
...87. Sooner or Later It’s Over (3)...
Danang
Keluar lift mereka dalam sikap diam. Meski tangannya menggenggam erat tangan Kirei. Ada rasa panas yang menyelinap di hatinya. Rasa kesal. Dongkol. Rasa entahlah ... ia pun tidak tahu. Kakinya terus melangkah mencari kamar bernomor 601.
Setelah tiba di sana. Ia melepas tangan Kirei. Memasukkan guest room card hingga tanda lampu sensor berwarna hijau dan berbunyi ‘bip’. Ia memutar daun pintu ke bawah dan mendorongnya.
Mereka masih dalam sikap diam.
Ia bisa melihat Kirei masuk dalam kamar mandi setelah mengambil baju ganti. Namun terasa lama menunggu Kirei tak keluar-keluar dari sana.
Ia yang menyandar di dinding sedari tadi dengan ponsel di tangan tak tahan. Ia pun segera menyusul. Hendak mengetuk pintu. Tapi seketika pintu terbuka. Kirei menyembul dari baliknya dan sudah berganti piyama tidur. Berjalan melewatinya begitu saja.
Pergerakan Kirei dari mulai duduk di tepi ranjang. Merebahkan tubuhnya miring ke kiri. Yang otomatis juga akan membelakanginya. Menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sebatas bahu. Semua tak luput dari pengamatannya.
Lantas ia masuk ke dalam kamar mandi.
Saat ia ikut merebahkan diri di samping Kirei. Sudah tidak ada pergerakan darinya.
Ia mendesahkan napas.
Berbaring dengan telentang. Satu tangannya ia jadikan bantalan. Menatap langit-langit kamar dengan jelas karena penerangan masih menyala. Ia menoleh sekilas ke sebelahnya. Posisi istrinya masih sama. Membelakanginya.
Apa ia egois?
Rasa yang berkecamuk dalam dada. Membuat sikapnya seperti ini.
Tangannya terulur untuk menekan tombol beberapa lampu penerangan. Menyisakan lampu redup. Ia menyibak selimut lalu ikut bergelung di dalamnya. Merengkuh tubuh istrinya dari belakang.
“My bad ....”
“Have a nice dream!” Mengecup kepala istrinya.
***
Kirei
Ia merasa situasi yang menyelimutinya benar-benar melelahkan. Pontang-panting harus menata hati dan pikirannya. Menghadapi sikap Danang. Menyesuaikan ritme dengan kehidupan laki-laki itu.
Dua bulir cairan bening lolos dari sudut mata. Ia biarkan membasahi bantal tidurnya. Tapi ternyata menyusul bulir-bulir selanjutnya. Sesak. Berat. Mengimpit. Itu yang dirasakannya.
Secepat kilat ia menyeka air matanya dengan jari telunjuknya. Ketika tubuhnya direngkuh dari belakang.
“My bad ....”
“Have a nice dream!”
Kalimat itu masih jelas didengarnya. Justru kian menambah sesak di dada. Apa begini jalan tempuh yang harus dilaluinya? Bersama laki-laki itu.
Pernikahan.
Bak roller coaster yang detik ini membawanya membumbung tinggi. Lalu detik berikutnya tiba-tiba menghempaskan ke bawah tanpa aba. Jauh. Sangat jauh dengan kehidupannya sebelum menikah.
Satu tetes air matanya kembali lolos. Ia berharap menjadi pengujung lara malam ini. Sebelum ia merasuk ke dalam mimpi.
Esok paginya ia terbangun lebih dahulu. Masih dalam posisi yang sama membelakangi suaminya. Berusaha menghilangkan ganjalan pita suara dengan berdehem beberapa kali. Matanya pun terasa kaku. Mungkin akibat tangisnya semalam.
Beringsut perlahan.
Namun justru tangan Danang erat melingkupinya.
Ia menghela napas. Bagaimana ia bangun kalau begini?
Suara getaran ponsel dalam clucth bag yang ia simpan di meja meronta-ronta. Ia hanya mampu melongok.
Ddddrrrttt ...
Ddddrrrttt ...
Ddddrrrttt ...
Terus menerus tanpa henti.
“Siapa yang telepon pagi begini?” Tanya Danang dengan suara parau dan mata terpejam.
Ia tak menjawab.
