Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
112. Hello, The Twins G


__ADS_3

...112. Hello, The Twins G...


Kirei


Ia menghela napas dalam-dalam.


Lalu, “Huuuuuuhh ... hhh ....” Mengembuskan perlahan-lahan.


Sekali lagi menghela napas dalam.


“Huuuuuuuhh ... hhh ....”


Ia masih berbaring dengan punggung menghadap lantai matras dan lututnya ditekuk. Tangan kanannya ia letakkan di perut. Sementara tangan kirinya di dada.


Ia melakukannya berulang kali. Sesuai arahan instruktur.


“Sekarang gerakan menghitung napas!” Seru pelatih.


“Posisi masih sama. Tarik napas dalam-dalam sampai hitungan kelima. Tahan napas sampai hitungan kedelapan. Lalu embuskan napas perlahan sampai hitungan kesembilan.”


“Ready ...!” Pelatih memberi aba-aba. Lalu mulai menghitung, “tarik napas ... five, four, three, two and ... one. Good!”


“Tahan! One, two, three, four, five, six, seven and eight.”


“Embuskan perlahan ... sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu!”


“Good!”


“Kita ulangi, Moms.” Imbuh pelatih.


“Once again.”


“The last. Once more.”


“Oke! Kita akhiri sesi pertemuan hari ini.” Lalu sang pelatih bertepuk tangan.


Ia beranjak dan menuju ruang ganti. Ini adalah sesi ke-6 ia mengikuti senam hamil di dekat kantornya.


Pada trimester akhir kehamilannya ia memutuskan untuk mengikuti senam hamil. Sebab ia ingin melahirkan secara normal.


Meski Danang melarangnya. Laki-laki itu merasa tak sanggup jika harus melihatnya berjuang nyawa melahirkan secara alami.


“Sama saja, Mas. Mau normal. Mau sesar semua punya risiko sendiri.” Debatnya waktu itu setelah pulang kontrol kandungan dari dokter.


“Tapi, aku gak mau kamu kesakitan!” tolak Danang.


“Kita ambil sesar aja, ya?” imbuh laki-laki itu. Tetap cenderung memilih jalan operasi. Menurutnya itu tidak akan menyakitinya.


Ia bergeming.


Keputusannya akan melahirkan normal semua tak terlepas dari referensi buku-buku yang dibacanya. Bunda yang selalu memotivasi untuk melahirkan normal karena pengalamannya. Mama yang menceritakan 2 pengalaman berbeda sebab melahirkan 2 anak dengan jalan yang berbeda juga.


Dulu katanya Danang dilahirkan secara normal. Sementara Aksa terpaksa disesar sebab mengalami pendarahan.


Dan mama menyarankan melahirkan normal asal kondisi bayi memungkinkan untuk itu. Namun, semua keputusan tetap diserahkan kepadanya. Sebab ia yang akan menjalani.


Menurut dokter kondisi kedua janin berpeluang untuk dilahirkan secara normal. Walau satu janin masih dalam posisi breech. Yaitu posisi kepala janin di atas, bukan di jalan lahir.


Masih ada waktu untuk mengubah posisi janin kata dokter. Dengan olahraga ringan seperti berjalan, senam hamil, yoga, pilates dan berenang.


Beruntungnya ia mempelajarinya dalam kelas senam hamil. Harapnya dalam beberapa minggu lagi bertepatan HPL-nya janin satunya dalam posisi vertex atau kepala janin di jalan lahir.


“Mbak Kirei, duluan ya ....” Sapa Laura. Ibu muda yang juga akan melahirkan sebentar lagi. Bahkan hanya berselisih 4 hari dengan HPL-nya.


“Ya, La. Ati-ati.” Balasnya seraya mengulas senyum.


“Rei, see you minggu depan!” Sapa Asmira ibu muda yang akan melahirkan untuk kedua kalinya. “Jemputan lo belum datang? Ato mau bareng gue?” tawar Asmira mendekatinya.


“Bentar lagi, thanks. Hati-hati, ya.” Pesannya.


"Oke kalo gitu. Duluan ya," balas Asmira.


Satu persatu teman-teman satu kelasnya meninggalkannya. Ia masih duduk di bangku taman. Menunggu Danang yang akan menjemputnya. Tapi entah mengapa, 15 menit sudah berlalu laki-laki itu tak jua kelihatan.


Tumben!


Biasanya juga kalau terlambat Danang akan memberitahukannya.


