
...41. Speechless...
Selama hampir satu minggu ia benar-benar dikejar deadline. Studio, liputan lapangan, laporan, balik lagi ke studio.
Penat dan lelah. Pasti. Bahkan Mas Budi rekan terbaik yang ia punya menyarankan untuk memilih salah satunya.
“Pilih jurnalis lapangan atau news anchor?” ucap Budi beberapa waktu lalu saat mereka liputan. Sebab tak mungkin dua-duanya digenggam dalam satu tangan dan waktu. Apa lagi jurnalis lapangan news tak kenal waktu. Di situ ada berita di situ juga ia harus berada.
Lagi-lagi ia dalam kegamangan.
Jurnalis adalah passion-nya. Sementara news anchor, ia anggap bonusnya. Apa lagi dengan tawaran Aldi yang semakin membuatnya bimbang.
Selama itu pula ia belum sempat bercerita dengan Danang. Laki-laki itu sibuk akhir-akhir ini. Pulang selalu malam.
Kirei melangkahkan kakinya ke mini bar. Membuat segelas cokelat hangat mungkin bisa sedikit merilekskan pikiran. Harapannya begitu.
Gadis itu duduk di sofa. Ditemani televisi yang menyala. Namun, entah program apa yang sedang ditayangkan. Ia tak menghiraukannya. Sebab pikirannya sedang ke mana-mana. Ia hanya butuh suara TV untuk menemaninya.
Lelah fisik dan pikiran akhirnya membuatnya tertidur di sofa.
Ia seperti melayang-layang di udara. Dengan aroma yang begitu familier di hidungnya. Wangi parfum woody maskulin.
Seketika matanya terbuka saat kecupan mendarat di keningnya. Padahal ia masih ingin terbuai dengan aroma yang membuatnya nyaman dan tenang.
“Aku membangunkanmu?” kalimat yang meluncur dari laki-laki yang begitu dekat di hadapannya. Ketika matanya terbuka.
Ia tersenyum, “Mas Danang udah pulang?”
“Maaf ... aku selalu ketiduran,” sambungnya. Pekerjaan yang akhir-akhir ini mengejarnya seolah membuat energinya terkuras habis. Sehingga untuk menunggu laki-laki itu pulang kerja saja, rasanya energinya sudah tidak bersisa lagi.
Pun, Danang selalu mengiriminya pesan untuk istirahat lebih dulu.
Ia meraba rahang kokoh laki-laki itu. Mengusapnya perlahan. “I miss you were here ....” Justru kalimat spontan itu yang keluar dari mulutnya.
Laki-laki itu menatapnya lekat. Jari telunjuknya menyelusuri pipi gadis itu, “All I do is think of you.”
Kirei tersenyum, “Serius?”
Suaminya itu menerbitkan senyumannya, “Mau bukti?” senyumnya berubah menyeringai.
Tanpa jawaban gadis itu, ia sudah mendaratkan bibirnya di bibir ranum yang menjadi candunya kini. Melu matnya. Mencecapnya penuh kerinduan.
Terang saja. Sejak malam pertama mereka di vila. Keduanya belum pernah melakukannya lagi. Laki-laki itu mengerti bahwa butuh waktu untuk membuat area paling sensitif istrinya kembali sembuh. Dan ini sudah hampir satu minggu sejak mereka melakukannya untuk pertama kali. Meski ia harus susah payah menahan keinginannya. Tapi, kenyamanan istrinya adalah nomor wahid.
Kerinduan yang begitu besar. Hasrat yang dikubur dalam-dalam. Serta merta membuat keduanya seperti hilang kendali. Berusaha saling memberikan yang terbaik. Dan ingin memuaskan pasangannya.
Ia melenguh hebat saat laki-laki itu mencecap bagian tubuhnya yang amat sensitif. Erangan keluar dari keduanya, ketika mereka sama-sama merasakan nikmatnya penyatuan yang selama ini mereka pendam.
