
...13. News Presenter?...
Kirei
Hujan mengguyur bumi Semarang sejak tadi pagi. Setelah terjebak di pulau Karimun Jawa selama tiga hari akhirnya ia bisa duduk di meja kubikelnya.
Sempat berdebat soal kepulangan dengan Aldi sang atasan yang menyebalkan, lalu harus mendapat kabar tak mengenakan anak Mas Budi harus masuk Rumah Sakit.
“Al, gue harus pulang sekarang. Anak gue masuk RS, Al. Gak mungkin gue masih tetap di sini sementara istri dan anak gue ....“ Kesabaran Budi sudah di titik puncak.
“Iya, gue tau. Tapi keselamatan lo dan kita semua juga tetap prioritas!” Tandas Aldi tak kalah emosional.
BUGH!
Mas Budi meninju kasur dengan tangannya yang mengepal erat, rahangnya mengeras menahan segala emosi yang menguasai dirinya. Lalu bangkit dan keluar begitu saja dengan langkah lebar meninggalkannya dan Aldi yang berdiri mematung di kamar Budi.
“Mas ....” Katanya lirih. Ia memahami posisi Mas Budi. Tapi juga paham kondisi cuaca yang sedang tak bersahabat pada mereka sekarang ini.
Dengan cepat tangan Aldi terangkat di udara, “Kamu, kalo juga mau ikutan pulang?! Pulang sana! Jangan salahkan gue atas keselamatan kalian!” Gertak Aldi dengan cepat dan vokal tinggi, lalu bergegas meninggalkannya sendirian.
Ia meraup wajahnya. Tegang sekaligus sulit ia jelaskan. Kakinya melangkah menuju kamarnya yang tepat berada di depan kamar Mas Budi. Merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sudah dua malam tiga hari ini setia menemani.
Di saat otak dan hatinya yang sedang kacau, memikirkan Mas Budi lalu maksud tindakan Aldi yang ia sadari bertujuan baik bagi mereka. Gadis itu meraih ponselnya, menggugah status kondisinya yang terdampar dengan background foto pantai di whatsapp.
Meski balasan komentar banyak yang masuk menanggapi statusnya, tapi tak satu pun dibalasnya. Ia hanya butuh solusi untuk Mas Budi.
Kekacauan hati dan pikirannya akhirnya mengantarkan ke alam mimpi. Entah sudah berapa menit bahkan jam ia bermimpi, mendengar suara pesawat heli berputar-putar di atasnya. Semakin jelas semakin mengeluarkan suara yang memekakkan indra pendengarannya.
Lalu lambat laun suara itu menjauh dan semakin mereda di ganti dengan suara ketukan pintu yang semakin lama semakin memburu.
Tok ... tok ... tok
Dug ... dug ... dug
“Kirei ....”
Kepalanya masih terus berputar-putar, berat dan mendadak pusing.
“Rei!” panggilnya semakin jelas dan keras.
Dengan memegangi kepalanya yang terasa berat, ia bangkit dan menyeret langkah kakinya menuju pintu dan saat pintu terbuka, “Rei, kita pulang sekarang!” Tandas Mas Budi berucap dengan semangat.
“Hah?! Pulang?” Sahutnya dengan nada kebingungan antara seperti bermimpi dan kenyataan yang mustahil, sebab tak mungkin pulang dengan cuaca yang masih berubah-ubah.
Bagaimana bisa pulang? Dengan apa? Batinnya bertanya-tanya.
“Iya, pulang. Ada heli Ditpolair (Direktorat polisi air dan udara) polda sedang melakukan patroli di sini. Kita bisa menumpang pulang ke Semarang,” sambung Budi dengan senang.
Ia mengulas senyum, serta menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
“Iya, Mas.”
“Cepetan kita pulang sekarang!” tukas Budi lalu bergegas meninggalkannya, namun sepersekian detik Mas Budi berhenti dan berbalik badan, “aku tunggu di lobi!”
Entah keberuntungan sedang ada di pihaknya sekarang atau apa? Dengan heli Ditpolair polda akhirnya ia bisa pulang dengan selamat kemarin.
Anak Mas Budi terselamatkan berkat transfusi darahnya untuk sang anak tercinta tepat waktu. Sebab stok darah di RS dan PMI sedang kosong. Dan ia bisa melanjutkan laporan kerjanya. Senyumnya mengembang sempurna. Sepertinya ini keberuntungan dari buah kebaikan yang ia tanam atau ....?
“Hei, senyum sendirian! Udah gila, lo ya? Terdampar di sana tiga hari," ketus Anisa menghampirinya dengan menggeser kursi roda di sebelahnya.
“Mau tau aja!” Cibirnya dengan mengerlingkan mata membalasnya.
