Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
115. I'm On Cloud Nine


__ADS_3

...115. I’m On Cloud Nine...


Danang


“Belum tidur?” Tanyanya ketika masuk kamar, Kirei duduk lesehan di bawah beralaskan karpet bulu tebal. Di hadapannya tumpukan kado menumpuk rapi hampir memenuhi sudut ruangan kamar tidur mereka. Bahkan masih banyak kado yang tersimpan di luar. Saking banyaknya.


Ia baru saja mengobrol dengan Aksa, Ken dan Paman Dambea. Lalu memutuskan untuk masuk kamar melihat kondisi buah hatinya. Sebab malam ini Gry ikut menjadi penghuni baru kamar mereka.


Kirei menggeleng, “Belum ngantuk.”


“Kita mau unboxing nih, ceritanya?” Ia ikut duduk bersila di sebelah Kirei.


“Iya kayaknya. Sejak pulang dari RS. Kado-kado ini belum tersentuh. Gak enak, Mas. Kita buka sekarang, ya? Mumpung Gry sama Tala bobo.” Istrinya meraih satu kado besar hanya terbungkus plastik bening dengan hiasan pita-pita.


“Dari siapa?” Tanyanya penasaran.


“Bu Leon, istri Pak Waka.”


“Wah, Pak Waka tahu banget kita cuma punya 1 bouncer nuna leaf kayak gini,” kekehnya.


“Kalo car seat ini dari mana?” tanyanya, kado masih terbungkus plastik bening sehingga langsung bisa dilihat isinya.


“Ibu Yuko, istri Pak Rahmat.”


Ia mengumpulkan kado-kado yang sepertinya dari anak-anak TVS karena kertas bungkus dan ukurannya hampir sama. Berlogo TVS. Ia menyebutkan satu persatu, “Dari Jani, Nindi, Yana, Siti, Sweetie dan Yati.”


“Mereka anak-anak news,” Kirei menyahut. Ia menipiskan bibirnya lalu manggut-manggut. Benar tebakannya kalau kado-kado tersebut dari teman se-kantor istrinya.


“Mas, kayaknya ini dari ibu-ibu Bhayangkari. Coba lihat?” Kirei menggeser satu persatu. Dari yang mulai besar sampai yang ukurannya sedang.


“Oya, betul.”


“Nia Yulia, istri Pak Kasat Reskrim,ya, kan Mas?”


Ia mengangguk.


“Hanycha, istri Pak Kasat Resnarkoba.”


Ia mengangguk lagi.


“Syizfaiz, istri—”


Ia memotong, “Kasat Intelkam.”


“Oo,”


Ia menyodorkan satu persatu kado ke istrinya, “Nih, dari ibu-ibu Kapolsek.”


Kirei mengeja satu persatu sesuai urutan kado, “Ibu Yudho, Ibu Ira, Ibu Alma Maula, Ibu Masitah.”


“Baik banget mereka Mas. Sampai repot-repot kayak gini. Padahal Rei banyak absen kalo lagi kegiatan,”


“Mereka tahu, ibu komandannya sibuk. Lagian mana berani mereka protes.”


“Ya, tapi akunya gak enak. Mereka selalu yang mewakili. Aktif sana sini.”


“Udah, gak usah dipikirin. Mereka ngerti posisi kamu.”


Kirei mengangkat sudut bibirnya.


“Wah ... stroller untuk si twins nih,” ia menggeser barang tersebut. Lalu membacakan note yang menempel di sana. “Dari anak-anak Sae Care. Putri, Yuyun, Galuh, Ida, Ka Rose, Atoen, dan Emy Aysel.”


“Mudah-mudahan doa kebaikan dari mereka dibalas juga dengan doa yang sama.” Tukas Kirei.


Malam kian larut, acar bedah kado dilanjutkan lagi esok. Sebab terintermezo dengan tangisan Gry dan Gentala yang bersamaan. Ia membuai Tala dengan memberi ASI melalui botol. Sementara Kirei mengASIhi langsung Gry. Sampai saat ini istrinya itu belum bisa mengASIhi secara bersamaan. Memang sulit. Butuh waktu dan kebiasaan. Solusi sementara dengan memberikan ASI langsung secara bergantian.


