Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
98. Seperti Inikah Rasanya?


__ADS_3

...98. Seperti Inikah Rasanya?...


Kirei


Tok ... tok ... tok.


Ia dan Danang mendongak seketika saat kaca jendela diketuk seseorang. Kaca film mobil dengan VLT (Visible Light Transmittance) berkadar 5 persen. Artinya kegelapan kaca mencapai 80 persen. Orang luar yang melihat akan kepayahan menembus situasi di dalam.


Danang menekan power window samping kemudi. Sehingga kaca terbuka otomatis secara lebar.


“Malam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya orang itu membungkuk tanpa merasa bersalah. Sebab wajah Danang sudah semerah tomat masak. Percampuran kesal, marah dan malu. Sementara ia mengulum senyum tertawa dalam hati. Girang nian, hukuman untuknya karena bisa mengerjai suaminya terhenti. Yes!!


Danang mengernyit, “Kamu mau apa?” Ketus laki-laki itu. Sebab kepala orang itu hampir masuk melewati kaca jendela yang terbuka.


“Eh, Mbak ....” Sapa orang itu sambil mengusap tengkuknya.


“Saya ngelihat, mobil Mas Danang parkir bukan pada tempatnya,” orang itu menunjuk tanda rambu lalu lintas bertuliskan huruf ‘S’ dicoret. Percis di samping belakang mobil. “Jadi saya pikir mobil komandan, bermasalah.”


“Perlu bantuan saya, Mas?” Tawar orang itu.


Tawanya hampir meledak, melihat orang itu seperti mencari-cari ‘sesuatu’. Melongok ke belakang, dasbor, dan tersenyum padanya ketika mata mereka beradu. Namun nihil. Tak menemukan kejanggalan.


Sementara Danang, telihat kesal bukan main.


“Mobil Komandan, gak pa-pa.”


“Silakan lagi melanjutkan perjalanan,”


“Maaf atas ketidaknyamanannya,” pungkas Rendra berlalu begitu saja setelah sebelumnya memberikan sikap hormat.


Dan tawanya benar-benar meledak. Hingga ia memegangi perut dan membungkam mulutnya sendiri.


Danang memukul setir kemudi. Kesal. Derajatnya langsung terjun bebas. Akibat ulahnya yang kepergok Rendra yang tengah melintas.


Laki-laki itu kembali melajukan mobil menyusuri jalan raya. Sementara ia masih menyisakan tawa berderai.


“Masih berani tertawa?” Ucap Danang sinis.


“Nanti di rumah.”


“Gak ada penganggu.”


Dan lagi, lagi ia menertawai sikap suaminya. Hingga matanya berair. Sedangkan Danang berdecak-decak menanggapi sikapnya. Seperti inikah rasanya? Ia bisa tertawa lepas akibat kecerobohan suaminya.


**


Rendra


Memilih sikap lugu dan pura-pura tidak tahu menjadi pilihan yang tepat sepertinya. Setelah mendapati atasannya bersama istrinya berhenti sembarangan. Tanpa memedulikan orang-orang yang melintas memperhatikan mereka yang berhenti tanpa melihat rambu-rambu. Sebenarnya apa yang mereka lakukan? Ia mengendikan bahunya. Bodo amat! Kok dirinya yang repot pikirnya.


Kawasan persimpangan yang terkenal macet. Beruntung ia yang menemukan mobil itu. Coba, kalau petugas yang lain. Bisa ditilang! Ia menggerutu dalam hati. Ah, kenapa ia yang kesal?


Yang melakukan kesalahan dan pelanggaran itu atasannya. Jelas tanda ‘S’ dicoret berarti dilarang berhenti sejak rambu itu dipasang hingga 30 meter atau sampai rambu berikutnya. Damn! Ia menepuk jidatnya.


Ia melajukan motor sport 150 cc menuju tempat pertemuannya dengan ... seketika senyumnya mengembang dibalik helm full face. Kekesalan terhadap atasannya menguap entah ke mana. Dadanya mendadak berdesir. Jedag jedug seperti dentuman bass drop yang menggelegar di atas panggung. Refleks ia memegangi dadanya dengan tangan kiri. Oh my god. Seperti inikah rasanya?


Tiba di sebuah kafe-resto bernama Sae Care, ia memarkirkan motornya pada tempatnya. Yang diarahkan oleh tukang parkir berseragam merah tua.


