
...35. Arkun, Siem Reap...
Bus yang membawa rombongan tiba di Siem Reap pukul 11 siang. Setelah melalui perjalanan hampir 6 jam dari kota Phonm Penh.
Ia mengenakan topi merah. Celana jeans hitam 7/8 yang di pandukan dengan blouse floral.
Sesuai tema materi hari ini adalah citizen journalism. Dengan mengambil tempat di kota Siem Reap.
Ia bersama rombongan berjalan di kawasan Angkor Archeological Park. Sebuah kawasan candi kuno. Dengan kawasan utama candi adalah Angkor Wat dan Angkor Thom.
Butuh waktu banyak untuk menyusuri areal candi yang luasnya 400 KM persegi itu. Sementara waktu yang diberikan untuk rombongan hanya dua jam.
Tidak bisa mengeksplorasi secara keseluruhan. Hanya memilih spot-spot yang menarik.
Ia membidik beberapa objek yang menarik di sana. Berfoto bersama tim. Dan tak lupa berswafoto menggunakan kamera ponselnya. Mewawancara beberapa narasumber baik wisatawan maupun masyarakat setempat.
“Kata temenku lebih indah candi Borobudur” ucapnya saat mendudukkan dirinya di salah satu pelataran candi. Menyeka peluh yang membanjiri pelipis. Lalu mengibaskan brosur tepat di depan wajahnya yang ia terima saat masuk ke kawasan candi tadi. Tujuannya untuk mengurangi sedikit gerah yang melanda. Cuaca benar-benar terik.
“Cuma herannya kenapa wisatawan yang datang ke sini lebih banyak dari pada ke Borobudur atau Prambanan?” Laira justru balik bertanya.
Ia mengedikkan bahunya.
“Kita kurang promosi kali?” jawabnya asal padahal masuk akal.
“Atau wisatawan memang lebih tertarik dengan sejarahnya. Atau ... kondisi kuil yang bener-bener belum direstorasi seluruhnya. Sehingga kesan angker, alami dan dibiarkan justru menjadi daya tarik,” sambung pria itu sambil terkekeh.
“Maybe ....” tandas Laira lalu mengangkat pundaknya.
“Bisa jadi,” tukasnya menimpali.
Belum puas berkeliling kawasan candi peninggalan Raja Suryavarman II, mereka harus bergegas naik bus kembali. Kini tujuan selanjutnya adalah danau Tonle Sap. Yang masih berada di pinggiran kota Siem Reap.
Merupakan danau air tawar terbesar di Asia Tenggara.
Rombongan menuju desa Chong Kneas. Yaitu desa terapung yang menjadi destinasi wisatawan. Melakukan wawancara dengan masyarakat sekitar. Pastinya dengan guide dan Ponleak sebagai penerjemah.
“Bang Laira masih ingat slogan salah satu TV swasta kita ... yang ada OKE gitu ... mirip yaa?” celetuknya sembari memperagakan jempolnya ketika duduk di anak tangga salah satu rumah warga di sana. Di hadapannya berjejer rumah-rumah warga yang tertata rapi seakan terapung di atas air. Semua transaksi menggunakan perahu.
Laira tergelak, “Banjarmasin.”
Namun sejurus kemudian Laira berujar, “Menurutmu lebih indah mana?”
Ia hanya melempar senyum.
Masyarakat tradisional Kamboja yang berada di daerah lebih banyak menggunakan bahasa Khemr dan uang Riel sebagai transaksi.
Ia juga mengambil beberapa objek foto di sana. Terlihat anak-anak yang mandi dan berenang. Tak ingin luput objek, ia segera membidiknya. Lelah pasti. Tapi masyarakat di sana yang menyambut rombongan dengan ramah, memacu semangat tersendiri.
“Lea sin heuy (sampai jumpa) ....” Gerombolan anak-anak desa Chong Kneas mengucap salam perpisahan seraya melambaikan tangan.
Ia tersenyum dan membalas melambaikan tangan.
Alhasil kunjungan terakhir tepat saat sore menjelang senja. Membuat wajah-wajah lelah itu menjadi ceria kembali. Mereka tiba di kota Siem Reap. Kota tujuan wisata dan budaya penting negara Kamboja.
Adalah kawasan old market kota Siem Reap sebagai pamungkas kegiatan hari ini sebelum pulang kembali ke Phonm Penh.
