Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
21. (Deal-Deal)an


__ADS_3

...21. (Deal-Deal)an...


 


Kirei


Prosesi sakral telah usai. Ia yang masih mengenakan pakaian kebaya putih punya istri Pak Banuaji duduk diapit bunda dan Ken.


Penghulu, perangkat desa dan orang-orang yang diundang pun telah kembali pulang. Tertinggal keluarga pak Banuaji sang empunya rumah, bunda dan Ken serta dirinya dan laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya.


“Pak Banu beserta keluarga, saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya telah sudi membantu anak-anak kami. Mohon maaf jika kami sekeluarga merepotkan ....”


“Kami sekalian mau pamit ....” Pungkas Bunda.


“Tidak merepotkan sama sekali, Bu. Kami dengan senang hati membantu. Saya sama Pak Danang ini sudah lama berteman, bahkan sudah seperti sodara. Maaf, mungkin dengan cara seperti ini mereka harus bersatu dalam rumah tangga.”


“Tapi mudah-mudahan inilah jodoh untuk keduanya.”


“Sakinah ... mawadah ... warrahmah," doa Pak Banuaji.


“Aamiin ....” Yang lain menyahuti kecuali Kirei tentunya.


Akhirnya mereka semua berpamitan pada keluarga Banuaji. Bunda dan Ken telah lebih dulu masuk dalam mobil.


Sementara Kirei yang sudah mengganti baju dengan pakaian kemarin telah berdiri di samping mobil Kenichi.


“Kak, aku ikut di sini,” pintanya.


Tapi bunda langsung menggeleng.


“Temani suami kamu, Rei.”


Dengan berat hati, ia mengentak kaki kesal. Dan berlalu menuju mobil Danang yang terparkir di belakang.


Mobil melaju perlahan meninggalkan kediaman mertua Banuaji.


Keheningan masih melingkupi pasangan itu. Bahkan setelah keduanya dinyatakan sah sebagai suami istri. Ia sendiri tampak tak acuh. Akhirnya ia yang sedari awal berpura-pura tertidur. Justru terlelap setelahnya.


Laki-laki itu tersenyum menoleh ke sampingnya.


Meski pernikahannya penuh dengan ‘drama’. Tapi ia yakin, gadis yang tengah tertidur itu adalah jodoh yang dipersiapkan Tuhan untuknya.


 


***


Danang


Dua jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di apartemen Kirei.


Gadis yang hampir selama perjalanan itu terus terlelap, mengerjapkan matanya.


“Sudah sampai?” Tanya Kirei dengan suara parau sembari menangkup mulutnya yang menguap.


“Di apartemen kamu,” sahutnya.


Pasangan itu lekas menuju unit Kirei yang berada di lantai 12.


Ternyata bunda dan Ken sudah tiba terlebih dahulu. Mereka duduk di sofa seberang ranjang.


“Ken ....” Panggil Bunda.


Kenichi yang masih terlihat kesal, sejak pertama kali bertemu dengan Danang, terpaksa menjabat tangannya demi menikahkan adiknya, terlebih statusnya menjadi kakak ipar dengannya mendengkus. Ia menggeleng.


Ia dan Kirei yang baru masuk langsung duduk di tepi ranjang.


“Mas Danang sekarang keluarga kita. Tak baik masih memendam emosi yang tak berkesudahan,”


“Semua karena salah paham ....”


“Sebaiknya diselesaikan sekarang juga.” Ujar bunda menengahi. Sebab beberapa saat setelah kedatangan Kenichi dan bunda dari Solo, tiba-tiba Ken mendaratkan pukulan telak padanya. Mungkin karena kesal, marah dan kecewa padanya.


Dan ia yang tak sempat mengelak dan bersiap, akhirnya terkena pukulan pada rahangnya. Jelas masih meninggalkan nyeri dan lebam di sana sampai sekarang ini.


“Sorry ....”


“Tapi ... satu permintaanku jangan sampai kamu menyakiti adikku!” Ucap Ken dengan nada penuh ancaman.

__ADS_1


“Jika kamu sampai menyakitinya, aku tak segan-segan membuatmu lebih parah lagi." Tak surut ancaman itu dilayangkan padanya. Meski Ken tahu ia lebih jago dalam bertarung. Punya senjata pistol revolver sebab anggota kepolisian. Atau punya anak buah di mana-mana? Whatever-lah itu semua akan dilakukan untuk melindungi sang adik.


“Sudah ... sudah.” Bunda melerai.


“Mas Danang,” panggil bunda.


Ia mendongak menatap teduh wajah bunda.


“Bunda nitip Kirei ....”


“Tolong dijaga ...."


"Dibimbing ... dia anak yang mandiri, tapi kadang kala juga manja ....”


“Sekarang Kirei tanggung jawab Mas Danang sepenuhnya. Tapi berikan ia kebebasan asal masih di jalurnya.” Pesan Bunda.


Ia mengangguk, “Ya, Bunda ....” Berjanji sepenuh hati akan melakukan semua yang dipesan bunda. Bahkan tanpa diminta pun ia pasti akan melakukannya.


“Dan kamu, Rei ....” Bunda menatap anak gadisnya.


Kirei yang menunduk, akhirnya menatap wajah bunda yang duduk di hadapannya.


