
...78. The Light Of God...
Kirei
Hari pertama ia tiba di Pulau Sumatera saat matahari sudah condong ke barat. Ia dan tim segera menuju hotel di mana dua hari ke depan penyelenggaraan program roadshow dimulai dari ujung Sumatera. Yaitu Banda Aceh.
Butuh waktu sekitar 25 menit dari bandara Sultan Iskandar Muda menuju hotel bintang empat yang akan mereka tempati.
Lelah seakan terbayar dengan pemandangan yang menghampar dari balik kaca jendela kamar. Lantai 5. Ia bisa melihat landmark kota Banda Aceh. Masjid Raya Baiturrahman.
Ia berdecak kagum. Sungguh nikmat mana yang ia dustai selama ini.
Tetiba ia teringat. Ponselnya sedari tadi mati sebab kehabisan daya. Mungkin seseorang di pulau lain sedang menanti kabarnya.
Begitu ia menyambungkan saluran daya ke sumbernya, layar ponsel itu pun menyala dan tanda baterai bergerak mulai mengisi.
Suara lantunan shalawat tarhim sebelum kumandang azan magrib terdengar bersahut-sahutan dari menara masjid di sekitar hotel. Begitu teduh. Meresap. Dan membuat hatinya berdesir.
Ia bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri.
**
Anton
“Bagaimana?” Tanyanya pada Nana sebelum memasuki kamar. Kamar yang ditempatinya berhadap-hadapan dengan kamar Nana.
“Oke.” Asisten produksinya itu mengacungkan jempol.
Ini adalah roadshow terakhir. Artinya program yang ditanggungjawabi pun otomatis usai.
Namun usai bukan berarti selesai. Tidak ada kelanjutan. Ke depan ia dan tim sudah punya program baru. Yang pasti harapannya lebih dari pencapaiannya saat ini. Ia duduk di sofa, merogoh ponsel di saku celananya.
“Rei,” sapanya saat sambungan telepon diangkat.
“Ya, Mas ... gimana?”
“Jam 8 nanti kita briefing sebentar.”
“Oke,”
“Kita ketemu di bawah.”
**
Kirei
Tubuhnya sudah lebih segar dan siap menerima aktivitas esok hari. Tiga hari di Jakarta dengan setumpuk tugas kerja, membuatnya penat.
Paling tidak roadshow terakhir yang akan dijalani bisa mengalihkan pikirannya.
Ia menghela napas.
Setelah memberi kabar tentang keberadaannya pada suaminya. Pun mendapat kabar dari Danang ia bernapas lega. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Suaminya baik-baik saja. Meski mimpi aneh semalam membuatnya gusar dan tak tenang.
Ia tiba di ballroom hotel yang akan menjadi tempat acara selama 2 hari. Di sana sebagian tim sudah menunggu.
“Hei, Mas ... udah pada makan?” Tanyanya pada beberapa kru produksi yang terlihat duduk di kursi meja makan. Piring-piring kosong terlihat berserakan di atas meja.
“Sudah ... baru turun nih?” Tanya salah satu kru campers padanya.
“Iya, sempat ketiduran sebentar tadi,” sahutnya. Ia mendekati meja buffet makanan. Mengambil beberapa menu di sana. Lalu ia duduk di kursi kosong dengan meja sendirian.
Ia menikmati suapan demi suapan yang masuk ke dalam mulutnya.
Lalu mendongak ketika dua orang meletakkan piring di meja makannya.
“Ikut gabung.” Ucap Nana yang sudah duduk tanpa menunggu jawabannya.
Lalu Mas Anton juga ikut duduk di sebelahnya.
“Pertama ke Sumatera?” Tanya Mas Anton tanpa menoleh padanya.
Ia telah menghabiskan makan malamnya, “Iya.”
“Bagaimana menurutmu?”
Ia tersenyum, “Seru sih ....”
“Setelah acara selesai kita bisa menikmati kota Banda Aceh sebelum ke Medan.” Tukas Anton.
__ADS_1
“Tapi ada syaratnya ... acara besok harus sukses.” Imbuh Anton.
Ia tersenyum, “Syarat yang tampak mudah tapi aslinya susah,”
Dan acara briefing yang memakan waktu hampir 2 jam lamanya berakhir dengan kejutan untuknya.
Happy birthday to you ...
Happy birthday to you ...
Happy birthday ... happy birthday
Happy birthday to Kirei ...
Ia menghela napas. Lalu tersenyum menatap satu persatu kru produksi yang berdiri mengelilinginya. Yang menemaninya selama acara roadshow dan talkshow selama ini. Mereka ibarat teman dan saudara untuknya.
Ia menyeka sudut matanya yang berair.
Anton menyodorkan kue ulang tahun yang di atasnya tertancap lilin yang sedang menyala.
