
...95. Tak Pernah Setengah Hati...
Danang
Intensitas kedatangan Pradipta sebagai pengacara salah satu tersangka kasus asuransi fiktif kian hari kian mencolok. Meski ia berusaha menghindarinya. Dengan cara,
“Silakan berhubungan langsung dengan Kasat Reskrim yang menangani kasus itu.” Ucapnya ketika tanpa sengaja bertemu di depan ruangan Kasat Reskrim.
Sejak diterbitkannya Surat Perintah Dimulainya Penyelidikan (SPDP), otomatis 3 mantan anggota DPRD kota, termasuk EW statusnya berubah menjadi tersangka. Dan telah dilakukan pemanggilan untuk menjalani pemeriksaan sebagai tersangka beberapa kali. Di mana pengacara itu selalu hadir menemaninya.
Atau, “Ren, kalo pengacara itu nyariin aku. Bilang sibuk. Urusan kasus langsung ke penyidik saja.” Dan Rendra bisa diandalkan untuk itu.
Tapi kedatangan Kirei siang itu ke kantor akhirnya tepat bersamaan dengan Pradipta yang datang menemani tersangka guna pemeriksaan lanjutan.
“Aku gak sengaja, ketemu pengacara Aldi di luar tadi.” Kata Kirei sesaat setelah mendudukkan dirinya di sofa.
Ia yang masih menatap layar komputer dan siap mematikannya menjadi cemas, sebab ia pernah berjanji akan menjaga jarak dengan perempuan mana pun kecuali yang telah disepakati. Merasa khawatir? Jelas.
“Mas Danang sering ketemu sama dia?” Tanya Kirei. Sambil menata bekal makan siang di atas meja.
“Gak. Urusan itu sama penyidik.” Kilahnya. Ia telah mematikan komputer. “Aku ke toilet dulu,” bergegas ke luar ruangan.
Namun sialnya, saat keluar dari toilet hendak kembali ke ruangannya, bertepatan dengan Pradipta yang juga keluar dari ruangan Kasat Reskrim. Oh, ****!
Ia melenggang tak peduli. Meski,
“Abang!” Pradipta memanggilnya.
Ia menghela napas.
“Tunggu, Bang.” Ucap Pradipta kemudian setelah dapat menjajari keberadaannya. Terpaksa ia berhenti.
“Aku mengajukan penangguhan penahan Pak Edrik.”
“Urusan itu silakan berhubungan dengan penyidik.”
“Bang, aku mau bicarain soal ini. Bisakah kita ngobrol sebentar.”
“Sorry, Dip. Aku sudah ditunggu seseorang di ruanganku.”
***
Kirei
Ia yang sengaja hendak keluar ruangan sebab ingin ke toilet juga urung melanjutkan langkah. Berdiri memaku di ambang pintu. Tak sengaja mendengar percakapan Danang dengan seorang wanita.
Dengan cepat ia kembali duduk ketika suara langkah Danang semakin mendekat.
Berupaya memasang raut wajah normal. Meski hatinya dongkol. Ia terdiam. Dengan tangan sibuk melayani suaminya.
Beberapa hari di rumah. Ia selalu sempatkan mengirim dan menemani makan siang ke kantor laki-laki itu. Terkecuali jika sedang dinas ke lapangan. Pun di siang ini, yang tanpa sengaja mendapati pengacara yang ia juluki miss exactly di sini.
Sejatinya ia menanam kepercayaan pada Danang. Tapi, rasa kesal terkadang menyelimuti jika melihat laki-laki itu dekat dengan perempuan lain. Apa lagi berhubungan dengan masa lalunya. Apa ini wajar?
Apa karena beberapa hari ini ia tidak punya kesibukan, sehingga pikirannya terlalu fokus memikirkan laki-laki itu. Ia berusaha menepis pikiran-pikiran negatif yang menyerangnya. Namun hasilnya belum maksimal. Bisa dibilang ia masih berusaha untuk tidak larut dan termakan emosi.
“Mas,” ucapnya ketika ia membereskan bekas makan siang mereka. “Aku mau ketemu sama anak-anak TVS.”
Danang meletakkan gelas di meja, “Jam berapa? Sore nanti bukannya ada jadwal ketemu dokter Yoiku?”
