
...44. (Un)Happy...
Kirei
Suasana benar-benar terik. Pergantian musim pengujan ke musim kemarau mungkin menjadi alasan dibaliknya. Berkali-kali ia menyeka peluh yang mengaliri pelipis dan lehernya.
“Kita break dulu, Rei!” Seru mas Budi.
Ia mengangguk.
Kini teman-teman kantor Anisa, Mas Budi, Oka dan Aldi sudah tahu perihal pernikahannya.
“Gila, lo! Beneran lo udah nikah sama polisi itu?” tanggapan Anisa pertama kalinya saat ia menceritakan kejadian malam TVS Award. Anisa geleng-geleng kepala.
“Jadi bener, kan? Aldi mabuk gara-gara, Lo?!”
Anisa berdecak, “Tapi gue udah duga sih ... kalo selama ini Aldi suka sama, lo.”
Hubungannya dengan Aldi sekarang seperti awal perjumpaannya dengan pria jangkung itu. Dingin. Kaku dan yang pasti seperti ada bentang antara mereka.
Ia juga akhirnya bercerita dengan Mas Budi sebab pernikahannya kenapa bisa terjadi.
“Aku gak nyangka lho, Rei. Kalian nikah gara-gara liputan TS.” Kelakar Mas Budi sambil tertawa sumbang.
“Orang yang biasa gerebek jadi kegerebek ... lucu juga sih, bisa dijadiin cerita di novel-novel.”
“Tapi, udah aku tebak. Dia ada suka sama kamu. Sejak—” Mas Budi tampak berpikir.
“Sejak kapan, Mas?” Sergahnya ingin tahu.
“Sejak kita janji temu di kantornya mungkin. Atau tepatnya sejak kita sering berinteraksi dengannya,”
Padahal laki-laki itu sudah tertarik dengannya sejak pertemuan mereka di taman kota. Beberapa tahun silam.
“Dia pernah tanya-tanya soal kamu. Ku pikir wajar single sama single ....”
“Jadi Mas Budi ngasih info apa aja ke dia?” todongnya.
Kameramen itu terkekeh, “Info basic-lah ....”
“For example?”
“Yaa ... nama lengkap kamu. Lama kerja ... kamu ada pacar gak, kayak gitu aja sih.”
“Hah!” sentaknya tak percaya seorang Danang menyelidikinya.
“Tapi aku benar-benar terbantu waktu kita terjebak badai di Karimun Jawa ... kalo tidak ada Pak Danang,” Budi mengedikkan bahunya, “entahlah ... anakku mungkin gak terselamatkan, Rei.”
Waktu semakin sore. Ia dan mas Budi melanjutkan liputan. Kali ini menyusuri area kos-kosan para mahasiswa yang melakukan pesta miras oplosan di daerah Sidorejo Lor.
Menurut informasi pihak polisi setempat, pesta tersebut mengakibatkan 3 nyawa mahasiswa melayang. Belasan lainnya masih dirawat di rumah sakit. Tadi pagi sudah melakukan liputan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).
Meski tempat pesta miras masih dikelilingi garis polisi. Ia dan mas Budi mencoba mengorek informasi melalui tetangga kos. Berhubung rumah yang berdekatan jadi memudahkan mereka mendapat nara sumber terdekat dengan tempat kejadian perkara.
“Mas, sorry, yaa ... aku minum. Lagi gak puasa” ucapnya sungkan.
“Tenang aja, Rei ... gak ngaruh juga. Kecuali yang ada merah hijaunya gitu ....” Gelak Budi.
**
Danang
Ia tengah dalam perjalanan pulang dari kunjungan di Blora. Kasus arisan bodong yang menyebabkan puluhan korban. Maraknya penipuan atas nama arisan bukan saja terjadi di Blora tapi di daerah-daerah lain. Namun pelimpahan kasus dari Polres Blora ini yang menyita publik. Karena korban tersebar di tiga daerah.
Pelakunya tercatat sebagai seorang mahasiswi di salah satu universitas. Korbannya tidak hanya dari Blora tapi Semarang dan Grobogan. Kerugiannya diperkirakan mencapai 1 milyar.
One billion?
Tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas. Ia teringat istrinya yang mendapat uang 1 milyar.
Tiba-tiba ia merasa rindu pada gadis itu.
“Ren ke Salatiga!” serunya pada Rendra.
“Apa, Pak?” tanya Rendra memastikan pendengarannya tidak salah.
