
...56. He’s Gone Forever...
Papa Bagas
Malam ini hujan turun begitu derasnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.10 WIB. Hari sudah berganti.
Tapi entah mengapa, ia tidak bisa tidur. Kata-kata Demas terngiang di pikirannya. Kalau boleh jujur semua yang diucapkan sahabatnya itu benar. Tapi kembali lagi, ia maupun Imam terikat. Tidak bebas bertindak semaunya. Semua harus terkoordinasi dan terafiliasi.
Detak jarum jam terus bergerak bahkan seolah mengikuti alunan degup jantungnya. Ia bisa merasakan itu. Karena ruang kerjanya yang kedap suara.
Tiba-tiba ia dikagetkan suara ponselnya yang berbunyi nyaring membuatnya menjengit dari posisinya yang bersandar di meja kerjanya.
Dengan gerakan cepat ia menyambar ponsel yang tergeletak di atas meja kerja. Keningnya mengerut, saat membaca nama orang yang meneleponnya.
“Selamat malam, Komandan!” Sapa dari seberang.
“Ya ... malam.”
“Lapor ... malam ini telah terjadi perampokan dan penganiayaan atas nama Demas warta ....”
“Tunggu!” Potongnya cepat.
“Siapa?” Tanyanya ulang. Ia ingin menelinga dengan benar dan baik. Agar tidak salah.
“Korban bernama Demas Prasetyo. Wartawan Retro.” Tukas suara dari seberang dengan lugas.
Lengang sesaat.
Ia langsung menghubungi ajudannya begitu telepon dari anggotanya yang menjabat Kapolres itu berakhir.
“Antarkan saya ke ....” Ia menyebutkan daerah di ujung timur Pulau Jawa. Tempat di mana Demas sedang membutuhkannya malam ini.
Memakan perjalanan sekitar 6 jam lebih. Barulah ia tiba di rumah sakit yang menangani Demas tepat saat matahari sudah sepenggalah.
“Bagaimana?” Serbunya dengan napas setengah memburu setelah tiba di ruang ICU.
“Korban terluka parah di bagian kepala sebab dipukul benda tumpul dan luka tusuk di perut.” Lapor Kapolres.
“Pelaku telah diamankan.” Laporan lanjutnya.
Ia memejamkan mata sejenak. Mengeratkan gigi, sehingga rahangnya mengeras. Apa yang dikhawatirkan akhirnya terjadi juga.
Cukup lama ia dan beberapa anggota polisi lainnya menunggu di depan ruang ICU.
Hingga pintu terbuka, menampilkan sosok dokter dan suster yang keluar dari balik pintu. Dengan sigap ia menghampiri mereka.
“Bagaimana, Dok?” Tanyanya.
“Untuk pendarahan di perut sudah bisa dihentikan, bersyukur tidak melukai organ dalam. Tapi ... maaf ... pasien sebaiknya harus segera menjalani tindakan kraniektomi. Karena mengalami herniasi, pembengkakan otak.”
“Dan rumah sakit kami belum bisa untuk melakukan prosedur itu.” Terang dokter tersebut.
Ia mengusap wajahnya. Berpikir untuk mencari solusi cepat.
“Apakah pasien bisa dibawa ke Surabaya?” Tanyanya.
“Bisa, Pak. Asal tidak mengalami goncangan yang terlalu keras.”
“Dit ....”
“Siap, Pak!”
“Hubungi Dirpolair.”
“Pinjam heli ....” Ia memerintahkan pada ajudannya itu agar segera bertindak cepat.
Dan pagi itu, Demas langsung dipindahkan ke rumah sakit di Surabaya.
**
Bunda
Pagi ini ia sedang mengajar di Sekolah Luar Biasa. Setelah tadi pagi menunggu kabar suaminya yang tak kunjung menghubunginya.
Biasanya jika sedang liputan ke luar daerah. Tiap pagi pasti memberi kabar. Menyapa anak-anak dan dirinya sebelum beraktivitas. Tapi lain dengan pagi ini. Ia mencoba berprasangka baik. Mengenyahkan hal-hal buruk yang beberapa kali melintasi pikirannya.
Ia mengirim pesan singkat. Terkirim, namun belum ada balasan.
Tapi saat ia memulai akan mengajar di kelas, tiba-tiba ponsel yang sengaja disimpan di atas meja mengajarnya bergetar.
Dddrrrt ... dddrrrt
Ia mengernyit. Nomor asing.
Dddrrrt ... dddrrrt
Ponsel itu bergetar kembali.
Ia lalu meminta ijin pada murid-muridnya untuk keluar sebentar.
Di teras kelas ia menerima telepon tersebut.
“Ya, halo ....” Sahutnya.
“Nan ... ini Bagas.”
DEG
Alisnya mengerut. Suara itu? Ia tak percaya mendapat telepon dari ....
