
...11. Caribbean van Java (3)...
Kirei
Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba menghalau pantulan sinar lampu yang masuk silau ke dalam netranya.
Bergumam-gumam tak jelas sebab masih merasakan ototnya yang kaku.
Kesadarannya hampir sepenuhnya kembali dan betapa terkejutnya ia saat menyibak selimut melihat pakaiannya telah berganti.
"Ya, ampuunn ...." Ucapnya.
Pandangannya mengedar ke sekeliling ruangan. Benar ini adalah kamar yang ia tempati. Tapi....
Ia berusaha bangun dan bersandar ke headboard. Tak lama setelah itu suara ketukan pintu terdengar.
“Rei,” ucap Aldi yang langsung mendekat dan duduk di tepi ranjang. “Syukurlah ... kamu sudah sadar.”
“Mas Aldi, aku ....“ Ia bingung harus bertanya dari mana, sebab seingatnya ia tengah snorkeling lalu merasakan kram otot dan setelah itu....
“Hei, kamu itu pingsan saat snorkeling. Coba kalo aku gak tau keberadaanmu saat itu. Pastinya kamu udah ke bawa ombak,” jelasnya.
“Terus yang gan-gantiin ba ....“
“Aku ....“
“Hah!” Ia terperangah, matanya membulat sempurna terkejut bukan main.
“Mas ... Mas yang?” Wajahnya sudah semerah tomat masak kini. Merah sebab marah bercampur malu tapi lebih mendominasi kemarahan terhadap laki-laki di depannya.
“Ha ha ha ... Rei ... Rei.” Laki-laki jangkung itu tertawa menggelengkan kepalanya saking gemas melihat reaksi yang dilihatnya.
“It’s secret ....” Bisik Aldi dengan senyum seringai sedikit mencondongkan badannya ke arahnya.
Sontak ia menutup kepalanya seluruhnya dengan selimut. Napasnya memburu karena kesal bercampur malu yang teramat sangat. Bagaimana tidak tubuhnya kini sudah dilihat oleh seorang Aldiansyah yang ia juluki makhluk aneh dan menyebalkan. Dan terbukti jika dia benar-benar sangat menyebalkan.
Justru Aldi tergelak-gelak dengan renyah. Yang semakin membuatnya kesal bukan main.
“Kamu udah sadar, Rei?” Tanya Mas Budi yang sudah berdiri di ambang pintu.
Lalu perlahan ia membuka selimut yang menutupi kepalanya.
“Mas Budi, apa benar yang menggantikan pakaianku Mas Aldi?” Tanyanya.
“Ck, percaya kamu Rei sama playboy macam dia?” Decak Budi sembari meletakkan semangkok sup ikan di atas nakas. Lalu ia menarik kursi tepat di samping ranjangnya.
Gadis itu bersungut-sungut, “Oh ... dasar menyebalkan!” Gerutunya.
Aldi terkekeh dan tak berhenti untuk tak menertawainya.
“Tenang Rei. Kami minta tolong sama pegawai hotel yang cewek buat gantiin baju kamu.” Jelas Budi.
“Tapi by the way, kok bisa sampai pingsan sih?” Lanjut Budi bertanya.
“Em ... itu aku juga gak tau, Mas. Waktu itu aku gak nyadar saking asyiknya ternyata sudah jauh ke tengah. Karena panik berusaha berenang ke tepi. Tapi, justru kaki sama tangan kram susah bergerak dan sakit,” terangnya.
“Itu bukti kamu yang salah. Harusnya lakukan dulu pemanasan. Terus jangan panik. Ini berenang gak bisa mau sok-sokan pakai jauh-jauh!” Celetuk Aldi.
Gadis itu semakin memberengut, “Gak denger tadi, Mas. Aku bilang kan, gak sadar saking keasyikan tau!” tandasnya dengan sebal.
Aldi mengulur tangannya lalu mengacak-ngacak kepalanya.
WHAT! Pekiknya dalam hati.
Ia menepis tangan laki-laki itu, “Jangan macam-macam!” ancamnya.
