
...23. Start Being Friends...
Kirei
“.... Saya Kirei Fitriya melaporkan dari Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Untuk Telusur Peristiwa.”
Pagi ini ia melakukan liputan di Tanjung Mas. Bersama Mas Budi sebagai partner sekaligus kameramen.
Meliput penyelundupan 2 kontainer yang berisi 2.942 Roll Polyester Woven Fabric (kain dari poliester) senilai lebih dari 2 miliar. Dan diduga berpotensi merugikan keuangan negara senilai Rp 2,18 miliar.
“Mas, dua hari aku off ya. Cuti,” ungkapnya.
“Dan ... untuk liputan sore aku juga udah izin sama Mas Aldi.”
Mas Budi mengerutkan alis. “Tumben, mau ke mana?”
“Hehehe ... ada perlu, Mas.” Ia tersenyum simpul.
Teringat bagaimana ia harus berdebat tadi pagi sebelum pergi liputan di ruangan korlip.
“Mau ke mana?” Tanya Aldi saat ia meminta izin untuk cuti 2 hari.
“Kerjaan lagi numpuk. Malah mau pergi,” dengus Aldi dengan nada menyebalkan seperti biasa.
“Itu ... Mas. Saya mau ke Surabaya.”
“Untuk?” tanya Aldi dengan mata memicing padanya.
Sumpah demi apa? Masa cuti saja harus mendetail alasannya apa, mau ke mana. Jangan-jangan sama siapa juga harus dicantumin. Batinnya memberontak.
“Saya mau takziah ke makam ayah saya, Mas.”
“Oke. Dua hari cukup. No debat!”
“Dan sore setelah liputan nanti, kamu boleh berangkat ke Surabaya ....”
“Maaf, Mas ... tapi pesawat saya siang ini,” tukas gadis itu.
Lama mereka dalam keterdiaman. Sebab Aldi belum memutuskan perihal izinnya siang ini usai liputan di pelabuhan.
Ia juga tak mungkin meminta Danang untuk mengubah jadwal keberangkatan, bukan?
“Please ... Mas. Gak mungkin juga, kan, harus memundurkan jadwal? Bisa rugi donk!” Alibinya berusaha menekan Aldi seraya memasang wajah memelas.
Hingga sepuluh menit berlalu, akhirnya ia diizinkan dengan syarat dan ketentuan berlaku.
Ia dan Budi melakukan wawancara dengan kepala kantor pengawasan dan pelayanan bea dan cukai tipe madya pabean Tanjung Mas.
Hampir dua jam melakukan sesi wawancara beserta pengambilan gambar barang bukti yang masih tersimpan di terminal peti kemas.
Tepat jam 12 siang mobil yang sudah tak asing baginya terparkir di depan kantor pabean.
“Mas Budi, aku duluan yaa ....” Pamitnya pada Mas Budi yang di sertai anggukan dan ucapan, “oke ... hati-hati, Rei.” Sambil melambaikan isyarat ‘ok’ pada jari jemarinya.
Bergegas masuk ke dalam mobil sedan.
“Sudah lama, Mas?” Tanyanya ketika ia sudah duduk di bangku belakang. Sementara Danang dan Rendra duduk di depan.
“Baru lima menit,” tandas Danang.
***
Danang
Sebelum berangkat menjemput gadis itu, ia sempatkan untuk menelepon mama dan papa. Menjelaskan kronologis tentang pernikahannya.
Terdengar suara mama yang sepertinya menangis. Mungkin mama kecewa padanya. Lalu papa hanya mendesah dan memintanya lekas datang ke Surabaya.
Kini ia dan gadis itu sedang duduk bersebelahan di dalam pesawat. Gadis itu sedari tadi memandang jendela. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
“Kamu lapar?” Tanyanya pada Kirei.
“Sedikit.”
“Sebentar lagi kita turun. Nanti kita makan dulu sebelum ke rumah.”
Gadis itu mengangguk.
“Mas, boleh aku minta sesuatu?” ucap Kirei. Matanya menatap penuh permohonan.
Gadis itu berjongkok, setelah meletakkan sebuah buket bunga tepat di depan nisan bertuliskan ‘Demas Prasetyo Bin Idris Kamaru’.
Pun dengan dirinya yang turut jongkok di sampingnya.
Kirei terlihat beberapa kali mengusap air matanya. Meski tanpa suara, ia tahu kesedihan tengah melingkupinya.
“Kita berdoa untuk ayah.” Ucapnya sambil menengadahkan kedua tangan. Yang diikuti Kirei.
Ia memimpin berdoa. Lalu ditutup dengan bacaan Al-fatihah.
“O tôsan noo kiniiri ga kima shita (kesayangan ayah datang) ....”
“Kirei, o tôsan ga koishi i (Kirei, rindu ayah) ....”
Entah apa yang dibicarakan istrinya, tapi ia bisa merasakan ada kesedihan mendalam yang terpendam. Sesekali ia masih menyusut air matanya. Ia yang tak tahan melihatnya akhirnya merengkuhnya, berupaya memberikan kekuatan.
