana. Atau?


Atasannya itu terlihat menelepon seseorang. “Gimana situasi, Komandan?”


“Sepertinya akan mengarah ricuh. Beberapa oknum sudah diamankan,” sahut suara dari seberang.


“Bisa minta tolong, Bro?” Kapolrestabes Semarang adalah teman sekaligus kakak tingkatnya dulu di Akpol.


“Yup,”


Danang menyebutkan permintaannya itu pada sosok teman sekaligus kakak tingkatnya dulu. Setelah itu baru mengakhiri panggilan telepon.


“Jadi ke Kantor Gubernur, Ndan?” tanya Rendra.


“Jadi," sahutnya.


***


“Oka, lo di mana?” tanyanya pada Oka lewat sambungan telepon. Bahkan ia harus mengeraskan suaranya. Sebab situasi yang ricuh dan tak terkendali. Apa lagi setelah menyadari Kirei tak lagi bersamanya.


“Gue, deket parkir mobil kita tadi Mas.”


“Lo bareng Kirei?”


“Gue sendiri ... Kirei belum ketemu. Tadi sempat gue cariin tapi hilang di kerumunan.”


“Cari sekarang!” titah Budi. "Gue juga lagi nyari. Ponselnya aktif tapi gak diangkat.”


“Oke, Mas.”


***


Oka melihat petugas kesehatan membawa beberapa orang yang terluka sedang ditandu. Mencoba mendekat dengan perasaan campur aduk. Yang jelas satu harapannya. Yaitu salah satu dari korban tersebut bukan Kirei rekan kerja sekaligus sahabatnya.


Semakin dekat semakin cemas. Hingga berkali-kali ia menelan ludah sebab kecemasan yang berlipat-lipat. Oka akhirnya bernapas lega ketika bisa melihat satu persatu korban luka. Tak ada Kirei di sana.


Mas Budi calling....


“Ya ... Mas,”


“Kirei sudah dibawa ambulan. Ke rumah sakit ....” Budi menyebut rumah sakit yang beralamat di Gayamsari.


Seketika tubuhnya lunglai. Merasa bersalah. Ceroboh. Dan sejuta tanya akan kondisi Kirei secepatnya.


***


“Putar balik!” seru Danang saat mobil akan memasuki areal perkantoran Gubernur. “Ke RS. Bhayangkara," lanjutnya.


Danang sudah tak bisa berpikir jernih. Setelah mendapat informasi bahwa istrinya menjadi salah satu korban kerusuhan aksi massa.


Dengan kekuatan penuh Rendra mengemudikan mobilnya. Begitu sampai di parkiran rumah sakit, ia bergegas menuju pusat informasi. Berlari. Beberapa orang menyapa dengan sikap hormat sebab pakaian seragam yang melekat di badannya namun, tak diindahkannya.


Hanya satu tujuannya saat ini. Lekas mengetahui kondisi sang istri.


“Korban aksi massa di mana?” todongnya bertanya ketika sampai di meja resepsionis pusat informasi.


“Siang Pak,” sapa salah satu resepsionis tersebut. “Korban atas nama siapa, Pak?” sambungnya bertanya.


“Kirei, jurnalis TVS.” Jemarinya tak bisa berhenti mengetuk meja resepsionis dengan gusar.


“Di UGD, Pak.”


Bergegas ia melesat ke sana. Ada sekitar belasan yang menjadi korban. Dan semuanya adalah laki-laki. Terkecuali ....


“Siang, Pak,” sapa salah satu dokter yang menangani korban aksi massa. Menyapanya ketika ia berdiri di balik korden salah satu ruang di UGD. “Ibu Kirei ada di dalam. Sudah ditangani. Sebentar lagi bisa dipindahkan ke ruang perawatan,” jelasnya. "Kondisinya sudah membaik. Luka robek di dahi sudah dijahit. Lecet ringan di beberapa bagian tubuh. Dan lebam-lebam. Untuk pastinya nanti kita akan lakukan rontgen bagian kepala. Sebab ada benturan sehingga dahinya robek," pungkas dokter tersebut.


Ia terpaku mendengar informasi dari dokter. Rasanya tak kuasa melihat luka-luka yang dialami gadis itu. Kalau boleh?


“Silakan kalau mau melihatnya.” ujar dokter yang menangani Kirei. Bergeser ke samping memberi jalan padanya.


Ia mengangguk, lalu menyibak korden berwarna biru muda itu. Menautkan jemarinya pada jemari gadis itu. Mencium punggung tangannya yang terbebas dari jarum infus.


***


Sebagai koordinator liputan jelas semua hal berkaitan dengan reporter itu tanggung jawabnya. Kabar mengenai salah satu reporter news yang tak lain adalah Kirei menjadi korban aksi massa sangat mengagetkannya.


