Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
32. Selangkah Lebih Maju


__ADS_3

...32. Selangkah Lebih Maju...


Kirei


Sebuah koper berukuran sedang berwarna merah telah siap di dekat pintu. Di atasnya juga tersampir jaket berwarna merah muda.


Tadi malam mereka telah menghabiskan waktu bersama hingga dini hari. Mengobrol seraya menonton sepak bola tim kesayangan Danang. Hanya berbincang. Hal yang mungkin bagi orang mustahil apa bila sepasang suami istri yang baru menikah tidak melakukan kegiatan intim atau sejenisnya. Tapi bagi mereka ini adalah tahap selangkah lebih maju bagi hubungan mereka.


Ya, laki-laki itu memintanya untuk menemaninya menonton pertandingan sepak bola tim kesayangannya.


A simple wish (keinginan yang sederhana).


Dengan senang hati ia mengabulkannya. Lagi pula ia juga sering menemani Ken begadang menonton tim kesayangan berlaga.


Pagi ini juga bunda dan Ken sudah datang di apartemen. Mengatakan ingin mengantarnya ke bandara.


“Rei udah ada Mas Danang, Nda.” Ucapnya saat mereka berkumpul di depan televisi.


“Mas Danang yang nanti nganter ke bandara,” sambungnya. Gadis itu bermanja-manja dengan bundanya. Tidur dengan kepala di atas paha bunda. Rebahan di atas karpet berbulu tebal. Sambil matanya menatap televisi yang menyala. Menyiarkan serial kartun anak tayo the little bus. Sementara Ken duduk di atas sofa.


Ia jadi teringat, saat Budi membelikan mainan tayo untuk anaknya yang ternyata salah. Katanya yang dibeli Mas Budi taiyo. Harusnya tayo. Anaknya sempat merajuk dan tak mau bicara pada papanya. Sampai akhirnya ia tanya-tanya pada penjual mainan. Saat mereka pulang liputan. Sebab Mas Budi tak ingin tertipu pedagang lagi.


“Apa Danang hari ini kerja?” Tanya bunda seraya mengelus rambutnya. Ini hari Sabtu. Biasanya pegawai banyak yang libur.


“Sebentar lagi pulang. Tadi katanya ada perlu di kantor.”


“Kamu udah punya suami, Rei. Gak malu apa masih manja sama bunda?” Selak Ken, dengan tangan yang sedari tadi sibuk memegang ponsel. Entah apa yang dilihatnya.


“Emang kenapa?” Bibirnya mencebik.


“Syirik aja!" lanjutnya.


“Apa suamimu gak manjain kamu?”


"Manjain ... lah. Buktinya dikasih kartu ATM. Dimasakin sarapan. Dibeliin makan siang. Kurang apa coba?” Cibirnya tak terima.


“Hah!”


“Kamu dikasih ATM?” Tanya Ken tak percaya, “bisa-bisa shopping terus.” Ledek Ken.


“Apa iya, Mas Danang yang masak, Rei?” Tukas Bunda tak percaya. “Terus kamu ngapain?”


“Dia yang tukang makannya, Nda.” Serobot Ken dengan cibiran.


Bunda menunggu jawabannya. Ia jadi salah tingkah sebab keceplosan. Tidak seharusnya ia mengatakan itu pada bunda. Bisa habis kena ceramah.


“Gak baik, Rei kalo Mas Danang yang masak terus. Kamu juga harus belajar masak. Itu tugas seorang istri. Kamu gak mau, kan. Kalo Mas Danang lebih sering makan di luar?”


Ia meringis.


“Tugas seorang istri melayani suami. Dari kebutuhan dia makan, pakaian, kebutuhan lahir batinnya. Usahakan kamu yang melayani. Kecuali kamu sedang sakit atau memang benar-benar gak bisa,”


“Melayani suami juga ibadah.” Pungkas bunda.


“Iya, Nda.” Balasnya dengan menggigit bibir dalamnya.


Bersamaan itu pula pintu terbuka, sosok Danang muncul dari sana.


“Assalamualaikum,”


Mereka menjawab bersamaan, “ Waalaikumsalam.”


“Rei.” Mata bunda memberi kode untuk segera beranjak. Menyambut Danang yang baru pulang kerja.


Danang mencuci tangan di westafel dapur, lalu menyapa bunda dan Ken.


“Sudah lama, Bunda?” Tanya laki-laki itu dengan mengulurkan tangan yang langsung di sambut. Lalu mencium punggung tangan bunda.


“Satu jam yang lalu,” jawab bunda yang kini duduk di sofa.


“Hei!” Seru Danang pada Ken. Lalu mereka tampak ber-high five.


“Gimana kabarnya Bro, sehat?”


Ken mengedikkan bahunya, “Ya, beginilah ....”


Sepertinya aura permusuhan antara Ken dan Danang masih kentara. Buktinya Ken seperti malas jika bertemu dengan laki-laki itu. Entah apa penyebabnya?