__ADS_1
Ia menatap layar ponsel berwarna biru itu. Memastikan kembali siapa yang meneleponnya. Lalu menempelkan lagi ponselnya ke telinga kanannya.
“Ya, Mas ....”
“Bisa ke RS ....” Bagas menyebut sebuah rumah sakit terbesar dan terlengkap di Surabaya.
“Demas masuk rumah sakit pagi tadi ...”
Sekonyong-konyong ia meninggalkan sekolah tanpa berpamitan dengan murid-murid yang menungguinya.
Ia melajukan motor dengan pikiran yang berkecamuk. Bahkan nyaris menabrak akibat tidak konsentrasi.
***
Papa Bagas
Ia sengaja menunggu Nani di bagian informasi. Dikarenakan membutuhkan persetujuannya untuk melakukan tindakan operasi secepatnya.
Dua puluh menit kemudian sosok Nani muncul dari balik pintu kaca.
“Bang Demas kenapa, Mas?” Todongnya begitu Nani mendekatinya.
“Maaf ... Nan. Aku ... aku,” lidahnya mendadak kelu. Ia menatap wanita itu. Jelas matanya penuh kecemasan.
“Demas menjadi korban perampokan.”
Sontak Nani terhuyung ke belakang. Ia berusaha untuk menggapainya namun wanita itu menolaknya dengan melambaikan tangannya.
Sementara tangan satunya memegangi dadanya. Bulir-bulir air matanya menetes. Sungguh ia tidak bisa berada di posisi seperti ini melihatnya. Ia tak tega.
“Demas harus segera mungkin dioperasi. Ada pembengkakan otak sebab terjadi pendarahan di dalam,” terangnya.
“Tolong kamu tanda tangan di sini,” ia mengangsurkan selembar kertas pada Nani.
Dengan tangan gemetar, Nani membubuhkan tanda tangan di bagian ujung kertas.
Operasi besar yang berjalan lama itu telah usai. Dokter menyatakan kondisi Demas masih kritis bahkan mengalami koma. Sehingga masih harus dipantau di ruang ICU.
Kini Nani didampingi oleh Anita istrinya.
**
Bunda
Suara bunyi peralatan di ruang ICU seperti monitor dan ventilator menjadi temannya 2 hari terakhir ini. Ia yang masih tak percaya kejadian yang menimpa suaminya masih sangat syok. Antara percaya dan tidak percaya.
Sementara ia melarang anak-anak untuk menjenguk ayahnya. Biarlah menunggu kondisi sang suami lebih baik. Harapannya begitu.
Entah sudah berapa tetes air mata yang jatuh mengiringi laki-laki yang sangat dicintainya itu. Tapi ia tak peduli. Yang ia inginkan adalah laki-laki yang masih terbaring itu cepat sadar dan kembali ke pelukan mereka.
Ia menggenggam tangan Demas. Menyalurkan kehangatan di sana. Berharap laki-laki itu merasakannya. Lalu mengajaknya berbicara,
“Masih ingat, Abang ada janji sama Kirei. Kita akan liburan bersama mereka, 'kan?!”
“Bahkan Kirei sudah menyiapkan semuanya, sepatu, baju ... dan juga mainan yang akan dibawanya. Semua sudah masuk koper.”
“Abang gak mau, 'kan, ngecewain anak-anak?”
Hening.
Suara monitor dan ventilator mendominasi.
Ia dalam kemasygulan.
Kemudian menyeka air mata yang lolos di sudut matanya.
“Bangun ... Bang. Temani Nani ... Abang janji kita akan terus sama-sama sampai tua. Sampai anak-anak besar dan punya kehidupan sendiri.”
"Abang jangan lupa janji itu."
Air matanya semakin deras berderai bak air bah.
“Nani gak akan sanggup ... gak Bang ... gak ... tanpa Abang ... Nani gak sanggup ....” Ia menggelengkan kepala sambil terisak hebat. Bahunya bergetar naik turun. Lalu menenggelamkan kepalanya di samping tubuh suaminya yang masih belum sadarkan diri. Cukup lama. Ia menumpahkan sesak di dada yang ia rasakan.
Kondisi di hari ketiga masih sama. Kali ini ia membiarkan Ken, anak pertamanya ikut menjenguk.
Ia sudah tidak bisa menutupi keadaan Demas di depan Ken. Bagaimana anak laki-lakinya tadi pagi memohon dan memaksanya. Untuk mengetahui kondisi ayahnya.
“Aku ikut, Nda ... pokoknya ikut!”
“Aku ingin lihat ayah ....” Dengan wajah memelas dan berharap keinginannya dikabulkan.
Tapi ternyata inilah kesempatan terakhir Ken dan dirinya melihat orang yang dicintai.