Kenapa ia sampai lupa? Justru Danang yang mengingatkan. Ia menggigit bibir bawahnya, “Iya, kok lupa.” Gumamnya.
“Gimana kalo besok sore aja ketemu sama teman-teman kamu. Sore ini kita ke dokter. Aku udah daftarin tadi pagi,”
“Hah?!” Ia terperangah. Begitu pedulinya Danang padanya.
“Sembrono!” Salak Danang.
“Dokter Yoiku itu pasiennya banyak. Sehari aja bisa puluhan. Kalo gak daftar jauh-jauh, pasti dapat nomor antrian paling akhir.” Tukas Danang. Dan memang betul. Dokter Yoiku adalah dokter kandungan terbaik di kota ini. Pasiennya berjibun. Bahkan banyak pasien yang datang dari luar kota.
“Jangan ngarepin minta bantuan Anita. Nepotisme namanya.” Tandas Danang. Lalu bangkit dari sofa dan menelepon seseorang. Masih terdengar laki-laki itu menyahut ‘sore’ dan ‘siapkan saja’. Lalu menyimpan ponsel di atas meja seraya duduk di sebelahnya.
“Mas, jaman sekarang kalo gak gitu kan susah. Apa-apa butuh koneksi. Kecuali mau lempeng aja berarti harus terima konsekuensi. Sabar digedein. Ikhlas didalemin. Dan siapkan diri untuk makan ati.”
Danang berdecak. Tak setuju.
“Kan waktu itu bukan aku,” elaknya. Melihat air muka suaminya tak sependapat dengannya. “Mbak Kasih yang ngasih jalan lewat Mbak Anita.” Ia membela diri. Tidak terima dibilang nepotisme dengan Anita.
“Ngeyel!” Danang berdecak lagi. “Habis ini pulangnya sama sopir.” Pungkasnya.
**
Danang
Satu jam sebelum kepulangannya, ia memastikan lagi jadwal pada Rendra.
“Sore ini aku gak mau diganggu, Ren.” Ucapnya berpesan pada Rendra ketika beranjak dari kursi kerjanya.
Rendra mengangguk, "Siap Pak!"
Kali ini ia membawa kendaraan sendiri. Meski Rendra menawarkan untuk mengantarkannya. Ia ingin menjadi suami siaga. Cukup sekali ia absen saat konsultasi perdana. Kali ini ia tidak ingin membiarkan Kirei sendirian.
Tiba di rumah, ia disambut Kirei dengan senyuman.
“Mas Danang mau mandi dulu?”
“Iya, gerah. Bentar, ya.” Sahut laki-laki itu sambil mengusap kepalanya. Danang hilang di balik pintu. Sementara dirinya ke dapur membuatkan minuman. Lalu membawanya masuk ke dalam kamar, menyimpan di atas meja.
Ia mengambil pakaian laki-laki itu dari lemari dan meletakkan di atas kasur. Membungkuk, mengusap-usapnya perlahan.
__ADS_1
Hatinya tidak tenang. Dalam kegamangan. Pertemuan kali kedua memberikan keputusan. Dan itu ditentukan sesaat lagi.
Tiba-tiba tangan dingin memeluknya dari belakang. Ia refleks menjengit.
“Ngagetin.” Ucapnya ketika menoleh ke belakang.
“Lagi ngelamunin apa?”
Ia berbalik menghadap Danang. Indra penciumannya langsung disergap oleh aroma white musk dari sabun mandi yang menguar dari tubuh laki-laki itu. Tubuh yang hanya mengenakan handuk dililit sebatas pinggang. Dengan beberapa bulir air yang masih menetes. Kebiasaan. Geramnya dalam hati.
Bibirnya mengerucut sebagai respons menanggapi buruknya kebiasaan laki-laki itu sehabis mandi. “Aku ikutan basah,” sungutnya. Danang terkekeh masih melingkari pinggangnya.
“Bisa ganti baju.”
“Ck,” ia berdecak. Gampang sekali suaminya bilang seperti itu pikirnya.
“Jangan khawatir.”
Hening.
Ia mendongak menatap Danang, “Kalo misalnya hasilnya lebih buruk ....” Jeda sesaat. “Gimana?” Lirihnya.
