
...20. It’s Okay To Not Be Okay...
-Solo-
Bunda
Selepas melaksanakan salat malam bunda tak lantas beranjak tidur kembali. Sejak tadi malam memang perasaannya tak enak. Maka ia putuskan untuk mengadu pada sang Pemilik Hatinya. Berharap mendapat ketenangan.
Apa lagi hari ini adalah hari spesial sang buah hati. Tentunya ia berharap yang terbaik untuknya dan berada di sisinya. Ia berniat akan berkunjung ke Semarang sekaligus merayakan ulang tahunnya bertiga.
Perayaan sederhana namun bermakna. Dari tahun ke tahun selalu begitu, menjadi kebiasaan yang sulit ia lupakan dan selalu terkenang.
Waktu seakan berputar cepat.
Anak-anaknya kini sudah dewasa.
“Abang ....” Gumamnya tanpa sadar.
“Abang pasti bangga. Ken sudah jadi laki-laki yang bertanggung jawab seperti Abang. Menggantikan posisi Abang. Kirei anak kesayangan Abang juga sudah bertumbuh menjadi wanita dewasa ....” Tak terasa butiran kristal bening itu luruh dari kelopak matanya.
Adalah Demas Prasetyo. Cinta pertama sekaligus terakhirnya. Ayah dari anak-anaknya. Sosok laki-laki bertanggung jawab yang menikahinya 29 tahun silam.
Laki-laki bermarga Kamaru itu lebih memilihnya sebab cinta. Meninggalkan keluarganya di Gorontalo karena tak mendapat restu menikahinya.
Tapi darah tetaplah lebih kental dari apa pun. Hubungan anak dan orang tuanya bisa terjalin kembali setelah bertahun-tahun lamanya. Tepatnya setahun sebelum suaminya meninggal.
Ia menghela napas.
Shalawat tarhim yang selalu diputar sebelum azan subuh berkumandang terdengar di masjid kompleks. Bersamaan dengan dering ponselnya di atas nakas.
Ia mengernyit.
Nomor yang muncul tak ada nama. Nomor asing.
Ia abaikan dan segera bergegas ke dapur. Tapi lagi-lagi ponselnya berbunyi nyaring. Karena penasaran, ia pun menerima panggilan itu. Pasti ada hal yang urgen, mendesak sebab orang itu meneleponnya di waktu orang-orang masih terlelap pikirnya.
“Hallo, Assalamu’alaikum ....”
***
Danang
“Saudara Danang Barata Jaya Bin Bagas Tri Jaya, saya nikahkan engkau dan kawinkan engkau dengan adik kandung saya yang bernama Kirei Fitriya Tsabita Binti Demas Prasetyo dengan mas kawin berupa uang sebesar tiga juta dua puluh ribu rupiah dibayar tunai,”
“Saya terima nikah dan kawinnya, Kirei Fitriya Tsabita Binti Demas Prasetyo dengan mas kawin tersebut di atas TUNAI ....”
Penghulu bertanya pada saksi, “sah?”
Dan saksi menjawab tegas, lugas penuh keyakinan, “SAH”
***
Kirei
Gadis itu tak pernah menyangka akan jalan hidupnya seperti ini.
Ia ingin menangis tapi tak bisa.
Ia menyesal.
Ia kesal.
Ia marah.
Ia bodoh.
Pernikahan macam apa ini?
Apa ini mimpi? Nightmare (mimpi buruk) tepatnya. Atau delusif? Kenapa terjadi bagai kilat yang menyambar seperti tadi malam?
Apa ini karma atas tindakannya yang ceroboh? Atau ini memang penghukuman untuknya? Atau....?
Laki-laki itu justru menebar senyum ke semua orang. Bullshit!
Ia seperti tak merasa bersalah. Tak merasa menghancurkan masa depan anak orang. Tak merasa beban. Lihatlah, dia begitu santai dan tersenyum senang.
Oh my god. Please help me .... Pekiknya dalam hati.
__ADS_1
“Rei ....” Panggil bunda.
"Maafkan Kirei, Bunda." Ucapnya dalam hati dengan memandang wajah bunda yang tetap tenang meski ia tahu bunda mungkin menyimpan rasa kecewa, marah, khawatir, sedih ... entah apa lagi sebab kecerobohannya.
Ia langsung menghambur dalam pelukan bunda. Ingin rasanya menangis, tapi air matanya entah menguap ke mana? Rasa kesal dan marah mungkin lebih melingkupi dirinya.
“Ssst ... anak bunda gak boleh menyesali apa yang telah terjadi. Semua sudah takdir. Inilah jalan yang harus Kirei lalui. Jalani dengan sepenuh hati ... penuh tanggung jawab. Kamu sudah dewasa, Nak.” Bunda memberikan petuah menenangkan.
“Mas Danang sekarang sudah menjadi suamimu.” Imbuh bunda dengan mengusap lembut punggungnya.
Bunda meneteskan air mata.
Jelas, semua pasti karenanya.