“I love you,” ucap Danang seraya mengecup kening dan pipinya. Lalu merebahkan tubuh di sampingnya.
Ketika pagi menyapa Kirei berusaha membangunkan laki-laki itu. Mengusap-usap pipinya. “Mas, bangun ....”
Danang bergeming.
“Mas ...,” kini ia mengusap bahunya.Tapi nihil. Suaminya tetap bergeming.
Ia hujani ciuman di seluruh wajah suaminya. Hingga laki-laki itu terganggu dan terpaksa membuka matanya.
“Sholat, yuuk!" ajaknya ketika laki-laki itu menatapnya. Lantas mengangguk, "tapi--" Danang sengaja menjeda.
“Tapi—?” ia menunggu kalimat Danang.
“I wanna shower together. (aku ingin mandi bareng)” ujar laki-laki itu dengan senyum kemenangan. Laki-laki itu telah membopongnya ke kamar mandi.
Pagi itu mereka melakukan mandi bersama. Tentu diselingi dengan hal-hal yang mengasyikkan dan mencandukan. Hingga hampir satu jam lamanya.
“Mas Danang gak ngantor?” tanyanya ketika mereka menikmati makan pagi bersama. Pagi itu ia memasak nasi goreng. Hari Sabtu ini ia free. Sebelum nanti malam acara TVS Award di salah satu ballroom hotel bintang lima.
“Pengennya di rumah aja sama kamu," sahut Danang.
“Mulai deh,” cebiknya dengan menipiskan bibir.
Danang terkekeh, “Nasi goreng pagi ini sudah pas rasanya.”
“Beneran, Mas?” tanyanya memastikan. Karena beberapa kali ia membuat nasi goreng selalu keasinan. Semburat senyum membingkai wajahnya. Tidak sia-sia pikirnya.
“Pengen tahu kenapa kali ini rasanya enak?” tanya suaminya.
“Kenapa?”
“Karena ...," Danang menjedanya, "yang bikinnya sudah get laid ... jadi gak asin lagi, hahaha ....” Tawanya berderai.
Ia mendengus kesal, “Gak lucu tahu, Mas!” seraya bola matanya memelotot.
Laki-laki itu masih tergelak puas.
Akhirnya ia memutuskan menemani suaminya ke kantor. Dengan alasan pagi ini laki-laki itu hanya berkoordinasi dengan tim. Jadi hanya sebentar saja.
Ia masuk ke dalam ruangan suaminya. Duduk di sofa. Sementara Danang pergi ke ruangan lain entah di mana. Meraih koran yang berada di atas meja. Membolak-balikkan halaman. Mencoba mencari berita yang menarik. Tapi hanya didominasi oleh berita politik dan kriminal.
Hingga matanya menangkap berita mengenai sidak pasar akibat harga sembako yang naik tajam. Nama suami beserta jajaran dinas perdagangan tercantum di sana. Seketika bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman.
“Pagi, Bu," sapa seseorang berpakaian seragam cokelat. Pria itu mengetuk pintu beberapa kali.
Ia yang bisa melihat pria itu dari dalam ruangan sebab pintu kaca riben, segera membukanya. “Ya, Pak,” sahutnya setelah pintu terbuka.
“Ada paket untuk Pak Danang,” pria itu mengangsurkan sebuah paket kepadanya.
Ia menerima paket tersebut. Mengucapkan terima kasih pada pria itu sebelum pamit meninggalkannya.
Dahinya berkerut, saat mengamati paket. Tak ada nama pengirim. Hanya nama dan alamat tujuan.
Paket itu ia letakkan di atas meja. Lalu ia kembali membentangkan koran. Berniat melanjutkan membaca. Tapi sebuah paket berbentuk kotak persegi itu mencuri konsentrasinya.
Ia kembali meraih paket tersebut. Memperhatikannya dengan saksama. Danang masuk, saat tangannya kembali meletakkan paket.
“Mas, ada paket,” sergahnya begitu Danang mengenyakkan diri di sampingnya. “Untuk ... Mas Danang.” Diangsurkannya paket itu pada suaminya.
