
...101. Teka Teki...
Budi
Ia tengah membereskan peralatan liputan yang akan dibawanya. Kamera ENG, microphone dan pastinya membawa drone DJI Phantom keluaran terbaru.
Ia tak mau kecolongan lagi. Penjagaan yang begitu ketat di daerah proyek reklamasi mengharuskannya harus pandai-pandai bermain licik. Meski ia sudah mengantongi izin dari TVS dan Pemda setempat.
Nyatanya pihak pengembang tetap melarangnya memasuki areal proyek.
Dengan begitu, ia harus memutar otak. Meski konsekuensinya ... ya, drone-nya ketangkap basah dan bisa langsung disita. Atau langsung diledakkan seketika, saat mengetahui CCTV terbang itu mengudara di wilayah mereka.
Bismillah.
Ia merapal doa. Berharap kali ini membuahkan hasil. Sebab ini sudah ketiga kalinya ia meliput ke sana.
**
Kirei
Ia mencangklong tas ranselnya. Hari ini ia akan ke lapangan membantu meliput reportase investigatif salah satu program news di bawah tanggung jawabnya.
Laporan yang masuk mengatakan bahwa tim mereka dihalang-halangi. Dipersulit. Bahkan sempat diusir. Padahal mereka membawa surat untuk peliputan.
Sepertinya ada hal yang ditutupi oleh pengembang ini. Atau ada yang tidak beres dengan proyek GL (Garuda Land)?
Proyek untuk mereklamasi garis pantai sepanjang 36,60 kilo meter, dengan luasan mencapai 232 hektar itu sepertinya banyak yang disembunyikan. Di mana 80 persennya dikuasai swasta. Sementara Pemda hanya meng-handle 20 persen saja.
Huft.
Ia menghela napas.
Mas Budi telah menunggunya di lobi bersamaan dengan Oka.
“Sorri ... telat dikit,” ujarnya sambil melenggang melewati mereka. Masuk ke dalam mobil kantor berlambang TVS. Yang terparkir di depan lobi.
“Eh ... tunggu ... tunggu!” Seru Budi. “Kita jangan bawa mobil kantor.” Imbuhnya.
“Lho, kenapa, Mas?” Ia terheran, sudah duduk manis di bangku ke dua.
“Setuju.” Oka menimpali. Berdiri di samping Budi.
“Pake mobil aku aja,” Budi menyergah, “lebih leluasa.”
Ia kembali keluar dari kabin mobil. Mengekori Budi dan Oka menuju mobil Budi yang terparkir agak jauh.
“Sebegitu ketat kah?” Tanyanya ketika mobil yang membawa mereka tengah melaju menuju target.
“Bangettt ....” Oka menyahut.
“Terlalu ketat sampai-sampai semua wartawan dilarang masuk. Bener-bener gak welcome deh penjaganya.” Tukas Budi. Sementara Oka manggut-manggut.
Ia merogoh ponsel di tas ranselnya yang ia simpan di sebelahnya.
Kirei : Mas, aku liputan di lapangan. Bareng Mas Budi dan Oka.
Tiba di tujuan mobil sengaja di parkir agak jauh. Bahkan mereka memilih area yang jarang dilewati orang. Mungkin hanya beberapa yang sengaja ke sana untuk sekedar mancing ikan atau mencari kepiting.
Cuaca panas dan terik. Peluh telah membasahi sekujur tubuh. Kondisi tempat yang dipijaknya kini hanya berupa tanah dengan gundukan pasir yang belum diratakan. Ada pula tumpukan batu yang menjulang.
Ia mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya. Matanya menyipit menghalau sinar matahari yang sedang tak ramah menyapa. Meski baru jam 10 pagi. Rasanya sudah seperti jam 12 siang. Benar-benar menyengat.
Ia duduk di antara tumpukan batu. Sementara Oka membantu Budi memasang drone.
Ia mendongak menghalau silau dengan telapak tangannya. Segerombolan burung manyar terbang entah menuju ke mana. Lalu ia menatap pemandangan di depannya. Gelombang air laut begitu tenang. Membiaskan sinar mentari menjadikannya tampak berkilauan.
