
...80. Lucky Man...
Kirei
Ia berjalan terburu di lorong rumah sakit. Setelah harus bersabar menunggu berjam-jam pesawat yang membawanya meninggalkan kota Medan.
Harus berkejaran dengan waktu. Sebab pesawat tiba di Jakarta sudah malam. Dan hanya tersisa satu penerbangan tujuan Jogjakarta.
Ia bisa bernapas lega setelah tiba di Jogja pukul 10 malam. Ia langsung menuju Magelang. Hampir tengah malam ia tiba di rumah sakit yang merawat Danang.
Lega.
Ia bisa melihat suaminya tengah berbaring. Mengenakan celana pendek dan kaos. Dengan luka-luka di sekujur tubuh. Tak terkecuali. Tapi ia bersyukur menurut Rendra tidak ada yang serius. Hanya luka terbuka. Lebam. Dan goresan.
Paha kanan terlihat diperban. Robek akibat tertusuk tanggul kayu. Lalu tubuhnya banyak goresan entah seberapa banyak.
Ia berdiri terpaku di samping ranjang Danang. Matanya tak luput menatap laki-laki itu. Cairan bening beberapa kali rebas dari pelupuk matanya. Inikah pertanda mimpinya beberapa waktu lalu.
“Mas Danang baru saja tidur, Mbak.” Ucap Aksa. Yang ikut berdiri di sampingnya.
“Mas Danang sigap melompat keluar dari mobil. Kalo gak,” Aksa menjeda, “gak tau nasibnya. Jurangnya lumayan dalam 8 meter.”
“Lucky man.” Gumam aksa.
Ia pun merasa seperti itu. Melihat foto tempat kejadian mobil suaminya masuk jurang. Mobil rusak parah. Rasanya impossible. Sungguh tangan Tuhan bermain di sana. Doa-doa dan harapnya terkabul. The light of god.
“Beruntung Mas Danang sudah terlatih untuk itu. Dia melompat berguling. Melindungi kepala.”
“Tadi sudah di rontgen, tidak ada luka dalam yang serius.”
“Hanya paha kanan yang robek kena tanggul kayu.”
Aksa berdecak, “Bahkan dengan kondisinya yang seperti itu. Dia masih bisa bercanda!” Lalu Aksa menggeleng. “Meminta jangan menghubungi Mbak Kirei, Mama dan Papa.”
Aksa mencibir, “Sok jagoan. Padahal dia butuh banget kehadiran Mbak.”
Ia menyunggingkan senyum. Semua yang dibicarakan Aksa tepat sekali.
Terlihat laki-laki itu menggerakkan matanya.
Ia sigap membungkuk, “Mas ....”
Mata laki-laki itu membuka, “Sayang, kamu udah datang?”
“Mas Danang mau apa?” Tanyanya.
“Mau minum?”
Laki-laki itu tampak berusaha tersenyum.
“Aku cuma pengen kamu,”
“Aku udah di sini.” Ia duduk di kursi samping ranjang. Menggenggam tangan kiri Danang yang terbebas dari jarum infus.
“Don’t worry, aku gak pa-pa.” Ujar Danang, ikut meremas jemarinya.
“Masih bisa offroad bulan depan ....”
Matanya langsung membulat mendengarnya. Lalu menggeleng kuat. Tidak setuju!
Danang terkekeh lalu tertahan sebab menahan nyeri, “Masih bisa maen paralayang minggu depan ....”
“Masih bisa ....”
Ia menggeram, “Mass!! That’s not funny at all! (Gak lucu sama sekali)”
Aksa terlihat ikut terkekeh, lalu berlalu menjauh.
Tangan kiri Danang terulur. Mengusap pipinya, “Aku kangen ....”
Hatinya langsung berdesir. Antara khawatir. Kesal. Mendengar celotehan laki-laki itu yang menyebalkan. Kian membuatnya geram. Sok jagoan! Tapi ....
**
Danang
Dua hari di rumah sakit. Ia sudah diizinkan pulang pada hari ketiga. Anak-anak club bahkan standby di rumah sakit selama dirinya dirawat. Benar-benar solidaritasnya tinggi. Patut diacungi jempol.
Kirei juga menemaninya 24 jam tanpa jeda. Hingga ia merasa tak tega melihatnya yang kelelahan. Ia sengaja menyuruh Yumah untuk mencarikan tukang pijat untuk Kirei.
__ADS_1
“Mas Danang mau ngapain!” seru Kirei saat ia tengah mendekati istrinya yang masih dalam posisi tengkurap. Ia pikir istrinya itu masih tidur. Sebab kata tukang pijatnya tadi,
“Ibunya tertidur, Pak. Biarin saja ... mungkin kecapean.”
Tukang pijat sudah pamit 15 menit yang lalu. Kirei yang masih dalam posisi tengkurap hanya berselimut kain panjang.
“Cuma mau tidur di sini ....” Akunya bermodus ganda.
Selama Kirei dipijat tadi, ia menunggu di sofa ruang tengah. Ditemani mama dan papa. Pun kebetulan beberapa rekan kantor juga menjenguknya.
“Jangan macam-macam! Mas Danang masih sakit.” Ujar Kirei. Menggeser sedikit tubuhnya. Sebab ia mendesaknya.
Ia melipat bibirnya menahan tawa. Galak betul istrinya pikirnya.
“Cuma satu macam.” Sahutnya. Tapi tangannya sudah berada di pinggang Kirei.
“Mas ....!”
“Geli,” sergah Kirei seraya bergerak menghalau tangannya yang sudah menyelusup di balik kain panjang yang menutupi punggungnya.
