
...90. Mengakhiri Dengan Indah...
Kirei
Tiba di Jakarta ia langsung menuju kantor di daerah Tanah Abang. Jalanan ramai lancar. Mentari pagi begitu menyengat. Menembus kaca jendela mobil.
Begitu tiba di kantor ia langsung menemui Anton. Tapi, sayup-sayup ia menelinga perbincangan 2 orang. Yang pasti ia tahu, itu suara siapa saja. Sebab pintu ruangan yang tidak menutup sempurna.
“Mas, pokoknya kalo bisa kita gak pake dia lagi. Gue gak bisa.” Suara wanita terdengar.
“Jangan campuradukkan masalah pribadi lo.” Sahut suara pria.
“Oke. Tapi gue bener-bener gak bisa! Kalo program depan dia masih terlibat. Gue lebih baik mundur. Ikut program lain.”
Suara pria berdecak, “Lo gak profesional kalo gitu. Come on ... kita kerja.”
“Sorry ... kenyamanan kerja paling utama buat gue. Kalo udah gak nyaman buat apa? Toh, ada pilihan lain.”
Ia buru-buru balik kanan, menjauhi ruangan produser.
“Hei, Mbak Rei ....” Sapa OB kantor yang melintasinya.
Ia tersenyum membalas sapaan itu. Lalu menuju toilet. Beruntung sepi di sana. Berdiri di depan cermin. Memandangi dirinya sendiri.
“Kamu yakin?” Sepotong pertanyaan Danang kemarin terngiang.
“Aku gak mungkin mengekang kamu, hanya karena aku egois mau bersama kamu terus. Aku juga terkadang sibuk. Kamu juga sering nungguin aku di sini gak pasti. Bisa malam, pagi atau malah gak pulang. Lagian baca kontrak kamu cuma 3 bulan,”
“Sebentar.”
Lalu obrolan dengan Mama Anita ikut muncul,
“Gimana? Ke depan mau rencana apa?”
“Pikirkan baik-baik untuk masa depan kalian.”
Dddrrrt ... dddrrrt ... dddrrrt
Ia menjengit ketika ponsel dalam tasnya bergetar.
Mas Danang calling ....
“Udah sampai?” Tanya Mas Danang.
“Udah, Mas baru saja.”
“Oke. Take good care of yourself (jaga diri baik-baik).”
“Mas Danang juga, I love you.”
“I love you more.”
Ia menghela napas. Mengembuskan perlahan lewat mulutnya. Menghela napas lagi, mengembuskan perlahan kembali. Ready to start.
***
Ganjar
Tubuhnya berdiri mencabar cahaya sang surya yang menyorot menembus kaca jendela di kantornya. Pukul 08.00 WIB. Sesekali matanya menyipit. Menahan silau untuk menghalau. Tapi berusaha tetap di posisinya.
Bergeming.
Tangan kanannya diselipkan pada saku samping celana. Mengembuskan napasnya perlahan.
Inilah saatnya.
Merogoh ponsel dalam saku celana. Mengetikkan sesuatu di sana. Lalu tersenyum samar.
Kemudian ia menelepon seseorang.
“Ohayou gozaimasu (selamat pagi), Tuan Hiro.” Tentunya di sana juga masih pagi. Karena perbedaan waktu hanya 2 jam Indonesia dengan Jepang.
“Ohayou (selamat pagi). Ogenki desu ka? (apa kabar)”
“Hai, okagesama de genki desu (ya, berkat rahmat Tuhan saya baik-baik saja).”
“Bagaimana?” Tanya Tuan Hiro.
“Saya terima.” Sahutnya.
“Good!”
Sambungan telepon telah terputus. Matanya menerawang lurus. Adalah sebuah keberanian untuk sebuah pengakuan. Finally.
***
Danang
Ia kembali ke kantor saat siang hari, setelah melakukan kunjungan ke tiga lokasi Polsek. Ia langsung menuju lapangan depan Polres. Kasatreskrim dan Waka Polrestabes telah menunggunya.
