
...67. Hari Setelah Kemarin...
Kirei
Tiba di Surabaya mereka menuju tempat pemakaman umum. Meletakkan seikat bunga Lily, menaburkan kelopak mawar merah yang bercampur melati di atas pusara sang ayah. Lalu memanjatkan doa.
Dalam kunjungan kali ini, tak ada tangis. Hanya saja ia begitu rindu. Sangat rindu. Sekelebat kebersamaannya dengan sang ayah masih begitu lekat.
Sepanjang kaki mereka melangkah meninggalkan TPU, tangan mereka saling bergandengan. Terkadang ada desiran aneh dalam hatinya. Yang membuatnya membuncah bahagia.
Tapi, nyalinya menciut ketika mobil taksi telah memasuki halaman kediaman papa.
“Sayang ....” Danang mengusap punggung tangannya yang berada di atas pangkuan laki-laki itu.
Seketika kesadarannya kembali pulang. Kekhawatirannya membawa pikiran-pikirannya melalang entah ke mana.
“Sudah sampai,” imbuh Danang.
Ia tersenyum tipis. Danang mengeluarkan uang dari dompetnya lalu menyerahkan pada sopir taksi di depan.
“Mama sama Papa rindu sama kamu,” laki-laki itu mengusap pipinya lembut. Lalu mengajaknya keluar dari mobil.
Kekhawatirannya langsung sirna ketika mama dan papa menyambutnya di teras depan. Melempar senyum kepadanya. Menyambutnya dengan kehangatan.
Ia meraih tangan mama dan papa lalu mencium punggung tangannya bergantian. Mama menggiringnya masuk dan duduk di sofa ruang keluarga.
“Gimana kabarmu, Rei?” Kalimat awal membuka percakapan papa.
Sementara mama duduk di sebelah pria yang masih terlihat berkarisma itu.
Ia yang duduk di sofa berseberangan dengan papa menjawab, “Baik, Pa. Mama dan Papa apa kabar?”
“Kami semua baik,” sahut papa yang dibarengi anggukkan mama.
“Rei ... minta maaf sama Papa ... dan Mama,” suaranya terdengar berat dan gusar. Telapak tangannya mendadak dingin berkeringat. Meski mama dan papa menyambutnya ramah. Tapi sekilas perlakuannya pada mertuanya itu masih membayang. Memunculkan rasa tidak percaya diri.
Ia lalu tertunduk. Matanya menatap kedua tangannya yang saling bertaut di atas pangkuannya.
“Rei, telah salah menilai Papa ... menyakiti Papa dan Mama,” imbuhnya dengan nada sedikit bergetar.
Danang yang duduk di sebelahnya menggenggam tangannya. Mengusapnya memberikan ketenangan.
Papa menggeleng.
“Semua kejadian menjadikan kita untuk terus belajar. Papa dan Mama juga salah. Tidak seharusnya ini terjadi, jika dari awal Papa menceritakannya padamu.”
“Semua ini telah digariskan. Awalnya Papa gak nyangka kamu anak Demas. Bahkan Papa pikir kehilangan Demas juga kehilangan keluarganya. Tapi ... sepertinya Demas tidak rela hubungan kami berakhir begitu saja,”
Papa menghela napas perlahan.
“Dia menitipkan kamu pada kami ....”
“Menitipkan anak kesayangannya ....”
“Papa bersyukur dan senang ... hubungan kami tidak akan terputus, akan ada ikatan yang lebih kuat dari kalian,” mata papa tampak berkaca. Gurat kesedihan sekaligus kebahagiaan. Ada haru yang menyeruak seketika di sana.
“Maafkan Papa yang tidak bisa melindungi ayahmu ... waktu itu.” Pungkas papa.
Sontak ia mendongak menatap papa.
Ia menggeleng. Mengerjap-ngerjapkan matanya. Berusaha menahan agar genangan air di pelupuk matanya tak lolos.
“Papa telah banyak membantu ayah,”
Matanya beralih menatap mama sejenak.
“Rei ....” lidahnya kelu. Ia menggeleng.