“Buka saja,” tangkas Danang.
Ia terpaku sejenak, “Yakin, aku yang—”
__ADS_1
“Sure,” Danang memotong.
Ia membuka paket itu tanpa bertanya lagi dari siapa. Karena tak ada nama pengirimnya. Pun, ia juga merasa senang karena diberi kepercayaan sekaligus privilege.
Senyumnya mengembang seketika. Namun dengan cepat senyum itu berubah menjadi raut keheranan. Saat kotak paket itu sudah terbuka sempurna dan terlihat isinya.
“Mas ....” Ditatapnya laki-laki itu yang juga tengah menatapnya. “Untuk?” ia mengangkat sebuah kunci mobil di udara.
“For special someone on a special day,” tukas Danang dengan tetap menatapnya penuh.
“Special day?” justru ia mengernyit. Ini hari apa? Ulang tahunnya sudah lewat. Anniversary? Masih jauh. Pernikahannya saja baru jalan berapa bulan. Atau Danang ulang tahun? Tidak mungkin. Tidak masuk akal yang ulang tahun malah memberikan hadiah.
Diraihnya tangan Kirei lalu diusap lembut oleh laki-laki itu. Lantas dikecupnya. “Pertemuan pertama dengan gadis kecil di taman pada tanggal dan bulan yang sama.”
Ia terperangah. Speechless.
“She is a sweet girl. Yang telah mencuri hatiku sejak saat itu," ucap Danang.
Entah mengapa, mendadak wajah dan matanya terasa memanas. Ia tergugu-gugu. Sebegitukah laki-laki ini mencintainya? Sampai-sampai ia tidak bisa berbicara sepatah kata pun. Lidahnya kelu. Suaranya tercekat. Ia hanya bisa menatap laki-laki di depannya ini.
Laki-laki yang mencintainya sejak lama. Laki-laki yang diam-diam selalu melindunginya.
Meskipun pernikahan mereka belum terjadi waktu itu.
Mas Budi pernah cerita padanya, saat mereka terjebak di Pulau Karimun Jawa akibat badai. Siapa lagi kalau bukan Danang Barata yang mengirimkan orang-orang untuk menjemput mereka menggunakan heli Ditpolair.
Lalu saat ia terluka akibat terjatuh dari ojeg. Laki-laki ini juga yang mengobatinya.
Saat ia terjebak banjir di suatu malam habis pulang kerja lembur. Laki-laki ini juga yang membantunya.
Selama liputan yang berhubungan dengannya. Laki-laki ini juga yang selalu mempermudah dan membantunya.
Semua laki-laki itu lakukan hanya untuk melindunginya. Ya, melindungi gadis kecil yang telah mencuri hati seorang Danang Barata Jaya.
Lantas, justru ia menyembunyikan pernikahannya. Belum siap bersanding dengannya. Sampai kapan? Inikah balasan yang sepadan dengan apa yang dilakukan oleh Danang selama ini.
Danang menyusut air matanya, yang sudah menganak sungai, “Are you happy?”
Ia sesenggukan. Tak menyangka. Dirinya akan dihujani cinta yang teramat besar. Tanpa menjawab menghambur begitu saja ke dalam pelukan suaminya.
**
Malam harinya Kirei mengajak Danang menghadiri acara TVS Award di salah satu ballroom hotel bintang lima.
Gadis itu mengenakan chiffon dress tanpa lengan motif bunga-bunga berwarna merah marun. Dengan panjang sebetis. Sementara ia mengenakan kemeja lengan panjang merah marun yang digulung hingga siku.
Sempat berdebat. Mengapa tidak pakai jas formal. Justru Kirei terkekeh, “Acaranya santai. Gak formal banget. Gantengan gini, ” sambil melipat lengan panjang itu hingga sikunya.
“Kamu yakin ngajak aku?” tanya Danang memastikan.
“1000%,” tandas Kirei.
Ia mengulas senyum.
