
...8. Meracuni Otak...
Aldi
"Al ...." Rengek Keisya menggelayut manja di lehernya. wanita itu berusaha membangkitkan sesuatu dalam dirinya.
Siang ini tidak biasanya ia malas bersentuhan dengan Keisya. Bahkan akhir-akhir ini ia sengaja bercumbu dengannya justru saat di depan anak baru itu. Siapa lagi kalau bukan Kirei.
"Stop it, Key!" Serunya.
Namun justru dia merapatkan tubuhnya. Menyapu bibirnya bahkan memaksa masuk demi memperdalam ciumannya. Ia yang tak bisa mengelak lagi pun akhirnya membalas serangan itu. Membuat lawan mainnya mendesah nikmat saat tangannya mulai menyelusup ke dalam kemeja Keisya. Menjelajahi setiap inci tubuhnya.
"Damn it!" Makinya dalam hati. Otak dan hatinya menolak. Berusaha untuk menepis segala perlakuan Keisya dengan halus.
"Not now. Ada banyak pekerjaan yang sudah menungguku." Tandasnya berusaha menahan diri. Tangannya kembali merapikan kemeja Keisya.
"Oke ... oke tapi janji besok jangan menolak."
Ancaman Kiesya tidak diacuhkannya. Segera ia melepas tanganya yang masih melingkupi lehernya. Merapikan kemejanya yang sedikit kusut.
Ia menghempaskan tubuhnya di kursi. Meraup wajahnya. Hatinya berkecamuk. Gadis pindahan entertain yang lebih menarik ketimbang calon tunangannya sendiri.
Sudut bibirnya terangkat, matanya memejam dan ia bergumam, “Menarik,” ucapnya tanpa sadar.
“Oh sial!” Umpatnya setelah sepersekian detik menyadari kesalahannya.
***
Kirei
Laporan peliputan case narkoba sudah di meja Aldi. Kini ia sedang mempelajari kasus lain.
...‘Penyalahgunaan dana bantuan operasional nelayan di kabupaten Jepara’...
“Rei.” Sapa Anisa yang sudah berdiri di depan kubikelnya.
Ia mendongak sebentar lalu kembali menunduk membaca poin-poin apa saja yang akan diliput di sana.
“Ngemall, yukk.” Ajak Anisa.
“Kapan?” Tanyanya tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
“Nanti sore. Gue lagi mau nyari sepatu nih. Temani, ya?” Pintanya.
“Serius amat sih!” Lanjutnya penasaran.
“Gue mau ke Jepara.”
“Liputan ke sana?”
“Yup,”
“Widih, enak dong! Bisa sekalian jalan ke Karimun.”
Ia mendongak lagi, “Gue kerja bukan jalan-jalan.” Tandasnya dengan lugas.
“Kata sapa lo jalan-jalan? Kan gue bilang sekalian ... artinya kerja sekaligus cuci mata.” Anisa terkekeh.
“Haiss, otak lo jalan-jalan mulu,” ketusnya sambil berlalu meninggalkan Anisa yang masih berdiri di depan kubikelnya.
“Mau ke mana, Lo?”
“Ngopi.”
Berjalan menuju pantry dengan langkah santai. Berharap di jam sibuk kerja secangkir kopi bisa mengusir kantuk yang menyergapnya. Saat akan membuka handle pintu, samar-samar ia mendengar suara dari dalam sana.
Mengurungkan niat untuk masuk, sebab yang terdengar jelas hanya desa*an dan suara seorang perempuan.
Ia berjalan mundur beberapa langkah. Masuk ke dalam toilet yang terletak tak jauh dari pantry. Membasuh wajahnya, berharap apa yang baru saja didengarnya hanya delusi semata.
Mengeringkan wajah dengan tisu dan memoles kembali dengan makeup tipis agar tampak lebih segar. Lalu keluar dari toilet.
Justru ia tercenung saat keluar dari toilet mendapati pasangan yang baru saja keluar pantry.
“Lo yakin apa yang barusan lo lihat?” Tanya Anisa saat mereka berada di salah satu mall di sebuah gerai sepatu.
Ia mengangguk dan menyahut, “Yakin.”
__ADS_1
“Gue sebenarnya agak ragu, tapi ....“ kening Anisa mengerut, "..., sejauh mengamati pasangan itu yaa percaya sih mereka bisa berbuat seperti itu.” Sambungnya.
“Udahlah kita gak usah bahas mereka. Toh itu urusan pribadi. Tapi setidaknya gue punya senjata balas dendam seandainya dia berlaku semena-mena.”
“Good. I like the way you ....” Anisa terkekeh sembari menunjuk ke arahnya.
“Beneran, besok lo jadi berangkat ke Jepara?” Imbuh Anisa.
“Maunya sih ... biar cepet kelar. Pusing gue dikejar deadline terus.” Tukasnya.
“Sebenarnya enak program lo sih, kalo menurut gue. Program gak kejar-kejaran dengan waktu. Gak harus up to date saat itu juga. Bisa sekalian refreshing ... hm, banyak sih, ya ... kayaknya enaknya.” Kata Anisa.
“Enak dari mana coba?” Sanggahnya cepat.