Dengan terburu, ia memacu mobilnya menuju rumah sakit yang diinformasikan oleh Budi. Tiba di sana, Budi dan Oka telah menunggunya.


“Dia di mana?” tanya Aldi.

__ADS_1


“Info terbaru sudah dipindahkan ke ruang perawatan,” jawab Budi.


Bertiga melangkah beriringan menuju ruang perawatan yang berada di lantai dua.


Mengetuk pintu dua kali lalu seseorang membukakan pintu berdiri di baliknya. “Silakan masuk,” ucap laki-laki itu.


Ia, Budi dan Oka melewati laki-laki itu dan berdiri di samping Kirei yang masih belum sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit.


“Bagaimana kondisinya, Pak?” tanya Budi.


“Luka di dahinya cukup serius, pendarahan. Sudah dijahit. Kalau yang lain luka ringan dan lebam-lebam.” Danang tersenyum. “Silakan duduk,” imbuh laki-laki itu.


Kini mereka berbicara di sofa ruang perawatan VIP.


“Maaf, Pak ... saya kecolongan tidak bisa menjaganya," ungkap Oka penuh sesal. Harusnya dia yang mengawasi Kirei. Tapi nyatanya justru teledor.


“Gak pa-pa. Mudah-mudahan cepat sembuh dan tidak ada yang serius," ujar Danang.


Budi dan Oka mengangguk. Sementara Aldi hanya diam seribu bahasa. Perasaan dan pikirannya ... entahlah tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Antara perasaan yang masih menetap di hatinya, kecemasan atas kondisi Kirei. Sekaligus rasa tidak suka melihat laki-laki itu.


***


Jari jemarinya mulai bergerak perlahan. Matanya mulai mengerjap-ngerjap. Ia menoleh ke samping. Sosok laki-laki itu tertidur di sampingnya dengan posisi duduk dan kepala berbantal lengannya.


Kirei merasakan tubuhnya yang remuk redam. Bak di pukul dengan palu godam. Untuk bergerak sedikit saja rasanya sakit. Nyeri. Ngilu. Perih. Ia merasakan haus. Tenggorokannya kering.


“Mas," panggilnya lirih.


Laki-laki itu bergerak perlahan sebelum akhirnya benar-benar terbangun. “Kamu sudah bangun. Kamu mau apa?” tanya Danang dengan raut muka yang kelelahan.


Ia tahu, tadi pagi laki-laki itu berangkat kerja jam 3 pagi. Ia pun terpaksa menemani sahur sebelum jam tersebut. Lalu sekarang dia sudah di sini menemaninya di ....


“Aku di rumah sakit, Mas?” tanyanya masih linglung. “Aku kenapa?” Yang ia ingat tubuhnya terjerembap akibat terdorong. Lalu....


“Kamu pingsan,” tukas Danang. “Tim kesehatan yang bawa ke sini.”


Ia mendesis menahan nyeri di dahi. Mungkin efek bius yang sudah hilang.


"Dahimu pendarahan. Harus dijahit. Sekarang makan, ya?” Bujuk Danang yang sudah menjeremba piring di atas nakas.


“Aku haus ... mau minum," sergahnya cepat.


Tangan Danang urung mengambil piring. Kemudian menggapai gelas yang berisi air putih. Namun sebelumnya mengatur posisi ranjang agar lebih tegak. Membantu memosisikan bantal agar lebih nyaman.


Mengangsurkan gelas yang berisi air putih dan pipet dari plastik. Ia mengisapnya. Hingga volume gelas tinggal setengahnya.


“Mas Danang belum sempat pulang?” tanya Kirei di sela-sela mengunyah makanan dengan pelan. Laki-laki itu masih berseragam lengkap. Meski tak rapi lagi.


“Tadi sudah nyuruh Aksa ke sini sekalian bawa baju ganti,” sahut Danang seraya terus menyuapi.


“Sayang puasaku batal hari ini.” Ocehnya yang malah membuat laki-laki itu menaikkan alisnya sebelah.


“Mau cepet sembuh apa mau terus di sini?” Danang memprotes.


“Iya ... mau cepet sembuh.”


“Kalau begitu makan. Habis ini minum obat.”


“Ya ... I wouldn’t say no.” cibirnya.


Danang menatapnya serius, lalu mencubit hidungnya. “Kebiasaan," kesal laki-laki itu.


Tak berselang lama Aksa datang bersamaan dengan pak Rahmat--Produser Eksekutif-- atasannya di tempatnya bekerja.


Aksa dan Danang duduk di sofa. Sementara pak Rahmat duduk di kursi samping ranjangnya.


“Jadi lebaran gak, Rei?” kelakar Pak Rahmat.