Mama seketika bangkit mendekatinya lalu merengkuhnya. Mengusap punggungnya, “Sssh ... manusia tempat salah. Tempat khilaf. Jadikan ini semua pelajaran agar kita bisa memetik hikmahnya,”
“Mulai sekarang jaga pernikahan kalian. Sirami dengan cinta, kejujuran, kepercayaan ... dan yang paling penting jika di antara kita ada masalah, saling terbuka. Jangan mengandalkan emosi sesaat.” Petuah mama begitu meresap ke dalam ulu hatinya. Ia mengangguk lalu, menyusut sudut mata dan hidungnya.
**
Danang
Sore harinya mereka harus terbang ke Semarang sebab esok pagi ia harus bekerja kembali. Lega, begitu yang ia rasakan. Semua masalah sudah terpecahkan.
“Kamu di mana, Ren?” Tanyanya pada Rendra melalui sambungan telepon. Ajudannya itu yang menjemputnya di bandara.
Setelah mendapat jawaban, ia meraih tangan Kirei. Mengajaknya keluar dan menemui Rendra.
Rendra yang melihat sepasang suami istri itu berjalan ke arahnya tersenyum. Ia bisa melihat raut muka atasannya yang berseri-seri. Bersemangat. Dan tentunya sirat kebahagiaan tercetak jelas, kasatmata.
“Sori, sori ... nunggu lama,” ucapnya pada Rendra.
“Apa kabar, Ren?” Sapa Kirei sambil mengulurkan tangannya.
Rendra langsung menyambutnya, “Kabar baik, Bu.”
Gadis itu mengernyit. Sejak kapan Rendra memanggilnya Bu?
__ADS_1
Ia membukakan pintu penumpang belakang untuk istrinya. Kemudian menyusul masuk duduk di sebelahnya.
Kirei begitu antusias melihat pemandangan di luar melalui kaca jendela. Mungkin gadis itu begitu rindu dengan kota ini.
Lalu mengerutkan dahi ketika mobil yang ditumpangi mengambil jalur berbeda.
“Kita pulang ke rumah,”
“Bukan apartemen.” Tukasnya, memberi pernyataan sebelum gadis di sebelahnya bertanya.
Tiba di rumah yang dikatakannya, gadis itu tertegun sejenak. Kirei pikir rumah yang dulu pernah diceritakan. Tapi sepertinya bukan.
Sementara Darmo dan Yumah telah menunggu mereka di samping mobil itu berhenti.
Setelah keluar dari mobil, ia memperkenalkan Darmo dan Yumah pada Kirei.
“Ini istriku,” ucapnya. Bersamaan itu mereka saling berkenalan dan berjabat tangan. “Tolong bawakan barang-barang di mobil.” Titahnya kemudian.
Setelah saling berkenalan Darmo dan Yumah segera menurunkan barang-barangnya. Dibantu Rendra.
Sementara ia menggiring gadis itu untuk memasuki bagian rumah lebih dalam.
“Ini rumah dinas,” tebak Kirei.
“Kalau kamu suka, kita bisa tinggal di sini. Tapi kalau kurang suka kita bisa balik lagi ke apartemen,” tawarnya. Mereka tiba di ruangan tengah. Ada sofa yang menghadap buffet TV. Meja makan di ujung yang berbatas dengan mini bar dan dapur bersih.
Lalu gadis itu menatapnya.
“Aku gak masalah tinggal di mana aja.” Sahut Kirei.
“Rumah kita belum bisa ditempati, jadi sementara kita bisa tinggal di sini.” Ia membawa gadis itu menuju kamar utama. Kamar yang akan mereka tempati. Meraih handle pintu, lalu mendorongnya, “kamar kita,” imbuhnya.
“Ada Darmo dan Yumah yang akan bantu-bantu membersihkan rumah ini, meringankan pekerjaan Ibu Danang tentunya.” Katanya sambil mengulum senyum seiring langkah kaki mereka masuk.
Kirei yang tengah melihat teras belakang dari jendela kamarnya berbalik. Menatapnya. Lalu menyunggingkan senyum.