“Kamu tanggung jawab Mas Danang mulai sekarang. Dia imammu, kepala keluarga dalam rumah tanggamu. Jadilah istri yang baik untuknya ....”


“Pasti ayah juga senang melihatmu bahagia."


Bertepatan hari ini adalah ulang tahunnya. Setelah berdoa, potong kue dan makan bersama. Bunda serta Ken pamit pulang.


Satu yang ia tahu tentang gadis itu sekarang.


Manja dengan bunda dan Ken.


“Bunda dan Kakak jangan pulang dulu!” Bibirnya mengerucut bergelayut manja pada sang Bunda.


“Atau tidur di sini aja, yaa ....” Pinta Kirei memelas, "plissss ... ya, Nda, Kak."


“Sekarang kamu udah punya suami, Dek ... manjalah pada suamimu sana!” Sembur Ken.


“Issh ....” Gadis itu mendesis.


Dan Kirei terlihat menangis sesenggukan  saat melepas kepergian bunda dan Ken. Ingin rasanya memeluknya untuk menenangkan. Tapi ia urungkan, belum saatnya.


“Dia pernah punya bronkitis. Sensitif asap. Apa pun bentuknya. Asap rokok ... kebakaran ... debu ....”


Peringat Ken saat melihat dirinya yang tengah menyalakan rokok.


“Dia juga takut kegelapan ... paling tidak harus ada cahaya remang.”


Terbukti saat mati lampu di homestay waktu itu.


“Bulan depan apartemennya habis sewa ....”


Itu artinya semingguan lagi harus pay back (bayar kembali).


“Saya harap ....”


Ia mengangguk.


“Jurnalis adalah passion-nya seperti ayah ....”


“Apa lagi kasus kematian ayah yang sempat mengguncangnya, mungkin jika tahu kamu ....”


Perbincangan itu berakhir saat ponsel Ken berbunyi.


Dan kini ia sedikit banyak tahu tentang gadis itu.


“Bapak gak pulang?” Tanya Kirei saat keluar dari kamar mandi dengan menggelung rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


“Kita kan udah suami istri,” jawabnya santai.


Gadis itu menatapnya sebentar, lalu berucap “Apartemen saya sempit, kalau ditinggali berdua gak muat,” kilahnya.


“Kalo gitu kamu ikut saya tinggal di apartemen saya.”


“Lagian bulan depan sewa apartemen ini habis, kan?"


Kirei duduk di pinggir ranjang.

__ADS_1


“Kok Bapak tahu?”


Tapi hanya dijawab kekehan kecil olehnya.


“Oke ... oke kita buat kesepakatan!” Seru gadis itu sambil duduk bersila.


Ia yang awalnya duduk di mini bar mendekatinya.


“Bapak mau ngapain?!” Sembur Kirei ketus.


“Mau duduk dekat kamu, kan kita mau bicara serius,” alibinya sambil mendudukkan diri di samping gadis itu.


“Pertama; temen-temen kantor saya tidak tahu tentang pernikahan ini. Jadi ... saya minta tetap dirahasiakan.”


Ia mengernyit heran.


“Kedua; saya tetap bekerja seperti sekarang. Tak ada pembatasan. Semua tidak ada perubahan sebelum maupun setelah kita menikah ....”


Masih oke. Batinnya.


“Ketiga; saya belum siap tidur berdua sama Bapak ... apa lagi ....“ Gadis itu menjeda sebentar, “..., lebih dari sekedar tidur. Sebab pernikahan kita terpaksa dan tak ada cinta.”


“Ada lagi?”


Gadis itu terdiam, lalu menggeleng.


“Okay ... that’s it!"


Ia menghela napas perlahan, “Saya juga punya permintaan sama kamu,” sergahnya.


Gadis itu menatapnya sehingga mata mereka bertumbukan sepersekian detik. Lalu ia menunduk kembali.


“Jangan panggil saya Bapak ... berasa di kantor dan di rumah seperti tak ada beda.”


“Di lingkungan kerjaku, kamu adalah istriku ... istri seorang anggota kepolisian ada hak dan kewajiban.”


“Kita tetap tinggal di satu apartemen. Kamu bisa tidur di kamar lain."


“Semua yang menyangkut nafkah kamu, itu tanggung jawabku ....”


“Kecuali nafkah batin!” Kirei menuergah, “disangree (tidak setuju).”


“How do we start being friends? (Bagaimana jika kita memulai dengan pertemanan?),” tawarnya. Mungkin dengan cara ini cinta gadis itu bisa hadir untuknya. Atau, paling tidak mereka bisa lebih dekat. Harapannya begitu.


“Bagaimana?”


Gadis itu tampak berpikir sejenak. Lalu mengulurkan jari kelingkingnya disusul bibirnya melengkung ke atas.


Pun dengan dirinya menyambut kesepakatan itu, “Okay, deal."


“Karena deal deal-an udah selesai. Sebaiknya bapak pulang. Saya mau tidur,” tandas gadis itu.


“Minggu depan saja pindah apartemennya setelah sewa habis. Sayang sudah dibayar ... mubazir ....” Kilah Kirei dengan merebahkan punggung di sandaran ranjang.


Lagi-lagi ia harus menghela napas panjang. Menghadapi gadis itu butuh kesabaran ekstra. Tidak bisa dibentak dan diancam seperti jika ia sedang menginterogasi para tersangka.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir membaca dan memberi dukungan....yaa! 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2