Ia dan bunda pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Kebetulan bunda membawa makanan dari rumah. Jadi tinggal dihangati dan digoreng saja.


“Bunda mau ke Surabaya dua hari lagi.” Ucap bunda di sela-sela mereka memasak.


“Oya ... acara apa, Nda?”


“Ibu-ibu pengajian kompleks ngadain acara ziarah ke Sunan Ampel,”


“Sekalian mau ngurus rumah kita dulu. Katanya sudah terjual.”


Ia menoleh pada bunda, “Yakin Nda, mau dijual? Kan, bagusan dikontrakin kayak selama ini. Bunda dapat uang juga.”


Bunda tersenyum, “Rumah itu banyak kenangannya."


“Terus kenapa dijual?”

__ADS_1


“Bunda gak ada waktu lagi untuk mengurusnya. Lagian jauh.”


Selama ini rumah di Surabaya dititip dengan tetangga sebelah. Tapi jika ada komplain dari penyewa yang katanya atapnya bocor. Kamar mandinya tersumbat. Bayar pajak dan sebagainya pasti bunda yang handle. Meski pada akhirnya ia akan meminta tolong dengan tetangga yang sudah diberi kepercayaan. Tapi tetap saja bunda merasa tidak enak merepotkan orang lain.


Ia jadi teringat pesan mama beberapa waktu lalu.


“Nda, kata mama di Surabaya pengen ketemu bunda sama Kak Ken.”


“Kemarin juga mama pengin ngadain resepsi katanya ... tapi,“ Ia menjeda. Seperti berpikir,


“kayaknya kalo resepsi gak usahlah ya, Nda.” Sergahnya meminta dukungan bukan jawaban.


Pernikahannya saja masih ia tutupi dari teman-temannya di kantor.


Bunda mengerutkan dahi, “Kenapa?”


Ia tersenyum kecut, lantas menggigit bibirnya.


“Banyak yang doain, banyak juga berkahnya.”


“Justru Bunda aja belum bikin syukuran pernikahan kamu. Malah mama mertuamu mendahului. Bunda jadi gak enak.” Ucap bunda  jujur.


“Gak usah, Nda. Betul ... Rei gak mau ngrepotin semua orang,” tandasnya berkeras hati.


“Udah seperti ini aja," imbuhnya.


“Kok gitu?!” Bunda sepertinya menangkap ketidak beresan pada hubungan mereka.


“Rei gak mau ribet." Sanggahnya lagi mencari alasan.


“Terserah kalianlah. Kalo memang maunya seperti itu. Tapi lebih baik bicarakan dengan mama mertuamu.”


Ia mengangguk.


Ini makan siang perdana ia melayani Danang. Beberapa waktu lalu saat di rumah mertua, laki-laki itu mandiri mengambil semua makanan sendiri. Apa lagi ada asisten rumah tangga. Semua terlayani.


“Mas Danang mau apa?” Tanyanya pada laki-laki itu yang duduk di sebelahnya.


“Serundeng daging aja.”


“Selama ditinggal Rei, makanan yang di kulkas nanti tinggal dihangatin sama digoreng aja, ya, Mas Danang.” Tukas Bunda.


“Iya, Nda. Makasih,” sahut Danang.


“Mas Danang gak akan kelaparan, Nda.” Ia menimpali, “pinter masak!” Serunya sambil mengacungi jempol.


“Terus kerjamu yang makan,” cibir Ken lagi.


“Iya tau aja ... he he he.” Ia menyengir kuda.


 


Danang


Setelah makan siang mereka beristirahat sebentar. Sebab jam 15.30 WIB harus ke bandara.


Ia dan Kirei berada dalam satu kamar. Untuk mengamuflase seolah hubungan mereka normal selayaknya pasangan lainnya.


Bahkan sebagian pakaian gadis itu ia simpan di lemari kamarnya. Karena bunda masuk dalam kamar tamu yang selama ini dipakai Kirei.


“Istirahatlah dulu, nanti aku bangunkan jam dua.” Tandasnya pada Kirei yang duduk bersandar di kepala ranjang dengan kaki selonjoran.


Gadis itu sedari tadi memainkan ponselnya. Ponsel baru yang ia berikan padanya tadi pagi sebelum berangkat kerja.


Tadi malam ia menyuruh Rendra untuk mencarikan ponsel merk apel digigit keluaran baru. Padahal hari sudah malam. Banyak toko konter handphone yang telah tutup.


“Pokoknya aku mau kamu carikan ponsel, besok pagi sudah diantar ke apartemen.” Titahnya yang semena-mena mungkin bagi Rendra sang sekretaris pribadinya.


“Bagaimanapun caranya ....” Perintah absolut tanpa bantahan.


Dan pagi tadi jam delapan, Rendra berdiri di depan pintu apartemen dengan membawa paper bag berlogo handphone merk apel digigit. Dengan napas setengah memburu.


