Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
48. You Take My Breath Away


__ADS_3

...48. You Take My Breath Away...


Pasca-lima hari keluar dari rumah sakit ia sudah beraktivitas kembali. Menjalani rutinitas seperti biasa. Hanya saja kini ia lebih banyak bekerja di studio. Sesekali meliput di lapangan.


“Well Done,” ucap Gita saat menyapukan sentuhan akhir bedak di wajahnya.


Gadis itu tersenyum ketika membuka matanya dan melihat hasilnya di cermin, “Thanks, Git.”


“You look so beautiful ....” Puji Gita.


Ia melempar senyum lagi ke Gita. Puas dengan hasil Gita memoles wajahnya. Flawless.


Ia dipercaya menjadi news anchor program telusur peristiwa yang sudah dikemas dengan brand baru. Tidak hanya berkaitan dengan hal-hal seputar kriminal. Tapi juga berkaitan dengan ilmu pengetahuan.


Dikemas dalam bincang dengan tokoh ahli disertai dengan film dokumentasi.


“Good luck.” Ucap Aldi sembari mengacungkan jempolnya sebelum ia take.


Ia tersenyum pada pria jangkung itu. “Thanks, Mas.”


Ya, di hari terakhir di rumah sakit. Aldi datang kembali bersama Anisa. Menawarkan bahkan membujuknya untuk masuk dalam program tim telusur peristiwa dengan wajah baru sebagai news anchor.


“Kamu nanti lebih banyak bekerja di studio,” ujar Aldi.


“Sebagai gantimu sudah ada ... anak baru.” Jelas Aldi lagi.


“Lagi pula Dian sudah di rolling ke breaking news menggantikan presenter yang resign,” imbuhnya.


“Aku yakin kemunculan kamu sudah dinanti banyak penggemar. Terutama fans beratmu.” Aldi terkekeh.


Buktinya memang penggemarnya yang mengetahui ia mendapat musibah saat liputan, banyak mengiriminya bunga dan kue ke kantor. Mengucapkan turut prihatin dan tentunya mendoakan kesembuhan di laman media sosialnya.


“Aku minta maaf soal ... malam itu.” Aldi terlihat menunduk di kursi samping ranjangnya. Bisa jadi pria itu malu akan perbuatannya dan jelas menyesali.


Sementara Anisa duduk di tepi ranjangnya.


“Mas Aldi gak salah. Lebih baik kita lupakan kejadian itu.”


“Ya ... gue setuju,” Anisa menimpali dengan tersenyum.


“Jadi, Lo—” Ia menjeda kalimatnya sebab Anisa dengan cepat menyahutnya.


“Gue tetap di news.”


Ia dan Anisa saling pandang, sama-sama tersenyum dan berakhir dalam pelukan.


“Selamat ... gue tunggu gebrakan lo.” Anisa berkata ketika mereka saling mengurai pelukan.


“Anisa tetap di news. Dan masih PJ breaking news. Tidak ada yang berubah.” Aldi tersenyum menatap keduanya.


Sore harinya ia diantar Danang untuk kontrol ulang ke rumah sakit.  Setelah itu berlanjut ke sebuah tempat seperti wisma pertemuan. Memang laki-laki itu memberitahunya bahwa mereka akan buka puasa di luar. Tapi,


“Ini di mana, Mas?” Tanyanya dengan mata menyelidik. Heran. Ia pikir akan pergi ke kafe atau restoran.


Mobil sudah berhenti tepat di depan wisma.


“Kita akan buka bersama anak-anak karateka.” Mas Danang menjawab lalu melepas sabuk pengaman.


Ia pun mengikuti melepas seatbelt. Mas Danang membukakan pintu untuknya. Lalu mereka berjalan beriringan masuk ke dalam ruang pertemuan itu.


“SELAMAT SORE SENSEI.” Sapa anak-anak menggema ketika ia dan Mas Danang memasuki ruangan seperti aula.