Kedua laki-laki yang berada di kamarnya terkekeh bersama, “Rei ... Rei."
***
Budi
“Makan dulu sup ikannya, Rei!” Ia mengangsurkan semangkok sup yang dibawanya tadi, “mumpung masih hangat,” imbuhnya.
__ADS_1
“Atau mau aku suapin," tawar Aldi dengan senyum miring.
“Aku masih punya tangan,” tandas Kirei cepat dan ketus.
“Well, nampaknya kita gak bisa pulang besok pagi,” ucap Aldi.
“Kenapa?” Sahut gadis itu di sela-sela mengunyah makanannya.
“Info BMKG cuaca buruk dua hari ke depan. Malam ini aja hujan deras. Saat kamu pingsan itu pun kondisinya laut sedang pasang. Makanya kamu gak sadar kan bisa ke bawa ke tengah?” Terangnya.
Kirei mengangguk.
Tiba-tiba ponsel Aldi berdering nyaring, “Aku keluar dulu,” katanya sembari bangkit dan berlalu keluar kamar.
Gadis itu meletakkan mangkok sup yang telah habis di atas nakas.
“Mau minum, Rei?” tawarnya dengan mengulurkan segelas air putih padanya.
Tanpa menjawab Kirei sudah meneguknya, “Makasih, Mas.” Balasnya.
“Aldi orang yang paling mengkhawatirkanmu. Dia yang paling panik melihatmu pingsan, Rei." Katanya dengan pandangan menatap pintu kamar yang masih terbuka. Sayup-sayup suara Aldi yang sedang menelepon terdengar meski tidak jelas membicarakan apa.
“Karena dia merasa bersalah, Mas. Sudah maksa untuk snorkeling,” kilah gadis itu.
“Bukan ....” Sanggahnya.
Sontak Kirei menoleh ke arahnya. “Sepertinya dia menaruh hati sama kamu."
“Hah!” Gadis itu terkesiap.
“Kamu juga pasti bisa merasakannya, kan? Meski dia sudah punya calon tunangan. But who knows? (Tapi siapa tahu?)”
“Dia atasanku, Mas. Jadi wajar dia perhatian dan panik melihat bawahannya pingsan,” gadis itu tetap berkilah. Menolak semua praduganya.
“We’ll see."
***
Kirei
Hujan deras disertai angin kencang. Info terbaru laut pasang hingga empat meter. Semua kapal dihimbau untuk tidak melakukan pelayaran sementara waktu menunggu kondisi membaik.
Bertiga duduk di resto penginapan sambil menyantap sarapan masing-masing.
“Kamu udah baikan, Rei?” Tanya Budi padanya.
“Alhamdulillah, Mas.” Jawabnya sembari menelungkupkan sendok dan garpunya di atas piring. Tanda sarapannya sudah selesai.
Di luar hujan masih mengguyur deras. Langit tertutup awan gelap dan sesekali kilat menyambar lalu diiringi suara gemuruh menggelegar.
“Gimana info terbaru, Al?” Tanya Budi pada Aldi yang tengah menyesap kopi.
“Dua hari ini hujan badai. Tapi mudah-mudahan besok cuaca bersahabat," sahut Aldi.
Laki-laki jangkung itu merogoh bungkusan rokok dalam saku celananya, lalu mengambil sebatang dan menyalakannya.
Baru beberapa kali ia menghembuskan asap ke udara, Ia yang duduk di depannya sontak menutup hidungnya. Ia terbatuk-batuk yang membuat seluruh wajahnya merah padam.
“Kamu, gak apa-apa?” Tanya Aldi panik. Namun semakin tak terkendali batuknya. Lekas Aldi mematikan rokoknya pada asbak yang tersedia di sana.
“Rei ....” Budi yang duduk di sampingnya berusaha menepuk punggungnya.
“Minum!” seru Aldi menyodorkan segelas air putih padanya. Dan ia langsung meneguknya beberapa kali.
“Sorry, kamu gak bisa kena asap?” Ucap Aldi merasa bersalah. Sampai batuknya sedikit mereda gadis itu belum juga bersuara.
