
...79. Separuh Aku...
Kirei
“Kebakaran hutan yang melanda di sejumlah provinsi di Pulau Sumatera mulai berdampak luas. Pagi ini hampir seluruh wilayah di kota Medan dan sebagian kota di Sumatera Utara diselimuti kabut asap.”
“Dampak kebakaran hutan terlihat jelas di areal bandara Kualanamu di Kabupaten Deliserdang-Sumetara Utara ....”
“Bahkan pagi ini kabut asap semakin pekat, akibatnya lalu lintas kendaraan dan penerbangan pesawat di bandara terganggu.”
“Pihak balai besar Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika atau BMKG wilayah I Medan mengungkapkan, dari hasil pengamatan mereka saat ini terdeteksi sebanyak 251 titik api yang tersebar di Riau dan Sumatera Utara.” News anchor membacakan berita di salah satu televisi.
Berita pagi ini di beberapa stasiun televisi menyiarkan tentang kabut asap yang melanda beberapa wilayah di Pulau Kalimantan dan Sumatera.
Matanya terus tertuju pada layar televisi. Sambil sesekali menyesap teh yang baru saja diseduhnya.
Memang sudah sepekan berita tentang kabut asap memenuhi layar pemberitaan media baik elektronik maupun cetak. Tapi ia tak pernah menyangka jika ia akan mengalami sendiri. Terjebak dalam kepungan asap. Padahal asap dari karhutla sudah berulang kali terjadi. Seolah menjadi rutinitas tiap tahun yang tak berkesudahan.
Ia berjalan mendekat ke jendela, menyibak korden berwarna cokelat muda. Kota Medan pun terkena imbas.
Ia menghela napas. Dua hari yang lalu mereka bisa terbang dari Aceh ke Medan. Kabut asap belum setebal yang diberitakan. Tapi sekarang ....
Bahkan dipastikan roadshow terakhir di kota Palembang pending atau cancel. Sebab pagi ini harusnya mereka bertolak ke sana.
Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas kasur. Duduk di pinggir ranjang dengan menyilang kaki. Mulai mengetik sesuatu.
Kirei : Mas lagi apa?
Kirei : Jadi?
Matanya kembali tertuju pada layar televisi.
Mas Danang : Lagi manasin mobil. Jadi.
Ia menggigit bibir dalam bawahnya. Mengembuskan napas perlahan.
Kirei : Pokoknya hati-hati!
Kirei : Love you ....
Mas Danang : Love you too.
Ia mengganti saluran televisi.
“Kabut asap pekat masih menyelimuti Sumatera. Di Mandailing Natal-Sumatera Utara jarak pandang di pagi hari hanya mencapai 50 meter. Kabut asap juga menghambat lalu lintas di jalan lintas Sumatera.”
Bunyi notif pesan yang masuk mengalihkan pandangannya dari televisi.
Mas Anton : Rei, kami tunggu di bawah.
Ia segera bergegas mengganti handuk kimono dengan pakaian casual. Mas Anton dan para kru lainnya telah menunggunya di restoran bawah.
**
Aksa
Pagi ini ia baru datang dari Bandung. Bahkan baru lima belas menit yang lalu. Dan menjelang siang nanti rencana mau ke Griyo skyway untuk mendampingi Dinas Pariwisata provinsi menyambut orang nomor 1 di Kemenpar. Sebab Menteri Pariwisata akan berkunjung ke Griyo skyway dan sekitarnya.
Lelah.
Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Dua hari lalu Mas Danang mengajaknya untuk tour ke Bukit Menoreh. Ah, ya itu artinya hari ini.
Ia kembali bangkit. Menyambar slingbag yang ia lempar ke kasur begitu saja tadi saat masuk ke dalam kamar.
“Halo Mas ... di mana?”
“Magelang,”
“Jadi?”
“Jadilah ....”
“Ro Rendra?”
“Sendiri. Nyokapnya masuk rumah sakit.”
“Lhoh ... ngerti ngono aku melo (tahu gitu aku ikut).”
“Halah raimu! Tembe balik ta? Aku wes meh tekan desone ki. Seru ketoke (Halah tampangmu! Baru pulang, ya? Aku udah sampai desanya ini. Kayaknya seru).”
“Aku nyusul ya,”
“Gak usah. Lapo rep nyusul barang. Sasi ngarep ae. Ning Dieng (Gak usah. Kenapa mau nyusul juga. Bulan depan saja. Ke Dieng).”
“Yoweslah ... hati-hati!”
**
Kirei
Ia ikut bergabung dengan yang lainnya di meja makan. Melihat kru yang sebagian telah menyelesaikan sarapannya.
