Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
31. Give Me a Bell


__ADS_3

...31. Give Me a Bell...


Danang


Nyatanya terkuaknya kisah masa kecil mereka tak mengubah hubungan menjadi lebih baik. Berjalan biasa seperti sebelumnya. Bahkan gadis itu cenderung canggung apabila berhadapan dengannya.


Ia menghela napasnya.


Ini sudah hari kelima sejak ia menceritakan masa kecil mereka. Kirei seolah menghindarinya. Rasanya ia ingin membombardir gadis itu dengan banyak pertanyaan. Tapi urung dilakukan.


Setiap mereka bertemu dan ia melontarkan pertanyaan walau kadang basa-basi untuk mencairkan suasana hanya dijawab sekenanya, seperti;


“Ya,”


“Gak,”


“Mungkin,”


Atau cuma, “Hem ....”


Makan siang yang selalu ia kirimkan juga hanya dibalas, “Thanks,” lewat pesan chat.


Apa lagi saat mama berencana ingin menggelar resepsi pernikahan mereka, hanya dijawab, “Terserah, ikut saja ....”


Rasanya kepala mau pecah. Bukan ini maksudnya ia mengungkap kisah masa kecil mereka. Bahkan ia merasa telah memikirkan waktu yang tepat untuk menceritakannya. Namun, semua tak sesuai ekspektasinya.


Apa ia salah langkah?


Apa perasaannya terhadap gadis itu bertepuk sebelah tangan?


Bahkan ia terpaksa meminta Aksa untuk mendengar sesi curhatnya.


What the hell?


Seorang Danang Barata baru kali ini melankolis. Not me!


Menurut Aksa, gadis itu butuh waktu.


“Mungkin dia syok, Mas. Butuh waktu. Biarkan dulu seperti itu.”


Ini sudah hampir satu minggu. Butuh berapa lama lagi? Kesabarannya sudah maksimal.


“Atau coba minta waktunya sebentar aja. Ungkapkan perasaan Mas Danang. Dari hati. Pake kata-kata yang buat dia tergugah mungkin,”


Sudah dilakukan, saat ia mengirim lunch box. Dengan diiringi notes,


‘Don’t forget to eat (jangan lupa makan), aku tak mau kamu sakit’


‘Have a good day (semoga harimu menyenangkan)’


‘Keep up the good work (tetap semangat bekerja)’


‘So glad you’re on my life (terima kasih, kamu berada dalam hidupku)


Dan masih banyak lagi. Namun sayang, hanya dibalas, “Thanks,” di chat pesan lagi dan lagi. Membuktikan bahwa ia tak berminat. Atau sedang marah meski ia masih menghargainya dengan mengucapkan terima kasih.


Ia juga berusaha mencuri waktu agar bisa bertemu lebih lama dengannya saat di apartemen.


Saat pagi hari misalnya, ia bangun lebih cepat. Selalu menyiapkan sarapan untuk mereka. Berharap bisa makan berdua di meja makan, sambil mengobrol mungkin dengan waktu yang tak banyak. Tapi gadis itu selalu keluar kamar saat waktu sudah mepet. Dengan dalih terlambat, terpaksa sarapan dibawa bekal.


Atau saat malam. Gadis itu seperti sengaja pulang malam. Alasan deadline. Banyak laporan dan pekerjaan. Sebab ia sekarang merangkap menjadi news anchor menggantikan news anchor lama yang cuti hamil dan melahirkan. Ia lebih sering tiba dulu di apartemen dibanding gadis itu.


“Aku cape, Mas. Aku langsung istirahat ya,” ucap Kirei saat ia sengaja menunggunya pulang kerja.


Sepertinya waktu belum berpihak padanya.


Begitu juga saat ia pulang malam. Ingin rasanya mengetuk pintu kamarnya yang sudah berganti lampu temaram. Tapi tiba-tiba nyalinya menciut. Entah menguap di mana?


Lantas, kapan mereka punya waktu bersama?


Ia memijit pangkal hidungnya.


Seseorang mengetuk pintu dan ia mempersilakan masuk.


“Sore, Ndan ....” Sapa Banuaji.


Ia hanya mendongak sebentar kemudian kembali menatap layar komputer. Meneruskan laporan yang harus segera dikirim.