Ia beberapa kali membidik objek seperti orang-orang yang sedang bertransaksi jual beli. Toko-toko yang berjejer menjajakan dagangannya.
Ia juga mewawancarai beberapa pedagang dan pembeli di sana. Tak lupa membeli beberapa souvenir.
“Thank you ....” Ucapnya ketika sesi wawancara dengan mereka usai. Lalu sebagai imbal ia membeli beberapa souvenir.
Di sini transaksi jual beli menggunakan dollar US. Pun dengan bahasa. Banyak pedagang yang berbicara menggunakan bahasa inggris. Meski dengan logat pengucapan yang masih kental.
Ia berjalan menyusuri Pub Street. Saat langit sudah mulai gelap. Lampu jalanan telah menyala menggantikan cahaya siang hari. Cahaya yang berpendar kerlap kerlip mewarnai kawasan yang kanan kirinya berdiri kafe-kafe, pub, food street, tempat pijat refleksi dan restauran yang ditata secara profesional.
Semakin malam kawasan Pub Street semakin ramai. Dan suasanya lebih hidup. Sebab jalanan ditutup dan hanya boleh untuk pejalan kaki saja. Tak heran Pub Street dipadati banyak turis asing.
Bruk.
Ia oleng hampir terjatuh sebab ditabrak seseorang yang berjalan terburu-buru. Dengan sigap ia dapat menyeimbangkan tubuhnya. Beruntung kamera juga masih menggantung di lehernya.
__ADS_1
“Saum tos (maaf) ....” Orang itu menangkupkan kedua tangan di dada.
“It’s okay,” sahutnya. Mungkin salahnya juga saking asyiknya mengambil gambar tidak memperhatikan sekelilingnya.
“Rei,” panggil Laira dari arah belakangnya.
Ia menoleh, “Ya, Bang ....” Seraya melihat hasil bidikkan. Mengatur pencahayaan kamera untuk mendapatkan hasil maksimal.
“Si Ponleak ngajak ngumpul di bar sebelum balik.” Ucap Laira yang kini sudah berdiri di sampingnya.
Ponleak adalah salah satu peserta yang berasal dari Kamboja. Sebagai tuan rumah ia merasa wajib menjadi guide bagi yang lainnya. Meskipun dari pihak ICFJ juga menyediakan.
Ia menegak air mineral, “Yaa,” sahutnya.
Kali ini memang tak ada pilihan untuknya menolak. Sebagai tanda penghormatan untuk Ponleak dan teman-temannya.
Suasana bar begitu ramai saat ia dan rombongan memasuki salah satu bar di kawasan Pub Street. Musik berdentum saling sahut antar bar satu dengan yang lainnya. Gelak tawa beberapa turis yang minum-minum dan clubbing jadi pemandangan biasa.
“Softdrink aja Bang. Yang ....” Ia menyebutkan salah satu softdrink dengan salah satu bintang standup comedy sebagai artisnya. Ketika Laira menawari minuman padanya.
Mereka duduk melingkar dengan empat meja yang digabung. Teman-temannya memilih mencicip bir Angkor yang katanya produk lokal. Ada juga koktail. Tak lupa makanan khas Siemp Reap. Seperti amok dan lap khmer. Tapi ia lebih memilih fish amok.
Amok sendiri seperti kuah kari. Kaya akan bumbu rempah dengan bumbu dasar Kamboja yang disebut kroeung yaitu campuran dari serai, kayu manis, lengkuas, dan kunyit yang dihaluskan. Dikukus dengan daun pisang. Bahan utama biasa dari ikan fillet. Tapi bisa juga dari ayam.
Sementara lap khemr adalah salad tradisional Kamboja. Lebih tepatnya salad daging sapi. Terdiri dari irisan tipis daging sapi yang dipanggang. Disajikan dengan sayuran segar mentah khas Kamboja dan rempah-rempah segar.
Matanya menangkap Chung Lamp peserta dari Vietnam yang baru kembali dari toilet. Pria itu duduk tepat di depannya.
Rasa penasaran menggelitiknya saat sebuah tusuk sate menyembul dari bungkusan yang dibawa Chung Lamp tadi. Di mana ada jual sate di Kamboja pikirnya.
Apa lagi saat Chung Lam mengeluarkan bungkusan makanan yang ia beli di food street night market. Membuatnya bergidik. Tarantula dan kepompong goreng yang ditusuk. Masuk ke dalam mulutnya.
“WOW ....!” seru teman-teman yang mungkin tidak biasa melihat makanan itu termasuk dirinya.