Ia mendekati istrinya yang telah merebahkan tubuhnya setelah kembali meletakkan Gry ke dalam ranjang bayi. Ia juga telah menyimpan Gentala di ranjangnya. Ikut merebahkan tubuhnya di samping Kirei. “Sini ....” Menepuk-nepuk lengannya agar istrinya mendekat. Dan menjadikan lengannya sebagai bantalan.


Kirei bergeser. Merebahkan punggungnya di dadanya.


Ia mengecup sekilas puncak kepala istrinya lalu merengkuhnya dari belakang.


“Mas, kenapa di undangan akikahan tidak disertai arti nama anak-anak kita?” Tanya Kirei.


“Gak wajib,” jawabnya.


“Tapi pada penasaran,”


“Termasuk kamu?!” Tebaknya.


Kirei mengangguk. Lalu berbalik menghadapnya.


Ia menghela napas. “Aku memberikan nama-nama itu, karena kamu,”


“Hah?” Kirei mendongak menatapnya.


“Gentala Astagiri, di ambil dari bahasa Jawa. Artinya naga yang muncul dari rona merah di balik gunung saat senja. Naga sendiri identik dengan air dan kesuburan,” ia mengecup kepala istrinya. “Semoga kelak Tala bisa menebar kebaikan di sekitarnya."


"Kamu suka senja, makanya aku sematkan untuk Gentala.”


Istrinya itu menatapnya penuh. Ia yakin, pasti Kirei tak menduga jika ia punya alasan memberikan nama mereka karena dirinya.


“Kalo Gry Gauri?” Tanya Kirei.


Ia membelai pipi ibu dari anak-anaknya itu.


“Gry berasal dari bahasa Denmark-Danish artinya fajar. Bertepatan dia juga lahir saat itu. Kalo Gauri dari bahasa Sansekerta artinya jalan kehidupan yang sempurna dan bahagia.”


“Jadi,”


“Aku berharap putri kita menjadi anak perempuan yang bahagia di kehidupannya.”


Ia mengecup lagi kepala istrinya. “Kamu suka dusk and dawn, suka karena cahayanya begitu hangat dan menenangkan, bukan? Bertepatan juga dengan waktu mereka lahir.”


“Tala dan Gry tak akan terpisahkan. Gry sebagai fajar. Fajar artinya di mana doa-doa dan pengharapan di mulai. Lalu, Tala sebagai senja. Bisa diartikan sebagai penutup atau penghabisan. Sebelum hari berganti gelap,”


“Selama dunia masih berputar sesuai kaidahnya, fajar dan senja akan terus berganti sepanjang waktu. Mereka adalah satu kesatuan yang akan terus menghiasi langit, menyuguhkan lukisan cakrawala yang membuat jutaan mata terpesona.”


“Begitu juga Tala dan Gry, mereka adalah saudara. Mereka adalah cahaya buat kita. Menyejukkan, menenangkan dan membuat kita begitu terpesona akan hadirnya.”


Hening sesaat.


“Makasih, Mas ....” Kirei merengkuhnya. Mendekapnya erat.


**

__ADS_1


Kirei


Ternyata benar waktu sehari 24 jam itu rasanya kurang. Danang telah kembali bekerja. Sementara ia masih ada waktu 2 minggu lagi sebelum kembali ngantor.


Ia juga akhirnya menerima tawaran suaminya memperkerjakan baby sitter untuk membantunya. Ia juga sudah bisa mengASIhi mereka secara bersamaan. Kanan-kiri oke.


Tubuhnya juga dengan cepat kembali seperti semula. Mungkin efek ASI eksklusif, kelelahan dan tiap pagi mengajak twins G berjalan-jalan. Cukup 20 menit lalu dilanjutkan dengan berjemur.


Kini Gentala dan Gry telah berusia 1,5 bulan. Bobot tubuh mereka telah sama dengan anak-anak seusianya. Bahkan terlihat lebih berisi.


“Mas, makan siang nanti dijemput, Pak Mus, ya!” Tukasnya saat menyiapkan sarapan buat Danang.