“Gue harus ngadepin banyak kriminal, ketemu para pelaku kejahatan ....” Ia bergidik, “bahkan gue sempat mau pingsan waktu wawancara dokter forensik yang nangani kasus mutilasi. Itu cuma wawancara doang, gak kebayang kalo harus lihat secara langsung, pingsan beneran gue.”
Justru Anisa tergelak, “Hahaha ... yang adegan mau pingsan itu korlip kita, tau gak? Bisa dimutasi lagi kalo sampai dia tahu,” kelakarnya sambil menutup mulutnya agar tawanya tidak sampai berderai.
“Huh!” Ia mencebik, “sialan lo!”
Setelah mendapatkan sepatu yang cocok akhirnya mereka keluar gerai.
“Kita mau ke mana lagi?” Tanyanya.
“Up to you,” sahut Anisa sambil menenteng paper bag. “Tujuan gue sudah tercapai,” diangkatnya paper bag itu tinggi.
“Makan yuk! Laper gue." Ajaknya.
Mereka menuju gerai food court ala Jepang yang berada di lantai empat. Anisa beberapa kali mengabadikan swafoto bersamanya.
“Narsis.” Cibirnya.
“Biarin, buat status rame!” Sembur Anisa yang tak menunggu lama sudah banyak yang komen tentang foto yang baru saja diunggahnya.
[Lagi di Sushi Tei ya?]
[Wah, gak ngajak-ngajak nih pada ngemall?! Mau donk bungkuss]
[Gak asyik cuma berdua. Coba gue diajak. Disertai emoticon sedih berkaca-kaca]
[Emoticon menangis ]
[PULANG!! Besok ada liputan ke Jepara pagi-pagi]
“Nih,” Anisa mengangsurkan ponselnya padanya. “Baca!” Titahnya.
Ia yang tak mengerti pun menurut saja.
“Ini ...."
“Korlip kita yang kata lo makhluk aneh dan menyebalkan. Dan dia benar-benar menyebalkan.” Tandas Anisa kesal.
***
Danang
Ia meletakkan senpi berjenis revolver colt detektif kaliber 38 begitu saja di atas nakas. Lalu mengeluarkan ponsel, dompet dan bungkusan rokok dari saku celananya.
Melepas gesper dan celana panjang begitu saja sehingga teronggok di lantai. Bergegas menuju kamar mandi. Badanya terasa lengket. Seharian ini mengurusi beberapa kasus mulai kasus MLM (Multi Level Marketing) bodong di Sragen yang merugikan puluhan korban di berbagai wilayah Jawa Tengah. Kasus pencurian pulsa voucher games dari salah satu operator wahid di negeri ini yang bernilai lebih dari satu setengah milyar. Hingga kasus korupsi di sebuah universitas di kota Semarang.
Belum lagi ke lapangan guna memantau dan memastikan para anggota bekerja sesuai prosedur.
Kepalanya sedikit berdenyut saat sang mama menelepon mendesaknya untuk pulang.
“Sebentar saja, Nang. Mama yakin, pasti pilihan Mama tak salah kali ini. Dia anak kyiai dari ponpes ....“
Ia mendesah pelan, “Ma! Danang bukan anak kecil lagi yang harus dijodohin.”
“Lalu kapan kamu bawa calon mantu mama kemari?”
Laki-laki itu diam seribu bahasa. Tak bisa memastikan kapan waktu itu akan tiba. Yang jelas ia sudah pasrah dengan takdir Tuhan.
“Inilah salah satu ikhtiar kita. Kalau memang kamu gak cocok, ya gak usah diterusin. Tapi Mama berharap pilihan ini sesuai dengan kamu. Orangnya cantik, sopan ....“
Mama menghentikan pembicaraannya saat dari seberang sana tidak mendengar respon apa pun.
“Nang! Kamu masih dengar Mama?”
__ADS_1
“Nang!” Ulangnya lagi memastikan sang anak mendengar pembicaraannya.
“Akan ku pikirkan.” Tandasnya.
Lalu sambungan telepon terputus.
Ia masih mengguyur tubuhnya dengan air hangat kucuran shower. Sudah lima belas menit berlalu berada di bawahnya, membuat tubuh dan pikiran sedikit rileks.
Keluar hanya menggunakan handuk yang dililit di pinggangnya. Menjelaskan tanpa kata-kata bahwa tubuhnya yang atletis, tegap dan terawat berkat rajin berolahraga.
Hanya mengenakan kaos oblong dan celana boxer ia lalu merebahkan tubuhnya di ranjang. Waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Matanya ia paksa memejam.
Beberapa menit kemudian justru ponselnya meraung-raung membuat mata yang sudah mulai berat dan lengket terpaksa dibuka kembali dengan susah payah.
“Ya ....” Sahutnya dengan mata terpejam.
Namun tak ada jawaban dari seberang.
Ponselnya kembali berdering.
“Oh, sialan! Ganggu aja.” Gumamnya kesal. Mau tak mau ia mengangkat kembali dan baru sadar jika ponsel satunya yang berdering sedari tadi.
“Mas,” sahut suara di ujung telepon.
“Hem ...."
“Kamis besuk ada meeting di Arba Techno jam tiga.”
“Bisa hadir, kan?”
“Aku usahakan.”
“Mama ....“
Tut ... tut ... tut
Telepon ia matikan begitu saja.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan...🙏
__ADS_1