“Anti mainstream ....” Kelakar Laira sambil menipiskan bibirnya.
Matanya terkesiap, beberapa kali ia menelan ludahnya namun rasanya tercekat. Sepertinya mendadak perutnya seperti diaduk-aduk.
Ia memilih berbincang dengan Azizah, peserta perempuan dari negara Brunai.
“Jadi kamu sudah menikah, Zah?” tanyanya ketika Azizah telah mengakhiri panggilan telepon dengan suaminya.
“Ya. Baru lima bulan ini,” sahut Azizah. “Kami dijodohkan. Sebab tak ada pacar-pacaran”
Tiba-tiba hatinya mencelus. Entah mengapa ia seakan ditampar dengan kata-kata Azizah.
Dengan hati-hati ia bertanya lagi, “Are you happy (apa kamu bahagia)?”
Azizah tersenyum, matanya berbinar. Wajahnya terlihat merona. Jawaban yang tidak perlu diperjelas lagi, bukan?
“Very happy ....” Jawab Azizah yang lagi-lagi membuat lidahnya kelu dan tenggorokannya terasa tercekat.
Entah mengapa ia mendadak ingin segera pulang ke hotel. Ingin menelepon seseorang. Ingin melihat wajahnya. Ingin mengatakan bahwa ....
Perjalanan pulang kembali ke Phnom Penh seakan terasa lebih lama. Bahkan semua peserta sudah terlelap di bangkunya masing-masing.
Ia merogoh ponselnya dari saku jaketnya. Mengusap layar dan membuka kunci pengaman.
Kirei: Mas Danang lagi apa—. Tapi ia hapus. Urung.
Ini sudah jam 11 malam. Apakah mungkin dia sudah tidur?
Ia terlihat mengetik sesuatu namun ia hapus lagi. Sudah menulis tinggal kirim, tapi ia ragu urung mengirimkan lalu justru dihapus lagi. Begitu seterusnya. Hingga,
Ting.
Sebuah pesan masuk.
Mas Danang: Belum tidur?
Tiba-tiba hatinya berdesir diselimuti kehangatan. Bibirnya melengkung ke atas membingkai sebuah senyuman meski agak samar.
__ADS_1
Kirei: Lagi on the way balik ke hotel. Mas Danang kenapa belum tidur?
Mas Danang: Lagi nonton bola.
Ia jadi teringat saat mereka nonton bola bersama. Permintaannya waktu itu yang ia yakini akan aneh-aneh. Dan menjurus ke hal yang sensitif. Ternyata cuma minta ditemani menonton bola klub favoritnya.
“Kamu suka bola?” tanya laki-laki itu.
“Suka gak suka.”
“Maksudnya?”
“Awalnya gak suka. Sebab identik kelaki-lakian. Tapi terpaksa suka karena Kak Ken dan Ayah suka nonton,”
“Suka diajak begadang meski akhirnya tertidur di depan TV.”
“Kalau ada pertandingan di gor suka di ajak juga,” ujarnya.
“Bagus ... nanti kalo kita punya anak cowok dia juga harus suka bola.”
DEG
Ting.
Pesan dari Danang masuk lagi.
Mas Danang: What day is it to day (hari keberapa ini)?
Kirei: Third.
Kirei: Mas Danang sudah tua jadi udah pikun.
Mas Danang: It’s okay, get old with you (gak apa, asal menua bersamamu).
Perjalanan yang awalnya terasa panjang dan lama jadi mengasyikkan. Sambil senyam senyum sendiri sebab membaca pesan dari seseorang yang membuatnya terbang. Oh, bukan. Membuatnya tersenyum. Bahkan ia tak sadar terkekeh, meski dengan refleks ia langsung menutup mulutnya. Sebab takut dianggap gila. Karena hanya dirinya yang masih terjaga.
Mas Danang: Tidurlah. Udah tengah malam. See you soon ....
Pesan chat terakhirnya mengantarkan gadis itu ke dalam mimpi. Mimpi yang tak pernah diharapkannya. Mimpi yang ia anggap nightmare (mimpi buruk). Mimpi yang tidak pernah ia rapal dalam doa.
Tapi kini ia menikmati mimpi itu. Berharap terus bermimpi bersamanya.
Semoga.
-
-
Catatan :
Arkun, Siem Reap (bahasa Khmer): Terima kasih, Siem Reap.
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberi dukungan .... 🙏
__ADS_1