“Terima kasih, Komandan!” Balasnya.
**
Kirei
Hari-hari setelah kemarin ia banyak belajar hal lain. Belajar menjadi ibu rumah tangga misalnya. Belajar memasak bersama Yumah dan dari aplikasi youtube juga masuk dalam daftar. Meski belum bisa dikatakan sempurna, paling tidak setiap hari ada kemajuan.
Seperti pagi ini ia sedang belajar membuat ayam lodho kesukaan Danang.
“Ayamnya di panggang dulu, Mbak. Biar saya yang manggang.” Ucap Yumah sambil berlalu membawa seekor ayam kampung utuh ke dapur kotor.
Ia memasukkan bumbu-bumbu ke dalam blender. Ada bawang merah, bawang putih, kemiri, kunyit, jahe, ketumbar. Sementara cabai rawit utuh dan rempah lain yang tidak dihaluskan ia simpan di atas piring kecil. Seperti daun salam, lengkuas, serai dan daun jeruk.
“Baunya enak,” gumamnya.
“Tunggu meresap, Mbak. Ayam biar empuk. Baru kita masukin santan, garam, gula, cabai dan kaldunya.” Sahut Yumah.
Ia mengangguk.
Ayam lodho, urap, tempe goreng, peyek teri kacang sudah siap. Ia menunggu kedatangan laki-laki itu. Biasanya jika makan siang Danang akan pulang sebentar. Lalu akan kembali ke kantor setelah jam istirahat siang usai. Atau kadang minta sopir menjemput makan siangnya di rumah.
Namun, raut senang seketika lenyap ketika membaca pesan Danang.
Mas Danang: Sayang, aku makan siang di Mapolda. Ada rapat mendadak.
Atau di kala sore hari ia mengisi waktunya dengan menata taman dibantu Darmo. Ia banyak membeli berbagai jenis tanaman pot. Dari tanaman jadul hingga yang paling hits. Menambah koleksi untuk menghias taman depan dan belakang.
Tapi ada saatnya kejenuhan melanda. Ia tak bisa memungkirinya.
Sementara laki-laki itu berusaha pulang tepat waktu. Meski tak jarang juga, pulang malam bahkan larut.
Kirei: Nis, lo ada waktu senggang?
Ia mengirimkan pesan pada Anisa setelah makan siang. Padahal beberapa saat lalu mereka mengobrol lewat chat direct messange. Nyatanya bersambung lagi lewat pesan singkat.
Anisa: Kapan lo butuh. Anytime aku ada waktu buat lo.
Kirei: Diih ... gue pengangguran. Harusnya gue yang ngomong kayak gitu ke elo.
Anisa: Untuk ibu komandan, apa pun gue usahaiin.
Kirei: Gue lagi suntuk banget. Sore bisa?
Anisa: Oke. Kita ketemuan di kafe seberang kantor lepas jam kerja.
Menjelang sore ia mengirimkan pesan pada Danang. Bahwasanya ia akan pergi bertemu Anisa. Laki-laki itu langsung menghubunginya,
“Mau diantar?” Begitu kalimat pertama saat panggilan itu terhubung.
“Atau mau pakai sopir?” Tawarnya.
“Aku bisa pake taksi, Mas. Lagian deket ini.”
Danang melarangnya membawa mobil sendiri. Setelah kecelakaan itu, entah mengapa laki-laki itu begitu protektif. Apa lagi jenis mobil yang terparkir di garasi bukan lagi mobil jenis sedan. Tapi sudah berganti Land Cruiser yang kekar dan maskulin.
Dua bulan terakhir mobil lama itu telah diganti dengan mobil baru. Katanya ingin beda. Ingin mencoba tantangan. Bahkan kesukaannya sekarang mengarah pada uji nyali seperti paralayang beberapa waktu lalu yang di-posting Rendra. Dan offroad yang menantang. Secara de facto laki-laki itu anggota tetap offroad club yang sebulan sekali pasti mengadakan acara ke luar kota.