Laki-laki muncul dari kamar. Sudah berpakaian seragam lengkap. Lalu merengkuh pinggangnya dan mendaratkan bibirnya di kepalanya.


“Aman,” Danang melepas rengkuhannya, menggeret kursi dan duduk di sana.


Ia menyodorkan nasi goreng, “Buatan aku.” Sambil mengerlingkan mata.


Danang mengulum senyum, “Kode nih!”


Ia tergelak.


Gentala dan Gry yang diletakkan di dalam stroller tak jauh dari mereka duduk tengah asyik bermain tangan sendiri.


“Hai, jagoan dan princess Ayah. Nanti malam bobo cepat ya.” Seraya mengusap lembut kepala mereka bergantian.


Ia ikut duduk di sebelah Danang, “Mas jangan aneh-aneh. Pikiran mereka suci!”


Danang terkekeh. “Yang aneh pikiran bundanya. Aku cuma bilang suruh mereka tidur cepat. Dengan tidur perkembangan otak sinapsisnya berkembang. Kadar hormon pertumbuhan juga lagi tinggi.” Terangnya sembari mengunyah makanannya.


“Itu sudah kodrat bayi, Mas.” Sahutnya.


Baru mau membalas omongannya, Gentala merengek.


Danang beranjak lalu mengambil Tala. “Sini, anak Ayah.” Ia mengecup kepala Tala yang pelontos.


“Tahu, ya, Ayah mau kerja. Gak mau jauh-jauh sama Ayah, iya?” Lalu memangkunya sambil melanjutkan makan.


Namun tak berapa lama, Gry juga ikutan merengek. Beruntungnya Danang telah menandaskan isi piringnya.


Ia hendak mengangkat Gry, tapi “Sini ... sama aku aja.” Danang membuka tangan sebelahnya. Sementara Tala berada di tangan satunya.


Danang mengajaknya duduk di sofa. Mengajak mereka bermain dan berbicara sebentar sebelum akhirnya berangkat bekerja.


“Mas, nanti telat.” Ia ikut duduk di sebelah suaminya. Meminta Tala dan Gry untuk dipindah tangan kan.


“Ayah kerja dulu, ya. Cari uang buat beli pampers sama mainan ... buat beli apa pun yang jagoan sama princess Ayah minta.”


“MAS!”


“Bundamu selalu protes.” Kekehnya.


Kirei mencebik.


Danang menyerahkan keduanya padanya. Menciuminya dengan gemas. Tapi anehnya yang diciumi justru menyunggingkan senyum.


“Gak usah ngantar ke depan. Di sini aja.” Danang mencium kening dan puncak kepalanya. “Love you,”


“Bye ... sayang. Love you, jagoan dan princess Ayah ....” mendaratkan kembali kecupan pada twins G.


Bukan egois ia tak melepas pekerjaannya.  Semua sudah dibicarakan. Justru Danang selalu mendukungnya. Lagi pula suaminya tahu prioritas utamanya sekarang adalah mereka. Laki-laki itu sepenuhnya percaya padanya.


“Yu, aku nitip Tala sama Gry, ya. Mau berendam sebentar.” Ucapnya ketika memasuki dapur. Rasanya ia sudah lama sekali tidak berendam dalam bathup.


Jangankan berendam. Terkadang makan saja harus terburu-buru. Intinya yang penting ada kalori yang masuk menggantikan. Tidak lagi memikirkan rasa dan nikmatnya.


Meski ada baby sitter yang membantunya, tapi rengekkan Tala maupun Gry membuatnya tak tega. Dan tak tenang.


“Beres, Mbak.” Sahut Yumah.


Pekerjaan Yumah kini dialih fungsikan. Menjaga twins G bersama Riri—baby sitter.  Sementara urusan rumah diserahkan Mbok Sumi dan Darmo.


Berendam dengan minyak aroma terapi, sambil mendengarkan lagu favoritnya bisa sedikit merelakskan otot-otot yang tegang. Pikiran juga tenang pikirnya.


Tapi ternyata itu hanya sekedar angan.