“Putar balik. Kita ke Salatiga.”
“Si-siap, Pak.” sahut Rendra. Terpaksa ia putar balik mengambil jalur arah Solo. Padahal mobilnya sudah mengarah masuk tol Tembalang.
“Sayang, kamu di mana?” tanyanya pada suara di telepon.
Sementara Rendra yang mengemudi hanya melirik sekilas atasannya itu. Lalu pandangannya fokus kembali.
“Masih di seputaran kampus.”
“Aku jemput ke sana,”
Jeda sejenak.
“Aku sudah masuk tol Semarang-Solo. Bentar lagi sampai,”
“Mas Danang bukannya di Blora?”
“Sudah selesai.”
__ADS_1
Ia merebahkan punggungnya mencari posisi yang nyaman setelah menutup telepon.
“Ren bangunkan aku kalo sudah sampai.” Titahnya pada Rendra.
“Siap, Pak.”
***
Kirei
“Mas pulangnya bareng aku aja, ya?” tawarnya ketika wawancara dengan nara sumber telah selesai. Fix melelahkan.
Hari ini mereka memang kebetulan menggunakan mobil sewaan. Sebab mobil kantor sedang full pakai.
“Amannn ....”
“Naik apa kita?” tanya Budi kemudian memastikan.
“Mas Danang jemput, kebetulan lagi dinas luar juga,”
“Ciee ... pengantin baru. Bawaanya pengen terus barengan, ya ....” Seloroh Budi.
Gadis itu tersenyum tersipu diledek rekan kerjanya tersebut.
Tak berselang lama, sebuah mobil sedan Lexus ES berhenti tak jauh dari mereka. Ia tersenyum menyambut kedatangan laki-laki itu.
“Gimana kabar, Bud?” Tanya Danang pada Budi seraya adu jotos kepalan tangan.
“Kabar baik Pak Bro!” Jawab Budi.
“Nyari bukaan di mana? Bentar lagi buka,” ucap laki-laki itu. Menoleh padanya.
“Mas Danang mau apa?” tanyanya balik.
“Ke lapangan Pancasila gimana?” sahut Budi.
“Di sana banyak jual iftar. Dekat masjid juga.”
“Oke!” sahut Danang. Seraya membukakan pintu untuknya.
Mas Budi duduk di depan di sebelah Rendra yang mengemudi. Sementara dirinya di bangku kedua bersama laki-laki itu.
“Cape?” tanya Danang ketika mobil melaju membelah jalanan kota yang begitu padat. Semua orang sepertinya tidak mau ketinggalan momen passing time before magrib alias ngabuburit. Seakan semua tumpah ruah di jalan.
“Lumayan. Mas Danang kok bisa ke sini? Bukannya lagi di Blora?” Ia melepas topinya. Segarnya pendingin udara dari mobil langsung menyergapnya membawa kesejukan yang tiada tara.
“Sengaja,”
“Masih sakit?” tangannya diusap lembut.
Ia pun menoleh pada laki-laki itu. Menerbitkan senyumnya, “Udah gak. Biasanya satu hari aja.” Biasanya rasa sakit akibat menstruasi terjadi di hari pertama. Setelah itu akan normal kembali.
Bagaimana laki-laki itu khawatir dan panik saat melihatnya meringkuk sambil memegangi perutnya beberapa hari kemarin. “Kita ke dokter aja, yaa?” tawarnya waktu itu.
Ia menggeleng.
“Terus aku ngapain lihat kamu kayak gini?”
Ia menggeleng lagi.
“Sayang ... ke dokter yaa ....” Bujuk suaminya itu entah yang keberapa.
“Pengin tiduran aja. Mas Danang tidur aja,” ucapnya. Sementara malam sudah kian larut.
Tapi tidurnya resah. Tidak nyaman di perut membuatnya sering berganti posisi. Sehingga membuat laki-laki yang tidur di sebelahnya pun tidak tenang.
“Atau mau minum obat? Aku beliin.”
“Gak pernah.”
“Semalaman mau kayak gini terus?” diusap pipinya. Pancaran mata laki-laki itu menandakan tak tega melihatnya kesakitan.
“Minum teh madu hangat aja,” sahutnya.
Laki-laki itu sudah bangkit dan hendak pergi, “Tunggu sini aku buatin.” ucapnya.
Ia menunggu di pelataran masjid ketika para laki-laki sedang menunaikan salat magrib. Sesekali ia membidik orang-orang yang tengah berlalu lalang.
