Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
65. Adventure: Rush


__ADS_3

...65. Adventure: Rush...


Kirei


Badai telah berlalu. Kapal bersandar di pelabuhan Makassar pukul 3 dini hari. Terlambat 2 jam dari jadwal semestinya akibat badai yang menerjang.


Ia, Ken, Maega dan Talima bahkan kurang tidur. Mereka akhirnya memutuskan berkumpul di klinik hingga badai usai. Dan kapal bersandar aman.


Kini tiba saatnya ia harus berpisah dengan Talima dan si mungil Sea. Bayi yang sudah bertambah bobot badannya itu terselimuti kain tebal.


Mereka mengantarkan Talima dan bayinya hingga di ujung Dermaga.


“Hati-hati, Ma. Salam buat keluarga ....” Begitu pesan terakhirnya buat Talima.


Mereka melambaikan tangan seiring tubuh Talima yang semakin menjauh. Di pintu tunggu kedatangan penumpang suami Talima dan keluarganya telah menunggu.


Ia, Ken dan Maega bergegas kembali masuk ke dalam kapal. Bongkar muat penumpang di Pelabuhan Makassar semakin ramai. Sepertinya lebih banyak orang yang turun dan naik dari pelabuhan sini.


Sebelum ia masuk ke dalam lift, ia sempat melihat seseorang yang sangat mirip ....


Ah, ya halusinasi.


Tidak mungkin bukan?


Ia membuang jauh-jauh khayalan itu. Waktu sudah hampir pagi. Kurangnya tidur dan lelah mungkin membuatnya berhalusinasi.


Pagi ini ia ingin beristirahat dengan tenang.


Tiba di kamarnya ia langsung merebahkan tubuhnya. Mencari posisi nyaman. Rasa kantuk yang mendera membawanya cepat menuju alam mimpi.


Pipinya yang terasa dingin. Bahkan tubuhnya seketika merasa kedinginan. Ia meraih guling. Mendekap dan memeluknya erat.


***


Matahari sudah sepenggalah. Cahayanya merasuk masuk melalui celah kaca jendela. Ia menggeliat, mencari guling yang ia peluk.


“Guling,” gumamnya.


Sontak ia membuka matanya.


Mana ada fasilitas guling di kamarnya. Ia mengusap wajahnya. Mencoba mengingat-ingat. Tapi, ia merasa memeluk guling. Hangat dan wanginya bahkan tertinggal di sepreinya.


Wangi maskulin woody yang .... Ia menggelengkan kepalanya kuat. Tidak mungkin.


Lekas membersihkan diri adalah cara terbaik membuang segala khayalan.


Ponselnya berdering ketika ia telah selesai mandi. Rambut basahnya masih bergelung dalam handuk. Ia juga masih mengenakan bathrobe.


“Ya, Kak ....”


“Aku tunggu di restoran,” ucap Ken lalu mematikan sambungan telepon.


Tanpa mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, ia keluar kamar dengan rambut setengah basah. Mengenakan celana kain 7/8. Kaos polos berwarna putih ia menuju restoran.


Di sana Ken dan Maega telah menunggunya.


Rupanya mendekatkan mereka tidak sesulit yang dibayangkan. Setelah tragedi sakit perut yang ‘disengaja’. Mereka seperti menemukan jalan tersendiri untuk saling dekat.


Ia membawa sepiring nasi goreng, lalu duduk tepat di depan Maega, sebelah Ken.


“Ada live performance di kafe nanti malam,” ucap Maega.


“Oya,” alisnya terangkat sebelah.


“Jarang-jarang sih. Biasa kapal jarak jauh menyuguhkan hiburan seperti itu. Aku dulu pernah naik kapal dari Makassar ke Labuhan Bajo. Pas kebetulan ada hiburan seperti itu.”


“Biasanya yang manggung gitu penyanyi dari timur sini,” imbuh Maega.