Ia langsung menuju pendopo utama. Disambut alunan musik lawas milik Bee Gees berjudul ‘words’. Kenapa lagu selawas ini yang menyambutnya. Bahkan ia sendiri mungkin belum diproses untuk lahir ke dunia? Ah, sepertinya ia harus merekomendasikan lagu yang cocok untuk tempat seperti ini. Gak banget, tempat bagus tapi lagu kurang mendukung. Bisa-bisa pelanggan kabur. Lagu yang pas sepertinya yang bergenre romantis, cinta, gelora anak muda dan ....


Kuno. Batinnya menjawab. Siapa sih nih yang punya resto? Jadul banget memilih lagu backsound!


Hampir tiba diujung, ia melihat wanita cantik sedang duduk berdua. Hah? Kok berdua? Bukannya tadi sore tidak ada keterangan atau catatan kaki yang menyatakan kencan pertama bertiga? Ia menggigit bibir bawahnya lalu membasahinya.


Wanita itu melambaikan tangan. Ia membalas dengan senyuman.


“Sorry, telat.” Ucapnya seraya mengusap tengkuknya. Merasa bersalah. Ia duduk di sebelah wanita itu. Sementara wanita satunya duduk di seberangnya.


“Biasa, ada yang melanggar lalu lintas. Tapi diperingatin malah marah-marah dia,” imbuhnya.


Wanita itu tersenyum, “Gak pa-pa. Telat betaran kok. Lagian aku ditemani Firda, sepupu aku. Kenalin.”


Mereka berkenalan, “Rendra.”


“Firda,”

__ADS_1


“Kok belum pada pesan makanan?” Tanyanya melihat meja hanya berisi minuman.


“Nungguin kamu.”


DEG.


Mendadak dadanya berdesir lagi. Kalau bisa ia ingin kalimat itu diulang-ulang puluhan atau bahkan ratusan kali. Agar masuk ke indra pendengaran dan hatinya tentunya. Ia akan menguncinya dengan password yang paling rumit. Sebab dengan ‘nungguin kamu’ saja sudah bisa membuainya terbang ke angkasa.


Namun justru, “Suasana restonya enak ya ... cozy banget ... cocok.” What the hell? Kalimat itu yang meluncur demi menutupi rasa grogi bercampur dag dig dug di dada.


“Kamu suka?”


Ia menatap wanita berparas cantik nan menggemaskan di sebelahnya, “Banget.”


“Gak salah.”


Ia manggut-manggut.


“Recommended ....”


Ia menyulam senyum terbaiknya.


“I like it ....”


Yes ... yes ... pekiknya dalam hati.


“Kapan-kapan bisa ke sini lagi.”


Raut wajahnya semakin bercahaya. Aura kebahagiaan yang tiada tara menjadi sebab atasnya. Berarti kencan selanjutnya masih di sini pikirnya.


“Pak Danang memang pintar menyasar pasar.”


“Hah?!” Tetiba ia terperangah. Apa hubungannya dengan atasannya?


“Sae Care ini punya Pak Danang. Beberapa hari lalu Kirei merekomendasikan tempat ini.”


“Bagus ternyata. Rekomendasinya gak salah. Cozy banget ... view-nya the best ... minuman ini juga enak, racikan chef. Jadi pengen terus ke sini.”


Ia beringsut, menyender ke sandaran kursi. Mendadak tulang penahan tubuhnya rapuh dan luruh. Oh shit!


Kirei


Hari pertama ia masuk kerja. Disambut ramah dan sapaan hangat para pegawai TVS. Mengenakan rok berwarna cokelat muda sebetis. Kaos hitam lengan pendek dan sedikit ketat berkerah full menutupi leher . Dan sneakers putih kesayangan sebagai OOTD-nya. Tak lupa tas selempang cokelat berbahan kulit sapi asli.


Bahkan Danang sepertinya tak rela melepasnya saat mobil berhenti di lobi.


“Jangan lupa pake blazernya?” Sebab memang kaosnya terlihat agak ketat sedikit. Laki-laki itu memakaikan blazer tenun khas Labuhan Bajo yang ia beli saat KF Star melintas di sana.


“Bisa gak, kerjanya besok saja mulainya. Sekarang temani aku ke kantor.”


“Sayang ... jangan banyak senyum ke laki-laki.”


“Ingat, jaga pandangan!”


Dan sederet kata-kata pesan yang intinya laki-laki itu berat melepasnya. Namun ia hanya membalas dengan kekehan dan mencium sekilas pipi Danang. Membuat laki-laki itu langsung kicep.


“I love you,”


Kakinya terus melangkah menuju divisi news di lantai 3. Tiba di sana ternyata masih sepi. Tak ada satu pun orang-orang terlihat. Padahal ... ia melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Jam 08.00 WIB tepat. Aneh.