“Sepertinya kurang suntikan,” sindir Banuaji. Tapi ia tak acuhkan.


Banuaji duduk di sofa. Sementara ia masih duduk di kursi kerjanya. Di hadapannya beberapa berkas yang sama sekali belum tersentuh.


“Apa Ibu Danang kurang memberikan servis memuaskan?” seloroh Banuaji dengan menggoyang-goyangkan kakinya yang saling tumpang.


Ia yang duduk di kursi kerja berbahan kulit berwarna hitam itu hanya berdecak. Kemudian beralih dengan membolak-balikkan berkas seolah ia membacanya. Padahal sekedar kamuflase.


Banuaji, pria berumur 45 tahun itu memang agak sedikit gesrek. Suka nyablak. Meski ia harus mengakui Banuaji lebih berpengalaman.


“Kalo lagi marahan, kirim bunga. Kirim makanan kesukaannya. Kasih notes ngegombal dikit. Pasti klepek-klepek. Atau ....”


Lagi, ia pura-pura sibuk menekuri  berkas. Padahal hanya dipandangi saja.


“Apa masalahnya?” tanya Banuaji, sepertinya masalah yang  menyita konsentrasi komandannya begitu pelik. Terbukti beberapa hari ini komandannya lebih ‘garang’.


Saat menginterogasi beberapa penyidikan kasus. Ia begitu sering menggebrak meja. Emosinya meluap-luap seolah ia menjadi singa lapar yang siap menerkam mangsa. Meski dalam aturan itu sah saja. Tapi di luar kebiasaan seorang Danang yang dikenalnya.


Ia mendesahkan napas perlahan. Sepertinya bertukar cerita dengan Banuaji tidak ada salahnya. Justru mungkin lebih tepat dibanding dengan Aksa.


“Apa istri pak Banuaji kalo marah berhari-hari?”


Banuaji tergelak, “Istri marah pasti ada sebab. Kita harus cari tahu penyebabnya apa dulu.”


“Lalu?”


“Bilang saja ‘maaf’. Meskipun dia yang salah. Atau ... kita sama-sama salah. Kata ‘maaf’ itu singkat padat, tapi sangat ampuh dan menyentuh.”


“Itu saja?” ia mengernyit.


“Yap. Tentunya diserati gombalan recehan ....” Tawa Banuaji menyembur.


Sepertinya ide Banuaji dan Aksa tidak ada salahnya dicoba.


 

__ADS_1


***


Kirei


“Standby! Cam roll!” teriak campers¹, “mulai!”


Kirei mulai membacakan berita dengan opening program yang terdapat di layar prompter². Tentunya dibantu dengan seorang prompter.


“Cut!” ucap campers.


Ini sudah retake³ yang keempat kalinya. Entah mengapa fokusnya mendadak ambyar.


“Fokus!” seru Agung yang menjadi campers sekaligus director di sela-sela break (istirahat). “Meski ini tapping⁴, kamu harus tetap fokus!” tandasnya lagi.


Ia hanya mengangguk. Tanda mengerti.


Tiga jam melakukan tapping akhirnya ia bisa bernapas lega.


Ini kali terakhir tapping, sebab lusa ia sudah berangkat ke Kamboja.


Saat ia meminta ijin mengikuti pelatihan di Kamboja pada Aldi selaku korlip dua minggu yang lalu untuk meminta surat rekomendasi. Aldi memintanya untuk menggantikan sementara mbak Dian news anchor program telusur peristiwa.


“Selama Dian cuti melahirkan ....” ucapnya.


“Aku tahu kamu bisa. Next to be ... news anchor.”


Bagaimanapun ini memang kesempatan emas baginya. Tapi ia masih ragu dengan kemampuannya sendiri.


Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Ia berjalan menyusuri lobi. Jelas kantor sudah sepi.


“Monggo, Mbak Rei?” sapa satpam yang berdiri di depan pintu lobi membukakan pintu untuknya.


“Makasih, Pak.” Balasnya dengan tersenyum.


Tiba-tiba ia menepuk jidatnya, lupa jika belum memesan ojek online. Terburu ia merogoh ponsel dalam tasnya.