“Widih ... petualangan lo kali ini nampaknya perlu diabadikan atau kita masukin aja ke program entertain. Kan program menghibur!” Salak Anisa dengan terkekeh mengejek.
__ADS_1
“Betul, Rei. Bentar lagi kamu pasti diwawancarai sama anak entertain untuk mengulik selama liburan di pulau. Atau aku yang wawancara soal penyelamatan jurnalis yang terdampar?” Oka ikut bersuara dan menghampirinya berdiri di depan kubikel.
“Sialan, kalian!” gerutunya.
Akhirnya tawa meledak dari mulut Anisa dan Oka, “Ha ha ha ....”
Tapi tawa mereka seketika mereda saat Aldi datang dengan tergesa.
“Rei, ke ruanganku sebentar!” seru Aldi kemudian bergegas masuk kembali ke dalam ruangannya.
“Ada apa?” Tanya Anisa dengan mulut yang bergerak tanpa bersuara sedikit pun.
Ia mengedikkan bahunya santai, lalu kedua tangannya menggantung di udara.
Ia masuk dalam ruangan Aldi tanpa mengetuk sebelumnya sebab pintu memang sudah terbuka lebar.
Berdiri tepat di depan meja kerja Aldi. Laki-laki itu menyodorkan sebuah berkas padanya.
“News presenter kita di breaking news tiba-tiba tidak bisa hadir. Satu jam lagi kita harus tayang live. Tolong pelajari ini, sementara kamu gantikan dia!” tandas Aldi tanpa basa basi.
WHAT! Pekiknya dalam hati.
Gadis itu menelan ludah dengan susah payah. Mendadak tenggorokannya tercekat.
“Tenang saja, kamu masih punya waktu satu jam ke depan. Kamu bisa pelajari dulu rundown itu,” tunjuk Aldi pada berkas yang sudah di meja tepat di depannya.
What the hell! (apa-apaan ini!) Satu jam? Matanya terkesiap.
Tangannya terulur perlahan, namun lidahnya seakan kelu untuk sekedar berucap, “A-aku belum ....“
“Tenang saja, ada telepromter yang akan memudahkan kamu dalam membawakan dan membacakan materi berita. Lagian di situ semua tertulis rundown materi berita. Kamu bisa pelajari sekarang!” tukas Aldi dengan lugas tanpa melihatnya dengan raut wajah yang....
“Kalau sudah mengerti dan paham, silakan keluar! Gunakan waktu sebaik mungkin."
Mimpi apa lagi semalam dirinya? Ia masih bergeming dengan memegang berkas yang ada di genggamannya.
“Tunggu apa lagi?” Ketus Aldi dengan menatapnya datar. Sepersekian detik mata mereka bertumbukan. Tapi dengan cepat ia mengalihkan pandangan.
Tanpa menjawab apa pun, ia keluar dari ruangan korlip.
Menyebalkan, memang makhluk menyebalkan. Dia pikir dia siapa? Baik karena kemarin ada maunya. Sekarang main perintah seenaknya sendiri. Kalau bisa dia ingin mengulek laki-laki itu dijadikan sambal bawang kesukaannya. Umpatnya dalam hati.
Sepuluh menit ia hanya memandangi berkas rundown materi berita, pikirannya entah melalang buana ke mana? Tapi tiba-tiba ada desiran yang merasuk dalam kalbunya. Saat wajah sang ayah melintas.
“Kirei bisa seperti Ayah," gumamnya.
“Kirei harus rajin belajar. Jangan pernah menyerah dalam menghadapi ujian dan cobaan. Ayah yakin, anak Ayah pasti bisa." Pesan Ayah saat ia menghadapi ujian kenaikan kelas enam masih terus tersimpan rapi dalam memorinya.
Tak menunggu lama, ia pun mulai membaca dan mempelajari rundown materi berita yang akan tayang. Slide pertama perihal informasi BMKG cuaca ekstrem yang melanda utara pulau Jawa. Lalu slide kedua liputan tentang meninggalnya Kombes Pol Sigit Prabowo selaku Direktur reserse kriminal khusus polda Jawa Tengah.
Dahinya berkerut.
***
Danang
Kesibukannya kian mendera, semenjak atasannya di Ditreskrimsus masuk rumah sakit beberapa hari lalu. Semua tanggung jawab Direktur sementara ia pegang kendali sesuai surat penunjukan olah kapolda.
Dan kabar meninggalnya beliau hari ini tentu merupakan kabar duka bagi jajaran Ditreskrimsus serta seluruh staf polda yang mengenalnya. Terutama baginya. Ia mengenal Pak Sigit sudah lama, sejak berteman dengan sang papa, mungkin. Sewaktu ia masih sekolah di Akpol seingatnya. Bahkan kedekatan mereka semakin intensif saat ia menjabat wakil direktur reserse kriminal khusus selama dua tahun belakangan ini mendampinginya.