Tiba di ballroom orang-orang yang mengenal istrinya menyapanya dan terkadang berbisik-bisik yang ia tak tahu maksudnya.
Keduanya berjalan beriringan. Sesekali bergandengan tangan. Namun sesekali Kirei melepas kaitan tangan mereka berdua jika berjabat tangan atau sekedar melambaikan tangan demi menyambut rekan-rekannya.
Ia melempar senyum pada teman-teman Kirei, sebelum duduk di sebelah gadis itu.
“Mas Danang mau minum apa?” tanya Kirei dengan sedikit mendekat di telinganya. Sebab suara musik yang memenuhi ruangan.
“Mocktail," jawab Danang.
Saat seorang pelayan lewat gadis itu memanggilnya, “Mocktail 2 , ya.” Sementara sang pelayan mengangguk dan mencatat. Lalu berlalu.
Anisa yang duduk di sebelahnya memberi kode dengan menyikut lengannya, “Hutang lo, belum tuntas!” bisiknya tepat di telinganya.
Kirei tersenyum kecut.
Bahkan Oka dan Aldi memberikan tatapan penuh tanda tanya. Sementara Budi yang memang sudah kenal justru berbicara santai.
Acara pun dimulai. Hingga pada acara pembacaan nominasi kategori. Kirei dan Aldi yang didapuk sebagai pembaca nominasi, berdiri. Dan melangkahkan kaki menuju panggung.
Aldi berusaha menuntunnya meski Kirei dengan halus menolaknya. Tapi Aldi adalah Aldi. Seorang yang perfectionist, profesional, tegas, lugas tak kenal menyerah. Pria jangkung itu menuntunnya tatkala beberapa langkah lagi menuju panggung.
Membacakan nominasi kategori presenter entertain favorite. Memberikan piala penghargaan pada pemenang. Lalu kembali duduk di tempatnya semula.
Raut mukanya seketika berubah saat Istrinya itu melihatnya. Kirei menepuk punggung tangannya. Dan memberikan senyum padanya.
Lalu saat nama Kirei dipanggil sebagai pemenang kategori indepth reporting dalam program telusur peristiwa. Gadis itu seketika speechless.
Giliran punggung tangan Kirei yang ia usap-usap. “You did it.”
Kirei berjalan menuju panggung. Menerima piala penghargaan itu dengan suka cita.
“Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Allah SWT ... bunda ... my brother Kenichi. Tim telusur peristiwa; Mas Aldi, Mas Agung dan Mas Budi. Juga rekan-rekan di news, Oka dan Anisa. Serta rekan-rekan lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu ....”
Kirei melempar senyum padanya yang juga tengah menatapnya sebelum melanjutkan kalimatnya.
“For special someone on a special day ... thanks a million.”
Kirei berjalan menuruni panggung. Tiba di mejanya langsung disambut oleh Oka, Anisa, Aldi dan Mas Budi. Mereka memberikan ucapan selamat,
“You rock, Rei!” ucap Oka sambil menepuk-nepuk pundaknya.
“Thumbs up my dear ....” Anisa merengkuhnya.
“Selamat, Rei. Good job!” Mas Budi mengacungkan kedua jempolnya.
“Keep up the good work!” ucap Aldi menjabat tangannya lalu mengusap punggung tangannya perlahan.
Mereka kembali duduk di kursinya masing-masing.
Acara berlangsung meriah. Hiburan juga didatangkan sebagian besar dari ibukota.
“Rei,” panggil seseorang dari arah samping Kirei. Gadis itu yang tadinya ingin mengambil beberapa kudapan di meja prasmanan akhirnya mengurungkannya. Kirei menoleh, lalu alisnya berkerut.
“Bang Laira?!” tandasnya.
“Selamat yaa ... kamu pantas mendapatkannya! I knew you could do it.”
__ADS_1
Kirei membalas, "Thanks, Bang.”
“Sayang, sudah selesai?” Danang menghampiri istrinya kemudian merengkuh pinggangnya.