Ia terus melangkah tanpa ada perasaan curiga sedikit pun. Mungkin post holiday syndrome sudah menjangkiti para staf divisi news. Ia terkikik dalam hati. Penyakit yang menyanderanya di awal-awal ia bekerja di sini.


Namun saat membuka pintu ruangan korlip. Ia terpana. Ruangan dengan desain yang berbeda. Lalu ....


Disambut dengan confetti popper, string spray dan “Welcome back!!” Seru semua yang berada dalam ruangan tersebut.


Matanya tetiba memanas. Cairan bening sudah berkumpul di kelopak mata. Hanya tinggal meluncur saja.


Satu persatu mereka menyalami, memberikan ucapan selamat, semangat. Dan,


“For ... korlip baru kita.” Anisa menyodorkan sebuah buket bunga mawar merah.


“For ... kembalinya mutiara yang hilang ... aduuuhh!” Ucap Oka mengaduh sebab kepalanya ditoyor Anisa. “Kembalinya sang indepth reporter ....” Oka menyerahkan sebuah kotak unik dan atraktif bertuliskan ‘Guylian’ dari Belgian chocolate.


“For ... Kirei Fitriya Tsabita. Ingat pake T sebelum S,” Budi mengeja, “T S A B I T A ... Tsabita.”

__ADS_1


Semua orang tertawa mendengarnya. Pun juga dirinya. Teringat waktu Mas Budi yang selalu menulis nama Tsabita tanpa T di awal huruf. Ia selalu menggerutu, sudah berulang kali mengingatkan tapi kameramen itu berulang kali juga melupakan. Ternyata itu masih terngiang di ingatan Mas Budi.


Budi menyerahkan  sebuah notebook planner berbahan sampul PU leather berwarna merah marun. “Semoga berguna,” imbuhnya.


Ia menerbitkan senyuman, “Thanks, Mas. Thanks all ....” Ia menatap satu persatu teman-teman di news. Kali ini genangan air mata telah meluncur bebas. Once again ... so glad on news team.


Perayaan meriah atas kembalinya ia di TVS benar-benar di luar dugaannya. Setelah semua orang kembali di balik meja kerjanya masing-masing. Ia dipanggil Pak Rahmat.


Ting.


Pintu lift terbuka. Ia terus melangkah menuju ruangan produser eksekutif yang berada di lantai 5 itu.


Mengetuk pintu sebentar, sebelum mendorongnya. Pak Rahmat tampak duduk di kursi kebesarannya. Menyambut dirinya berdiri dengan senyuman yang terkembang.


“Welcome back ....” Ucap Pak Rahmat membentangkan tangan, “duduk, Rei.” Mereka berjabat tangan.


Ia mengenyakkan tubuhnya di kursi depan meja kerja Pak Rahmat. “Terima kasih, Pak.” Balasnya.


“Bagimana?”


Ia tersenyum. “Terima kasih, Pak.” Ucapnya kembali. Jelas, ia tidak tahu harus mengucapkan apa. Kesempatan yang berulang kali diberikan untuknya.


“TVS akan selalu terbuka lebar untuk kamu kembali.” Kata-kata Pak Rahmat yang masih tersimpan di ingatannya beberapa bulan silam. Saat ia mengajukan resign dan hendak pergi ke Gorontalo. Kini kata-kata itu kembali meluncur untuknya. Again, feeling blessed.


Pembicaraan dengan Pak Rahmat berlangsung cukup lama. Hingga tepat jam istirahat kantor. Ia pamit undur diri setelah Pak Rahmat juga hendak pergi untuk meeting di luar.


Namun, saat ia meraih tuas pegangan pintu, Pak Rahmat berucap, “Aldi lusa berangkat ke US.”


“Mengambil summer program di sana.”


“Dan mungkin akan berlanjut bekerja di sana.”


Ia memutar balik tubuhnya menghadap Pak Rahmat yang juga tengah berdiri.


“Selamat buat Mas Aldi, Pak.”


“Terima kasih, Rei.”


-


-


Selamat Hari Minggu ... 🤗


Yang masih ada vote boleh disumbangkan ke CSJ ya 🤭, sayang lèbar euuy ... 🤭.


Thanks a million untuk like,like-nya, comment-nya, gift-nya ... 😘 (Mas Danang said ... dari balik meja kerjanya, genit dikit. Kebetulan istri lagi di rumah 🤭).


 


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya .... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2