“Asyik juga, ya ....” Sahutnya.


Ia melirik Ken di sebelahnya. Nyatanya kakaknya begitu cuek. Tak menanggapi pembicaraan mereka.


Siang harinya ia sengaja mendatangi klinik. Melihat Maega yang tengah memeriksa pasien jantung yang sempat pingsan saat badai. Kondisinya semakin membaik.


Mereka justru memanfaatkan waktu luang dengan mengobrol. Hingga tak terasa waktu begitu cepat berlalu.


Menjelang sore, ia kembali keluar kamar. Menenteng kamera DLSR. Ia sengaja turun ke geladak utama. Di sana lebih ramai. Banyak obyek foto yang bisa diambil.


Lalu ia melangkah ke bagian buritan. Ternyata, keputusannya kurang tepat. Para penumpang banyak yang merokok di sana.


Ia yang tak tahan dengan asap rokok mulai terbatuk-batuk. Perlahan ia memegang railing, dan berjalan mundur. Namun justru, ada salah satu penumpang yang seperti sengaja mengembuskan asap rokok ke arahnya.


Wajahnya semakin memerah menahan batuk yang tak kunjung reda. Berusaha menjauh dari buritan sembari memegangi dadanya. Tangan kirinya menutup mulut yang terus menerus terbatuk semakin parah.


Ia semakin kesulitan untuk bernapas. Bahkan lehernya nyaris seperti tercekik.


Setengah sadar, tubuhnya terayun-ayun. Ia memejamkan matanya.


Ketika sadar ia sudah terbaring di ruang klinik kesehatan. Ada Maega dan Ken di sana yang duduk menungguinya.


“Syukurlah,” Ken berucap lega. Melihatnya telah membuka mata. Kekhawatiran mencemaskan kondisinya salah satu alasannya.


Ia perlahan melepas alat bantu oksigen yang terpasang di hidungnya.


“Udah baikkan?” Tanya Maega yang berpindah duduk di samping ranjangnya.


Ia tersenyum kecil, “Terima kasih.” Ucapnya masih lemah.


Maega ikut tersenyum.


“Kak,” panggilnya.

__ADS_1


Ken mendekat.


“Siapa yang nolongin aku?” Ia masih ingat, saat ia kesusahan bernapas ada seseorang yang menolongnya. Lalu membopongnya. Ia sengaja memejamkan mata sebab rasa mencekik yang tak bisa ditahannya lagi.


“Kenapa?”


“Aku ingin ngucapin makasih padanya.” Sahutnya.


“Nanti malam datanglah ke kafe. Orang itu menunggumu di sana.” Tandas Ken.


Merasa lebih baik, ia berniat untuk pergi ke kafe malam harinya. Berbekal informasi dari Ken. Orang itu menunggunya di sana.


Tiba di kafe, pelayan menyambutnya. Menjadi pelanggan tetap selama kapal ini berlayar tak ayal membuatnya dikenal.


“Ditunggu di sana, Mbak ....” Pelayan kafe tersenyum seraya menunjuk kursi bagian outdoor.  Yang biasa ia dan Ken duduki jika sedang menikmati senja.


“Makasih,” balasnya. Berlalu melangkahkan kaki. Mendorong pintu kaca yang menjadi batas ruangan.


Menatap punggung laki-laki yang berdiri membelakanginya. Laki-laki dengan perawakan tinggi, tegap, dan punggung itu ....


DEG.


Dadanya bertabuh cepat. Seketika langkahnya terhenti. Jarak mereka yang hanya 3 meter tak mampu membuat nyalinya untuk memanggil, menyapa atau lebih mendekat.


Sungguh ia tak punya nyali untuk itu.


Rasanya, justru ia ingin berlari dari sana sekarang. Tapi, semesta tak mengizinkannya. Kakinya seolah terpaku kuat. Tubuhnya membeku. Lidahnya kelu dan tercekat.