“Sorry, Mas ....” Ia mengenyakkan tubuhnya di kursi kosong samping Anton yang sedang menyesap kopinya.
“Parah nih kabut.” Anton menyergah, setelah meletakkan kembali cangkir kopi.
“Roadshow Palembang fix cancel.”
“Penerbangan semua delay.”
“Kita juga ketahan di sini gak tahu sampai kapan!”
Nana menyahut, “Coba rute lain.”
Anton menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya ke belakang. “Negara tetangga kita aja komplain. Kita ekspor asap ke sana!” lalu terkekeh.
“Jadi ini roadshow terakhir Sumatera, Mas?” tanyanya.
Anton mengedikkan bahunya, kemudian keningnya mengerut.
“Kita pun gak bisa pergi ke mana-mana. Kota Medan dipenuhi asap. Terpaksa ngendon aja di kamar.” Sahutnya.
__ADS_1
“Bersiap aja. Kalopun siang atau sore bisa terbang. Kita langsung cabut.” Pungkas Anton.
Ia mengangguk melanjutkan menyantap soto medan sebagai menu sarapan pilihannya.
Matahari di waktu siang seolah tersembunyi. Sinarnya tak bebas menerjang sebab terhalang kabut yang justru kian pekat.
Ia sudah kembali ke kamarnya. Duduk bersandar pada headboard ranjang. Kakinya diselonjorkan. Bosan. Berulang kali membuka tutup aplikasi media sosialnya. Tidak ada yang menarik pikirnya.
Mengirimkan pesan ke suaminya.
Kirei : Mas udah di mana?
Masih centang satu abu.
Kirei : Rei ketahan di Medan. Kabut asap di mana-mana. Roadshow ke Palembang di cancel. Alamat gak bisa balik Jakarta juga!
Centang satu abu.
Menit berikutnya jadi centang dua. Tapi masih abu.
Ia menghela napas.
Pasti laki-laki itu sedang mengemudi. Buktinya belum sempat membaca pesannya.
Ia beranjak menuju minibar. Mengambil satu camilan keripik kentang. Dan membawanya ke sofa. Melihat suasana di luar melalui kaca jendela yang ia buka kordennya. Sengaja. Ia ingin memantau kondisi kabut asap di luar.
Sreek ... krakk.
Bunyi kemasan camilan keripik kentang yang baru saja ia buka. Memasukkan keripik ke dalam mulutnya. Lalu kembali menyalakan televisi. Ia duduk di sofa dengan mulut mengunyah dan mata yang fokus ke layar.
“Penyanyi religi digugat cerai setelah melakukan poligami tanpa restu dari istri pertama.”
Tap.
Ia pindah saluran.
“Pemerintah Malaysia dan Singapura mengeluh hirup kabut asap dari Indonesia.”
Tap.
Ia pindah saluran.
“Atasi kabut asap, 3 ton garam ditebar di langit Kalimantan.”
Tap.
Ia pindah saluran untuk kesekian kali.
“Selamat pagi Cik Gu!”
Bibirnya melengkung ke atas.
**
Rendra
Ia baru saja mengurus segala administrasi rumah sakit mamanya. Esok pagi sang mama sudah bisa keluar rumah sakit. Menurut observasi dokter mama terkena dispepsia. Atau sakit magh.
Menjadi anak laki-laki satu-satunya harapannya bisa menjaga mama setiap saat. Namun beban pekerjaan ternyata mengharuskannya menomor dua kan keluarga.
Kedua adik perempuannya masih bersekolah. Mama memilih menjadi single parent setelah perceraiannya 10 tahun yang lalu.
Ia memandangi wajah mama yang begitu lelap. Teduh. Namun gurat kerasnya kehidupan tampak di sela-sela kerutan.
Selepas perceraian mama banting tulang. Bekerja apa saja yang penting halal. Dari jualan baju. Elektronik hingga peralatan rumah tangga. Sampai mama bisa memiliki 2 ruko saat ini.
Ia mengusap punggung tangan mama. Perjuangan mama harusnya ia gantikan sebagai anak pertama. Di masa tuanya harusnya mama beristirahat. Tapi itulah mama. Keras kepala. Tekadnya kuat. Dan tentu mama ingin membuktikan bahwa mama bisa dan mampu menegakkan dagu tanpa papa.
Ddrrttt ... ddrrttt
“Ya ....”
“Ren, Danang ....”
Sontak ia berdiri kemudian berjalan menjauh dari pembaringan mama.
“Kenapa, Mas?”
“Danang ... dia kecelakaan.”
Bibirnya mengatup seketika. Lidahnya kelu hanya untuk sekedar berucap.
“Sekarang lagi di bawa ke rumah sakit ....” Dasa menyebutkan sebuah rumah sakit yang ia datangi sekarang ini.