“Ready,” ucap Budi sembari mengacungkan jempol.
Ia berdiri mendekati Oka.
Oka mulai menekan tombol power. Budi bergeser menjauhi drone dan mendekati Oka yang tengah memperhatikan pergerakan drone dari layar.
Perlahan-lahan drone terbang. Oka terus menarik tuas throttle. Semakin tinggi. Lalu memutar ke kanan. Hingga melewati pagar pembatas area proyek.
Tampak suasana di dalam sepi. Tak terlihat orang di sana. Perlahan dan pasti drone terus menyusuri, merekam setiap sudut dan pergerakan.
Drone terus di arahkan Oka lebih dalam. Melihat aktivitas di sana. Beberapa kali, Oka bermanuver dengan menekan tuas yaw dan elevator. Merekam semua pergerakan di sana secara cepat, dan detail. Tanpa kecuali. Dengan tetap waspada.
Namun ....
“Pitch! Pitch!” Seru Budi lantang.
“Cepat!”
“Balik! Balik!”
Jemari Oka begitu lincah menekan tuas-tuas pada remote control. Ia bisa melihat kecepatan drone begitu kencang. Bermanuver kembali dan mendarat ke tempat semula. Meski tak sempurna.
Tegang.
Jelas.
Ketahuan dengan salah satu pegawai di dalam. Padahal mereka sudah memperkirakan penyusupan drone.
Bergegas mereka membereskan peralatan liputan. Melangkah cepat menyusuri jalan setapak yang kanan dan kirinya masih ditumbuhi tanaman bakau satu dua.
Tapi nahas.
Tiba di dekat mobil yang terparkir. Ban depan kanan kempes. Mereka saling melempar pandangan.
“Dikerjain.” Dengus Budi.
“Sialan!” Oka berkacak pinggang. Lalu menendang ban yang telah kempes. Sementara dirinya mengembuskan napas kasar. Sambil mengatur napasnya yang masih sedikit memburu akibat jalan terburu-buru.
***
Hari berikutnya mereka berkumpul di ruangan korlip. Sambil membahas program di bawah tanggung jawab mereka masing-masing.
“Gimana?” Tanyanya melempar ke audience. Ia ingin meminta pendapat. Stuck.
“Cut!” Sahut Oka.
“Go on!” Budi berucap seraya mengambil teh dingin dalam kemasan kotak di atas meja.
“Wait ... wait. Ini masalah liputan yang proyek GL itu?” tukas Anisa.
Ia mengangguk.
Anisa tampak berpikir, mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari jemarinya. Kedua kakinya disilangkan. Dan punggungnya bersender ke belakang.
“Menur—” mulut Anisa yang baru saja membuka, akhirnya mengatup kembali.
__ADS_1
Krriiiiiiiiiinnggg ....
Suara interkom telepon kantor berdering.
Ia meraih ganggang telepon.
“Ya,” sahutnya.
“Mbak Rei, ini Gladis.”
“Ini ada kiriman buket bunga lagi. Sekarang mawar putih.”
“Siapa pengirimnya?”
“ZONK.”
“Cuma—”
“Apa, Dis?”
“Ada note-nya ... tulisannya ...se la mat.” Gladis mengeja pelan.
“Gitu aja?”
“Iya, Mbak.”
“Kamu gak tanya-tanya kurirnya tadi?”
“Kata kurir privasi pelanggan. Lagian itu langsung dari toko florist-nya.”
Terdengar helaan napasnya. Lalu menutup ganggang telepon.
“Siapa?” Tanya Anisa.
Ia mengangkat bahunya lemah.
“Kita pending dulu.” Sergah Budi. Semua dalam keterdiaman.
Menjelang senja, ia berniat pulang. Setelah selesai melihat pengambilan syuting beberapa program news.
Berjalan gontai menyusuri lobi. Menyapa security dan melempar senyum ramah ke mereka.
Tiba di rumah. Yumah menyambutnya.