“Bunda ....” Ucapnya lirih, “maaf....“
Wanita berparas ayu itu mengangguk dan mengecup puncak kepalanya.
Akhirnya air matanya menetes juga. Sebab tak sanggup melihat orang yang paling disayanginya bersedih.
Lalu, Kak Ken menghampirinya. Menepuk-nepuk pundaknya. Bermaksud untuk menguatkan sang adik.
Sejurus kemudian, ia menghambur ke pelukan Ken.
“Kak, maafin Rei ....” Ucapnya penuh sesal. Kakak laki-laki yang sangat disayanginya pasti juga menaruh kecewa padanya.
Ken mengangguk lalu mengusap lembut kepalanya yang tertutup kerudung berwarna putih.
**
Beberapa jam sebelumnya....
Danang
Saat ia membuka pintu, beberapa orang telah berdiri di depannya dengan wajah penuh tanda tanya.
“Maaf, Pak. Sesuai aturan di daerah sini jika ada pasangan yang terciduk sedang berduaan tanpa ikatan yang sah harus kami nikahkan segera. Agar terhindar dari fitnah dan perbuatan yang melanggar agama dan norma,” ucap bapak yang menggunakan peci hitam.
“Iya betul, Pak. Sudah beberapa kali kami menangkap basah pasangan tanpa ikatan jelas yang berduaan menginap di kamar seperti ini. Pada akhirnya kami nikahkan. Dan itu sudah aturan,” timpal bapak-bapak yang lain dengan suara lantang.
Hingga membangunkan Kirei, sebab terjadi perdebatan kecil tepat di depan pintu kamar.
Ia terperanjat, menoleh pada gadis yang sudah berdiri di belakangnya.
Kekhawatiran yang semula bercokol dalam hatinya akhirnya terjadi juga.
“Sebentar, Pak.” Ujar laki-laki yang ia kenal mendekatinya, “bisa saya bicara sebentar dengannya?” Pinta laki-laki itu menunjuk padanya.
“Bisa, Pak. Tapi kami memberi batas waktu. Silakan dirundingkan. Dan ini ....“ Bapak berpeci hitam itu menyodorkan sebuah kertas, “ ..., aturan di desa kami. Sudah sah di mata hukum karena telah disepakati berbagai pihak,” jelas bapak tersebut lalu meninggalkannya, diikuti orang-orang yang berdiri di belakangnya.
Bapak berpeci hitam itu mempercayakan pada Banuaji sebab menantu Pak Doni itu adalah anggota kepolisian.
“Wah, kacau, Ndan!” Tandas Banuaji tak dapat menahan lagi apa yang ingin diutarakan.
“Sstt ... jangan keras-keras, Pak.” Salaknya tak kalah cepat bercampur kesal.
“Pak Banu kenapa bisa di sini?” Tanyanya heran.
“Ya ini kampung istriku, Ndan." Ucapnya lirih menyebut kata ‘Ndan’.
“Justru aku heran, kenapa Bapak bisa menginap di sini? Sama siapa?” Mata Banuaji memicing ke arah Kirei seakan menghakimi.
“Tolong jelaskan ada apa, Pak?” Raut muka Kirei sudah tak bisa didefinisikan lagi.
Ia mengangsurkan kertas yang diberikan bapak berpeci hitam tadi pada gadis itu.
“Kan, kemarin sudah dibilang ... saya ada perlu menggali lagi info korban mutilasi kita yang masih gantung ....” Ia mendesah, “sama jurnalis ini. Dia juga sedang liputan,” tunjuknya pada Kirei.
“Astagaaa ....! Saya lupa betul!” Pak Banu menepuk jidatnya sendiri.
“Terus bagaimana ini ....” Gelaknya sumbang, ia kebingungan, tak tahu harus bagaimana? Melakukan apa?
Jika diberi pilihan. Ia lebih baik menghadapi para kriminal, penjahat kelas kakap sekalipun. Dari pada hal-hal yang....
Asusila jelas bukan.
Pelecehan apa lagi.
Melanggar norma?
Ia tidak berbuat apa-apa. Perlu digaris bawahi ‘nothing happened’ (tidak terjadi apa-apa), ia hanya menemani gadis itu hingga terlelap. Tak lebih dan tak kurang.
__ADS_1
Tapi,
Pikirannya berkecamuk. Berkali-kali ia meraup wajahnya gusar.
“Saya percaya, Pak Danang tidak melakukan apa-apa. Tapi orang-orang itu melakukan perintah sesuai aturan yang berlaku di sini.”
“Jalan satu-satunya, Komandan harus menikah dengan Mbak-nya,” Banuaji menunjuk gadis itu.
Gadis itu terkesiap, syok, “Hah ....! Apa ... apa tak ada jalan lain?” Ia mengernyit. Air mukanya gusar. Kalimatnya bernada gemetar.
“Apa ada jalan lain?” ia menukas.