__ADS_1
“Oke, sopir akan menjemput ke rumah bentar lagi.”
Final.
Tidak ada taksi maupun menyetir sendiri.
Ia mengembuskan napas perlahan. Ketika tiba di kafe seberang kantor lamanya.
“Tidak usah ditunggu, Pak. Saya agak lama. Bapak balik lagi aja ke kantor. Terima kasih.” Ujarnya pada sopir yang disuruh Danang. Tidak mungkin juga ia memanfaatkan fasilitas kantor demi kepentingan pribadinya. Toh, ia bisa pakai taksi nanti pulangnya. Atau bisa pulang bareng Anisa.
Mobil milik Rendra itu telah berlalu. Bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya.
Ia memilih duduk di bagian indoor. Anisa memberitahukan kedatangannya agak terlambat sedikit.
Setelah memesan minuman. Sosok Anisa datang bersama Oka. Mereka saling melepas rindu.
“Kurusan dan iteman, Lo.” Celetuk Oka.
“Iya, betul. Tiap hari berjemur apa?” Timpal Anisa berkelakar. Ia yang baru datang menyerobot langsung minumannya.
“Kan, udah gue bilang. Gue di kapal selama 5 hari. Dan gue puas banget lihat sunset sama sunrise ... pokoknya puas deh!” Akunya.
“Wuuuiihh ... ngiri gue. Kayak naik kapal pesiar gitu kali ya?” Sergah Anisa.
“Miriplah ... sebelah dua belah,” sahut Oka.
“Sebelas dua belas, Ka.”
“Lo kalau mau naek kapal sono noh, ke Tanjung Mas. Gue fotoin, terus gue kirim ke-ig, lo. Biar keren dikit.” Cerocos Oka.
Anisa langsung berdecih.
“Eh cerita donk. Masa kita-kita yang nyerocos dari tadi.” Ujar Anisa.
“Lagian kalian kalau udah ngomong gak bisa disela,” kilahnya seraya mendengus.
“Gue lagi suntuk. Bener-bener jenuh.” Tukasnya. Menyandarkan punggungnya ke belakang sandarn sofa. Lalu mengembuskan napasnya berat. Sudah beberapa hari ia tinggal di kota ini kembali. Sampai-sampai ia lupa ini hari apa, tanggal berapa dan sudah hari ke berapa ia di sini.
“Iya gue ngerti. Lo terbiasa kerja. Apalagi jadi jurnalis. Bukan hanya sekedar cita-cita lo. Tapi, sudah passion dan mendarah daging dalam diri lo, Rei.” Kata Anisa.
“Lo, bisa balik lagi ke TVS,” saran Oka seraya menyeruput minuman jus yang baru datang.
“Kata Pak Rahmat juga, kan, lo bisa balik kapan saja.” Anisa menimpali, “nama lo aja masih terdaftar di TVS jadi koresponden.”
Ia menatap Anisa, “Benarkah?” tanyanya tak percaya.
Anisa mengangguk, “Yup.”
Sepulangnya dari pertemuan bertiga di kafe tadi. Serta sedikit memaksa pulang dengan Anisa naik taksi. Sebab Danang berusaha untuk menjemputnya. Ia duduk di meja kerja suaminya. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Namun, laki-laki itu belum juga pulang.
“Sayang ... tidur duluan aja, aku lagi di TKP.” Voice note dari suaminya se-menit yang lalu.
Layar laptop di hadapannya masih menyala. Menampilkan beberapa berita dari media pers di Indonesia. Salah satunya,
‘TVS dibeli perusahaan media nasional Emtek’
Keningnya berkerut sesaat.
Lalu beberapa kali bunyi notifikasi pada surel-nya. Ada 10 surel baru masuk. Lima di antaranya surel berisi promosi. Lalu 3 spam. Dan lainnya,
Tvs_Rahmat@tvs.co.id
Emtek_hrd@Emtek.com
-
-
Terima kasih yang sudah berkenan mampir, membaca, dan memberikan dukungannya ... ya 🙏
__ADS_1