“Mbak mau makan apa?” tawar Yumah yang masih mengekorinya. Ia melepas sepatu dan menyimpannya di rak.
“Yumah masak apa?” malah ia bertanya kembali.
“Sop ikan gurame, pepes tahu ....”
Ia langsung menyahut, “Itu ajalah, Yu. Aku mau mandi bentar. Pengen berendem. Pegel-pegel. Kalo ada yang nyariin atau telpon bilang lagi tidur.” Pesannya. Terpaksa ia berbohong. Demi melepaskan penat yang melekat.
Yumah mengangguk lalu belok ke dapur.
Ia langsung menenggelamkan tubuhnya begitu air dalam bathup terisi cukup. Perpaduan air hangat dan aroma chamomile essential oil langsung menguar, merasuk ke dalam indra penciumannya. Begitu menenangkan. Tak lupa memasang earphone di telinganya. Ia ingin melupakan sejenak masalah pekerjaan. Teror bunga dan kamera serta kepalanya yang sedikit pening akhir-akhir ini.
Instrumental lembut Cannon in D-Winter Song mulai mengalun mendayu-dayu. Membawanya semakin merasakan kenyamanan dan ketenangan. Benar-benar rileks. Otot-otot yang seharian bahkan sedari kemarin tegang kembali mengendur.
Hingga tanpa sadar saking nyamannya ia tertidur. Entah sudah berapa lama.
Tapi ia seperti mimpi dibopong. Diayun-ayun. Lalu direbahkan. Tapi ia malas untuk membuka mata. Justru semakin menikmati mimpi dan melanjutkan tidur.
Ketika bangun ia terkejut. Berkali-kali mengerjapkan mati demi memperjelas penglihatannya. Ia mengusap wajahnya. Bangkit dan bersandar di headboard.
Padahal ... siapa ... pintu ... ya ampun ... ia menggelengkan kepalanya.
**
Danang
Tiba di rumah, Darmo menyambutnya. Membawakan koper di bagasi belakang.
“Thanks, Ren.” Ucapnya begitu ia membuka pintu mobil. Lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
“Mbak Rei, lagi mandi, Pak. Tadi pesan jangan diganggu.” Kata Yumah yang muncul di ruang tengah memberitahunya. Saat ia duduk untuk melepas sepatunya di sana.
Ia tersenyum tipis.
Lalu masuk ke kamar utama. Tapi hanya beberapa detik lalu keluar lagi.
“Yu,” panggilnya pada asisten rumah tangga itu.
Yumah menjengit, refleks memegangi dadanya.
“Dari jam berapa mandinya?”
Yumah mengernyit, “Kayaknya sekitar jam 5 an gitu, Pak.” Ia menerka-nerka sambil menggaruk kepalanya.
Ia langsung melesat kembali masuk kamar dan membuka pintu kamar mandi. Benar saja dugaannya.
“Kebiasaan,” gumamnya.
Melihat Kirei tertidur di bathup sambil mendengarkan lagu. Bukan sekali dua kali, tapi lebih dari itu.
Ia melepas earphone di telinga Kirei. Istrinya itu tak merespons sedikit pun.
Ia menggelengkan kepala, “Kayak kebo.” Dengusnya. Tapi sepersekian detik kemudian ia terkekeh. Membilas tubuh istrinya dan membopongnya menggunakan handuk. Lalu memakaikan handuk kimono.
Herannya Kirei tetap tertidur. Ia menyelimutinya. Lalu meninggalkannya.
**
Kirei
Ia keluar setelah memakai pakaian santai. Mencari sosok yang dicarinya. Setelah melihat tas hobo yang tergeletak di sofa, ia yakin Mas Danang telah pulang. Dan yang memindahkannya ke tempat tidur pasti laki-laki itu. Tak salah lagi.
“Mas.” Panggilnya tak menemukan Danang di ruangan tengah.
Lalu membuka ruangan kerja laki-laki itu.
“Di sini rupanya,” ucapnya lirih. Danang menatapnya sekilas lalu matanya fokus kembali ke layar laptop.
Ia mendesis. Dicuekin.