“Kami bisa membuktikan bahwa kami gak ngapa-ngapain. Visum mungkin ... atau apalah, yang bisa membuktikan aku tak menyentuh dia sedikit pun.” Ia berusaha membela diri.
“Ndan ... Ndan ... mau membuktikan apa pun tetap itu sudah aturan.” Sanggah Banuaji.
Ia memejamkan mata, “Oh ... sial!” Umpatnya dengan berkacak pinggang.
Gadis itu tak kalah syok. Menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Ini masih jam 4 pagi tapi sudah disuguhi sarapan yang begitu sulit untuk dimakan pikirnya.
Banuaji menepuk pundaknya lalu tersenyum. Meski dia bawahan Danang, kedekatan keduanya tak diragukan lagi.
“Tak ada pilihan,” desah Banuaji dengan mengedikkan bahunya santai.
“Bagaimana dengan kamu?” Tanyanya pada Kirei.
Gadis itu bergeming.
“Aarrgggghhh ....” Umpatnya kesal seraya memijit pangkal hidungnya. Tak ada pilihan.
“Bagaimana, Rei?” Tanyanya lagi, ia menunggu keputusan gadis itu.
“Aku yang akan menjelaskan pada keluargamu. Aku yang akan memintamu pada mereka. So sorry about this ... it’s okay to not be okay ....(maaf sekali tentang kejadian ini ... tak apa jika merasa tidak baik ....).” Ucapnya tak kalah menyesalnya.
Meski sesal itu tak ada gunanya lagi. Sebab semua sudah terlanjur terjadi.
Gadis itu mengangguk kecil.
Ia mengangsurkan ponselnya pada Kirei. Lalu ia mengetik nomor dan melakukan panggilan.
Panggilan telah tersambung, gadis itu hanya berbicara sebentar lalu menyerahkan ponsel kembali padanya.
Ia sedikit menjauh. Menjelaskan semua kejadian yang begitu cepat. Alasan sebab akibat. Lalu meminta gadis itu langsung pada keluarganya yang diwakili bunda di ujung telepon.
Ia tak lagi bisa berpikir apakah keluarga gadis itu menerima atau tidak. Marah padanya atau tidak. Tapi dari jawaban bunda, mereka akan datang. Sedikit lega.
Di minggu pagi ia harus sibuk menelepon rekan-rekan di polda. Ia menghubungi metro 1 meminta ijin. Jelas statusnya sebagai abdi negara tidak boleh dianggap enteng. Kejadian ini bisa saja merusak reputasinya. Dan pernikahan memang solusinya. Tapi, semua tetap harus sesuai prosedur. Hubungan metro 1 dengan sang papa yang tidak bisa dipandang sebelah mata sangat membantu meluluskan semuanya.
Setelah meminta ijin metro 1, ia menghubungi Kabag Watpres (Kepala bagian Perawatan Personel) biro SDM (Sumber Daya Manusia). Menjelaskan sebab ia menikah tanpa harus melalui sidang pra nikah di Mapolda seperti pasangan-pasangan yang lainnya jika ada anggota polri yang akan melangsungkan pernikahan.
“Tenang ... baju dan mahar biar istriku yang menyiapkan, Ndan.” Kelakar Banuaji yang masih sempat-sempatnya bercanda. Padahal kedua insan yang terciduk itu sedang kalut dan tegang.
Ia hanya bisa menggeleng pasrah.
“Mau mahar apa? Uang? Logam mulia? Atau ....“ Tawar Banuaji.
“Maharnya gak usah, Pak. Saya masih ada uang di dompet,” sambarnya.
Dan setelah dirasa dari pihaknya maupun Kirei selesai. Mereka menghampiri rombongan bapak-bapak yang tadi menunggunya.
Menyepakati beberapa hal, lalu menyerahkan KTP. Ya, Kartu Penduduk Asli pastinya. Tidak mungkin ia menggunakan KTP palsu seperti saat meng-cover penyelidikan dan penyidikan suatu kasus, di mana diperbolehkan anggota polisi melakukan itu saat bertugas.
Ini pernikahan sakral. Walau harus terjadi oleh sebab sesuatu.
“Ternyata, Bapak anggota kepolisian, to?!” Tukas bapak yang menggunakan peci hitam.
“Saya, Keri. Kepala Desa ....” Ucapnya menyebutkan nama desa yang dipimpinnya sembari mengulurkan tangan.
Ia tersenyum kecut menyambut uluran tangan Pak Keri dan bapak-bapak yang masih berdiri di belakangnya.
“Baik, tinggal syarat dari mempelai wanita dan keluarganya yang belum datang. Lebih baik dihubungi lagi keluarganya. Agar secepatnya pernikahan ini bisa dilaksanakan.”
Kirei hanya menatap Pak Keri dengan menelan ludahnya kasar. Tenggorokannya begitu kering. Bahkan sangat kesusahan untuk menelan ludahnya. Rasanya ada yang terganjal. Apakah kiamat sudah dekat?
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan....ya! 🙏
__ADS_1