Sebab baru 5 menit tubuhnya merasakan sensasi dalam air menenangkan itu, suara tangisan Tala terdengar. Nyaring. Bahkan tak lama terdengar tangisan Gry menyusul saling sahut menyahut.


Ia berdecak. Mendesahkan napas.


Buru-buru keluar dari bathup. Memang betul, kehadirannya langsung membuat kedua anaknya terdiam. Aneh.


“Harus dibiasakan, Rei. Biasakan mereka dengan tangan-tangan orang lain selain ayah-bundanya,”  kata bunda lewat sambungan telepon saat ia mengeluh Tala dan Gry tidak bisa lama ia tinggal.


“Coba mulai sekarang, ajak Riri dan Yumah bergantian menggendong mereka. Biasakan. Kamu tetap di situ, pelan-pelan lepas. Biarkan mereka mengenali wajah Riri dan Yumah. Pasti lambat laun mereka mau dan terbiasa,”


“Karena selama ini, kan semua yang berhubungan dengan mereka hanya kamu dan Danang saja. Riri dan Yumah, cuma sekedar membantu. Tapi jarang lama berinteraksi.”


Benar juga kata bunda. Ia selalu beralasan mumpung cuti, mumpung ia punya waktu, mumpung ia bisa melakukannya. Tapi tidak memikirkan dampaknya. Akhirnya Tala dan Gry hanya terbiasa dengannya dan ayahnya saja.


Semakin besar anak-anaknya itu bisa merasakan. Dulu mungkin digendong siapa saja akan terdiam. Tapi akhir-akhir ini merengek dan berujung tangisan.


Rasanya saran bunda harus dicoba.


Hari pertama masih terdengar rengekkan. Kedua anaknya seperti enggan. Hari kedua pun masih seperti itu. Tapi mulai ada kemajuan. Hari ketiga dan seterusnya Yumah dan Riri yang menggantikan menemani jalan-jalan pagi, berjemur dan mandi. Sementara ia melihat dan memantau.


Dan tepat di hari ke-12, sebelum ia tinggal bekerja, Tala dan Gry benar-benar sudah bisa dilepas. Anteng dalam buaian Riri dan Yumah. Ia bisa bernapas lega.


**


Danang


Weekend ini ia berencana ingin mengajak Kirei dan kedua anaknya ke griyo skyway. Sekaligus mengajak kedua buah hatinya perdana jalan-jalan. Selama ini Tala dan Gry hanya jalan-jalan di seputaran rumah. Paling jauh ke rumah sakit itu pun untuk kebutuhan vaksin.


Tepat usia mereka 2 bulan. Dan hari Senin, istrinya sudah kembali aktif bekerja. Tidak salah rasanya, rencana itu ia realisasikan.


Ia tiba di rumah saat siang hari. Saat para penghuni terlelap dalam istirahat siangnya. Membuka kamar, terlihat Kirei tengah tertidur. Lalu menuju kamar sebelah yang sengaja ia bobol dindingnya, yang ia peruntukkan kamar twins G. Kedua anaknya itu juga tengah tertidur pulas di atas ranjang mereka dengan mulut ternganga, mencecap-cecap, lalu tersenyum sendiri. Sungguh menggemaskan! Lucu pikirnya.


Yumah juga tertidur di atas karpet. Lalu ia menutup connecting door tersebut perlahan.


Ia kembali mendekati istrinya. Sama percis, mulutnya ternganga. Sebelas-duabelas. Kekehnya dalam hati.


Ia duduk di tepi ranjang. Di sisi istrinya.


“Sayang,” panggilnya pelan sambil mengusap lengan istrinya.

__ADS_1


Kirei bergeming.


Ia tak kehilangan akal.


Membungkuk lalu membisikkan kata, “Kirei Fitriya Tsabita ... bundanya Gentala dan Gry ... I love you,” mencium pipi istrinya.


Kirei menggeliat sebentar dan mengucap, “Hm,” mengatupkan mulutnya, tapi dengan mata terpejam.


“Mau dilanjutkan apa nanti malam?!” Tandasnya gemas.


“Apanya?” Kirei menyahut dengan mata masih terpejam.


“Buka dulu matanya, aku mau ngajak kalian jalan-jalan.”