Para kru bersorak, “Tiup ... tiup.”
Ia memejamkan mata sesaat, lalu meniup lilin tersebut. Diiringi tepuk tangan oleh semua yang hadir di ruangan itu.
“Terima kasih buat semuanya,” ucapnya haru. Ia tidak menyangka akan diberi kejutan seperti ini. Padahal tanggal kelahirannya sudah terlewat beberapa hari.
“Sori telat,” Anton terkekeh, “harusnya pas di Jakarta kemarin. Tapi lihat kamu sibuk dan anak-anak susah ngumpul.” Sambung Anton.
Setelah mengobrol sebentar dan memotong kue membagikan pada crew. Mereka membubarkan diri. Mengistirahatkan kembali tubuh untuk menyongsong kegiatan pada esok hari.
**
Danang
Rendra menyerahkan beberapa berkas di atas mejanya.
Ia membuka satu persatu lembar demi lembar berkas tersebut. Membacanya, mengoreksi lalu memberikan catatan kecil untuk berkas yang perlu diperbaiki. Sementara berkas yang sesuai ia bubuhkan tanda tangan.
“Done,” gumamnya.
“Gimana? Sudah fix besok hari Sabtu?” Tanyanya pada Rendra yang masih berdiri di depan meja kerjanya.
“Guaayamu, Ren. Sok formal.” Ejeknya mencibir.
“Gimana lintasannya? Nantang gak?” Imbuhnya kemudian.
“Sepertinya lebih menantang dari jalur-jalur yang pernah kita lalui, Mas.”
“Oke. Deal. Sabtu kalo ada kerjaan geser, diundur atau majukan kalo bisa. Pokoknya off. Kecuali ....”
Rendra terkekeh, “Kecuali titah atasan,” sahut Rendra.
“Semakin pinter kamu, Ren!” Tandasnya menyindir dan ikut terkekeh kemudian.
**
Kirei
Antusiasme para peserta roadshow membludak. Ia tak menyangka sambutan untuk mereka benar-benar luar biasa.
Bahkan banyak mahasiswa dari Kota Sabang yang berdatangan.
Acara diisi dengan workshop tentang teknik dasar jurnalistik. Lalu inspiring talk yang diisi oleh para inpiratif muda dan berbakat di bidang broadcasting. Tak lupa kegiatan lain seperti career corner, campus-preunuer dan campus competition.
Acara berlangsung meriah. Ditutup dengan senyum semringah oleh para peserta dan tentu tim produksi.
Ia menghempaskan tubuhnya di kasur. Dua hari yang cukup melelahkan. Tapi ia puas.
Anton dan kru produksi mengajaknya jalan-jalan ketika menjelang sore hari. Sebelum esok pagi mereka terbang ke Medan.
Adalah Museum Tsunami Aceh tujuan pertama. Ia dan Nana turun dari bentor.
Berjalan bersama beriringan sesekali bercanda tawa. Ia dan Nana yang memang tidak terlalu dekat lebih banyak diam. Entah mengapa sejak kejadian berita sampah tentangnya menguap, begitu juga hubungannya dengan Nana. Serasa hambar. Padahal setiap hari mereka bertemu. Tapi intensitas pertemuan itu tidak juga mampu mencairkan suasana di antara mereka. Nana tampak membuat bentang untuknya.
Ia dan rombongan memasuki area museum setelah membayar tiket.
"Foto dulu buat kenang-kenangan," sergah salah satu kru.
Mereka menyempatkan berfoto-foto di area depan. Dari luar bangunan tampak ornamen dekoratif mewakili budaya rakyat Aceh.
__ADS_1
Rombongannya memasuki based floor. Di sana tampak area bangunan yang luas. Beberapa ruangan menggambarkan rekam jejak kejadian tsunami tahun 2004 silam. Di sana juga terdapat diorama kapal yang diterjang badai tsunami termasuk kapal milik PLTD apung.
Lalu ia dan rombongannya melewati sebuah lorong perenungan. Di kanan dan kirinya terdapat dinding batu yang dialiri air. Dengan backsound suara azan. Suara gemercik air serasa menambah aura sensasi seolah-olah berada dalam gelombang tsunami. Hatinya berdesir. Emosinya benar-benar diaduk. Mampu merasakan keadaan orang-orang yang mengalami musibah saat itu.
Kakinya terus melangkah menuju ruangan selanjutnya. Yaitu memorial hall. Segala informasi mengenai tsunami yang menerjang Aceh kala itu dijelaskan pada area ini.