Laki-laki itu melempar senyum seraya melambaikan tangan ke udara. Menyapa anak-anak yang sudah duduk bersila dengan rapi.


Di barisan depan sudah duduk bersila Rendra dan dua pria yang sudah dikenalnya. Kedua pria itu  adalah sosok yang pernah dikenalkan sewaktu di Gor Diponegoro. Yang pasti teman-teman Mas Danang di perguruan karate.


“Sorry ... agak telat,” ucap Danang sambil salam beradu jotos pada ketiganya. Lalu ikut duduk bersila di sebelah Rendra.


Ia pun ikut duduk lesehan di atas karpet biru yang terbentang di sebelah Danang. Mengenakan scarft merah marun di atas kepala yang kebetulan beberapa hari ini selalu ada di tasnya.


Rendra yang sudah membuka acara. Lalu mempersilakan Danang untuk memulai memberikan materi. Meski laki-laki itu tampak terkejut ditunjuk untuk memberikan materi ke depan. Sebab tak ada agenda seperti itu.


Akhirnya Danang berdiri menyapa anak-anak yang berjumlah sekitar 50-an itu. Yang begitu antusias menyambutnya. Bagaimana sang suami memilih materi yang tepat untuk di share. Dengan menjelaskan tentang membangun sebuah mimpi, motivasi dan mengejar cita-cita. Menceritakan perjalanan singkatnya hingga bisa mewujudkan asanya. Anak-anak seakan terhipnotis akannya.


Ya, laki-laki yang mengenakan kemeja berwarna putih itu semakin memancarkan auranya. Jangankan anak-anak yang begitu terpesona mendengarnya. Pun, ia sendiri bahkan seperti tersedot pusaran air. Benar-benar terbius oleh pesona sang suami.


Suaranya yang berat dan maskulin. Tubuhnya yang tegap dan kokoh. Wajahnya yang tampan. Pengetahuannya yang luas. Ah ... makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna baginya. Tanpa sadar ia melengkungkan bibirnya ke atas membentuk seutas senyuman.


Mas Danang yang sudah selesai memberikan materi tetiba memanggilnya melalui microphone. Sontak ia terkejut ketika dipanggil untuk berdiri. Namun begitu, ia tetap menghampiri suaminya dengan kening berkerut. Tapi detik berikutnya hilang, berubah menjadi raut senang saat melihat anak-anak bersemangat.


“Kenalin, ini istri Sensei. Seorang jurnalis di TV kesayangan kita. Apa ada anak-anak di sini yang sudah mengenal?” Mas Danang memperkenalkannya pada anak-anak yang begitu antusias mengikuti acara ini. Meskipun waktu sudah sore di mana jam riskan bagi anak-anak seusia mereka menjalani puasa.


Ada beberapa anak yang mengacungkan tangannya.


“Nah, bagi kalian yang bercita-cita ingin menjadi jurnalis seperti istri Sensei. Boleh tanya-tanya.”


“Mbak Kirei akan menjawab pertanyaan kalian.”


Tak nyana banyak anak-anak yang mengacungkan tangannya kembali.

__ADS_1


Sebab waktu yang tak banyak. Akhirnya hanya diperuntukkan 5 orang saja maju ke depan.


Acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa. Lalu dilanjutkan dengan makan bersama.


“Mas Danang kenapa gak ngasih tau sih, kalau ada acara beginian?” Sungutnya kesal.


Laki-laki itu menyodorkan satu kotak nasi dan minuman sop buah di hadapannya.


Justru mas Danang terlihat mengulum senyum, “Tapi aku bangga punya kamu,” seraya mengulum senyum.


“Ish ... gak nyambung!” desisnya masih kesal. Ia merasa seperti dikerjai.


Saat Danang bergabung dengan anak-anak. Mereka langsung mengerubuti laki-laki itu.


“Mbak,” sapa Rendra saat melewatinya.