“Apa perlu panggil dokter?” Tawar Aldi yang mengkhawatirkannya.
Ia menggeleng.
“Kamu yakin, gak apa-apa, Rei?” Budi menimpali dengan raut yang juga cemas.
__ADS_1
Ia mengangguk, “Udah baikkan,” ucapnya perlahan.
Kedua laki-laki itu terlihat bernapas lega.
“Aku paling gak bisa kena asap, Mas. Debu juga. Waktu kecil aku pernah terkena bronkitis. Sudah sembuh sih, tapi kerap kambuh kalo ada pemicunya,” jelasnya.
“Okay ... kalo gini aku jadi tahu. Gak bisa merokok di depan kamu. So sorry!” tukas Aldi merasa bersalah.
What? Aldi meminta maaf? Orang yang menyebalkan bisa meminta maaf juga ternyata. Ucap Kirei dalam hati.
Hujan terus mengguyur pulau Karimun Jawa hingga menjelang siang. Ia memutuskan untuk beristirahat di kamarnya. Mengecek beberapa media sosialnya lalu membalas beberapa pesan yang masuk di ponselnya.
Ia pun mengunduh beberapa foto untuk di posting di laman media sosialnya. Foto saat sunset, saat anak-anak berenang dan terakhir saat snorkeling kemarin.
Tak menunggu lama banyak komentar masuk yang sekedar menanggapi maupun menyukai postingan tersebut.
[Wow ... perfect sunset]
[Perfect angle. Like it....]
[TERNYATA! Jalan juga lo ke Karimun. Bye the way kapan lo pulang. Miss you....] komen dari Anisa sahabatnya di news.
[Oleh-oleh ya, Rei ...sebagai upeti] dari Oka rekan satu divisi.
Dan masih banyak lagi komen-komen yang membuatnya senyum-senyum sendiri, hingga postingan itu mendapat ratusan like dalam lima belas menit saja.
Ting.
Notifikasi muncul lagi. Ia lekas membuka ig-nya.
“HAH!” sergahnya spontan.
[Biarpun pingsan, but i like it! Disertai emoticon ketawa jahat menutup mulutnya dan emoticon berlari kabur] dari Aldi.
Sore hari cuaca sedikit membaik, meski hujan telah reda namun gelombang pasang air laut masih tergolong tinggi. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di pantai dekat penginapan.
Tanpa menggunakan alas kaki, celana sebetis dan kaos kasual bergambar biota bawah laut bertuliskan Pulau Karimun Jawa yang ia beli saat peliputan kemarin.
Pasir putih halus dan bersih serasa menggelitik di telapak kakinya. Angin laut menyibak-nyibak rambut sebahunya yang ia biarkan bebas.
Lalu gadis itu duduk dengan menekuk kedua kakinya di pasir pantai yang kering, memandang jauh ke laut yang seakan tak berujung. Bahkan justru tampak menyatu dengan langit seolah sebagai pembatas.
How amazing!
“Karimun Jawa dijuluki Caribbean van Java karena keindahan laut dan pantainya mirip dengan Karibia. Julukan itu karena Karimun Jawa mempunyai kesamaan terdiri dari beberapa pulau kecil salah satunya yaitu pulau Cilik.”
Jeda sesaat.
Aldi datang menghampirinya lalu duduk di sebelahnya dengan meluruskan kedua kaki dan kedua tangannya menopang tubuhnya yang condong ke belakang.
“Pulau Cilik itu terdiri dari 27 pulau yang membentuk gugusan pulau Karimun Jawa. Pemandangan bawah laut yang jernih dan masih alami. Semua tersaji tak kalah dengan Bali, Lombok atau mana pun. Kalo kamu sudah pernah ke sana. Cuma sayangnya gak seterkenal dari tempat-tempat yang aku sebutkan tadi. Tapi jujur, aku lebih cinta Karimun Jawa dari pada yang lainnya,” ungkap laki-laki itu.
Ia menghela napas pelan.
“Tapi sayangnya aku juga belum pernah ke Lombok. Baru sampai Bali," sahutnya polos dengan tertawa kecil.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan...🙏
__ADS_1