“Maaf ....” Ia memeluk laki-laki itu dari belakang. Mencium pelipis Danang. “Jam berapa Mas Danang sampe?” menaruh dagunya di atas bahu laki-laki itu.
Danang tersenyum.
“Mas ... kenapa sih?” Sungutnya sebal. Ia mengurai pelukannya. Berdiri tegak di belakang Danang yang duduk di kursi kerjanya.
“Yaudah ... Rei keluar aja!” Tandasnya. Seraya mengentakkan kaki kesal.
__ADS_1
“Sini,” panggil Danang menepuk pahanya.
Ia masih berdiri. Meragu.
“Katanya kangen?”
Perlahan ia duduk miring di pangkuan laki-laki itu. Mengalungkan satu tangannya di leher Danang.
“Ngerjain apa sih?” Ia ikut memperhatikan layar laptop.
“Tesis.”
“Perlu bantuan, gak?” Sindirnya jemawa. Lalu terkekeh setelahnya.
“Susah gak ngerjain tesis?”
Danang menggeleng. Matanya masih fokus ke layar. Beberapa kali mengetik pada papan keyboard.
Ia ikut tenggelam sejenak melihat layar di depannya.
Kemudian menatap lekat-lekat wajah suaminya. Jemarinya mengurut garis tegas rahang Danang, dari pelipis turun ke depan telinga turun ke dagu. Mengusap-usapnya perlahan.
“Kemarin waktu ngantar Mas Danang ke bandara. Gak sengaja, Rei ketemu Mas Aldi.” Artinya itu 3 hari yang lalu.
Danang belum merespons.
“Mas Aldi mau ngambil summer program di US, katanya.”
Laki-laki itu seperti tak mendengarkannya.
“Terus ....” Ia ingin melihat tanggapan laki-laki itu. Tapi ... masih sama saja. Tak meresponsnya.
Ia mendesah. Bahunya melorot. Lalu ia beranjak dari pangkuan Danang.
“Rei, keluar dulu.” Pamitnya dengan hati mencelus. Ia merasa tak dianggap. Merasa tak dikehendaki. Merasa bukan siapa-siapa. Matanya tetiba memanas. Genangan itu dengan cepat bergumul di kelopak matanya. Meluncur tanpa permisi.
Ia menutup pintu ruang kerja laki-laki itu sedikit kasar. Lalu melesat menuju kamar. Dan membenamkan diri di sana.
**
Danang
Huh ... ia menghela napas. Rasa kesal dan egois tengah menyelimutinya. Tapi sebenarnya ia tak tega. Kirei adalah titik terlemahnya.
Ia menangkup wajahnya. Mengusapnya kasar.
Lalu keluar ruangan. Duduk di sofa ruang tengah. Menyalakan televisi. Mencari acara yang ... menarik. Beberapa kali mengotak-atik, akhirnya menemukan saluran yang pas. Acara French open semi final yang menurunkan The Djoker alias Novak Djokovic petenis favoritnya melawan Rafael Nadal. Bakalan seru. Tapi ... rasanya tak lebih menarik. Entah kenapa?
Cetakkk ... diselingi suara gemuruh para penonton bertepuk tangan.
Cetakkk ... poin tambahan untuk Djoker. Gemuruh riuh kembali menggema.
Ia mendesah.
Lalu bangkit dan berjalan perlahan membuka pintu kamarnya. Tampak Kirei tengah terlelap tidur dalam lampu temaram.
Perlahan ia mendekati. Ikut merebahkan tubuhnya yang sebenarnya lelah. Belum beristirahat sama sekali. Bahkan .... Ia mengembuskan napas berat.
Istrinya memunggunginya. Ia pun bingung harus mulai dari mana. Memaksa matanya untuk memejam. Tapi sayang, matanya tetap nyalang.
Ia ikut berbaring miring. Mereka saling memunggungi. Saling menyembunyikan diri. Entah sampai kapan? Keduanya bertahan.
-
-
Terima kasih yang sudah berkenan mampir, membaca dan memberikan dukungannya .... 🙏
__ADS_1