Sebanyak tiga puluh delapan tersangka dibekuk dalam Operasi Sikat Macan Candi. Kurun waktu hampir dua bulan. Operasi kali ini terfokus pada tindak pencurian pemberatan, pencurian dengan kekerasan dan pencurian kendaraan bermotor.
Ia memandangi satu persatu para tersangka yang diborgol tangannya ke depan. Dari usia yang paling muda 14 tahun. Hingga usia tua 60 tahun.
“Lapor Komandan!” Ucap Kasatreskrim.
“Lima kasus TO dengan 6 orang terungkap. Sementara 32 orang tersangka berasal dari kasus Non-TO.”
“Laporan selesai!” Pungkas Kasatreskrim.
“Terima kasih. Laporan diterima.” Sahutnya.
Ia memeriksa sekilas berkas yang disodorkan Rendra. Dari data para tersangka lengkap. Dakwaan kasus yang menjerat. Ancaman pidana. Dan barang bukti.
Ia berjalan menjauhi para tersangka. Diikuti Kasatreskrim dan Waka.
“Yang ini,” ia menunjuk sebuah foto anak remaja berumur 14 tahun sesuai data. “ancaman pidana 4 tahun penjara. Lakukan diversi. Jika tidak tercapai kesepakatan, baru kita proses ke peradilan selanjutnya.”
Kasat dan Waka mengangguk dan menjawab hampir bersamaan, “Baik, Komandan.”
“Dengan tetap memperhatikan kepentingan anak. Apa dia masih sekolah?”
“Masih Komandan.”
Ia mengernyit. “Panggil orang tuanya!”
__ADS_1
“Tersangka yatim. Ibunya TKW. Dia tinggal bersama neneknya yang sakit-sakitan.”
Jeda sesaat.
“Ren. Kirim neneknya ke rumah sakit.”
**
Kirei
Ia keluar dari ruang meeting tepat saat jam bubar kantor. Melangkah lamban menuju ruangannya untuk mengambil tas dan naskah.
“Duluan, Rei.” Sapa beberapa kru produksi yang sepertinya terburu-buru melewatinya.
Ia mengangguk. Mendorong pintu kaca ruangannya ketika tiba di sana. Merogoh ponsel yang tersimpan dalam tas. Ada beberapa pesan yang masuk. Tapi ia membuka pesan dari Ganjar terlebih dahulu.
Ganjar : Rei, bisa ketemu sore ini. Aku tunggu di Arborea Cafe jam 17.00.
Ia menggigit bibir bawahnya. Pesan yang masuk sejak jam 8 pagi. Baru dibukanya jam 16.15 WIB.
Urung membaca pesan lainnya. Ia bergegas membereskan meja, lalu memasukkan berkas naskah ke dalam tas. Kakinya melangkah menjauh meninggalkan ruangannya.
Tiba di lobi ia disuguhi hujan yang begitu deras. Sebagian karyawan yang terjebak memilih untuk meneduh. Pun dirinya.
Pilihan ojek online bukan solusi tepat. Taksi ... bisa jadi terjebak dalam kemacetan. Ia menghela napas perlahan.
“Rei,” sapa Anton yang baru tiba di lobi.
“Eh, Mas. Baru pulang juga?” Basa basinya. Mereka mengobrol sebentar di antara kerumunan para karyawan.
“Bareng aku aja,” Anton mengajaknya.
“Tapi kita, 'kan gak searah, Mas. Aku gak enak. Nanti Mas Anton telat nyampe rumah.”
“Amann sih. Aku udah biasa. Kayak gak tau aja kerjaan kita tuh gimana.” Salak Anton.
Ia meringis.
“Kamu tunggu sini, aku ambil mobil dulu.”
Dugaannya benar. Hujan deras mengakibatkan kemacetan semakin parah.
“Gimana tawaranku, Rei?” Anton membuka obrolan ketika mobilnya terjebak di antara kendaraan lainnya.
“Dua hari lagi aku kasih jawaban.”