Kirei mengangguk. “Bang, maaf saya duluan.”
***
Matanya tak luput dari pergerakan Kirei dan laki-laki di sebelahnya. Saat mereka berbicara. Gestur jelas menyatakan ada hubungan di antara mereka.
Lalu, saat tangan laki-laki itu mengusap punggung tangan Kirei. Mereka saling melempar senyum. Oh ... damn it!
Hubungan macam apa yang mereka sengaja pertontonkan?
Bahkan ia sengaja menuntun tangan Kirei menuju panggung. Berhasil. Ia dapat membuat laki-laki itu cemburu.
Tapi ... enough is enough.
Malam ini ia akan berterus terang tentang perasaannya. Perasaan yang selama ini ia pendam. Bahkan saat pertama kali berjumpa dengan gadis itu.
Aldi mengedarkan pandangan ke seluruh jangkauan sejauh mata memandang. “Oka!” serunya saat berpapasan dengan Oka. “Lo, lihat Kirei?”
Oka mengedikkan bahunya.
Lalu ia melihat Anisa yang sedang di meja buffet kudapan. “Nis,” sapanya. Wanita itu langsung menoleh padanya. “Lo, lihat Kirei?”
“Kayaknya di taman, Mas. Tadi bilangnya mau nyari udara gitu,” jawab Nisa.
“Okay ... thanks,” sergahnya cepat. Hingga beberapa kali ia menyenggol orang saat berjalan tergesa tanpa memperhatikan langkahnya. “Sorry," tandasnya begitu ia tak sengaja menyenggol orang. Dan orang itu mengumpatinya.
Tiba di taman. Pemandangan di luar dugaan menyergap matanya.
“Aku gak mau," kilah Kirei.
“Please ... sekali lagi," ucap laki-laki itu dengan setengah memaksa.
Gadis itu sudah menggelengkan kepala. Tapi laki-laki itu tetap memaksanya. Ini tidak dapat dibiarkan. Secepat kilat ia menarik kerah kemeja laki-laki itu. Lalu mendaratkan pukulan tepat di rahangnya.
BUGH.
Laki-laki itu terhuyung ke belakang. Namun dengan cepat mampu berdiri tegak. Tanpa aba, laki-laki itu membalasnya. Telak.
Gadis itu bingung. Tergagap.
“Ma-mas Aldi, stop!” seru Kirei. Memegang lengan Danang agar tak melanjutkan pukulannya lagi.
“Cih, beraninya sama perempuan! Damn you!” umpat Aldi seraya mengusap ujung bibirnya yang sobek dan berdarah di sana. “Sini lawan gue! Perempuan bukan untuk dipaksa. Kalo dia gak mau. Lebih baik lo pergi!” semburnya dengan nada amarah.
Danang hanya membalas tersenyum tawar. Dengan tangan terkepal kuat dan rahang yang mengetat.
Sementara Kirei, tetap menahan lengan Danang. “Mas, sudah ... aku yang akan jelasin.” Mengatur napasnya. “Mas Aldi ... kenalin. Ini ... ini suamiku. Mas Danang," tukasnya.
Seketika Aldi merasa petir guntur menyambarnya. Tubuhnya lunglai. Seolah tak percaya apa yang barusan didengarnya. “Tell me another one (aku tahu kamu bohong),” sanggahnya.
Kirei berusaha meyakinkan, “Kami sudah menikah, Mas. Dia, suamiku. Maaf ... tidak memberitahu Mas Aldi. Bukan maksud menutupi. Tapi—“
Danang sudah menggeretnya pergi sebelum Kirei menjelaskan lebih lanjut.
Aldi tertunduk. Lesu. Rasa-rasanya semesta tak adil padanya. Ia meraih gelas berisi minuman berwarna merah jambu begitu saja. Meneguknya sebanyak yang ia mau. Sebanyak-banyaknya agar ia bisa melupakan apa yang telah dilihat dan didengarnya baru saja. Sungguh teramat menyakitkan buatnya.
-
-
__ADS_1