Saking asyiknya langkahnya terus maju menyeberangi jalan. Membidik objek yang membuatnya menarik di seputaran alun-alun Pancasila.
Para penjual wedang ronde yang berjajar. Pedagang yang menyuguhkan pecel keong. Aneka jajanan anak dari bakso bakar, sosis goreng telur dan kue dorayoki. Masih banyak juga penjual dadakan makanan takjil yang berjejer. Persewaan sepeda tandom yang dihias lampu kerlap kerlip. Semua tak luput ia tangkap dengan kamera.
Bruugh....
Tubuhnya limbung cenderung jatuh. Namun dengan sigap seseorang di belakang menangkapnya.
Ia menoleh, “Mas ....”
“Hati-hati, banyak anak-anak berlarian,” direngkuhnya bahunya.
Mereka berjalan beriringan, “Mas Budi sama Rendra mana?”
“Nunggu di mobil”
__ADS_1
**
Aldi
Ia masih di kantor di saat para pegawai lainnya sudah beranjak pulang. Apa lagi di bulan Ramadan seperti ini momen langka setiap satu tahun sekali. Mereka ingin berkumpul bersama keluarga. Buka bersama hingga melaksanakan ibadah yang lainnya.
Tapi itu tidak berlaku untuk seorang Aldiansyah Kamandaka. Semenjak ia mengetahui pernikahan Kirei. Entah mengapa kerja menjadi pelariannya. Seolah ia ingin menenggelamkan dirinya dengan kesibukan. Padahal ruang lingkup mereka sama.
“Mas, pulang dulu yaa ....” Oka mengetuk pintu ruangannya yang terbuka lebar.
“Ngapain kamu pulang?” tanyanya tanpa menoleh sedikit pun pada Oka.
“Puasa juga gak!” ketusnya.
Oh my god ... inisiatif salah tidak inisiatif tambah salah. Omelnya dalam hati. Tadinya Oka hanya ingin berbasa-basi menyapa atasannya itu. Tapi justru mendapat respons negatif. Nyesel!
Oka mengusap tengkuknya.
“Panggil PJ (penanggung jawab) liputan breaking news!” titahnya pada Oka.
Tanpa menjawab, Oka berbalik badan menjauh dari ruangan korlip. Menarik tangan Anisa yang sedang membereskan meja kubikelnya berniat untuk pulang.
“Ka, lo mau ngapain tarik-tarik tangan, gue?” tandas Anisa.
“Dipanggil korlip!” seru Oka.
“Iisss ... jangan tarik gini donk!” desis Anisa sambil memberengut.
“Nah ... gue antar sampai sini. Lo masuk sendiri.” Oka sedikit mendorong tubuh Anisa untuk masuk ke ruangan korlip.
“Bye ... bye ... break a leg! (semoga berhasil)” bisiknya mengejek sambil melambaikan tangan.
Anisa menggerutu dalam hati. Namun justru yang terlihat ia hanya menggelengkan kepalanya.
“Ya, Mas.” Ucapnya ketika ia sudah berdiri di depan meja Aldi setelah mengetuk pintu.
“News up date hari ini liputannya so stale! (sangat basi!)” tandasnya, “gak kompeten!”
Hah ... apa dia bilang? So stale?
“Harusnya kamu bisa pilih donk. Mana yang headline mana yang bukan?”
"Milih antara berita musibah angin peting beliung dengan banjir rob saja gak kompeten!" cecarnya dengan ketus dan pedas.
“Tapi ... Mas, berita itu sudah lolos pro—”
“Kamu jadi jurnalis sudah berapa tahun?” potongnya.
“Milih berita aja gak becus!”
“Berita up date hari ini, kan atas persetujuan Mas A—”
“Tapi kamu gak ngasih choice. Ingat semua kejadian liputan harus dilaporkan. Dan aku atasan kamu!" Salaknya.
Anisa menunduk. Nightmare gerutunya dalam hati.
“Silakan keluar. Perbaiki ini ....” Ia menghempaskan beberapa berkas di atas meja tepat di depan Anisa.
Anisa beberapa kali menelan ludah.
“Ba-baik ... Mas.” ucap gadis itu. Walau dalam hati Anisa dongkol setengah mati. Harusnya ia pulang dan buka puasa bersama keluarganya. Tapi kenyataan di depan mata ia harus memperbaiki laporan liputan news seputar Jateng. Oh gosh! Nasty.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan .... 🙏
__ADS_1