“Ayah ... perkenalkan saya Danang. Suami Kirei,”
“Kami menikah satu minggu yang lalu ....”
“Saya berjanji akan menjaganya seperti ayah juga menjaganya,”
__ADS_1
“Dan berjanji akan membahagiakannya ....”
Sepersekian detik tatapan mereka bertumbukan. Sebab Kirei menoleh padanya saat ia menyatakan janji di depan batu nisan sang ayah.
Gadis itu berusaha menerbitkan senyum meski ia tahu tak mudah.
“Tiap tahun kami ke sini. Mengunjungi ayah,” gumam Kirei.
“Kami juga membayar tempat ini agar tidak digusur. Karena kami gak punya keluarga di sini.”
Sesekali cairan bening masih menetes membasahi pipinya yang sembab.
Ia masih merengkuh bahu gadis itu.
“Udahan yuuk, keburu sore.” Tukasnya lalu berdiri sembari mengurai rangkulannya.
Perjalanan dari tempat pemakaman umum ke rumahnya memakan waktu 45 menit. Terhalang macet sebab bertepatan jam usai kantor.
“Apa mama sama papa akan marah?” tanya gadis itu tanpa mengalihkan pandangan di luar jendela.
“Kurasa sedikit,”
Lalu ia menoleh pada gadis itu yang mengernyit. “Sedikit?” tanya gadis itu berulang.
“Maybe ....”
“Tapi pasti mereka senang. Aku bawa menantu untuk mereka.”
Justru gadis itu semakin mengernyit, “Kok senang?!” tukasnya.
Ia tertawa kecil, “Sebab mereka menginginkan menantu ....”
“Hah!” Kirei masih tak mengerti. “Gaje bangeeett ....” Semburnya kesal.
Akhirnya ia tergelak. Gemas melihat gadis yang duduk di sampingnya.
Keputusan menggunakan taksi online ternyata tepat menurutnya.
Dari pada harus dijemput langsung mama sama papa.
**
Kirei
Tiba di kediaman mertua ia disambut ramah. Bahkan berlebihan menurutnya. Semua pekerja rumah dikumpulkan demi menyambut kedatangannya.
Papa seorang purnawirawan polisi. Sementara mama ibu rumah tangga biasa yang punya kesibukan usaha bakery. Pembawaan papa ternyata diturunkan pada laki-laki yang duduk di sebelahnya. Wibawanya jelas masih terpancar. Tegas. Lugas. Berkarisma. Serta aura kepemimpinan yang kuat.
Sementara mama meski banyak bicara justru menjadikan suasana lebih hidup. Dan bersemangat.
“Kirei jangan sungkan ya ... tegur aja kalo Danang kurang peka. Dia memang gitu sebelas dua belas sama papanya.”
“Dia memang gak banyak omong. Langsung cuuss ... to the point aja maunya ....”
“Tapi dia kalo udah sayang sama seseorang, beeuuuhh ... bisa-bisa kamu dibikin jungkir balik lho sama dia,” pungkas mama dengan menipiskan bibirnya.
Mama tak acuh. Lalu berdiri sibuk menerima telepon. Tak berapa lama kembali bergabung duduk di sebelah papa.
“Pokoknya besok sore syukuran pernikahan kalian. Semua sudah beres. Kalian tinggal menyiapkan diri aja,” tandas mama penuh semangat.
"Meskipun acara sederhana, tapi semua orang harus tahu kami sudah punya menantu ... dan yang terpenting doa dan restu dari semuanya agar pernikahan kalian berkah dan bahagia." Mama tersenyum senang.
“Kamar juga udah siap. Sebaiknya kalian istirahat dulu. Pasti cape, kan?” Sambung mama.
“Nang, ajak Kirei ke kamarmu.” Titah Mama kemudian.
Ia hanya mengulas senyum, bingung sekaligus canggung. Dipastikan selama di sini ia akan berada satu kamar dengan laki-laki itu.
Oh my god.
Ia hanya bisa mengekori Danang menuju kamarnya. “Kamu istirahat saja dulu. Aku ada perlu sama Papa,” tukasnya setelah mengantarkan dirinya masuk ke dalam kamar.
Suasana kamar yang tak jauh berbeda dari kamarnya di apartemen.
“Kalo butuh sesuatu aku di bawah. Atau ada Bi Darmi juga Jum di bawah.” Kata Danang sebelum menutup pintu.
Ia mengangguk mengerti.
Matanya ia paksa terpejam saat tubuhnya telah terbaring nyaman di atas kasur. Namun, tak sedikit pun rasa kantuk menyergapnya. Ia kembali duduk di tepi ranjang. Netranya menatap deretan foto-foto Danang yang terpajang di dalam lemari kaca yang bergabung dengan koleksi action figure-nya.
Foto saat ia di wisuda Akpol, wisuda sarjana hukum. Memegang piala kejuaraan karate. Dan beberapa foto saat mendaki gunung bersama laki-laki yang ia kenal. Ada William, Dipa dan Aksa.
Lalu foto di depan Merlion Park bersama Aksa dan Arik.