“Kalo menurutku sih, ambil aja, Rei. Karier kamu di sini cemerlang. Peluang kamu untuk lebih naik lagi. Kamu bisa mendapatkan semuanya. Fame (ketenaran), achievement (prestasi), pride (kebanggaan), dignity (harga diri) dan prestige (gengsi) ....” Anton terkekeh.
Ia terdiam, meski garis sudut bibirnya terangkat sedikit.
“Tapi ya, balik lagi. Kalo Danang gak kasih restu ... lebih baik jangan. Ridho suami tetap nomor satu.” Tandas Anton.
Ia mengangguk.
Setengah jam terjebak dalam diam. Mobil mereka perlahan bergerak. Langit kota Jakarta gelap. Hujan masih mengguyur bumi.
“Mas, aku turun di kafe depan.” Ujarnya ketika beberapa meter lagi sampai di tujuan.
“Yakin, kamu, Rei?” Tanya Anton ragu.
“Oke.”
Tiba di Arborea cafe ia berlarian kecil dari berhentinya mobil di bahu jalan. Sebab ia memaksa Anton untuk turun di situ. Area parkir yang tidak terlalu luas hanya bisa menampung 4 mobil saja. Tampak penuh. Ia menghalau hujan dengan tas selempangnya yang ia jadikan payung darurat. Mengibas-ngibaskan tangannya, mengebas bajunya yang setengah basah saat tiba di teras. Lalu mendorong pintu kafe.
Alunan instrumental saksofon Kenny G-Forever in love menyambutnya. Ganjar melambaikan tangan saat ia menangkap sosok pria itu duduk di dekat jendela. Ia menghampirinya.
“Sorry telat 15 menit,” ucapnya lalu duduk di seberang Ganjar.
“Gak pa-pa, maklum cuaca kayak gini.”
“Kamu kehujanan?” Ganjar tampak mencemaskannya.
“No worries, sedikit.” Kilahnya.
Ganjar menyodorkan tisu untuknya, “Thanks,” ia meraih beberapa lembar tisu tersebut. Menepuk-nepuk wajahnya dan lengannya yang basah.
Pelayan datang membawakan lemon tea panas, “Buat kamu.” Tukas Ganjar sebelum mulutnya terbuka untuk bertanya.
Dinginnya AC ruangan menusuk pori-pori kulitnya. Membuatnya merinding. Ia menangkup gelas lemon tea yang masih mengepulkan asap tipis. Sedikit bisa menghangatkan pikirnya.
“Kamu kedinginan?” Terka Ganjar.
“Sedikit,” sahutnya.
“Minumlah ... bisa menghangatkan tubuhmu.”
Ia mengangguk, lalu menyeruput sedikit demi sedikit.
“Sorry, Rei ....”
“Aku merepotkanmu, memintamu untuk datang.”
Ia menggeleng.
“Maksud aku ....”
“Aku hanya ingin mengatakan kalo lusa aku kembali ke Jepang.”
Ia menatap Ganjar sekilas. Lalu menunduk menatap tangannya yang menggenggam gelas lemon tea erat.
“Aku kembali ke sana,”
“Melanjutkan karier di sana,”
Jeda sejenak.
“Aku minta maaf soal ....”
Ganjar berdecak, “Dulu aku pengecut banget. Tahu Ken mengaku-aku pacar kamu dan aku percaya. Aku minder. Aku ... kecewa. Aku ... pergi tanpa bilang sama kamu.”
“Maaf ... membuatmu menunggu dengan pernyataanku.”
Ia semakin mengetatkan jemarinya yang bertaut menggenggam gelas. Meski rasa panas telah banyak berkurang dari minuman tersebut.
“Aku bodoh, ya ... hehehe,” Ganjar terkekeh sumbang. Terkesan dipaksakan.
__ADS_1
“Baru sekarang keberanianku muncul. Namun sudah terlambat.”
“Bukankah, pepatah bilang lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali?” Ganjar mencibir dirinya sendiri. Bodoh pikirnya. Tulisan takdirnya tak akan bisa dirubah. Bagaimanapun!