“Apa pun hasilnya. Tak mengubah apa pun. Aku tak pernah setengah hati mencintaimu, Rei.” Laki-laki itu mencium keningnya.
Dadanya berdesir hebat. Matanya tetiba memanas. Air matanya menggenang di sana.
Danang merengkuhnya lebih dalam. “Percaya aku, kita akan hadapi semuanya bersama.”
**
Kirei
Tiba di rumah sakit mereka tak perlu mengantre lama. Namanya dipanggil setelah sempat duduk sekitar 10 menit.
Danang selalu menggenggam tangannya. Dokter Yoiku menyambut mereka ramah ketika ia dan Danang masuk ke dalam ruangan dokter kandungan tersebut.
“Apa kabar, Pak Danang beserta Ibu?” Tanya Yoiku sambil menatap mereka mengulas senyum.
“Baik, Dok. Kami baik.” Sahut Danang. Ia pun mengangguk tersenyum. Mereka duduk di kursi depan meja dokter itu.
“Kontrol kedua. Gimana ada keluhan?”
Ia menggeleng.
“Kita USG lagi ya,” ucap dokter Yoiku setelah membaca riwayat kartu pasien.
Dengan dibantu perawat ia berbaring di ranjang pemeriksaan. Ia harus menjalani tes USG panggul kedua. Dengan alat transducer. Cukup lama. Beberapa kali dokter mencetak hasilnya.
Lalu ia digiring oleh perawat ke toilet. Untuk melakukan tes kehamilan.
Hingga tiba dokter Yoiku menjelaskan hasil pemeriksaan dan pengamatan untuk pertemuan kedua.
Ia mengukir senyum paksa. Mencoba membasahi bibirnya.
Hasil dari USG membuktikan bahwa kista ovarium mengalami perubahan ukuran. Dari pemeriksaan awal berukuran 4 cm kini menjadi 7 cm. Jelas melebihi ukuran normal. Padahal sudah melakukan terapi hormonal pada pertemuan pertama. Dan kemungkinan bisa tumbuh terus semakin besar. Artinya harus segera dilakukan tidakkan. Guna mengantisipasi segala risiko seperti torsio (terputirnya ovarium) dan ruptur yaitu pendarahan akibat pecahnya kista di dalam. Yang bisa mengancam nyawa.
Ia kesusahan menelan ludahnya. Danang menenangkannya dengan mengusap punggung tangannya.
Lalu pada tes darah yang telah dilakukan pada awal pemeriksaan. Membuktikan bahwa kandungan kadar protein dalam darah yang disebut kanker antigen (CA-125) lebih rendah. Artinya, bukan termasuk kista yang berbahaya atau mengarah ke kanker maupun endometriosis dan penyakit radang panggul.
Dokter Yoiku menjelaskan tindakan apa saja yang harus dilakukan. Dan dokter tersebut menyarankan untuk melakukan laparoskopi.
Ia terdiam setelah keluar dari ruangan dokter Yoiku. Bahkan sepanjang perjalanan. Pandangannya terus mengarah ke kaca jendela samping kirinya.
“Sayang ....” Panggil Danang ketika mobil mereka telah berhenti.
“Kita udah sampai.” Imbuh laki-laki itu.
Ia masih bergeming.
“Rei ....” Danang melepas sabuk pengamannya. Begitu juga punya dirinya.
“Hei ....” Pipinya diusap lembut oleh suaminya. “Lihat aku.” Sambungnya.
Ia menatap suaminya. Sebulir cairan bening meluncur dari sudut matanya.
“Kita bisa melalui ini. Kamu bisa melaluinya. Dan kita akan melalui bersama.” Danang merengkuhnya.
Ia semakin terisak.
“Maaf, Mas. Aku ... aku ... mungkin ini hukuman buat aku.” Ia jadi teringat ketika mimpinya bertemu seorang anak laki-laki yang tidak mau mengakui bahwa dirinya adalah ibu dari anak itu. Apa ini hukuman buatnya? Pernah mencampakkan janin yang sempat tumbuh di rahimnya. Penyesalan itu kembali datang.