Ia tercenung ketika memasuki ruangan seperti gua yang diberi nama ‘the light of god’. Jelas nama-nama para korban tsunami ditempel di seluruh dinding. Ratusan ribu. Ia dapat membaca dengan jelas nama-nama itu. Hatinya berdesir kembali. Bulu kuduknya merinding. Pun matanya sekarang ikut memanas. Apa lagi ditambah dengan suasana yang redup disertai lantunan ayat-ayat suci Alquran.
Kini ia dan tim terus melangkahkan kaki mengikuti ruangan yang berkelok-kelok yang terkenal dengan space of confuse. Hingga mereka bisa melihat cahaya terang benderang setelah memasuki jembatan harapan.
Memasuki lantai selanjutnya mereka disuguhi media-media pembelajaran perpustakaan di antaranya alat peraga, ruang 4D, dan souvenir.
Puas. Banyak hikmah yang dapat ia ambil dari pembelajaran museum ini. Salah satu di antaranya adalah bahwa manusia itu makhluk lemah, kecil di hadapan Sang Pencipta. Tiada upaya jika ujian dan bencana menerpa. Hanya satu tempat bergantung yaitu Dia, Tuhan pemilik seluruh alam.
Ia tertunduk dalam ketika kedua tangannya menengadah dalam doa. Cukup lama. Selesai dari mengunjungi museum tsunami Aceh tadi. Ia dan rombongan ke Masjid Raya Baiturrahman. Melaksanakan salat magrib di sana.
**
Danang
Ia sudah berkemas sejak tadi pagi. Bersama Rendra dan rombongan offroad yang akan melalukan tour di Bukit Menoreh.
Kali ini ia yang mengemudikan mobil Jeep seri CJ7. Dari sejak keluar gerbang rumahnya sampai di tempat titik kumpul.
“Yakin, Mas mau sendiri?” Ulang Rendra meyakinkan untuk kedua kali. Saat mereka tiba di kota Magelang. Rendra terpaksa mendadak pulang sebab mamanya masuk rumah sakit. Ada sedikit keraguan di hati Rendra.
“Coba maen bertiga aja, Mas.” Rendra memberikan saran. Semua peserta offroad sudah berpasangan.
Ia berdecak, “Lo kira, nyali gue ciut Ren. Tanpa pendamping!” Serunya.
Rendra menipiskan bibirnya. Sebenarnya Rendra ragu membiarkan atasannya itu sendirian.
“Udah sana!” usirnya seraya mengibaskan tangan.
“Hati-hati, Mas.” Pesan Rendra sebelum mobil atasannya itu melesat meninggalkannya. Ia melambaikan tangan ketika rombongan offroad yang melaju di belakang mobil atasannya memberikan klakson tanda perpisahan.
Sebagai ketua tim sekaligus ketua club, Dasa selalu mengingatkan. Perihal keselamatan. Kehati-hatian. Dan kekompakan.
Mereka memulai start awal dari Desa Menoreh. Mengambil jalur berbeda yang lebih menantang. Tim akan bertemu di Watu Kendil. Sebagai puncak offroad sebelum akhirnya kembali pulang di titik awal.
Medan area yang menantang. Jalan yang terjal. Berliku. Berbatu dan tentu kanan kiri tebing curam yang siap menghunjam jika tidak penuh perhitungan.
Ia terus melajukan mobilnya melewati teman-temannya yang jauh tertinggal. Ini kali pertama baginya bertualang di sini. Sedikit memberikan sensasi dan menantang. Tak sia-sia ia menyisakan hari ini pikirnya.
Areal yang dilaluinya semakin terjal. Ia terus berusaha berkonsentrasi penuh dengan kondisi jalan yang dilewatinya. Semakin ke atas semakin menuntut kehati-hatian dan kecermatan. Saat turunan ia lebih memacu kecepatannya.
Tapi nahas, ia dikejutkan dengan seekor babi hutan yang tengah melintas. Dengan kecepatan penuh ia berusaha mengendalikan pedal gas, rem dan kopling secara bersamaan.
Namun usahanya justru membuat mobil yang dikemudikannya berputar 180 derajat lalu terperosok ke dalam jurang.
“Mas Danang lagi apa? Gak kenapa-kenapa, kan?”
“Rei takut terjadi sesuatu sama Mas Danang. Tadi malam ... aku mimpi gak enak.”
“Syukurlah ... Mas Danang baik-baik saja.”
“I hope I see you again soon,”
“I love you ....”
Potongan percakapan terakhir melalui telepon dengan Kirei melintas seiring mobilnya yang terus terperosok ke dalam lembah.
-
-
Author kurang detail ya menjabarkan tentang museum tsunami Aceh. Karena sedikit banyak lupa. Sudah lama berkunjung ke sana sekitar tahun 2015. Banyakan lupa 🤭. Boleh kasih masukan kalau ada yang ingat 😁.
Terima kasih yang berkenan mampir, membaca dan memberikan dukungannya .... 🙏
__ADS_1