Matahari kian condong ke barat. Lampu-lampu penerangan jalan satu persatu mulai menyala.


Ia menghela napas. Rasanya lebih baik ia mencari camilan untuk mengganjal perutnya yang mulai keroncongan.


Ia beranjak dan berjalan menyeberangi jalan. Di depan sana ada resto cepat saji pikirnya. Daripada ke kafe depan kantor yang lumayan jauh jika harus jalan kaki. Ia memutuskan ke resto cepat saji yang lebih dekat.


TIN ... TIN


Ia menoleh ke kanan dan kiri. Banyak kendaraan yang melaju kencang. Seolah tak memedulikan pejalan kaki seperti dirinya yang ingin menyeberang. Padahal kita semua punya hak yang sama, bukan?


Ia berulang kali mendesahkan napas. Menunggu kendaraan berhenti untuk mempersilakan ibu hamil seperti dirinya menyeberang rasanya langka. Lima menit ia berdiri di sana, tak ada satu pun kendaraan yang mau mengalah untuknya.


Semua seolah berebut tempat. Memburu waktu.


TIN ... TIN


Ia mengerucutkan bibirnya.


Sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Memberikan senyum tanpa merasa bersalah sedikit pun.


Ia bergegas masuk mobil. Masih terdiam tak mau bicara.


“So sorry, mendadak dipanggil ke Polda.”


Danang mulai melajukan mobilnya.


Ia masih bergeming. Mengalihkan pandangan ke kaca samping. Melewati resto cepat saji bergambar ayam goreng tepung yang renyah. Punya jargon sebagai ‘jagonya ayam’


“Lapar?” tanya Danang.


Lalu mobil menepi di bahu jalan.


Spontan ia bertanya, “Mau ngapain?” lupa bahwa ia tengah melakukan gencatan senjata. Ditambah lagi resto cepat saji sudah terlewati. Harapannya makan ayam goreng pupus. Perut juga semakin berdemo.


Danang menarik sabuk pengamannya sampai berbunyi klik. Lalu tersenyum, “Kalo berkendara ingat keselamatan.” Ucapnya. Sambil mengacak-acak rambutnya.


Ia mendengus.


“Bumil jangan marah-marah, nanti twins G demo!” imbuh laki-laki itu masih tersenyum tanpa merasa bersalah.


Refleks ia menatap suaminya. Mengerutkan dahinya. Apa dia bilang? Twins G? Maksudnya?


Tapi ia urung bertanya.


Urung menyalak.


Ia memilih diam.

__ADS_1


Danang mengarahkan mobilnya ke sebuah restoran PHD. Kali ini yang punya slogan ‘make it great’.


Ia sebenarnya bertanya-tanya. Kenapa justru kesini.


“Aku tahu kamu lapar.” Tebak Danang.


Dan tepat.


“Aku udah pesanin 15 menit yang lalu. Jadi tinggal take away. Don’t worry gak pake lama,” laki-laki itu melepas sabuk pengaman dan berlalu.


Benar saja tak pakai lama, Danang sudah kembali dengan tentengan yang menggugah seleranya.


“Ini, kesukaan kamu tuna melt,” laki-laki itu menyodorkan satu boks pizza padanya. Sementara tangan satunya menyimpan boks lain di bangku belakang. Danang mengusap perutnya, “jangan buat mereka kelaparan. Tadi mereka mengirimkan sinyal telepati sama ayahnya.”


“Telepati apa?” kali ini ia tak tahan berkomentar.


Danang terkekeh, “Ayah, kami lapal.” Suara laki-laki itu meniru logat anak kecil.


Ia mencebik. Kemudian membuka kotak. Bau harum khas makanan ini langsung menusuk hidungnya. Ia memejamkan mata untuk menikmati harum yang menguar di indra penciumannya. Tanpa berlama-lama lagi langsung mencomot 1 slice.


**


Danang


Pemanggilan mendadak dirinya ke Polda bertepatan dengan selesainya Kirei mengikuti kelas senam hamil.


Tadinya ia sudah hampir sampai di tempat tersebut. Namun Pak Agus sebagai atasannya yang menghubunginya langsung membuatnya mengubah haluan.


Ia membanting setir menuju Mapolda.


Sepuluh menit menghadap atasannya. Ia kembali memacu mobilnya menjemput Kirei. Ia yakin ibu hamil yang sedang menunggunya pasti kesal. Cemberut. Tapi ia punya penawar untuk itu.