“Rei,” panggil Danang.
Ia bergeming.
“Apa temenmu yang di lobi tadi malam?” Mata Danang masih memejam. Bahkan merengkuhnya lebih dalam.
Ia merasakan sesak.
“Mas, bisa gak dilepas dulu. Aku mau ke kamar mandi.”
“Bisa jelaskan dia?” Imbuh Danang.
Ia menghela napas.
“Temen.”
“Temen?” Danang mengerutkan kening. Matanya telah membuka sempurna.
“Ya, temen kuliah dulu.”
“Dia kesini ada acara. Kebetulan aja.”
Danang mulai mengendurkan rengkuhannya, “Sini, aku mau ngomong.”
Perlahan ia memutar tubuhnya menghadap laki-laki itu. Namun pandangannya ke bawah tepat di dada Danang.
“Rei,”
Laki-laki itu mengurai pelukannya, menyelipkan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya ke belakang telinga.
“Listen to me ... Kirei Fitriya Tsabita sekarang tanggung jawab aku. Sejak kita disahkan waktu itu ... sampai kapan pun."
Hatinya dalam kerapuhan.
“Meskipun kita disatukan dengan cara seperti itu. Maaf ... mungkin gak sesuai ekspektasimu.”
Air matanya menggenang.
“Aku udah berjanji.”
“Pada diriku sendiri ... pada bunda dan ayah.”
“Akan selalu menjagamu ... melindungimu.”
__ADS_1
Genangan itu telah meluncur.
“Mungkin aku kolokan,”
“Aku egois,”
“Bar-bar,”
“Aku mengatur hidupmu,”
Ia mulai terisak.
“Aku ....” Danang mengembuskan napasnya perlahan.
“Aku bahkan mungkin laki-laki yang tak pernah ada dalam mimpi dan anganmu.”
Danang mengukir senyum di sudut bibirnya, “Tapi ... kamu selalu ada dalam mimpi dan anganku.”
Ia masih terdiam. Dengan pipi basah dan sembab. Danang mengangkat dagunya. Menatapnya lekat.
Menghapus jejak-jejak air mata dengan ibu jarinya. Lalu mengecup kelopak matanya yang memejam. Dan memeluknya penuh kehangatan.
“I love you more.”
**
Ganjar
Duduk di kursi meja makan dekat jendela menjadi pilihannya. Sesekali menyuapkan makanan yang dipilihnya untuk sarapan pagi ini. Jemarinya sibuk menggulirkan layar ponsel. Lalu mengangkat telepon dari seseorang.
“Baik. Segera ... arigatougozaimashita ....” Ia mengakhiri percakapan.
Piringnya telah kosong. Ia meneguk teh tawar hingga tandas. Lalu beranjak pergi.
Tujuannya kini adalah kolam renang. Sudah lama ia tak berenang. Mungkin selama berada di Indonesia.
Ia melakukan pemanasan. Melepas kaos dan meletakkan begitu saja di kursi lounger. Dengan mengenakan swimwear model swim shorts terbaik di kelasnya. Ia mulai menenggelamkan kakinya dan duduk di pinggir kolam. Lalu mulai menceburkan keseluruhan tubuhnya.
Menggunakan gaya bebas ia mengitari kolam dengan panjang 25 meter itu. Setelah tiga kali mengitari ia beristirahat di pinggir kolam. Napasnya terengah-engah. Sinar mentari pagi menyorot tubuhnya yang basah tampak berkilauan.
Ia menyeka wajahnya. Menyusut hidungnya. Lalu tanpa sengaja matanya menangkap sosok pria yang tadi malam jumpa di lobi. Pria itu berdiri di samping kursi lounger. Melepas handuk kimono. Lalu duduk di pinggir kolam.
Ia yang berusaha untuk tak menghiraukannya. Justru semakin penasaran. Matanya kembali menyorot pergerakan pria itu yang telah sepenuhnya berada dalam air.
Pria itu berenang dengan gaya kupu-kupu menuju ke arahnya. Oh sial!!
Ia berusaha untuk tidak terprovokasi hati. Menguasai keadaan. Dengan membasahi rambutnya yang telah basah. Mengusap wajahnya. Dilakukannya berulang kali.