“Ssshh ... kamu denger, kan tadi dokter bilang apa? Setelah tindakan laparoskopi kamu masih bisa hamil lagi. Kita bisa program hamil. Bahkan peluangnya lebih besar.”
Ia menyembunyikan kepalanya di dada laki-laki itu. Dadanya berkedut. Andai dulu ia tidak gegabah. Tidak abai. Tidak ....
“Sekarang kita masuk.” Danang mengurai pelukan.
Ia tertunduk. Menyusut sudut mata dan hidungnya yang berair dengan tisu.
Danang turun lebih dahulu. Lalu memutari mobil dan membukakan pintu untuknya. Ia baru sadar ketika melangkahkan kaki menuju teras.
“Malam ini kita nginap sini,” sergah Danang sebelum ia bertanya. Mereka menginap di rumah kota atas.
Seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuk mereka. Ia mengernyit.
“Itu Mbok Sumi. Yang bersih-bersih di rumah sini.” Tukas Danang.
Ia mengulas senyum.
__ADS_1
Mbok Sumi membalas tersenyum, mempersilakan empunya rumah untuk masuk.
“Mau langsung ke atas?”
Ia mengangguk.
Tiba di kamar, ia langsung tidur meringkuk. Membenamkan wajahnya ke bantal. Danang menyelimutinya hingga sebatas pinggang. Mengusap kepalanya. Lalu membiarkan ia sendirian.
***
Danang
Setelah menenangkan Kirei. Ia segera keluar kamar. Menuju dapur. Memerintahkan Mbok Sumi untuk memotong-motong buah. Mengisi gelas dengan air putih hangat. Meletakkan di atas nampan beserta potongan buah tadi.
Ia kembali ke kamar. Menyimpan nampan di atas nakas. Kirei masih meringkuk seperti awal saat ia meninggalkannya. Membelakangi pintu.
Ia sadar. Istrinya pasti masih syok. Harus melakukan tindakan laparoskopi. Meski di awal sudah dijelaskan oleh dokter. Segala kemungkinan efek baik dan terburuk yang harus mereka hadapi.
Teringat potongan percakapan mereka saat ia mendapati Kirei duduk di taman setelah konsul perdana dengan dokter.
“Sorry tadi—” Ia datang terlambat.
“Gak apa,” potong Kirei, “harusnya aku yang minta maaf ... soal ... tidak bisa ... memberikan ....” Kirei tertunduk dalam. Jari jemarinya saling meremat satu dengan yang lain di atas pangkuan.
“Memberikan Mas Danang anak secepatnya.”
Ia meraih tangan istrinya.
“Kata dokter, ada kista di ovariumku. Ukurannya 4 senti. Harus diobservasi lagi. Apa kista berkembang atau gak. Apa ganas atau gak. Atau masuk dalam endometrioma atau gak.
“Dokter menyarankan untuk mengonsumsi obat terapi hormonal. Untuk mencegah kista tumbuh baru dan membesar. Dan obat itu mencegah kehamilan.”
“Jadi ....”
Ia merengkuh Kirei dalam dekapannya.
“It’s gonna be okay ... kita akan lewati semua bersama.”
Niatnya untuk membangunkan Kirei sirna. Ia tahu istrinya sedang tidak tidur. Justru ia merangkak ke atas kasur. Merengkuh istrinya lebih dalam. Mendekapnya, menyalurkan kehangatan, kenyamanan dan perlindungan terbaiknya.
Ia tahu Kirei sedang dalam kesedihan. Bimbang dan butuh dirinya untuk bersandar.
“It’s gonna be okay.” Sugesti kalimat yang diucapkannya berulang kali. Semenjak keluar dari ruangan dokter.
“Aku memang menginginkan anak dari kamu. Tapi bukan berarti harus sekarang. Masih ada waktu. Masih ada kesempatan.”
“Bukankah kata dokter tadi peluang hamil setelah ini besar? Bahkan lebih sehat dan tidak beresiko,”
“Aku ingin anak yang kamu lahirkan sehat dan selamat. Begitu juga dengan bundanya,”
“Jadi ... besok kita kembali ke rumah sakit, ya ....” Pungkasnya dengan mengecup kepala Kirei lama.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
__ADS_1