Usia kehamilan yang semakin mendekati hari kelahiran bukannya membuat Kirei khawatir. Cemas berlebihan. Malah justru sebaliknya.


Kirei mampu menguasai dirinya. Ya, meski rasa takut terkadang muncul. Tapi masih wajar. Bahkan istrinya tetap bersikukuh untuk mempertahankan supaya melahirkan normal.


Sejumput kekhawatiran justru menghantuinya. Ia lebih condong agar Kirei melakukan operasi. Meski menurut dokter Yoiku, melahirkan normal dan sectio caesaria sama-sama punya resiko. Tapi dokter kandungan itu menyarankan untuk melahirkan normal jika memenuhi persyaratan. Di antaranya letak janin. Itu syarat mutlak tak bisa ditolerir. Lalu kondisi si ibu juga punya andil besar dalam memutuskan melahirkan normal atau operasi caesar.


“Mas, aku mau lahiran normal.” Jawaban istrinya setiap ia membujuknya. Dengan melihat Kirei tengah kesakitan saat twins G menendang, demo tiba-tiba. Bahkan hampir tiap malam melihatnya kesusahan untuk tidur. Belum lagi kakinya yang bengkak. Rasanya ia tak sanggup jika harus melihat Kirei kesakitan saat melahirkan normal.


Namun, ia tidak boleh mematahkan semangat istrinya. Segala bentuk usaha Kirei lakukan agar bisa melahirkan normal. Seperti mengikuti kelas senam hamil. Sering mengajaknya jalan pagi. Pun seandainya tidak sempat, Kirei berjalan di teras depan bolak-balik sampai merasa cukup.


Sungguh! Tekadnya kuat. Semangatnya luar biasa.


“Halo,”


“Ya, saya pesan ... tuna melt 1. Meat lovers 1.”


**


Kirei


Saat tiba di rumah ia merasa tubuhnya lelah luar biasa. Mungkin dengan berendam air hangat bisa merelaksasikan otot-ototnya yang tegang.


Danang menyiapkan semuanya. Dia benar-benar suami siaga. Jadi tidak pantas rasanya mendiamkan laki-laki itu.


Setelah keluar dari kamar mandi, ia melihat laki-laki itu tengah membaca buku. Masih menggunakan handuk kimono ia mendekati Danang.


“Udah enakan?” Justru Danang yang bertanya terlebih dahulu.


Ia mengangguk. Duduk di tepi ranjang.


“Lagi baca apa?”


Ia mengeja, “Strong as a mother.”


“Aku lihat di nakas. Jadi aku baca aja. Ternyata ... aku memang harus baca ini.” Ia saja baru membaca bagian pertama. Mengenai bagaimana penerimaan seorang wanita akan kehamilannya di awal-awal masa kehamilan. Bukan sekedar ‘do dan don’t’ saja. Seperti buku-buku yang sudah ia baca akhir-akhir ini. Buku ini lebih detail dalam pemaparan.


Hatinya seketika terenyuh.


“Tapi itu untuk aku. Calon ibu.”


Danang menutup bukunya lalu menyimpan di atas nakas.


“Kamu calon ibu. Aku calon ayah. Jadi harus mengetahui apa aja yang dibutuhkan dan dirasakan oleh seorang calon ibu.”


“Sini, aku pijitin kakinya. Kamu sandar di sana.” Danang menunjuk headboard.


Ia mengikuti perintah laki-laki itu. Kedua kakinya yang selonjoran diangkatnya ke atas paha Danang.


“Biasanya pake minyak apa?” Tanya Danang. Padahal sudah beberapa kali laki-laki itu membantu memijit kakinya ketika ia mengeluh sakit dan bengkak.


“Lavendar oil,” Ia menarik laci nakas. Mengambil herbal message oil tersebut dari sana lalu mengangsurkan ke suaminya.


“Ini aman?”


“Aman, Mas.”


Danang mulai meneteskan beberapa oil herbal itu ke telapak tangannya. Lalu menggosokkan ke kakinya. Mulai betis, turun ke bawah hingga mata kaki.


“Sakit gak?”


Ia menggeleng.


“Oya, tadi Mas Danang bilang twins G?”


Danang tersenyum, “Masih ingat aja.”


“Mas Danang udah dapat nama untuk mereka?” tangannya mengusap perutnya.


“Udah,”


“Aduh,” ia meringis. Perutnya menonjol sebelah.


Danang langsung sigap, mengusapnya.