Namun nahas karena ceroboh ponsel terjatuh bebas di lantai bersamaan dengan sepatu hitam mengilat yang hampir menginjaknya.


Sontak mereka sama-sama menunduk demi menggapai ponsel secepatnya.


Sepersekian detik mata mereka bertumbukan. Saat keduanya saling beradu pandang.


“Mas Danang,”


Ponselnya terlebih dulu digapai laki-laki itu.


“Rusak ....” Entah mengapa justru kata itu yang keluar dari Danang seraya memperlihatkan ponselnya yang telah retak retai pada layarnya.


Keduanya benar-benar canggung. Aneh dan asing.


“Kamu mau pulang, kan?”


Ia mengangguk.


“Aku ke sini jemput kamu.”


Pun di dalam mobil mereka seperti orang yang tidak saling kenal. Ia terus melemparkan pandangan ke luar jendela sampingnya. Sementara Danang fokus mengemudi meski sesekali menoleh pada gadis yang duduk di sebelahnya.


“Ini mau ke mana, Mas?” tanyanya saat mobil bukan mengarah ke jalan menuju apartemennya.


“Kamu belum makan, kan?” laki-laki itu menoleh padanya.


Tapi ia bergeming.


Tiba di sebuah resto kampung laut mobil berhenti.


“Kita makan di sini” ucap laki-laki itu sambil melepas seat belt.


Ia terpaksa mengikuti laki-laki itu juga melepas sabuk pengamannya. Mengekori Danang di belakang.


Kondisi resto terlihat sepi sebab waktu sudah melewati jam makan malam.


Mereka tiba di sebuah ruangan yang lebih privat.


Duduk berhadapan. Rasanya ia tak lagi bisa mengendalikan degup jantungnya yang lebih cepat..


Seminggu ini ia memang sibuk. Program tapping dua hari sekali, belum liputan di lapangan. Sebab selama seminggu ke depan ia harus pergi meninggalkan pekerjaannya untuk mengikuti pelatihan jurnalistik di Kamboja.


“Silakan,” ucap pelayan resto berpakaian batik bertuliskan nama resto menawarkan daftar  menu pada mereka.


“Kamu mau makan apa?” tanya Danang padanya.


Ia membolak-balikkan daftar menu, “Bandeng kropok, kalian saos tiram. Minumnya lemon tea.”


“Saya, fillet ikan goreng almond, minumnya lychee tea.” Ucap Danang.


“Ada tambahan lagi, Pak?”


“Tidak ada.”


“Baik. Mohon ditunggu, ya, Pak.” Pamit pelayan seraya meninggalkan mereka.


“Kamu benar-benar sibuk seminggu ini.” Entah itu pertanyaan atau pernyataan yang keluar dari laki-laki itu.


Tapi ia tak menjawab. Kedua tangannya saling bertaut di atas meja. Ia ragu apakah ia harus mengatakannya malam ini?


“Mas, aku. Aku lusa aku berangkat ke Kamboja.” Ucapnya sembari menatap laki-laki itu meski ia sendiri tak yakin apakah laki-laki yang berstatus suaminya ini akan mengizinkannya atau tidak.


Kedua alis Danang berkerut.


“Mau ke mana?” tanya laki-laki itu demi memastikan pendengarannya tak salah tangkap.


“Aku ada pelatihan di Kamboja selama lima hari. Dan lusa aku berangkat,” terangnya.


Danang berdecak, “Kenapa baru ngasih tau sekarang?” ia menghela napasnya kasar. Kedengaran seperti marah. Kesal atau kecewa mungkin.


“Aku seperti—“ kalimat Danang terpotong saat pelayan resto membawa pesanan mereka.


“Silakan ....” Ucap pelayan saat makanan telah tersaji di meja.


“Makasih, Mbak.” Ucapnya lirih dengan menerbitkan senyum.


Tanpa bicara keduanya makan dalam diam. Bahkan Danang seperti makan terburu-buru. Ia merasakan atmosfer yang tak nyaman. Dadanya sesak. Perasaannya tak enak. Antara merasa bersalah sebab mendadak memberitahu. Juga selama seminggu ini ia sengaja tak acuh pada laki-laki itu.

__ADS_1


Ia hanya ingin memastikan tentang perasaannya. Juga memastikan perasaan laki-laki itu padanya.