Laki-laki itu berbalik badan saat mengetahui keberadaannya.


Mata mereka bertumbukan sejenak. Lalu dengan cepat ia menunduk. Menatap lantai kayu.


Hingga laki-laki itu mendekatinya. Lalu merengkuhnya dalam dekapannya.


“I wish you were here ....”


Kata-kata yang begitu terngiang di telinganya. Pun, ia juga merasakannya yang sama.


“Masih butuh berapa lama lagi waktu untuk menyembuhkan lukamu?”


Matanya memanas.


“Tidak adakah rindu sedikit saja buatku?” Laki-laki itu mengecup puncak kepalanya, mendekapnya erat.


Ia bergeming. Bahkan kedua tangannya masih tak bergerak. Tapi tanpa disadarinya air mata yang tergenang sejak tadi menerobos tanpa kendali.


Ia terisak. Bahunya bergetar.


Danang yang merasakan itu, lalu mengurai pelukannya.


“Hei, aku kesini bukan untuk membuatmu menangis.” Danang mengusap lembut pipinya yang basah dengan kedua ibu jarinya.


“Kamu boleh marah, boleh memaki, boleh memukul bagian mana saja, tapi jangan menyiksa aku dengan rindu ini.”


Ia menggeleng. Mencengkeram kuat ujung kaos laki-laki itu.


“Ma ... maaf,” kata itu keluar dengan susah payah dari bibirnya.


Rasanya ia yang tak pantas untuk laki-laki ini. Sudah banyak luka yang ia torehkan padanya. Semua akibat keegoisannya.


“Aku sudah memaafkan sebelum kamu minta maaf,”


Ia mendongak, kali ini mereka saling menatap lama. Ingin rasanya mencurahkan rindu yang begitu membuncah. Laki-laki ini, ya ... laki-laki yang menggetarkan jiwanya. Menyirami hatinya sehingga tumbuh bunga-bunga cinta di sana. Cinta. Rindu. Yang beradu dalam kepingan waktu.


Danang tersenyum padanya.


“I’m counting the days until I see you again ... here (aku menghitung hari sampai kita ketemu lagi ... di sini)”


Biasa sa cinta satu sa pinta


Jang terlalu mengekang rasa


Karna kalau sa su bilang


Sa trakan berpindah karna su sayang


Jangan kau berulah sa trakan mendua


Cukup jaga hati biar tambah cinta


Karna kalau sa su bilang


Sa trakan berpindah karna su sayang


Dan ini semua tentang hati


Jadi coba pikir kembali


Janji tra mungkin sa ingkari


Karna alasan tra kabari


Kasih ko begitu curiga


Berubah kini ko berbeda


Ikat sa kuat atas nama cinta


Sa tra suka paksa itu masalahnya


Biarkan cinta tumbuh sebisanya

__ADS_1


Cinta dan resah itu pelengkapnya


Jang hanya datang dan tinggalkan lara


Sa tetap cinta walo tra bersuara


-Dian Sarowea-Karna Su Sayang-


**


Danang


Ia mendorong pintu kamar Kirei dengan kaki kanannya sehingga tertutup rapat, lalu tangan kanannya menguncinya perlahan. Masih terdengar bunyi 'klek'. Sementara tangan kiri merengkuh pinggang gadis itu.


Bibir mereka saling bertaut, saling mengecap, menyalurkan segenap kerinduan yang menyesak dan melesak selama ini.


Dengan napas memburu. Tak ada yang berbicara. Seolah gerakan merekalah yang mewakili perasaan keduanya. Kerinduan yang begitu dalam rasanya sebanding dengan apa yang mereka lakukan saat ini.


Ia ingin menunjukkan pada gadis itu, bahwa ia begitu merindu. Menginginkannya. Saat ini juga.


Tangannya mulai meraba, meremas bagian-bagian sensitif gadis itu. Sementara Kirei mengalungkan lengannya pada lehernya.