Tepat di hari ketiga sang suami tercinta mengembuskan napas terakhirnya. Segala upaya dokter telah dilakukan. Tapi takdir berkata lain.
Air mata yang 2 hari terakhir tumpah tak terbendung kini justru mengering. Matanya menatap nanar jasad sang suami yang sudah tidur untuk selamanya. Bibirnya mengatup, meski hatinya tak rela dan berteriak atas takdir yang begitu tega merenggutnya.
He’s gone forever.
Tak ada lagi tawanya. Senyumnya. Candanya. Rayuannya. Bahkan perlakuan hangatnya yang selalu mampu membuatnya jatuh cinta berkali-kali padanya. Sosok itu telah pergi bersamaan dengan raganya. Selama-lamanya. Tak ada lagi.
Semua tinggal kenangan. Abadi terpatri di sanubari.
***
Papa Bagas
Ia ikut mengatur jalannya prosesi pemakaman sahabatnya untuk terakhir kali. Perasaan bersalah, kehilangan bahkan penyesalan menyelimutinya.
__ADS_1
Ia bisa melihat anak-anak Demas yang sangat kehilangan ayahnya. Anak laki-lakinya itu terlihat seperti kehilangan arah. Linglung. Terbengong. Sementara anak perempuannya menjerit histeris selama pemakaman. Bahkan pingsan saat jasad sang ayah masuk ke dalam liang lahad.
Sungguh ia tidak bisa melihat pemandangan seperti ini. Hatinya terkoyak, tercabik-cabik dengan perjuangan Demas dititik penghabisan hidupnya.
Banyak yang menghadiri dan memberikan penghormatan terakhir untuk Demas. Tak terhitung jumlahnya. Itu membuktikan sosok Demas ada di hati mereka. Sosok Demas dicintai banyak orang.
Bahkan kaum terpinggirkan yang Demas suarakan selama ini ikut berbondong-bondong mengikuti seluruh tahapan prosesi. Semua terlihat sedih dan kehilangan.
Kamu beruntung, Dem. Orang-orang begitu menyayangimu seperti kamu menyayangi mereka.
“Pa ....” Panggil mama yang berdiri di sebelahnya.
Seketika pikirannya yang mengembara kembali pulang. Saat tangan istrinya mengusap-usap lengannya.
Ia menoleh pada Anita.
“Ditunggu Didit,” Anita memberikan isyarat melalui matanya.
Sore harinya ia kembali ke kantor.
“Bagaimana?” Tanyanya saat tiba di ruangan kerjanya.
“Lapor, Komandan.”
“TSK mengaku terdesak mencuri dengan alasan ekonomi. Lalu karena penghuni rumah menangkap basah, pencuri itu beralibi mempertahankan diri."
Ia mengerutkan keningnya mendapat laporan dari ajudannya.
“Tapi ... anehnya tak ada satu pun benda berharga yang dibawa kabur setelah TSK berhasil melumpuhkan korban.”
Ia semakin mengerutkan kening. Aneh bukan?
“Ponsel, laptop, peralatan liputan, bahkan barang-barang lainnya tidak ada yang bergeser posisinya. Semua masih rapi berada dalam tempatnya.”
Lalu ponselnya berdering nyaring.
“Gas ... Demas?”
“Ya, Mas ....”
“Innalillahi wainnailahi roji’un ....”
“Sorry, Gas ... aku belum bisa pulang. Kemungkinan besok. Sampaikan salam untuk keluarganya,” ucap Imam yang tengah rapat terbatas dengan RI-1.
Setelah sambungan telepon terputus, ia berucap, “Dit, apa ada kemungkinan orang lain yang terlibat?”
“Sejauh ini TSK mengaku bertindak sendiri, Pak. Tapi penyidik terus mendalaminya.”
Ia menghempaskan tubuhnya pada kursi kerjanya. Memijit pangkal hidungnya.
Malam harinya ia kembali datang ke rumah Nani untuk mengikuti pengajian mengirim doa tanpa istrinya. Karena istrinya juga sedang sakit akhir-akhir ini.
Anak laki-laki Demas masih terlihat syok duduk sendirian dengan pandangan kosong. Lalu, anak perempuannya. Menurut Nani sedang diinfus di kamar sebab seharian mogok makan dan minum. Sehingga dehidrasi.
Ia kembali seperti terhempas. Melihat kenyataan kondisi mereka yang begitu terpuruk.
-
-
Catatan :
Kraniektomi : prosedur pembedahan yang dilakukan untuk membuka tengkorak untuk menghilangkan tekanan ketika otak mengalami pembengkakan yang disebabkan cedera otak traumatis seperti pukulan kuat pada kepala oleh suatu benda, pembekuan darah di arteri otak, stroke, penyumbatan arteri di otak, penumpukan cairan di otak (edema cerebral) dan, pengumpulan darah di otak.
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya .... 🙏
__ADS_1