Dengan gerakan cepat Kirei bangkit sambil menutup tubuhnya yang polos hanya mengenakan dalaman saja menggunakan kain.
Namun gerakan yang cepat dan tergesa ternyata tanpa sengaja menyenggol paha kanannya. Ia mengaduh.
“Iiissh ....” Meringis menahan sakit kemudian.
Kirei sontak menatapnya, “Tuh, kan?! Maaf ....” Kirei menyibak celana pendek yang dikenakannya.
“Makanya jangan macem-macem. Jadi kayak gini, kan?” Kirei menggerutu mengganti perban lama dengan yang baru. Sebab darah terlihat merembes dari perban. Tentu setelah istrinya itu mengenakan pakaian.
“Jangan banyak gerak dulu sampai benar-benar kering.”
“Ngeyel sih!”
“Turuti kata dokter.”
“Kalo gak, lukanya gak akan sembuh.” Omel Kirei.
“Aku masih kuat kalo cuma dua ronde.” Pongahnya sambil mengulum senyum.
Kirei mencebik kesal.
**
Kirei
Sang bunda dan Ken juga sudah kembali pulang.
Lalu mama dan papa juga datang tepat saat Mas Danang tiba di rumah. Sengaja memberitahukan setelah pulang ke rumah. Sebab tidak ingin membuat mereka khawatir.
“Rei, yang ini sudah. Di bawa aja ke meja makan.” Ucap mama saat mereka memasak di dapur.
Ia mengangkat piring saji berisi potongan daging. Toge pendek. Telur asin. Tempe goreng tepung. Dan sambal. Lalu yang terakhir ayam lodho.
“Gimana kerjaan kamu, Rei?” Tanya mama ketika ia sudah kembali ke dapur menemai mama. Mama terlihat sedang menggoreng kerupuk udang.
“Biar, Rei yang goreng, Ma.” Pintanya. Mama menyerahkan sodet kayu padanya, lalu bergeser. Mengambil jeruk nipis dan memotong-motongnya.
“Sejauh ini lancar, Ma.” Sahutnya.
“Gimana? Ke depan mau rencana apa?”
Ia menyerok kerupuk yang sudah terlihat kekuningan. Lalu memasukkan kerupuk mentah ke dalam penggorengan. Minyaknya sedikit muncrat. Mengenai tangannya. Ia spontan mundur.
“Hati-hati, Rei.” Pesan mama.
Ia kembali mengaduk kerupuk. Membolak-balikkan agar matang sempurna dan merata.
“Belum tahu, Ma ....”
“Pikirkan baik-baik. Untuk masa depan kalian.”
Ia kembali ke kamar setelah masakan telah siap. Menunggu Danang pulang kantor. Laki-laki itu sudah kembali bekerja sejak dua hari yang lalu. Ia mengoleskan salep bakar pada tangannya yang terkena cipratan minyak goreng tadi.
Meski awalnya ia melarang Danang bekerja dulu beberapa waktu lalu. Tapi ia tak bisa mendebatnya.
“No worries ... tuh udah kering,” Danang menunjukkan bekas luka yang memang sudah mengering. Lebam juga sudah sedikit pudar.
“Tapi, Mas ... masih ada waktu 2 hari lagi cuti, kan? Bisa dipakai istirahat biar lekas pulih.”
__ADS_1
“Apa perlu aku buktikan, kalau aku benar-benar sudah pulih?” Laki-laki itu melihatnya dengan mengerlingkan satu mata.
Oh gosh! Benar-benar sok jagoan pikirnya.
Sore harinya ia membantu mama yang sedang membersihkan bunga-bunga dalam pot. Mencabut rumput liar yang tumbuh di pot. Memangkas daun yang kuning dan kering untuk dibuang. Lalu menambah media tanah untuk pot yang berkurang volumenya. Akibat erosi.
“Yang ini, suruh Darmo letak di dalam aja, Rei.”
“Ini bagus untuk kesehatan,” Mama menunjuk tanaman Sanseviera. “Tanaman ini mengeluarkan oksigen kalau malam hari. Sekaligus bisa membersihkan udara dari racun.” Terang mama.
Ia mengangguk, lalu memanggil Darmo yang berada tak jauh dari mereka tengah menyapu.
“Kamu besok jadi ke Jakarta?” Tanya mama.
“Iya, Ma.”
Mama menghela napas. Lalu melangkah mendekat kran air yang terbiasa untuk menyiram tanaman. Mencuci tangan di sana. Kemudian menuju teras depan. Mendudukkan diri di kursi rotan.
Ia pun mengekori.
Tak lama Yumah datang membawakan teh madu dan lumpia goreng. Menyajikan di atas meja. Yumah telah berlalu.
“Danang itu kalo sudah kerja. Percis papanya. Lupa yang lain. Bahkan bisa lupa makan. Saking asyiknya.” Menjadi awal pembuka mama setelah duduk.
“Kamu pasti tahu dan paham. Kerjaan Danang seperti apa.”
“Berisiko,”
“Menyita waktu,”
“Tidak kenal tempat, hari ini bisa di sini. Besok entah di mana.”
“Dan ... kalian pasti akan sulit ketemu jika kamu sibuk begitu juga Danang.”
Jeda sejenak.
Mama menyeruput teh. Lalu menyandar ke belakang.
“Dulu, Mama gak tahu kalo kamu gadis kecil yang menarik perhatian dia. Kalo gak Aksa yang cerita. Coba kita bertemu dari dulu.”
“Jodoh ... gak ada yang nyangka,” gumam Mama.
Ia tersenyum samar. Ikut merebahkan punggungnya ke sandaran kursi.
Apakah maksud perkataan mama? Apakah ia harus ....
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
__ADS_1