Ia mendorong gadis itu hingga menempel pada dinding kamar. Menyergapnya terburu-buru dengan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahnya. Tak memberi kesempatan untuk Kirei membuka matanya.


Ciuman itu turun ke leher, membuat gadis itu mendesah dan menggeram.


Ia tersenyum miring, lalu tanpa aba menarik pinggang Kirei. Membawanya menuju ranjang. Bibir mereka masih saling menyelam, menyalurkan segala rasa yang terpendam.


Tiba di ranjang, ia duduk memangku gadis itu. Menyibak dress panjang yang dikenakannya. Mengusap lembut paha mulusnya. Dengan bibir yang tanpa jeda meninggalkan jejak kepemilikan di leher gadis itu.


Dengan kekuatan cepat dan tanggap, kancing dress terlepas satu persatu. Hingga pakaian itu tanggal seluruhnya menyisakan dua potongan yang menutupi area sensitifnya.


Ia menciumi belahan dada yang teramat dirindukannya. Kirei terpejam seraya menegang. Tangan gadis itu mencengkeram rambutnya. Sementara tangannya sibuk mengusap punggung Kirei hingga tengkuknya. Membuat gadis itu menggeram.


Senyumnya makin sempurna, manakala ia berucap, “Bolehkah ....?”


Gadis itu tersipu dan malu. Lalu mengangguk perlahan.


Kecepatan dan ketepatan sasaran sejurus apa yang diterapkan selama ini. Ia ingin melakukannya dengan Kirei yang juga menginginkannya. Sama-sama membutuhkan. Pelampiasan kerinduan.


Ia merebahkan tubuh Kirei di atas kasur secara perlahan.


Bertumpu dengan kedua lutut, mengungkung gadis itu. Ia kembali menyusuri seluruh wajahnya tanpa terkecuali dengan kecupan-kecupan, lalu bergerak menuruni leher. Semua perlakuan sesuai naluri. Gerak cepat, lembut dan impulsif.


Mata Kirei terpejam. Dengan dada yang berdegub kecang.


Lalu ia turun pada perut rata yang sempat calon anaknya bertumbuh di sana. Mengecup penuh kelembutan, seraya berdoa dalam hati semoga secepatnya mendapat ganti.


Tangannya yang sedari tadi bermain di bawah sana, kini berhenti. Melepas segitiga paling berharga. Berganti dengan lidahnya bemanja-manja di sana. Gadis itu memekik dan menggigit bibir bawahnya.


“I’ll do it ....” Bisiknya tepat di telinga gadis itu. Kirei menatapnya, mungkin berpikir sejak kapan ia berada di atas istrinya. Siap meleburkan hasrat dan kerinduan yang memuncak.


Kirei mengangguk, dengan mata sayu.


Ia tersenyum. Mencium kening istrinya. Bersamaan dengan memadukan dan melesakkan penyatuan keduanya. Gadis itu mencengkeram kuat seprei. Sementara ia mengayun, mendayung kapalnya untuk berlabuh sesuai keinginannya. Semakin lama, semakin ritmenya dipercepat.


Gadis itu telah menggapai puncak, sementara ia masih ingin menikmati ritme yang diciptakannya sendiri. Terus berpacu dengan waktu, hingga bertepatan suling kapal yang melolong sekali pertanda kapal akan bersandar di Pelabuhan Labuhan Bajo. Begitu juga dengan dirinya yang telah melabuhkan benih pada tambatan terakhirnya. Calon ibu untuk anak-anaknya.


“I love  you,” ia mencium kening istrinya. Mengusap peluh di dahi dan pelipisnya. Lalu menggulingkan tubuhnya di sisi Kirei. Merengkuh tubuh gadis itu, dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


-


-


Terima kasih yang sudah berkenan mampir, membaca dan memberikan dukungannya, like, comment, vote, poin dan koin-nya ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2