Dengan gerakan cepat ia memberitahukan kabar duka itu pada papa dan mama. Mereka langsung mencari tiket pesawat terbang ke Semarang demi memberikan penghormatan terakhir pada almarhum.
Sebagai perwakilan dari jajaran direktorat yang dipimpin beliau semasa masih hidup, ia memberikan sepatah dua patah kata ucapan bela sungkawa sekaligus memberitahukan pada seluruh kerabat, sahabat, rekan dan orang yang mengenal sosok beliau pada saat jenazahnya tiba di kediamannya.
__ADS_1
***
Kirei
Tangannya mendadak panas dingin dan sedikit gemetaran. Degup jantungnya berirama tak beraturan meski berkali-kali ia melakukan latihan pernapasan demi mendapatkan suasana yang nyaman.
Jelas ini pengalaman pertama kali ia menjadi news presenter sebuah berita di studio. Meski meliput berita sebagai jurnalis di lapangan menjadi makanan sehari-hari. Tetap saja membuatnya gugup dan gemetaran.
Mengenakan blouse merah marun dan rok span berwarna hitam di bawah lutut. Wajahnya sudah dirias begitu pula rambutnya yang sudah rapi diblow.
Beberapa kali ia mendengar dan memperhatikan instruksi dari produser.
“Camera action ...!” seru kameramen.
“Selamat siang Pemirsa.”
“Kembali bersama kami di breaking news TVS bersama saya Kirei Fitriya.”
“Baru-baru ini Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pada masyarakat di sejumlah wilayah agar mewaspadai potensi gelombang tinggi dan banjir pesisir atau rob,”
“Berikut pernyataan Deputi bidang Meteorologi BMKG Guswanto yang mengatakan, gelombang tinggi dan banjir pesisir berpeluang terjadi di perairan utara pulau Jawa mulai hari ini hingga dua hari ke depan.”
“Angin dengan kecepatan cukup tinggi yang berhembus konsisten di laut Jawa mengakibatkan tinggi gelombang dapat mencapai 2,5 sampai 4 meter. Bersamaan itu adanya aktivitas bulan purnama juga berpengaruh terhadap kondisi pasang air laut maksimum. Untuk itu masyarakat dihimbau untuk selalu waspada dan siaga untuk mengantisipasi dampak dari banjir pesisir ini. Terutama pada sektor perikanan tangkap, transportasi, petani garam dan perikanan darat, serta bongkar muat kapal di pelabuhan. Terlebih bagi masyarakat yang tinggal dekat perairan seperti Kota Semarang."
“Berikut daerah utara pulau Jawa yang perlu di waspadai; Kabupaten Brebes, Kabupaten Pekalongan, Kota Semarang dan Kabupaten Demak ....”
“Cut!”
Berita pertama telah mendapat applause dari produser news dan crew di sana, lalu di lanjut pada berita kedua.
“Kabar duka bagi korps kepolisian daerah Polda Jawa Tengah. Telah meninggal dunia putra terbaik yang dimiliki oleh polda Jawa Tengah Kombes Pol Sigit Prabowo yang menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Khusus polda Jawa Tengah."
“Berikut pernyataan Ajun Komisaris Besar Polisi Danang Barata Jaya selaku wakil direktur reserse kriminal khusus polda terkait kabar meninggalnya beliau ....”
“Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Dengan mengucapkan innalillahi wainnaillaihi roji’un. Telah berpulang ke rahmatullah, saudara, sahabat, rekan, atasan kita Bapak Kombes Pol Sigit Prabowo pada hari ini, Jumat pukul 10 pagi di RS. Siloam. Semoga almarhum husnul khotimah diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keikhlasan sebesar-besarnya. Kami korps polda Jawa Tengah khususnya Ditreskrimsus merasa kehilangan dan berduka sedalam-dalamnya. Sebagai informasi almarhum akan di semayamkan di TPU Karangjati, Tembalang pukul lima sore. Terima kasih atas perhatiannya. Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh”
-
-
Catatan :
News presenter adalah orang yang bertugas membawakan sebuah berita, namun ia tidak terlibat dalam proses peliputan dan penentuan sebuah berita. Sementara news anchor adalah orang bertugas membawakan berita tapi dalam acara tersebut ia berimprovisasi dengan memberikan komentar, terkadang ia juga live interview, dan juga ikut merumuskan script naskah.
Teleprompter adalah alat bantu baca khususnya seseorang yang ingin berbicara di depan umum.
Sumber: wikipedia.
Terima kasih yang sudah mampir dan membaca serta memberikan dukungan...ya! 🙏
__ADS_1