Ia menelan ludahnya kasar.
“Ren,” Dasa memanggilnya dari ujung sana. Sebab tidak ada jawaban darinya.
“Mungkin 15 menit lagi sampai ke situ tolong kamu ....”
Ia sudah tidak bisa berpikir lagi. Harus segera mempersiapkan segala sesuatunya. Menyambut ... oh memberitahukan ... oh shit! Ia mengumpat sebab bingung hal apa yang harus dilakukannya. Padahal ini sudah semestinya menjadi tanggung jawabnya.
Ia segera menghubungi adik-adiknya untuk menjaga mama. Sementara dirinya harus mengurus segala sesuatu agar atasannya cepat ditangani.
**
Aksa
Ditengah-tengah kata sambutan Menteri Pariwisata, ponselnya bergetar terus menerus. Ia merogoh ponsel dalam saku celananya.
Ia melirik sebentar.
Dasa calling ....
Ia mengernyit.
Tapi masih tak diacuhkannya. Ia letakkan ponsel di sisi duduknya. Tapi selang beberapa detik ponsel itu bergetar kembali.
Dasa calling ....
Perasaan tidak nyaman tetiba menyeruak. Tidak mungkin Dasa menghubunginya bahkan berulang kalau tidak.
__ADS_1
Ah.
Ia menggeleng secepatnya.
Bapak menteri telah kembali duduk di tempatnya semula. Acara akan berlanjut mengelilingi fasilitas yang dipunyai Griyo lalu mengunjungi para petani sekitar.
Ia sedikit menjauh dari rombongan yang mulai bergerak.
Ia menghubungi Dasa. Panggilan pertama tidak diangkat. Ia berusaha menghubungi untuk kedua kali.
“Halo, Mas.”
“Gimana?”
“Danang kecelakaan. Sekarang di rumah sakit ....”
Ia langsung mengambil langkah seribu meninggalkan Griyo. Setelah sebelumnya mengirim pesan pada Kasih.
**
Kirei
Ia ketiduran setelah berpindah dari sofa ke kasur. Acara kartun 2 anak berkepala plontos ajaib dari negeri seberang yang banyak menyita anak-anak Indonesia itu sampai berganti dengan acara sinetron.
“Jam tiga,” gumamnya melihat dari layar ponsel yang dihidupkannya.
Ia bangkit dari tidurnya. Menggeliat sebentar. Lalu melongok ke kaca jendela.
“Masih sama,” keluhnya.
Tubuhnya merosot. Kepalanya ia sandarkan ke headboard
Ia membuka aplikasi chat berwarna hijau. Pesan chat untuk Danang masih centang dua abu-abu. Tandanya belum dibuka sama sekali. Apa lagi di bacanya! Huh.
Ia mengembuskan napas berat.
Hampir seharian tak mendapat kabar dari suaminya rasanya ada yang kurang. Ditambah aktivitasnya yang hanya menunggu kepastian kabut asap berlalu. Membuatnya dilanda kebosanan.
Ia mencoba menghubungi nomor suaminya. Nada sambung namun tidak diangkat.
Ia meniup rambut poninya yang menyulur menutupi kedua matanya. Lalu menghembuskan napas Kasar.
Tapi tak berapa lama ponselnya berdering.
Rendra calling ....
Dengan cepat iya menyahut, “Ya, Ren.”
“Mbak ....”
Rendra menceritakan musibah yang menimpa laki-laki itu. Dan pungkasnya,
“Mas Danang sudah ditangani dokter. Kondisinya gak pa-pa. Mbak Kirei jangan khawatir.”
Lagi, lagi ia mengembuskan napas berat bersamaan dengan matanya yang memejam. Rasanya kalau bisa detik ini juga ia datang ke sana. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa berdoa. Mengharap kekuatan tangan Tuhan bermain untuknya.
Meskipun kata Rendra ‘tidak apa-apa’ tapi ia tidak akan percaya sebelum melihat kondisinya sendiri.
“Mas ... aku, aku mau pulang.” Ucapnya ketika sambungan telepon pada produsernya itu tersambung.
Suara decakkan dari ujung jelas terdengar, “Rei, info terbaru bandara masih ditutup. Kita tidak bis—”
“Mas Danang kecelakaan. Aku gak bisa diem gini, Mas.” Potongnya. Nadanya penuh kekhawatiran.
“Oke ... oke. Tenangkan dirimu. Kalo pun ada penerbangan secepatnya aku kabari.”
“Tenang, Oke!” Pinta Anton.
-
-
Terima kasih yang berkenan mampir, membaca dan memberikan dukungannya .... 🙏
__ADS_1