Namun detik berikutnya ia seperti pria bodoh. Bukankah fidgetting, komunikasi bahasa tubuh yang dikuasainya merupakan sebuah bentuk kecemasan dan kegugupan? Melakukan hal-hal di luar kendali. Demi mengalihkan perhatian yang sesungguhnya. Yaitu kurangnya kekuatan diri.
Ia mengumpat dalam hati.
Bagaimana bisa ia tidak percaya diri menghadapi pria yang mungkin kekasih Kirei. Padahal kariernya cemerlang berkat keahliannya menjadi public relations. Bahkan kedudukannya kini menjadi Assistant vice president tak diragukan. Dang!
Pria itu telah berada di sebelahnya.
“Sepertinya kita pernah bertemu?” Sapa pria itu. Tanpa mengalihkan pandangannya ke arahnya.
Ia menoleh sekilas pada pria itu lalu menjawab, “Sepertinya,”
“Ya ... aku ingat. Bukankah tadi malam yang berbicara dengan Kirei di lobi?”
Ia menyambutnya, “Ganjar.”
“Perjalanan bisnis?!” Ucap Danang.
Ia tersenyum tipis.
“Kirei sudah bercerita. Kalo kalian berteman sejak kuliah.”
Hah! Berteman? Teman spesial pastinya.
“Hobi berenang?”
Ia mengangguk, “Sejak kecil.”
“Kita buktikan!” Tantang Danang.
“Let’s see ....” Sahutnya tak mau kalah. Sejak kecil duduk di bangku Sekolah Dasar seminggu tiga kali ia selalu latihan berenang dengan coach profesional di kotanya.
Duduk di Sekolah Menengah Pertama selalu menjuarai cabang olahraga renang yang diadakan Kadispora tiga tahun berturut-turut. Pun selalu menjuarai lomba renang antar klub seusianya.
Lalu saat Sekolah Menengah Atas, ia selalu masuk dalam tiga besar di kejurnas renang antar sekolah. Dipastikan ia yang akan menang! I’ll show you! (akan kutunjukan padamu)
Mereka telah bersiap.
Dengan dibantu housekeeping yang tengah membersihkan sekitar kolam renang sebagai juri sekaligus wasit. Menggunakan gaya bebas jarak 100 meter. Artinya dengan panjang kolam 25 meter. Mereka harus 4 kali mengedari kolam.
Pemenangnya adalah yang telah mencapai dinding finish terlebih dahulu.
Wasit telah meniup peluit. Mereka bersiap di atas kolam. Lalu wasit berucap, “Siap!” tangan wasit di depan. Keduanya dalam posisi start.
Peluit panjang ditiupkan. Tangan wasit diangkat ke atas. Mereka menceburkan diri.
Danang tetap menggunakan gaya kupu-kupu. Sementara dirinya menggunakan gaya bebas. Pilihan yang tepat pikirnya. Sebab ia selalu juara dalam gaya tersebut.
“Rei, kalo seandainya aku deket sama kamu. Ada yang marah gak?” Ucapnya kala ia meluapkan perasaannya ketika itu. Semester 4. Di ruangan Komako.
Kirei duduk terdiam.
“Aku suka kamu, Rei.”
“Pengen lebih deket sama kamu.”
Tapi Kirei tetap bergeming.
“Okay, gak pa-pa. Gak harus dijawab sekarang. Aku akan menunggu. Tapi selama menunggu, kita masih bisa temenan, 'kan?”
Kirei mengangguk.
Hingga peluit dua kali dibunyikan wasit. Membuyarkan kesadarannya.
Danang telah sampai di dinding finish. Pria itu melempar senyum, ketika ia baru saja menyusul di dinding finish.
“Mas Danang 55,05 detik.”
“Mas Ganjar 55,10 detik.” Putus wasit. Seraya memperlihatkan stopwatch di dua ponsel sekaligus.
“Makasih, Mas.” Danang menyahut. Housekeeping itu berlalu meninggalkan mereka.
Ia mereguk kekalahan.
__ADS_1
***
Danang
Suasana hati Kirei sedang down. Tak banyak bicara. Seperti yang sudah-sudah. Istrinya itu banyak diam.
Kirei izin ke kamar pengantin. Di sana Kasih dan Anita sudah menunggunya. Mereka dipercaya menjadi bridesmaid.
“Mas Danang, gak apa aku tinggal sendiri?” Tanya Kirei memastikan untuk kedua kali.