“Eh ... Ren.”


“Oya, Ren ... siapa yang punya ide bikin acara gini? Soalnya asyik juga ternyata.” Tanyanya penasaran.


“Pak Danang, Mbak. Semua biaya juga dari Pak Danang.”


Lengang sesaat.


“Makasih, Ren.”


“Sama-sama. Saya tinggal dulu.” Rendra berlalu meninggalkannya.


Selepas makan bersama dan salat berjamaah. Ia dibawa ke sebuah tempat yang tak jauh dari wisma tadi. Dengan berjalan kaki. Sebab jalan yang sempit dengan rumah penduduk yang hampir berdempetan.


Semakin ke dalam menyusuri gang sempit, aroma selokan tak sedap menguar seketika.


“Kita ke mana lagi, Mas?” Ia bertanya. Bahkan berkali-kali mengibaskan tangannya di depan hidung. Berusaha menepis aroma yang tak sedap merasuk ke dalam indra penciumannya.


Laki-laki itu mengapit tangan kirinya. Refleks Ia menoleh pada Danang. Dan sepersekian detik mata mereka bertumbukan bertepatan laki-laki itu juga menoleh. Saling melempar senyum. Hatinya mendadak berdesir. Ada gelenyar aneh yang membuat degup jantungnya lebih cepat.


“Ke rumah singgah,” jawab Danang.


“Sebenarnya sudah sejak dulu rumah singgah mau direlokasi. Tapi banyak terkendala. Sekarang baru tahap pekerjaan pondasi.”


Tiba di rumah panggung semi permanen. Mereka menaiki tangga lalu mengetuk pintu. Seorang anak laki-laki berumur sekitar 4-5 tahun menyembul dari baliknya.


“Sensei,” sapa anak itu riang. Menyambut tangan mas Danang lalu mencium punggung tangannya.


Mas Danang mengusap kepala anak tersebut. Mengajaknya untuk masuk dan duduk di kursi kayu.


Anak itu mengulurkan tangannya, “Bimo.”


Ia menyambutnya. Menjabat tangan Bimo, “Kirei,” punggung tangannya dicium takzim. Lalu ia mengusap kepala Bimo.


Anak itu kembali bermain sendirian.


“Kenapa gak ikut ke wisma, Bim?” Tanyanya melihat Bimo hanya sendirian di rumah singgah.


Bimo terlihat menggeleng, “Tadi Bimo pusing.”


“Sudah minum obat?” Lanjutnya lagi seraya menatap Bimo yang tak acuh. Asyik dengan mainan lego.


Anak itu menangguk.


“Anak-anak yang tadi di wisma itu sebagian anak-anak singgah sini.” Terang Mas Danang.


“Mereka anak-anak yang tidak mampu. Anak-anak yang kurang beruntung ... anak-anak yang butuh perhatian. Anak-anak yang ... punya prestasi tapi terpinggirkan.”


Ia mendengarkan cerita laki-laki itu. Bagaimana asal muasal rumah singgah ini didirikan.


“Arba Techno sebagai pendiri sekaligus penyumbang dana.”


Ya, PT. Arba Techno adalah perusahaan yang Danang dirikan bersama Arik, Rangga, William dan Aksa. Perusahaan yang bergerak di bidang investasi agraria.


Mas Danang mengambil bola sepak di lantai yang tak jauh dari kakinya, “Tangkap, Bim!” serunya pada Bimo yang sedang asyik bermain lego sendirian.


Bimo berbalik badan, lalu dengan cekatan menangkap bola tersebut.


“Great, Bim!” sanjungnya pada Bimo sambil mengacungkan jempolnya.


Bimo tersipu. Anak berumur 4 tahun itu yatim. Ibunya bekerja sebagai buruh pabrik. Jadi selama ibunya bekerja Bimo akan dititip di rumah singgah.