“Makasih, Rei. Kamu ... the best I ever had,” Ganjar menyunggingkan senyum. Teman yang spesial di hatinya.
Ia ikut mengulas senyum tipis. Bertepatan suara kumandang azan di Masjid.
“Gan ... maaf. Aku harus pulang,” pamitnya. Ia menoleh sekilas ke jendela. Tepat. Hujan telah berhenti. Walau langit masih mengabu. Mungkin hujan masih akan berlanjut lagi setelah ini. Maka dari itu ia harus cepat bergegas pulang.
Ia beranjak dari duduknya.
“Rei ... thank you,” Ganjar menimpali.
Pria itu ikut berdiri, “Selamat atas pernikahanmu. Semoga ... kamu bahagia.” Ganjar mengulurkan tangannya.
Ia menjabat tangan Ganjar, mengukir senyum lalu berkata, “Makasih, Gan. Semoga kamu semakin sukses di sana. Aku yakin Ganjar Gumilar pasti mendapatkan semua yang diinginkan.” Tukasnya sebelum pergi. Lalu perlahan meninggalkan pria itu sendirian.
Sementara Ganjar masih berdiri terpaku menatap punggungnya, “Kecuali ... dirimu.” Sahutnya lirih. Hatinya mencelus. Tapi ia ingin mengakhiri ini dengan indah. Tanpa ada beban lagi. Terima kasih telah menjadi teman spesial di hatiku.
**
Kirei
Tiba di unit apartemennya. Ia bergegas membersihkan diri. Ia tidak ingin sakitnya terulang. Rambutnya masih bergelung dalam handuk, duduk di kursi dekat jendela. Membuka gorden lebar, sehingga pemandangan di hadapannya tampak nyata. Langit gelap dengan kaki-kaki pencakar langit tampak kerlap kerlip.
Tiba-tiba ia ingin menelepon bunda. Ia merindukan wanita yang telah melahirkannya itu. Meraih ponsel yang tergeletak di atas kasur.
“Assalamu’alaikum, Rei.” Sahut bunda dari sana.
“Wa’alaikumsalam, Nda ....”
“Bunda, sehat? Rei kangen,” rengeknya. Entah mengapa ia ingin bermanja-manja dengan bunda. Matanya seketika memanas dan cairan bening itu telah berkumpul di kelopak matanya.
“Kalo kangen, 'kan bisa pulang, masih deket ini.”
“Pengen ... Nda. Tapi tanggung 1 minggu lagi abis kontrak.”
“Ya udah, kalo gitu sabar ... Mas Danang gimana kabarnya?”
“Sehat, Nda. Sabtu kemarin Rei pulang ke Semarang.”
“Syukurlah ... Kakakmu Ken juga lagi pelatihan di Jakarta.”
“Hah!”
“Apa, Nda? Yang bener?!” Tanyanya tak percaya. Bagaimana mungkin, Ken berada di Jakarta tapi tak memberitahukannya. Ia menggeram dalam hati.
“Baru kemarin berangkat. Katanya 5 hari di sana. Mungkin Ken mau ngasih kejutan ke kamu,” Bunda membela.
Ia mengembuskan napas kesal.
“Nda ... Rei,”
“Kenapa, Rei?”
Jeda sesaat.
Ia menelan ludahnya. Rasanya sulit. Fame, achievement, pride, dignity dan prestige.
Terdengar bunda mengembuskan napas di sana, “Baapu seminggu lalu masuk rumah sakit. Tapi sekarang sudah pulang.”
“Apa, Nda?”
“Kenapa, Rei gak dikasih tahu!” Ia menggerutu.
“Baapu yang pesan. Kebetulan bunda telepon ke sana. Baapu masih di rumah sakit.”
Ia kesal. Kabar sepenting ini?
“Udah gak pa-pa. Baapu udah sehat lagi. Kita doakan semua sehat.”
“Nda ....”
“Heemm ....”
“Rei ... ingin melanjutkan kontrak.”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya baik vote, like, rate, dan gift ... 🙏.
__ADS_1