“Hm,”


“Yuk,”


“Hm,”


“Bangun dulu ....” Ia terus mengecupi seluruh wajah Kirei. Tujuannya hanya satu membuat istrinya itu terbangun.


Mau tak mau Kirei membuka matanya.


“Apa?” Seperti orang setengah sadar.


“Kita ke griyo skyway.”


Dan di sinilah mereka sekarang. Ia dan Kirei tengah mendorong kereta bayi tersebut berjalan-jalan di tengah-tengah rimbunnya hutan pinus. Menikmati udara yang bersih dan segar. Serta berhawa sejuk.


Kedua buah hatinya masih tertidur pulas. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk duduk-duduk di kursi taman depan vila. Menyantap jagung bakar yang baru saja diantarkan oleh pelayan.


Malam harinya saat ia memasuki kamar, terlihat Kirei telah tertidur. Setelah tadi meninabobokan kedua buah hatinya. Ia yang mendapat telepon penting tidak ikut andil, sebab harus menerima telepon di teras. Agar tidak mengganggu.


Ia ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Kirei. Memeluk tubuh istrinya dari belakang. Menciumi kepala dan menyurukkan kepalanya di tengkuk lehernya Kirei.


“Mas,” istrinya itu terbangun karenanya.


“Curang kenapa tidur duluan.”


Kirei mendesah, “Siapa yang curang? Mas Danang yang kelamaan terima telepon.”


“So sorry, telepon penting soal kerjaan,”


“Tapi sekarang lebih penting. Jangan tidur dulu.”


Kirei yang membelakanginya memutar tubuh hingga berhadapan dengannya.


“Kabar penting apa?” mata istrinya itu membuka menatapnya penuh. Sepertinya kantuknya menguap begitu saja.


Ia mengulum senyum.


“Hari ini lucky day buatku,”


Kirei mengernyit.


“Di tempat ini. Di kamar ini. Di tanggal yang sama dan bulan yang sama,”


“Kamu menjadi milikku seutuhnya,” bibirnya menyunggingkan senyuman.


“Mas Danang sampai ingat sedetail itu?”


“Hem,”


“Bahkan aku ingat dan masih bisa merasakannya sampai sekarang.”


“Malam pertama, yang tak kan pernah terlupa.”


Kirei menipiskan bibirnya. “Percis papa, ingat buat tapi gak ingat sakitnya gimana!” ketusnya.


Ia tergelak. Lalu merengkuh Kirei erat.


“Terima kasih, Sayang. Thanks a million ... sudah bersedia menjadi istri aku ... sudah menyerahkan hidupmu untuk aku ... mau menjadi ibu dari anak-anakku.”


Kirei menggeleng. Matanya berkaca.


“Perjalanan pernikahan kita gak mudah. Begitu banyak ujian. Tapi kita bisa melewatinya sampai detik ini. Maafkan aku, harus menikahimu dengan cara—”


Istrinya kembali menggeleng, menutupi mulutnya dengan jari telunjuknya. “Sstt ... itu takdir kita.”


“I’m happy now.”


Ia mengecup kening, pipi dan bibir Kirei sekilas.


“Terima kasih,”


“Terima kasih, Sayang ....”


“I love you, Kirei Fitriya Tsabita ... bundanya Gentala Astagiri dan Gry Gauri,”


Mereka saling menatap lama. Air mata Kirei merebak. Ia mengecupi mata yang telah basah itu.


“Semoga ... hari ini dan seterusnya kita akan seperti ini. Melewati suka duka bersama. Hingga kita menua.”


Kirei menggumam, “Aamiin,”


“Semoga ... cobaan yang pernah kita lewati, semakin menguatkan cinta kita.”


“Aamiin,”


“Semoga ... kita diberikan umur panjang. Mendampingi dan membesarkan anak-anak. Menyaksikan mereka tumbuh, menikah juga memiliki keturunan. Hingga maut memisahkan,”


“Aamiin,”


“I’m on cloud nine. (Aku sungguh bahagia)”


“I’m really happy with you."


-


-


Menuju epilog ....


 

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏


__ADS_2