“Mudah-mudahan secepatnya bisa pindah ke tempat yang lebih layak.” Mas Danang  menghela napas. Begitu besar kepeduliannya pada anak-anak singgah. Mendadak ia merasa begitu kecil dan tidak sebanding dengan laki-laki itu.


“Di sini sering terkena banjir rob. Aroma selokan yang menyengat. Juga anak-anak tidak bebas bermain. Karena kurang lapang.” Imbuh laki-laki itu.


Setelah berpamitan dengan pengelola rumah singgah sepasang suami istri paruh baya yang baru saja pulang dari masjid. Mereka meninggalkan rumah itu.


Sepanjang perjalanan melewati gang sempit dengan aroma yang menyengat, ia benar-benar dibuat termangu oleh sosok laki-laki yang mengapit tangannya.


You take my breath away (kamu sungguh memesona).


Tiba di apartemen pukul 21.30 WIB.

__ADS_1


Ia yang sudah berganti piyama tidur dan telah merebahkan tubuhnya di kasur urung memejamkan matanya. Sebab suara deringan ponsel mas Danang yang berbunyi terus menerus.


“Mama,” gumamnya seraya meraih ponsel laki-laki itu di atas nakas.


“Siapa?” Tanya mas Danang tepat saat keluar dari kamar mandi. Masih mengenakan bathrobe.


“Mama ... kayaknya penting, Mas.” Ia menyodorkan ponsel itu pada empunya ponsel.


“Angkat saja,” laki-laki itu sudah duduk di tepi ranjang dengan tangan kiri memegang handuk kecil. Menggosok rambutnya yang masih basah.


Ia menggeleng, “Sini handuknya. Aku bantuin ngeringin rambut.”


Meski agak ragu, Danang menyerahkan handuk kecil itu. Lalu mengambil ponselnya.


“Ya, Ma ....”


“Assalamualaikum ....” Suara mama dari seberang terdengar jelas. Mas Danang sengaja me-loudspeaker.


“Waalaikumsalam,” sahut Mas Danang.


“Lebaran pulang, 'kan?"


Ia masih menggosok rambut Mas Danang dengan berdiri menggunakan lututnya sebagai tumpuan. Sementara laki-laki itu duduk membelakanginya.


“Pulang. Tapi, hari pertama ke Solo dulu, Ma.”


“Oya, gak pa-pa. Mama tunggu. Hari ketiga ada acara di rumah Pakde Imam. Si Gayatri (anak kedua Pakde Imam) mau tunangan sama bule.”


“Ya ... aku usahain hari kedua ke Surabaya.”


“Yaudah, salam buat Kirei.”


Sambungan telepon itu terputus bertepatan ia juga selesai mengeringkan rambut suaminya.


Danang memutar tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan.


“Kamu libur berapa hari lebaran?” Tanya laki-laki itu. Menatapnya.


“Satu minggu.”


“Kenapa?” Alisnya berkerut. Seraya menatap laki-laki yang tengah menatapnya.


Jantungnya mendadak  berdebar tak karuan ditatap seperti itu.


“Mas ....” Ia berusaha menormalkan detak jantungnya. Meski dengan susah payah. Kenapa laki-laki ini begitu bak magnet untuknya. Menariknya dengan sepenuh tenaga dan sulit melepasnya.


Mas Danang menangkup wajahnya, “I wish you were here (aku merindukanmu) ....”


Ia mengernyitkan alisnya. Apa ia tak salah dengar? Mas Danang rindu? Padahal setiap hari mereka bertemu. Tapi....


Laki-laki itu sudah menghujani ciuman di seluruh wajahnya. Membuat hatinya berdesir hebat sekaligus menyenangkan. Entah untuk kesekian kalinya ia diajak terbang menggapai nirwana. Ditemani hujan yang begitu deras. Bahkan kilat yang menyambar. Sebab sebagian jendela kaca kamar yang tak tertutup sempurna membuatnya dapat melihat situasi di luar.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan .... ya 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2