Foto di depan Sydney Opera House, New South Wales, Australia.
Kesemuanya tampak mencerminkan bahwa ia dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Masa muda yang bahagia.
Kemudian matanya menangkap foto sosok laki-laki yang sepertinya ia kenal. Laki-laki itu mengenakan seragam putih abu-abu berangkulan dengan William di depan gedung Siola Surabaya.
“Kamu seperti mirip seseorang,” gumamnya menatap lekat foto berseragam SMA itu.
Pintu kamar terdengar diketuk beberapa kali dari luar.
Belum juga dirinya akan membuka pintu, Danang sudah terlebih dulu mendorongnya dan masuk.
“Lho ... kamu gak tidur?” tanya Danang.
Laki-laki itu melewatinya, menuju lemari pakaian yang berada di sudut kamar. Membuka lemari baju lalu mengambil kaos dan celana pendek kemudian membawanya ke kamar mandi.
Bahkan ia belum sempat menjawab. Danang sudah hilang di balik pintu.
Ia menjengit kaget, saat pundaknya ditepuk. Sebab ia berdiri membelakangi pintu kamar mandi.
“Kok malah ngelamun?” Ucap Danang seraya merangkak di atas kasur.
__ADS_1
“Ka-kamu mau tidur?” Tanyanya tergagap. Jelas saja jika laki-laki itu tidur di sini. Lantas ia tidur di mana?
“Absolutely, yes!”
“Don’t worry just sleep on it (jangan khawatir hanya tidur tak lebih),” lalu Danang tersenyum miring.
“Tidurlah ... nanti malam kita akan makan di luar bersama Papa dan Mama.”
Dengan hati-hati ia terpaksa merebahkan tubuhnya miring membelakangi laki-laki yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya. Berbatas guling di antara mereka. Sebagai benteng jika dia khilaf. Tentunya laki-laki itu harus tetap diwaspadai.
Makan malam bersama mama dan papa tak seburuk yang ia bayangkan.
Ia pikir pernikahannya adalah musibah. Pernikahan yang membawanya pada keadaan terpaksa dan akhirnya orang-orang juga akan menilainya buruk.
Tapi ternyata salah.
Mama dan papa begitu baik menerima dirinya sebagai menantu. Pun dengan orang-orang di sekitarnya.
“Kirei masih tetap kerja, kan?” tanya Mama ketika pikirannya melalang buana.
Ia mengangguk sembari tersenyum kecil.
“Cuma mama pesan. Jika suatu saat Danang dimutasi, Mama harap kamu bisa ikut terus mendampinginya. Resiko nikah sama istri polisi ... siap ditempatkan di mana saja.”
Lagi-lagi ia mengangguk sekaligus menelan ludahnya kasar.
“Oya, kapan-kapan kita agendakan pertemuan sama bunda dan kakakmu, yaa? Masa kita sudah jadi keluarga tapi seperti kayak gak kenal gitu.”
“Iya, Maa ....” Sahutnya.
“Ayo makannya dihabiskan, jangan sampai mubazir,” ucap mama.
“Nang, apa gak sebaiknya kalian cari rumah? pindah ke rumah yang lebih nyaman gitu. Kalo apartemen kan sempit. Lagian nanti kalo Kirei hamil dan kalian punya an—“
“Uhukkk ....” Ia yang sedang mengunyah makanan mendadak tersedak.
Dengan sigap Danang mengangsurkan gelas berisi air putih padanya.
“Makasih, Mas ....” Balasnya.
“Ma ... bahas itu nanti saja. Kami nyaman tinggal di apartemen kok,” kilah laki-laki itu. Berharap mama tak lagi mendesak perihal rumah, kehamilan dan anak. Mereka masih fokus memperbaiki hubungan yang mereka sendiri tak tau akan seperti apa. Masih abu-abu.
“Oke ... oke. Terserah kalian, sekarang tinggal di apartemen. Tapi kamu juga harus siap memikirkan masa depan.” Mama always had a way....
Papa yang cool hanya tersenyum menjadi pendengar tanpa mendebat dan menengahi.
Pulang makan malam ia dan Danang singgah di sebuah taman. Sementara mama dan papa langsung pulang ke rumah.
“Mama kamu asyik yaa ....” Katanya saat mereka duduk di bangku taman.
Danang hanya mengedikkan bahunya santai, “Mungkin sedikit cerewet,”
“Aku pikir mama dan papa akan marah sama kita.”
“Buktinya mereka senang, kan? Apa lagi bawa menantu kayak kamu!”
“Hiperbolis ....” Semburnya.
“Tapi, aku bukan menantu seperti bayangan mereka.”
“Pernikahan kita karena terpaksa,”
“Aku takut mereka kecewa ... kalo mereka tahu kita hanya berpura-pura ....” Tandasnya sarkas.
“We start being friends (kita mulai menjadi teman),” ucap laki-laki itu. "Kamu mau, kan? Mencobanya?”
Hening sesaat.
Ia bergeming.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan....yaa! 🙏
__ADS_1