“Aku belinya pake seragam lengkap, Mas.”


“Mereka pikir ada penggeledahan. Padahal toko sudah tutup. Terpaksa aku gedor. Untung yang punya tinggal di lantai 2.” Ungkap Rendra.


Danang menerima dengan senyum mengembang, “Good job”


“Mas Danang kalo ngantuk, tidur aja,” tukas gadis itu menatapnya.


Ia mendekat, duduk di tepi ranjang. Sontak kaki gadis itu di tariknya dan kini duduk bersila.


“Gara-gara ponsel baru sampai lupa sama yang ngasih ponselnya,” selorohnya dengan senyum mengejek.


Gadis itu tersipu, “Bukan lupa. Tapi belajar mengoperasikannya. Masih bingung. Biasa pegang merk brand Korea Selatan. Ini dikasih yang lebih bagus dan terbaru. Jadi gaptek ....” Kilahnya. Tapi gadis itu jujur.


Justru ia mengulum senyum.


“Sini, apa yang kamu gak ngerti.”


Kirei beringsut mendekat. Hingga tak sadar kulit mereka saling bersentuhan. Ada getaran aneh yang ia rasakan bila berdekatan dengan gadis itu.


Ia berusaha menjelaskan beberapa item penting, yang sementara gadis itu harus tahu. Sebab ia tak ada waktu untuk menjelaskan secara rinci. Yang penting bisa menggunakan untuk menelepon, kirim pesan atau chat, medsos, kamera, dan audio video guna keperluan pelatihan selama di sana.

__ADS_1


“Iya ... oohh gitu ....” Gadis itu mangut-mangut.


 “I see ....”


“Okay ....”


“Great ....”


“Bingo!” Ujar gadis itu senang.


Refleks ia mengacak-ngacak rambutnya saking gemasnya.


“Sudah?”


“Thankyou, Mas.” Tandas Kirei menerbitkan senyum manis sekaligus lesung pipinya.


“Anytime ....”


Detik berikutnya mata mereka bertumbukan. Kali ini lebih lama. Ada desiran tak kasat mata menyelinap pada hati mereka. Membuat keduanya terlena mengikuti kata rasa. Rasa ingin dicintai. Disayangi. Dilindungi dan dimiliki.


Tangan kanannya yang kokoh terulur menggapai pipi halus gadis yang telah bertakhta di hatinya. Mengusapnya dengan lembut penuh sayang. Ingin membuktikan bahwa ialah laki-laki yang pantas melindunginya.


Lalu tanpa mengulur waktu lebih lama. Tangannya merengkuh leher gadis itu lalu dibawanya ke dalam dekapan. Dikecupnya lama puncak kepala Kirei. Menghidu aroma rambut gadis itu sebanyaknya. Aroma vanila yang membuatnya tenang dan tenggelam dalam kenyamanan.


“Mas ....” Gadis itu mendongak menatapnya.


Lagi, mata mereka bertumbukan. Membuat degup jantung keduanya berdentum luar biasa.


Ia mengecup kening gadis itu lama, “I’m counting the days, until I see you again (aku menghitung hari sampai kita ketemu lagi)."


TOK ... TOK ... TOK


Suara ketukan pintu yang cukup keras membuatnya mengurai dekapan.


Lalu disusul teriakan, “Rei, jam berapa berangkat ke bandara?”


**


Kirei


Meski cukup tergesa. Ia akhirnya bisa bernapas lega. Setelah check in ia menunggu sebentar di ruang tunggu bandara bersama bunda, Ken dan Danang.


“Jangan makan sembarangan ....”


“Jangan keluar malam sendirian ....”


“Selalu ikut rombongan!” Itulah sejumput pesan Ken untuknya. Meski ia sudah dewasa dan bersuami tapi bagi Ken ia tetap seorang adik baginya. Sepertinya pengalaman pergi ke Singapura waktu kuliah tak cukup membuat Ken tenang.


Ia dan bunda berpelukan. Pesan bunda hanya suruh jaga diri dan hati-hati. Selalu memberi kabar.


Sementara laki-laki di sebelah bunda sudah merentangkan kedua tangannya. Berharap ia menghambur ke pelukannya.


Dengan tersenyum lebar ia pun menghambur dalam dekapan laki-laki itu. Berbalas memeluknya erat. Untuk pertama kalinya.


“Be careful ... don’t forget to eat ...give me a bell." Pesan laki-laki itu yang diucapkan pada telinganya. Meski lirih ia jelas sangat mendengarnya.


“Mas Danang juga,” sahutnya.


“See you soon ....”


Laki-laki itu sekilas mengecup kepalanya. Lalu mereka mengurai pelukan ketika suara panggilan untuk para penumpang tujuan Jakarta agar bersiap.


Lambaian tangan bunda, Ken dan Danang mengantarnya hingga hilang di balik pintu. Sebelum ia menyerahkan boarding pass  pada petugas.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan.....ya 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2