Pernikahan mereka yang mendadak jelas membuatnya syok. Ia belum bisa menerima. Tapi seiring berjalannya waktu. Laki-laki itu membuatnya nyaman. Melindunginya dengan segala perhatiannya.


Terlebih lagi laki-laki itu adalah kakak baik yang pernah hadir di masa kecilnya sebagai penolongnya. Apa ia masih meragukannya?


“Kita pulang!” seru Danang yang sudah bangkit dari duduknya.


Ia tercekat. Terang saja ia belum selesai makan. Sebab pikirannya tadi entah ke mana.


“Dari pada kamu cuma lihatin piring kamu. Lebih baik kita pulang.” Danang menyergah sambil berlalu meninggalkannya.


What!


Apa ia tidak salah dengar?


Tak ada yang memulai bicara sepanjang perjalanan.


Pun saat turun dari mobil hingga tiba di unitnya. Bahkan Danang tiba di unitnya terlebih dulu. Terkesan berjalan tergesa tak mau bersamanya. Hingga ia harus mempercepat langkah demi mengikis jarak keduanya.


Malam ini baginya adalah puncak ketegangan hubungan mereka.


Seminggu ini ia tidak bisa tidur nyenyak. Harus retake berkali-kali saat tapping, sebab sesuatu yang ia juga tak mengerti apa. Aldi juga protes karena mendapat laporan dari campers. Jelas kehadirannya di kancah news anchor baru atas rekomendasi atasannya itu. Sehingga nama Aldi juga dipertaruhkan.


Ia keluar kamar. Rasanya ia butuh sesuatu yang menyegarkan pikirannya. Membuat capuccino mungkin. Atau cokelat hangat.


Baru keluar kamar matanya menangkap Danang yang sedang menonton pertandingan sepak bola di televisi.


Menghela napas lalu melangkah menuju dapur. Sepertinya cokelat hangat lebih tepat pikirnya.


Entah mengapa, kakinya berjalan mendekati sofa dan duduk di sebelah laki-laki itu. Meski jarak mereka tidak bisa dibilang dekat juga jauh. Kedua tangannya menggenggam mug berisi minuman cokelat panas.


“Mas Danang, mau?” tawarnya pada laki-laki itu. Bahkan Danang tak menoleh sedikit pun, meski menjawab pertanyaannya.


“Tidak. Makasih.”


Ia gelisah. Ingin rasanya mengakhiri ketegangan ini. Tapi dimulai dari mana?


“Kalo mas Danang gak ngizinin aku berangkat ke Kamboja. Aku tidak akan pergi.”


Hah! Kenapa justru kalimat yang tidak seharusnya diucapkan itu, malah keluar begitu saja. Sontak ia ingin meruntuki dirinya sendiri.


Danang menoleh padanya.


“Are you sure?” tatang laki-laki itu.


Ia mengangguk. Meski dalam hatinya bertolak belakang. Tapi, demi ....


Laki-laki itu meraih remote di sampingnya lalu memelankan volume televisi. Ia menepuk-nepuk sofa di sebelahnya, “Sini,” ucapnya.


Ragu. Pasti iya.


Ia meletakkan mug berisi cokelat yang sudah hangat di meja. Bergeser mendekat padanya.


Diraihnya kedua tangannya yang saling bertaut di atas pangkuan.


“Sebenarnya aku berat mengizinkan kamu pergi. Tapi demi passion kamu. Aku harus ikhlas.”


“Give me a bell (telepon aku). Di manapun ada waktu.”


“My bad ....”


Ia mengulas senyum seraya mengangguk.


Tanpa komando, Danang merengkuhnya. Mengecup puncak kepalanya.


“Bolehkah aku minta sesuatu sebelum kamu pergi?”


-


-


Catatan :


Campers¹: camera person atau kameramen yang biasanya merangkap sebagai director atau sutradara.


Prompter² : alat bantu untuk memudahkan presenter atau news anchor dalam membacakan berita. Biasanya disertai dengan remote control.


Retake³ : pengambilan ulang adegan atau gambar


Tapping⁴ : proses produksi program televisi non live atau tidak disiarkan secara langsung.


 


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberi dukungannya ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2