Ia tersenyum, “Jadi, Pak. Tapi belum beli baju baru,” sahutnya menimpali dengan selorohan.


“Tadi Aldi, Budi dan Oka udah ke sini. Sorry saya rada telat. Ada rapat bahas program baru,” tukas Rahmat. “Dan semua sudah setuju kamu jadi news anchor-nya.”


Ia hanya tersenyum masam mendengarnya.


“Jangan karena—” tukas Kirei.


“Gak ... kamu punya kapabilitas itu. Kamu juga populer. Itu sudah keputusan final.” tandas Rahmat. “So, you wouldn’t say no (jadi, kamu tidak bisa menolak).”


Keesokan harinya teman-teman sekaligus rekan kerjanya datang menjenguknya silih berganti. Ada Anisa, Devi, Deni dan Agung campers berambut gondrong. Tak ketinggalan Gita Sujiwa makeup artist.


Bertepatan itu pula bunda dan Ken juga datang.


“Mas Danang pulang saja dulu. Biar Bunda yang di sini,” ucap bunda seraya mengenyakkan tubuhnya di sofa di hadapan Danang.


“Sebentar lagi, Nda. Soalnya teman-teman kantor mau datang ke sini,” sahut Danang.


Benar saja, tak berselang lama. Ada Pak Kapolda beserta istri. Pak Banuaji beserta istri. Dan tentunya teman-teman kantor yang sengaja mampir langsung dari kantor usai jam kerja.

__ADS_1


Tepat dihari keempat Kirei sudah diperbolehkan pulang. Hasil rontgen tidak ada yang serius. Semua baik. Hanya tinggal memulihkan luka robek di dahi dan lebam-lebam di sekujur tubuh.


“Bunda pulang besok, ya, Rei,” ucap bunda ketika sedang membuatkan teh madu untuknya. Malam ini ia dan bunda mengobrol ditemani televisi. Sementara Danang belum pulang dari kerja.


“Kak Ken, kan bukan anak kecil lagi, Nda. Biar aja digenepin seminggu di sini. Lagian Bunda kayak gak sayang sama aku,” cebiknya saat sang bunda sudah duduk di sofa sebelahnya.


Lalu mengangsurkan gelas berisi teh madu hangat.


“Makasih, Nda,” imbuhnya, saat menerima gelas tersebut.


“Huss ... siapa bilang Bunda gak sayang kamu? Kamu sama Ken sama-sama anak Bunda. Jadi ya, sama aja sayangnya.” Bunda menyanggah.


Justru ia terkekeh, “Dua hari lagi, ya. Please ....” sirat air mukanya penuh permohonan seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu.


“Bunda tuh mikirin toko. Kakakmu sibuk kerja. Mana sempet mikirin toko.” Bunda berkilah.


“Kan ada Mbak  Tin yang ngurus toko. Ada Numi yang ngurus Kak Ken.” Ia pun berkilah agar bunda tetap menunda kepulangannya.


“Tini kewalahan ... apa lagi mau lebaran gini. Banyak pesanan," balas bunda.


“Yaudah deh ... besok aja kalo gitu.” Bibirnya sudah mengerucut. Sebab permintaannya tak terpenuhi.


“Oya, Rei sudah ada tanda-tanda belum?” tanya bunda yang sedang menyesap teh madunya.


“Tanda-tanda apa, Nda?” jawabnya polos.


“Kamu tuh ... masa gitu aja gak paham?”


“Ish ... Bunda yang gak jelas. Nanya apa coba?” Ia mengunyah kue pukis yang masih hangat-hangat kuku.


“Tanda-tanda kamu hamil. Lagian jadwal menstruasimu, kan suka gak teratur. Masih suka sakit kalau mens pertama gak?” tanya bunda seraya menatapnya.


Ia mendadak beringsut dari duduknya. Lalu menggeleng. Awal bulan puasa kemarin ia masih mendapat jatah datang bulan. Itu artinya tidak hamil bukan? "Belum," jawabnya. “Kalau mens pertama sih masih suka sakit, Nda,” sambungnya.


“Berarti belum dikasih kepercayaan. Tapi kalau sudah terlambat lebih baik kamu cepat periksa.” Bunda mengingatkan. “Jangan sampai kayak Bunda dulu. Terlambat tahu, kecapen, akhirnya keguguran.”


“Waktu hamil siapa, Nda?” tanyanya. Sebab bunda belum pernah cerita soal ini.


“Sebelum Ken. Bunda pernah hamil. Tapi belum rezeki mungkin. Umur 6 minggu harus dikuret. Alhamdulillah setelah 4 bulan kemudian, Bunda dikasih kepercayaan lagi.”


“Jadilah ... Kenichi itu, Nda?” selorohnya sambil mengunyah kue pukis yang ketiga.


-


-


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2