“Hello, twins G. Ini ayah,” Danang menunduk berbicara dengan perutnya.


Ia masih meringis, “Mas ini kayaknya kakinya,”


Danang begitu takjub. Melihat perutnya seolah karet yang bisa melentur ke sana kemari.


“Masih sakit?”


Ia mengangguk, “Nyeri banget di sini,” tunjuknya di ulu hatinya.


Danang masih mengusap tonjolan-tonjolan perutnya yang tak beraturan.


“Hai, twins G. Bunda kesakitan lho, Sayang. Jangan main bola di dalem, ya? Kasihan Bunda. Ayah janji, nanti kita main bola bersama. Bukan sekarang.”


“Twins G sukanya apa?”


“Berenang?”


“Oke. Ayah jago berenang. Meski bukan atlet profesional tapi percaya. Rekor ayah hampir menyamai para atlet itu.”

__ADS_1


“Sepak bola?”


“Jangan salah Ayah suka bola. Klub favorit setan merah. Nanti suatu saat kita datangi basecame mereka ke Old Trafford. Minta foto para skuatnya. Kalo pun gak dapat foto, kita bisa beli merchandise di sana,” Danang terkekeh. Ngapain jauh-jauh beli merchandise sampai Inggris?


“Terus mau ngajak main apa lagi? Ayah jabanin deh.”


“Ayah suka paralayang ... hobi offroad ... naik gunung ....” Danang menjeda lalu tergelak. Mengingat gunung otomatis mengingatkan terbentuknya twins G di sana. Hehehe kekehnya dalam hati.


Sementara ia hanya geleng-geleng kepala. Obrolan absurd antara si twins dan ayahnya yang kadang menggelikan.


“Sekarang twins G bobo, ya. Bunda dan ayah juga mau istirahat. Sudah malam. Sampai ketemu besok pagi.”


“We love you so much,” Danang mengecupi perutnya berulang kali.


Manjur!


Satu kata yang pantas disematkan untuk perlakuan Danang terhadap mereka. Twins G menurut. Sepertinya bonding ayah dan anak itu sudah tercipta. Atau bahkan sudah sangat erat.


**


Danang


Hari-hari mereka lalui dengan bahagia. Kirei yang sudah mengajukan cuti melahirkan sebab HPL sudah di depan mata.


Bunda yang sengaja datang untuk menemani Kirei di masa-masa krusial tahapan kehidupannya. Sudah datang sejak 2 hari lalu.


Lalu ia pun sudah jauh-jauh hari berkoordinasi dengan Pak Waka. Jika seandainya tiba-tiba istrinya melahirkan.


Dan di siang hari itu ia mendapat telepon dari Kirei bahwa perutnya mengalami kontraksi.  


“Mas, bisa minta tolong pulang sebentar. Perutku sakit banget,” begitu ucapnya ditelepon.


Ia segera bergegas pulang.


Tiba di rumah ia justru melihat Kirei berjalan mondar-mandir di teras depan.


“Lho, katanya sakit sayang? Kenapa malah jalan-jalan gini?” tanyanya panik.


“Kontraksinya udah hilang, Mas . Hehehe ....”


Ia menghela napasnya.


Memang bukan sekali dua kali istrinya itu mengeluh. Katanya kontraksi, tapi beberapa detik berikutnya hilang. Timbul lagi, hilang kembali. Begitu terus beberapa kali. Kata dokter itu dinamakan kontraksi palsu.


Ia duduk di kursi teras. Melepas sepatu dan kaos kakinya.


“Sayang, bukannya hari ini jadwal kontrol?” teringatnya hari ini kontrol terakhir. Untuk mengetahui posisi janin.


Kirei tersenyum tapi sepersekian detik ia memejamkan mata dan mendesis.


“Mass ....”


Ia beranjak mendekati istrinya memegang lengannya dan tangan satunya menyokong punggungnya. “Kontraksi lagi?”


Kirei menggigit bibir bawahnya. Mencengkeram lengannya kuat, kemudian mengangguk.


“Perasaanku gak enak, Sayang. Apa gak sebaiknya kita ke dokter?”


Istrinya itu tampak masih menahan rasa sakit. Matanya masih terpejam. Hingga tampak buku-buku jarinya mengetat sebab saking eratnya memegang lengannya. Ia pun terikut meringis melihatnya.


Begitu membuka mata, “Aku mau ke dokter, Mas. Sekarang!!” Seru Kirei.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2