“Gak pa-pa. Nanti aku nyusul ke sana. Paling renang bentar di bawah.”
Mereka meminta sarapan diantar ke kamar. Setelah mereka menyelesaikan sarapan, Kirei keluar meninggalkan dirinya.
Ia juga bergegas ke bawah menuju kolam renang.
Namun ia mengernyit ketika menyadari sosok pria tengah memperhatikannya dari kejauhan. Ia berenang menghampiri pria itu. Dan sedikit terkejut harus bertemu kembali dengan pria yang pernah dijumpainya di lobi mengobrol dengan Kirei.
Tanpa basa basi.
Mereka adu keahlian berenang. Bukan untuk memperebutkan Kirei. Tapi sekedar membuktikan bahwa dirinyalah yang pantas berdiri di samping Kirei. Dan ia akan mendapatkan pengakuan itu sebentar lagi.
Waktu pencapaian 55,05 detik menorehkan kemenangan untuknya. Pencapaian pertama kali dengan waktu terbaiknya selama ini. Sebab ia belum pernah berhasil menaklukkan waktu lebih sedikit dari waktu yang digapainya sekarang. Juga sekaligus ia bisa memastikan. Dirinyalah yang pantas untuk Kirei.
Ia mengulas senyum ketika tiba di dinding finish terlebih dahulu.
Dan senyumnya kian mengembang kala Ganjar mengucapkan, “Congrats!” Membalas tersenyum meski samar, “you’re the winner."
Pria itu keluar dari kolam memakai handuk kimono dan berjalan menjauh. Hilang di balik dinding tembok.
Ia menghela napas.
***
Kirei
Ia membantu Aisah memastikan dandanannya oke. Sementara Kasih sibuk menyuapi kedua anaknya.
“Cantik, Mbak.” Ucapnya ketika melihat Aisah telah ready. Gaun pengantin dengan aksen brokat dan train panjang. Hijab dengan veil (kerudung transparan) dibawa asisten MUA.
“Eh, sekarang giliran kamu, Rei.” Sergah Aisah.
“Ya, Mbak.” Ia duduk di kursi, seorang MUA mulai memoles wajahnya.
“Sori ... sori!” seorang wanita baru datang dengan napas memburu.
“Ada pasien gak bisa ditinggal,” sambung wanita itu.
“Mbak Nita sibuk banget! Sampe lupa hari ini big day-ku!” Cerca Aisah seraya memberengut. Lalu hilang di balik connecting door.
“Ihh ... cantikmu luntur entar, Ais.” Anita menghempaskan tubuhnya di tepi ranjang, “Eh, siapa ini?” Anita menoleh padanya.
“Istri Mas Danang,” sahut Kasih yang telah selesai menyuapi kedua anaknya. Aryasetya dan Aryandra telah diambil alih oleh baby sitter.
“Oh ....” Wanita itu bangkit, lalu mengulurkan tangannya. “Anita.”
Ia menjabat tangan Anita, “Kirei.”
“Ini lho, Rei. Mbak Anita itu anaknya dokter Yoiku.”
“Eh ... kamu jadi ke sana, kan waktu itu?” Kasih ikut duduk di sebelahnya. Seorang MUA mulai merias wajahnya.
“Jadi, Mbak.” Sahutnya.
“Oya? Kapan ke klinik papa?” Tanya Anita, “waktu itu aku juga ketemu Pak Danang di RS. Lagi jenguk tanteku yang nglahirin.”
“Udah lama, Mbak.”
“Ibu Sisilia masih sodaraan sama Mbak Anita?” Tanyanya.
“Kami satu kakek buyut, tapi sama Om Banuaji.” Jawab Anita.
“Oo ....” Ucapnya lirih bahkan hampir tak terdengar dan langsung mengatupkan bibirnya karena MUA memoleskan lipstik.
“Gimana hasil konsul pertama?” Tanya Kasih sambil memejamkan matanya.
Ia mengulas senyum, “Lanjut konsul kedua, Mbak. Nanti seminggu lagi.”
“Percayakan sama dokter Yoiku. Tentunya dibarengi dengan doa.” Pungkas Kasih.
Sementara Aisah baru muncul dari connecting door, "Sepertinya gue ketinggalan informasi."
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
__ADS_1